
"Babeslea naiz. Argia naiz. Nire izenean, naturaren espiritua, uraren espiritua, lotura gisa eskatzen dut..."
Sebuah mantra sihir terdengar dari mulut seorang pria yang memiliki surai coklat gelap. Netra coklat terangnya menatap tajam hamparan monster berbagai macam bentuk yang pastinya sangatlah mengerikan.
Pria itu melihat hamparan monter itu dari atas sebuah istana besar bewarna putih. Istana milik sahabatnya.
Ğerna.
"...Ahh ... goraipatzen zaitut, nik, Ilkavius Rashari nire indar iluna..."
Sebuah rune sihir muncul di atas hamparan monster. Bukan hanya satu, tapi dua rune sihir dengan warna hijau dan biru muncul secara tumpang tindih.
"...esnatzeko eskatzen dut..."
Sebuah sulur tanaman dengan pendar cahaya hijau terang muncul dari bawah tanah. Air bah yang entah darimana memecah belah barisan para monster.
"...Ethala Iluna."
RAWWWR...!
KIIKK....!
Berbagai macam suara teriakan dari para monster memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya. Netra coklat terang itu menutup matanya sejenak.
Ia mengambil nafas dalam yang kemudian membuangnya dengan sedikit berat.
"Sudah cukup."
Suara lembut terdengar dari belakang Ilka. Setelah itu terdengar suara langkah kaki yang menghampiri Ilka.
Ilka mengenal suara lembut itu. Ia hanya berdiri diam dengan matanya yang sesekali memandang para monster yang perlahan mulai mati dengan mudahnya.
Surai panjang dengan gradasi warna orange cerah serta biru terang menjadi hal pertama yang di lihat oleh Ilka.
"Ankaa."
Ankaa, sang rasi bintang Phoenix menatap Ilka dengan perasaan penuh kesedihan.
"Tidak.... Bisa?" Tanya Ilka dengan nada penuh keraguan.
"Maaf" balas Ankaa dengan pelan.
Ilka terdiam. Pikirannya berkecamuk dengan apa yang harus ia lakukan selanjutnya?
'Kalau begitu, Ilka. Tolong jaga tempat tinggalku.'
Sebuah kalimat yang membuat Ilka menjadi merasakan apa itu kesedihan.
Sahabatnya Ğerna. Sudah tidak ada di dunia ini lagi.
Tidak ada.
.
.
.
.
.
"Hah!"
KRINGG.... KRINGG.... KRINGG... KRIN- TAP...
Sergio mematikan jam alarm yang telah menunjukkan waktu 07.20 pagi. Ia terbangun dengan perasaan terkejut, bahkan peluh memenuhi wajahnya dan pakaian nya basah karena keringat.
Sergio menutup wajahnya menggunakan telapak tangan. Kemudian mengusapnya hingga rambut.
"Mimpi apa itu?"
TOK... TOK... TOK...
"Sergio, apa kau sudah bangun?"
Netra hitam itu menatap pintu kamarnya yang sebelumnya diketuk. Mengenal suara itu.
"Ya Orga. Tunggu sebentar."
"Cepatlah mandi dan sarapan."
Terdengar suara langkah kaki yang menjauh. Sergio menghela nafas berat.
Dirinya berjalan ke arah kamar mandi. Ia masuk dan menatap cermin yang memperlihatkan tubuhnya yang sekarang terlihat berisi dan sedikit memiliki otot.
Benar-benar latihan yang diberikan oleh ketiga penjaganya itu tidaklah main-main.
"Hmm... Jika aku membuka bajuku di hadapan para gadis, apa mereka akan terpana dengan otoku ini?"
Oke, pemeran utama kita sepertinya sedang menjadi emm... Sombong?
Yaa... Namanya juga anak muda.
Setelah acara 'Mari memuji diri sendiri' Sergio bergegas mandi. Ia tidak ingin Rakka, Fahrez, atau Orga memarahi dirinya lagi hanya karena telat.
