
Kringg.... Kringg....
Suara bel berbunyi, yang itu berarti saat ini adalah jam istirahat.
"Pelajari kembali apa yang tadi saya ajarkan. Minggu depan kita akan membahas tentang sihir gabungan, pelajari materi itu."
"""Baik Sir!!!"""
"Baiklah, sampai jumpa minggu depan."
Galeon pergi meninggalkan kelas. Aku menghela nafas lelah.
Akhirnya.
Akhirnya selesai juga!
Jujur saja, aku tak terlalu mengerti tentang pelajaran yang diberikan oleh Galeon tadi. Benar-benar tidak mengerti.
Tapi, untung saja Galeon tidak seperti guru-nya, Rakka.
Bisa-bisa langsung tepar aku kalau metode yang dipakai sama seperti Rakka.
"Bagaimana kalau kita makan di kantin dulu?" ucap Deiva
"Ahh... Aku tak terlalu lapar," jawab Atra.
"Kalau begitu kita beli makanan ringan dan minuman saja," celetuk Argen.
"Hmm... Oke," balas Deiva.
"Ayo Sergio, kita pergi ke kantin" ajak Argen.
Aku mengangguk. Kita semua berdiri dan berjalan menuruni anak tangga.
Murid lain memandangi kami dengan tatapan yang menurutku sulit diartikan.
"Se-sergio!"
Aku langsung berhenti. Seorang gadis yang sebelumnya menanyakan tentang elemen ku saat ini sedang berada di hadapanku dengan wajah malu-malu.
"Ya? Ada apa?"
"Umm... Kau ma-mau kem-kemana?"
"Kita akan pergi ke kantin dan setelah itu akan pergi berkeliling, Nain" jawab Atra.
"O-oh, begitu."
Ok, aku mengakui gadis ini ternyata sangatlah imut.
Berhenti berpikir seperti itu Sergio, kau seperti penyuka seorang lolicon.
"Kau ingin ikut?"
"""Eh?!"""
Mereka bertiga-- Deiva, Atra, dan Argen cukup terkejut mendengar ajakan ku pada Nain?
"Bo-bolehkah?"
"Umm... Boleh saja. Lagipula tambah ramai itu menyenangkan."
Nain tersenyum senang, "Terima kasih!"
Aku jadi ikut tersenyum.
Dan sepertinya Nain ini memiliki penggemar.
Kalau kalian menanyakan kenapa aku bisa tahu, itu karena rasa haus membunuh dan aura gelap yang terasa mengerikan berada di tatapan seluruh para pemuda di kelas ini.
Baiklah Sergio, kau mendapatkan musuh lagi. Biarlah, makin banyak musuh itu berarti aku hebat, iya kan?
Kami keluar dari kelas dengan tiga gadis yang berada di depan kami dan para pemuda di belakang mereka.
Tiga gadis itu terus bercengkrama dengan semangat. Sesekali terdengar suara tawa dari mereka bertiga.
"Sergio, kudoakan kau selamat ketika pulang sekolah."
"Eh? Kenapa kau berbicara seperti itu?"
Argen menatapku serius, "Kau baru saja mengajak gadis primadona nomor tiga di akademi ini!"
Eh?
"Para fans nya pasti tidak akan terima! Kau akan babak belur ketika pulang sekolah, aku yakin itu."
"Yaa... Terima kasih peringatan-nya."
"Kau tidak takut?"
"Untuk apa takut?"
Kami berdua saling tatap dengan tatapan heran.
"Kau adalah seorang Irregular tak normal yang pernah kutemui."
"Terima kasih pujian-nya."
"Aku tidak memujimu Sergio bodoh!"
Aku tertawa kecil.
"Ngomong-ngomong, apa itu Irregular?"
Argen menatapku, heran. "Kau serius menanyakan hal itu?"
Aku mengerti maksdunya, "Yahh... Sebelumnya aku berasal dari desa yang.... Tidak terlalu mengerti tentang dunia luar. Jadi..."
Ya, bohong aja terus Sergio. Bohong terus.
"Oh begitu" Argen mengangguk paham. "Irregular itu artinya keanehan."
