
"Apa dia masih hidup?"
Fahrez bertanya pada Rakka. Dia menatap Sergio dengan tatapan bersalah.
Tidak ada pergerakan dari Sergio. Rakka yang ingin menghampirinya, tiba-tiba saja dihalangi dinding api.
"Orga."
"Sebentar lagi."
Orga menatap serius Rakka. Rakka kembali ke tempatnya, dan dia menunggu.
Darah menetes dari jantumg Sergio, kulitnya memucat, tapi rambutnya memutih.
"Ini dia."
Orga bersiap. Setelah rambut Sergio memutih, muncul tanduk bewarna hitam. Kali ini yang muncul dua, dan anehnya lagi darah yang sebelumnya keluar dari jantung Sergio, perlahan tertarik kembali ke jantung Sergio.
Luka tusukan pisau kemudian tertutup, seperti kejadian sebelumnya tidak pernah terjadi.
Rakka, Fahrez, dan Orga bersiap-siap. Bahkan masing-masing dari mereka menguatkan kekangan pada Sergio.
Sergio membuka matanya, kali ini matanya bewarna biru dan pada bagian putih matanya berubah warna menjadi hitam seluruhnya.
Satu kata, menyeramkan.
Sergio menatap mereka bertiga secara satu-persatu. Kemudian tatapannya berhenti pada Fahrez.
Fahrez yang merasa di tatap meneguk ludahnya sendiri. Sejujurnya dia agak takut setelah melihat tatapan Sergio.
Dan tiba-tiba saja, Sergio berteriak kencang.
"AAARRGGHHHH....!!"
Suara teriakan itu kemudian di susul dengan gelombang energi. Fahrez, Rakka dan Orga hampir saja terhempas hanya karena gelombang energi itu saja.
Belum berhenti sampai disitu, Sergio berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan yang diberikan padanya.
"Fahrez, pasak dia!"
Orga berteriak pada Fahrez. Fahrez yang mendengarnya terkejut.
"Ta-tapi.."
"Kau ingin kita semua mati!"
Orga membentak Fahrez. Fahrez terkesiap. Pada akhirnya dia mengikuti ucapan Orga. Dia membuat lima pasak yang terbuat dari tanah, setelah selesai Fahrez melemparkannya pada kedua tangan, kaki, dan perut.
Dan anehnya tidak ada keluar darah satu tetespun.
"RAKKA...!"
"Ä'nats, fold dis quenta..."
Rakka sedang menutup matanya saat dia merapalkan mantra. Sergio yang mendengarnya semakin berteriak kencang, dia semakin memberontak.
"....Corvi de farta, indes hagh. Dis ma, Zoe Hartez. Ma fawm, kvil...."
Tanah yang menjadi pasak Sergio retak, begitupula salib dimana Sergio terikat.
"...Oh, ä'nats. Julvi des, inda!"
Sebuah cahaya putih muncul. Cahaya itu bersinar terang, kemudian cahaya itu melesat cepat ke arah Sergio.
Cahaya itu menabrak pisau yang masih berada tepat di jantung Sergio. Perlahan cahaya itu mengecil, seperti terserap ke dalam pisau.
Cahaya itu, menghilang. Setelah itu muncul tulisan kuno yang muncul di seluruh tubuh Sergio. Tulisan itu bercahaya kuning keemasan, tulisan itu menjalar dari ujung kepala, sampai ujung kaki.
Sergio menjadi tenang kembali. Dia tidak berteriak atau memberontak, tapi matanya tetap terbuka. Tatapan-nya kosong, tidak ada cahaya di dalam matanya.
"Kita hanya perlu menunggu."
Orga berucap pelan. Mereka bertiga masih bersiap untuk kemungkinan terburuk.
||°°°°°||
"Yo, kita bertemu lagi."
Eh?
Ketika aku membuka mataku, aku melihat seorang anak kecil yang hanya setinggi pinggangku. Bukan hanya itu. Sejauh mata ku melihat, tempat ini seluruhnya putih.
Aku menatap anak kecil itu. Dia memiliki rambut putih dan mata biru yang menatapku. Wajahnya bulat dan pipinya merah merona.
Aku yang melihatnya merasa gemas dengan anak ini.
Aku berjongkok, kemudian melihat anak kecil itu.
Plaakk....
Satu tamparan mendarat di wajahku.
Eh? Apa? Apa yang terjadi.
"Hei! Jangan mentang-mentang tubuhku seperti anak kecil, kau memperlakukanku sama. Umurku lebih tua darimu!"
"HEH?!"
Aku terkejut. Anak kecil itu mengacak pinggangnya, dia memasang wajah angkuh dan sombong. Tatapannya merendahkan diriku.
Sombong sekali anak ini.
Aku berdiri, dan aku membalas tatapan merendahkan bocah ini.
"Bagus, kamu membalasnya. Aku tak ingin kau selalu ditatap merendahkan."
Bocah itu mengangguk. Aku menatapnya bingung.
"Apa? Kau itu orang pilihanku. Aku tak ingin kau direndahkan oleh orang lain."
"Sebelum itu, siapa namamu?"
Aku menatap kesal pada anak ini.
"Aku? Bukankah kau pernah menyebutkannya."
"Aku? Pernah menyebutkan namamu?"
Anak itu mengangguk. Aku kembali berusaha mengingat-ingat. Ka?
"Kari?"
"BUKAN! Kenapa namaku yang agung kau bandingkan dengan nama makanan! Astaga, tak kusangka kau sebodoh ini."
Anak itu menatapku dengan tatapan menyesal.
"Baiklah, mau bagaimana lagi. Sini."
Dia menyuruhku membungkuk. Akupun mengikutinya. Setelah itu dia menyentuh kepalaku dengan jari telunjuknya.
Kemudian sebuah ingatan muncul. Rasanya ingatan itu seperti kaset rusak, kepalaku mulai pusing mengingatnya.
Anak itu melepaskan jarinya. "Sudah ingat, jadi sekarang. Sebutlah namaku."
Aku meringis kesakitan. Kepalaku masih sakit, tapi aku tetap mengucapkannya.
"Kaeiru."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°°°°||