
Pagi hari yang tenang...
GUBRAK.... BRAKK....
"AKU NGGAK MAU...!!"
Eh- ralat. Pagi hari yang sangat tidak tenang.
"Cih... ORGA! Tangkap Sergio yang lari!"
Orga yang saat ini sedang duduk di meja makan sambil meminum kopi tersentak kaget mendengar nada perintah dari Rakka.
Orga kemudian menyeringai. Sedetik kemudian Orga sudah berada tepat di depan Sergio.
"Tenanglah Sergio. Kenapa kau kabur begitu saja, huh?"
Sergio meronta. Ia baru saja bangun pagi hari ini. Dan tiba-tiba saja Rakka membangunkan dirinya dan mengatakan akan pergi dari dari kerajaan Akai.
"Aku nggak mau pergi dari sini begitu saja!"
"Hah?" Orga menjadi bingung. "Maksudmu apa?"
"Kenapa kita harus pergi jauh-jauh dari kerajaan Akai!"
"Itu-"
PLAKK..
"Aduh...! Sakit!" Sergio mengelus kepalanya yang habis di geplak.
"Bocah nakal! Kau belum mendengarkan penjelasanku secara lengkap!"
Si pelaku-- Rakka menatap tajam Sergio. Mata kuning emas itu mengintimidasi Sergio dan Orga yang merasa ada yang salah di sini.
Kemudian Rakka menghela nafas kasar "Kita akan pergi dari kerajaan Akai untuk melatihmu."
"Eh?"
"Jangan bilang dia tidak tahu?!" Tunjuk Orga kearah Sergio yang memasang wajah bodoh andalannya.
"Eh? Loh, cuman buat latihan?"
Rakka menepuk keningnya sendiri, terlihat pusing dengan tingkah Sergio yang lari seperti orang kesurupan. "Iya. Cuman latihan" tegas Rakka.
"O-oh."
Baiklah. Sergio menyadari kebodohannya sekarang. Entah pengaruh baru bangun tidur, makanya ia tidak terlalu mengerti ucapan Rakka.
Habisnya. Rakka memberitahukannya dengan wajah serius beserta aura gelap yang menguar begitu saja dari tubuhnya!
Bagaimana tidak terjadi salah paham!
Sergio merasa apa yang ia lakukan kemarin itu kesalahan. Ia takut Rakka akan memberikan hukuman.
Tuan takut pelayan. Oke, judul sinetron yang sangat bagus.
"Jadi... Apa yang harus kulakukan?" Tanya Sergio dengan polosnya.
Perempatan siku-siku muncul di kening Rakka. Orga yang melihat emosi Rakka perlahan berjalan menjauh dan kembali ke kursi dengan tenang.
Sergio tersenyum "Jangan terlalu banyak emosi. Nanti cepat tua."
"Hei!"
Sergio langsung lari begitu saja. Ia lari ke kamar dengan cepat, kemudian membuka pintu dan menutupnya dengan keras.
Rakka kembali menghela nafas kasar. Benar-benar pusing dengan tingkah laku Sergio yang kekanak-kanakan baginya.
"Tuan Rakka. Silahkan duduk."
Rakka kemudian menatap Reina yang memakain apron bewarna merah marun. Ia terlihat sedang mempersiapkan sarapan di atas meja makan. Rambut ungu miliknya ia ikat ponytail, dan mata merahnya menatap lurus Rakka.
"Maaf Reina. Aku menyuruhmu untuk memasak."
Reina tersenyum tipis "Tak apa tuan."
"Umm... Reina, bisa buatkan aku kopi lagi?"
Reina kemudian menatap tajam Orga "Buat sendiri."
Nyali Orga menjadi ciut seketika "Baiklah." Orga berjalan kearah dapur. Membuat kopi sendiri.
Dasar bucin.
Rakka kemudian duduk. Ia mengambil secangkir teh yang baru saja di tuangkan oleh Reina. Ketenangan yang damai itu berakhir ketika ia melihat seseorang yang sekarang duduk di hadapannya.
PFFTT....!
Rakka menyemburkan teh yang baru saja ia minum. Setelahnya ia terbatuk-batuk. Reina kemudian menyodorkan tisu yang dengan segera Rakka ambil.