"Keanehan?"
Argen mengangguk, "Ya. Aneh. Menurutmu Aneh itu seperti apa?"
Aneh, kah?
"Menurutku, aneh adalah dimana kita berbeda dari orang lain."
Argen tertawa kecil, "Ya seperti itu. Aneh nya Irregular adalah, kita tidak bisa mewujudkan suatu hal dalam sihir."
"Maksudmu?"
Argen tersenyum tipis, "Mewujudkan sesuatu. Artinya kekurangan dalam sihir, ketidaknormalan, dan perbedaan antara satu siswa dan siswa lain. Contohnya saja aku. Aku.... Tak memiliki cukup mana untuk mengeluarkan elemen sihir berjangka panjang. Hal itu merupakan kekurangan di dunia Egolas ini, Sergio."
Aku sedikit terkejut.
"Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah Atra."
Aku memandang Atra. "Ada apa dengannya?"
"Dulu dia seorang Regular."
Aku terkejut.
"Maksudmu, dia sekarang adalah Irregular?"
Argen mengangguk, "Ya. Dulumya dia adalah seorang Archer yang sempat masuk di urutan keempat dalam Class Archer di akademi ini."
"Hebat sekali."
"Ya, hebat bukan? Tapi pencapaian Atra berakhir ketika ia berduel dengan adik tirinya."
Adik tiri?
"Dia berduel dengan adiknya?"
"Ya, aku tak ingin bercerita lebih jauh ketika orangnya tidak memberi izin."
Aku megangguk mengerti, "Tak apa. Aku jadi sedikit mengerti tentang Atra. Terima kasih Argen."
Argen tersenyum, "Aku hanya membagikan informasi saja. Jangan lupa bayar aku ya."
Aku tertawa, "Akan ku teraktir kau."
"Yang benar!" mata Argen terlihat berbina-binar bahagia.
"Atra, Deiva, Nain! Sergio akan mentraktir kita semua!"
Otomatis ketiga gadis itu menatapku dengan tatapan buas akan kelaparan.
Iya, dari mata mereka aku mengetahui kalau mereka akan dengan senang hati akan menghabiskan uang ku.
Aku sangat bersyukur karena aku membawa black card yang di berikan oleh Fahrez.
Limitnya tak terbatas uyy... Mentraktir mereka untuk pertemanan dia awal sepertinya tak masalah.
"Hohoho.... Menarik Sergio" ucap Deiva.
"Apa aku boleh makan banyak?" Tanya Nain dengan polosnya.
"Terima kasih Sergio" ucap Atra.
Aku tersenyum kecil, "Tak masalah."
.
.
.
Serius, kantin-nya besar dan... Mewah.
Ada berbagai macam makanan di papan menu.
"Umm... Bagaimana cara memesan makanan nya?"
"Biar aku saja yang mengantri, Sergio. Mana kartumu?"
Aku merogoh dompetku. Setelah itu membukanya dan memberikan kartuku pada Argen.
Argen yang menerimanya seketika membeku.
"Se-sergio?"
"Hmm... Kenapa?"
"I-ini...."
""Black Card!!""
Deiva dan Atra dengan tidak santainya berteriak di kantin yang ramai ini.
"Wahh.... Sergio ternyata orang kaya yah" celetuk Nain.
Argen, dengan tangan bergetar memberikan kembali kartunya. "A-aku tak berani. K-kau saja."
Aku memiringkan kepalaku, "Kenapa? Oke, oke, temani aku saja kalau begitu."
Argen mengangguk setuju.
"Baiklah, kita tunggu kalian di meja dekat jendela sana yah" ucap Deiva.
Aku mengangguk. Para gadis mulai melangkah ke arah meja makan di dekat jendela besar yang mengarah pada taman akademi.
Aku mengantri bersama Argen disini.
Tidak terlalu panjang, tapi cukup melelahkan juga.
"Orang tuamu pasti sangat kaya" celetuk Argen.
Orang tua?
"Siapa yang memberikan Black Card padamu? Ayahmu atau Ibumu?"
Aku tahu Argen tidak tahu apa-apa tentangku.
Tapi... Ucapannya sedikit membuatku sakit hati.