Tak lama kemudian, Sergio keluar hanya dengan memakai bathrobe bewarna biru gelap. Ia langsung berjalan ke arah lemari pakaian dan mengambil pakaian dalam beserta seragam sekolah.
Perlahan Sergio membuka bathrobe nya, dan...
"Tubuhmu lumayan."
Sergio membeku. Barusan ia mendengar suara perempuan yang berada di kamarnya.
Sergio menoleh kebelakang-- Arah dimana kasurnya berada. Sergio mendapati seorang gadis yang memakain gaun hijau pucat dan rambut lurus bewarna hijau gelap yang tergerai dengan sendirinya. Netra hijau zamrudnya menatap Sergio dengan santainya, dan juga sedikit memberikan senyuman miring kepada si empunya kamar.
"AN*ING! WHAT THE FU*K!"
Yaa... Teriakan membahana terdengar dari dalam kamar Sergio. Ketiga penjaga Sergio hanya menggelengkan kepala dengan pelan. Sudah terbiasa dengan sumpahan dari mulut Sergio.
Fahrez yang sedang memakan roti dengan selai coklat menatap Orga, "Kenapa kau membiarkan Dewi Nyra masuk?"
Orga meminum kopi hitamnya sebelum menjawab. "Dia memberikanku ramuan cinta untu-"
"Bego" ucap Fahrez.
"Hei!"
Orga protes. Setidaknya jangan memakai bahasa kasar, tapi sepertinya protesan Orga tidak digubris oleh dua orang temannya yang menjadi sok sibuk.
"Kalau urusan cinta, kau menjadi bucin akut mendadak. Kebegoanmu itu udah di atas rata-rata" cibir Rakka yang tengah menyiapkan bekal untuk Sergio bawa ke sekolah.
"Daripada kalian, menjomblo selama ribuan tahun."
Sedetik kemudian Orga mendapati tatapan mata setajam silet dari kedua orang sahabatnya itu. Orga tersenyum miring melihat reaksi mereka berdua.
"Ehehe... Maaf" pada akhirnya Orga memberikan cengiran tak berdosa nya di hadapan kedua orang yang menjomblo selama ribuan tahun.
// Aelah, Author jomblo selama 18 tahun sans ae tuh :v
Aahh... Sepertinya ketiga orang ini melupakan kehadiran satu orang baru di meja makan.
Seorang gadis yang memakai gaun biru langit sebatas lutut menatap perdebatan kecil dari ketiga lelaku di hadapannya ini. Mata biru langitnya menatap jenaka mereka, serta rambut yang senada dengan bola matanya diikat menjadi ponytail.
Gadis itu adalah Ium dari Dewi Nyra. Namanya Lafi Rior, saudari Wendy Rior yang juga menjadi Ium Dewi Nyra.
Lafi adalah yang tertua dari Wendy, jadi bisa dikatakan Lafi adalah Ium senior dari Wendy.
"Lafi, apa kau ingin pancake?" Tanya Rakka dengan ramah.
Lafi tersenyum manis, "Boleh. Jika tidak merepotkan anda, tuan Rakka."
"Aku juga mau" ucap Fahrez.
"Aku juga" ucap Orga.
Rakka mengangguk. Ia langsung pergi ke arah dapur sambil mengikat rambut putihnya menjadi ponytail. Rakka kemudian mengambil apron bewarna hitam yang tergantung di dekat kulkas yang kemudian ia pakai.
"Wahh..." kagum Lafi.
"Heh, disaat seperti ini baru aura hebatnya keluar" cibir Fahrez.
"Bilang saja kau iri" balas Rakka di dalam dapur.
Fahrez mendengus kesal. Ia kembali meminum teh yang tidak hangat lagi.
Tak lama setelah kepergian Rakka ke dapur, terdengar suara langlah kaki yang terburu-buru.
"Siapa yang menyuruhnya masuk ke kamarku!?"