Seseorang yang menjadi biang-keladi mengangkat alis kanan-nya. "Kenapa? Ada yang membicarakanmu?"
"K-kau!"
.
.
.
.
.
.
.
"Hei Kai. Bukankah Rakka berperilaku aneh?"
'Aneh bagaimana?'
Sergio kemudian mengambil kemeja kotak-kotak beserta celana jeans bewarna hitam. "Yaa.... Aneh saja. Biasanya Rakka selalu terlihat tenang, tapi kali ini?"
Sergio saat ini tengah berkomunikasi bersama Kaeiru. Sebenarnya Sergio terkejut dengan Kaeiru yang tiba-tiba saja mengajak dirinya untuk berbicara.
Selagi berbicara bersama Kaeiru. Sergio membuka bathrobe dan memakai pakaian yang baru saja ia ambil.
'Hmm.... Mungkin dia sedang memikirkan sebuah masalah.'
"Masalah?"
'Ya. Ketika seseorang banyak berpikir. Sedeorang itu akan mudah emosi.'
Sergio mengancingkan kemeja satu-persatu. "Hmm... Kau benar."
'Dan ada seseorang yang dengan bodohnya melarikan diri dengan alasan tidak jelas.'
Sergio tersentak. Wajahnya memerah karena malu. Sumpah demi apapun, Sergio merasa malu ketika ia melarikan diri dari Rakka tanpa alasan yang jelas.
Terdengar suara tawa di dalam pikirannya. 'Hahaha... Kau lucu sekali Sergio.'
"Diam!" Sergio menjadi malu setengah mati. Benar-benar kejadian memalukan.
Sergio kemudian beralih ke meja arah kaca dan mengambil sisir. Ia mulai menyisir rambutnya dan memberikan sedikit pomade.
'Sergio. Perjalanan kali ini, gunakan elemen Cocytus.'
Tangan yang sedang merapikan rambut itu berhenti ketika mendengar ucapan Kaeiru. Mata hitam itu berkilat tajam "Untuk apa?"
'Hahhh.... Kau bertanya untuk apa? Tentu saja untuk melindungimu.'
"Aku memiliki Beltza dan bisa memakai Archo Gerna disaat terdesak."
'Sergio. Jangan keras kepala.'
"Aku tidak keras kepala Kai." Sergio mengibas-ngibaskan rambutnya sedikit-- membuat rambutnya terlihat sedikit berantakan. "Aku tak ingin lepas kendali lagi."
Terdengar suara helaan napas di dalam pikiran Sergio. 'Hahh... Apa yang begitu kau takutkan.'
Sergio berjalan ke arah rak sepatu. Mengambbil sepasang sneakers bewarna merah marun dengan tali hitam. Kemudian Sergio duduk di pinggir kasur dan mulai memakainya.
"Banyak yang ku takutkan."
'Ini karena mimpimu itu?'
Gerakan tangan Sergio berhenti. Kemudian ia menghela nafas kasar "Kau tahu segalanya ya."
"Ya, ya, ya. Bagian diriku yang sangat menyebalkan."
'Hei, menyebalkan begini aku masih mendukungmu tahu.'
"Mendukung dari mananya. Yang ada kau terus memaksaku."
'Kau itu kalau tidak di paksa pasti bilang tidak.'
Sergio terkekeh "Siapa yang di dunia ini mau di paksa. Tuan sok tahu."
'Baiklah, kau menang debat kali ini.'
Sergio tersenyum miring "Menyerah begitu cepat. Kupikir ada alasannya."
'Hei, kau mencurigai diriku?'
Sergio mengangguk "Ya."
Untuk beberapa saat hanya ada keheningan. Sergio sudah selesai memakai sepatunya. Ia kemudian berdiri dan sedikit merapikan kemeja miliknya.
Setelah itu Sergio berjalan ke arah meja dekat kasur. Ia mengambil handphone dan dompet, setelah itu memasukkan ke dalam kantong celana.
Tak lupa ia memakai jam tangan sebagai pelengkap akhir. Setelah di rasa dirinya sudah bersiap. Sergio berjalan ke arah pintu dan bersiap untuk membukanya.