"Argen."
"Ya?"
Dia menatapku dengan tatapan tak berdosa nya.
Aku melihat kearah lain dan sedikit memiringkan kepalaku. "Aku.... Tidak memiliki orang tua."
"...."
Hening.
Untuk sesaat hanya terdengar suara ramai dari para siswa lain yang saling bercengkrama dan tertawa. Aku masih belum melihat reaksi Argen, tapi yang aku yakini adalah.... Dia merasa bersalah.
Pada akhirnya aku menatapnya. Menatap mata biru gelapnya yang menatapku dengan tatapan terkejut dan rasa bersalah.
"Maaf, ak-"
"Tak apa" potongku. "Tak apa Argen" lanjutku dengan senyuman kecil.
"Mana bisa begitu!" bentak Argen.
Eh?
"Kenapa kau tidak cerita kalau kau tidak memiliki orang tua?! Ahh.... Sialan, kau membuatku jadi merasa bersalah!"
Begini yah Argen (Aku berbicara pada diriku sendiri). Aku baru saja bertemu dengannya tidak sampai sehari. Bagaiman bisa aku menceritakan kisah hidupku yang rumit ini.
Hei bro, semua butuh waktu.
"Kalau begitu sekarang kau tinggal sama siapa?"
"Aku... Tinggal bersama...."
Nggak mungkin kan aku bilang "Aku tinggal bersama Penjaga dan pelayan ku yang menyebalkan!"
Tak mungkin. Bisa-bisa Argen curiga.
"...Paman Ayahku, kakak ibuku, dan sepupu laki-laki ku."
Kalian tebak sendiri siapa mereka.
Argen mengerutkan dahinya, "Kau tinggal dengan keluarga yang berbeda-beda?"
"Yaa.... Seperti itulah."
Aku bahkan tidak mengerti dengan apa yang kuucapkan.
Rasanya aku ingin tertawa.
"Kalau begitu mampirlah kerumahku. Ibuku akan membuat makanan yang enak untukmu" ucap Argen dengan senyuman lebar.
"Oke. Nanti aku akan mampir ke rumahmu, Argen."
Argen tersenyum lebar, "Masakan Ibuku sangatlah enak. Aku yakin masakan ibuku akan sesuai dengan lidahmu."
"Oh ya? Kalau begitu kau juga mampirlah kerumahku. Kakak Ibuku masakan nya juga tidak kalah enak dari chef di hotel bintang lima."
Aku dan Argen saling tatap yang kemudian berakhir dengan tertawa.
"Bwahahaha.... Kita seperti anak kecil, hahaha..."
"Pfftt... Hahahaha.... Argen, kau sangat lucu."
"Anak muda. Bisa berhenti tertawa dan secepatnya memesan? Antrian tidak hanya berakhir pada kalian saja."
""Eh?""
Aku dan Argen menatap seorang wanita langsing dengan rambut pirangnya. Belum lagi mata merah terangnya yang indah. Wanita itu memakai apron putih yang bersih.
"Ohh maaf Kak Sheila," ucap Argen dengan wajah sedikit memerah.
Wanita itu-- Sheila menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Eh? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya?"
"Kak Sheila, dia anak baru. Namanya Sergio Vandelhein," ucap Argen. "Dan Sergio, dia kak Sheila Fafri. Dia kelas tiga akhir di akademi ini."
Fafri?
"Hai Sergio. Aku kepala bagian dalam hal memasak di kantin ini. Jadi jika kau butuh makanan, datang saja padaku. Aku akan memasakkannya untukmu, manis."
Blushh....
Wahh.... Pesonanya kuat sekali.
Wajahku bahkan sampai memerah!
"Ukhumm.... Kak Sheila, kami ingin memesan."
Sheila tersenyum manis, "Baiklah. Silahkan sebutkan pesanan kalian. Manis."
"Kami ingin memesan satu paket makanan ringan, dan lima gelas te-"
"Dasar kakak tidak berguna!"
BRAAKKK....
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°||
Author Note:
Cover The Another Soul Author ubah lagi :v
Ini cover ketiga dari The Another Soul
1.401 kata