Ahh.... Ini dia. Amukan dari seorang Sergio Vandelhein. Lagian, siapa juga yang nggak ngamuk kalau di kamarnya ada seorang wanita asing yang datang diam-diam ke dalam kamarnya. Kemudian wanita itu bilang 'Tubuhmu Lumayan.'
Sergio tidak habis pikir lagi dengan pola pikir para Dewa-Dewi yang turun ke dunia Egolas ini.
Sergio merasa, dari kelima Dewa-Dewi yang dirinya kenal. Hanya Dewa Agni yang tampak normal.
Normal disini maksudnya tidak membuat Sergio pusing tujuh keliling.
Dewa Hermes dengan ancaman dirinya yang akan di jatuhkan dari langit ketujuh, Dewi Bishamon yang meminta dirinya untuk duel ulang, Dewa Ares yang akan menunjukkan tempat menarik baginya, dan Dewi Nyra yang meminta Sergio untuk menuruti semua permintaa dirinya selama seminggu.
Ya, yang baru saja kalian baca adalah daftar permintaan dari keempat Dewa-Dewi yang membuatnya hanya bisa mengangguk dengan pasrah.
Dan setelah semua permintaan itu di kabulkan oleh Sergio. Ia akan mendapatkan penjelasan tentang Ğerna dan Ilka pada Dewa Agni.
Dewa Agni diibaratkan seperti Last Boss dalam Game. Sebuah penentuan akan semua pertanyaan yang ada di otak kecilnya.
Walaupun permintaan Dewa Hermes sedikit emm.... Menakutkan bagi Sergio.
Fahrez meletakkan kembali cangkir teh nya. Ia menatap Sergio dengan santai, "Kenapa? Apa kau malu?"
"Tentu saja!"
Orga menggeleng sembari berdecih, "Ckckck.... Harusnya dirimu bangga karena di puji oleh Dewi secantik Dewi Nyra."
Sergio mendengus, "Dia seperti wanita mesum."
Sedetik kemudian Sergio terjengit kaget karena merasakan aura hitam gelap dari gadis yang memiliki surai biru langit. Wajahnya menampakkan senyuman manis, tapi aura yang diperlihatkan tidaklah seperti wajahnya.
Fahrez tertawa kering, "Ahaha... Selamat. Kau mendapatkan musuh baru."
"Ahahaha.... Maaf aku masuk ke dalam kamarmu. Lagian penjagamu yang mengizinkan aku masuk."
Dewi Nyra menuruni anak tangga dengan anggun. Ia menatap Lafi dengan tenang. Lafi yang mengerti arti tatapan dari Dewi-nya segera menarik aura gelap miliknya.
Sergio mampu bernafas lega setelah itu.
Apa memang Ium selalu menyeramkan?
Sergio baru menyadari perkataan Dewi Nyra barusan. "Siapa yang mengizinkan?"
Dengan santai, Dewi Nyra menunjuk Orga yang masih meminum kopi hitam nya. Orga sedikit melirik Sergio yang menunjukkan raut marah di wajahnya.
"Hei, tenang dulu. Aku bisa jelaskan."
"Ap-"
"Orga di sogok oleh Dewi Nyra menggunakan ramuan cinta" ucap Fahrez cepat.
Orga melotot pada Fahrez yang memasang senyuman lebar. Pembalasan memanglah yang terbaik.
"Dasar bucin akut!"
Lafi dan Dewi Nyra tertawa. Pagi hari yang cukup menyenangkan bagi mereka berdua yang biasanya hanya mendapati pagi yang biasa-biasa saja.
"Sudah, sudah, ini ada Pancake. Sergio mau?" Tawar Rakka yang sepertinya sudah selesai memasak.
"Ya" jawab Sergio singkat.
"Aww... Sergio merajuk" ucap Fahrez.
Sergio menatap tajam Fahrez, "Diam sialan."
Fahrez terkekeh. Ia langsung mencomot pancake yang disiapkan oleh Rakka.
Fahrez tak memperdulikan lototan tajam dari mata Rakka.
Bodoh amatlah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
332 kata