'Benar-benar deh. Anak sama Ayah tidak ada bedanya.'
Sergio berhenti tepat di depan pintu. Sekilas ia mengingat sebuah bayangan pria berambut hitam yang memakai kaos putih lengan panjang serta celana jeans.
"Tentu saja. Aku kan anaknya."
CKLEK...
"Eh?"
Sergio membuka pintu dan ia terkejut ketika melihat Fahrez yang berdiri sambil bersandar di pagar pembatas. Terlihat Fahrez menatap Sergio dari atas hingga bawah.
"Hmm.... Kau keren juga berpenampilan seperti ini."
Sergio menutup pintu. Kemudian berjalan menjauhi Fahrez. "Terima kasih."
Fahrez kemudian berjalan berdampingan dengan Sergio. Mereka berdua berjalan ke arah meja makan. Ketika Sergio menuruni anak tangga. Ia merasa ada sebuah aura yang sangat ia kenali.
Secepat kilat Sergio berlari.
"Eh? HEI!"
Fahrez ikut mengejar. Tentu saja ia kaget dengan Sergio yang tiba-tiba saja berlari dengan tanpa alasan yang jelas.
Tak lama kemudian Sergio telah sampai ke meja makan. Sergio melihat kesana kemari. Mencari seseorang yang mengeluarkan aura yang ia kenali itu.
Rakka dan Orga saling berpandangan, memberi kode melalui mata.
"Ada apa? Apa yang kau cari?" Tanya Orga sembari menyeruput kopi.
Seperti orang linglung, Sergio menatap Orga dengan serius. "Tadi ada orang yang datang?"
Orga mengerutkan keningnya. "Tidak ada. Sedari tadi hanya ada aku, Rakka, dan Reina yang sedang memasak."
Mata Sergio menyipit. Menatap Orga curiga "Kau yakin?"
Orga mengangguk "Sangat yakin."
Sergio berdiri untuk beberapa saat. Mengintai setiap ruangan. Dan jujur saja-- dirinya tak merasakan aura yang terasa familiar itu lagi. Pada akhirnya ia menghela nafas kasar dan berjalan mendekat ke arah meja makan.
Setelah Sergio duduk, Fahrez datang tak lama kemudian. Memasang ekspresi wajah kesal yang kentara.
"Kau kenapa sih!" Tanya Fahrez.
Sergio mengambil segelas susu coklat hangat kemudian meminumnya dengan santai. Terlihat tak memperdulikan pertanyaan Fahrez.
"Hei! Aku bertany-"
"Kemana?"
""Huh?"""
Sergio kemudian mengambil roti bakar dengan selai coklat "Kemana kita akan pergi?"
Mereka bertiga ber-oh ria bersamaan. Fahrez kemudian duduk di sebelah Orga dan meminum teh.
"Hmm.... Sebenarnya kita tak memiliki tujuan" Ucap Rakka.
"Hah?"
Orga terkekeh "Rakka benar Sergio."
"Uhh... Benar-benar deh. Tujuan tak punya, tapi ingin pergi" ucap Fahrez.
"Aku merasa bernostalgia" ucap Orga yamg terlihat sedang mengenang sesuatu.
"Jadi apa gunanya kita pergi kalau tidak tahu tujuan" Tanya Sergio.
Rakka terkekeh "Tentu saja ada guna-nya."
"Karena tidak ada tujuan. Maka kami bertiga akan membawamu ke suatu tempat" ucap Fahrez.
"Kemana?" Tanya Sergio penasaran.
Rakka dan Fahrez kemudian menatap Orga yang tengah menyeruput kopi miliknya. Merasa ditatap, Orga meletakkan cangkir kopinya dan menatap Sergio dengan serius.
"Well... Sepertinya ada tambahan anggota baru. Walaupun sementara" gumam Orga.
"Huh? Apa?"
"Mari kita lihat..." Orga tersenyum miring.
"...Sisi gelap dunia Egolas."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author Note:
Sorry kalau ada beberapa typo. Di chap ini, mood Rai lagi jelek, tapi paksa aja buat nulis soalnya mau up :(
1. 340 kata