
"Kau akan membawaku ke mana?"
Aku bertanya pada Orga yang duduk di sebelah Reina yang sedang mengemudi.
Orga menoleh kebelakang, melirikku sebentar sebelum menjawab. "Kita akan melihat kerajaan Akai dari dekat."
"Kerajaan Akai?"
"Ya, kerajaan yang sekarang kau tinggali adalah kerajaan Akai. Dan nama distrik yang kau tinggali adalah Agni."
Aku menjadi bingung. "Memangnya ada berapa distrik disini?"
"Hmm...kurasa tujuh?"
"Tujuh?"
"Ya. Agni, Indra, Apollo, Ra, Ishtar, Marama, dan Virka."
Aku membeku mendengarnya. "Na-nama dewa dewi yang sangat terkenal sekali."
Aku menjadi gugup mendengarnya. Ayolah aku adalah manusia bumi yang tiba-tiba saja mendengar nama Dewa Dewi yang cukup terkenal di tempatku. Belum lagi mereka tinggal disini seperti manusia lainnya.
Bagaimana kalau aku bertemu salah satunya?
"Tenang saja, kau tidak akan bertemu salah satu dari mereka, mungkin."
Aku mendengar nada keraguan di akhir katanya. Orga bahkan ragu dengan perkataannya sendiri.
Kita berhenti di lampu merah. Semuanya terlihat sama dengan duniaku, kecuali di sini ada berbagai macam ras yang berjalan dengan tenang. Aku melihat Elf, Orc, Dwarf, Gnome, Half beast, Vampire dan ada beberapa manusia biasa lainnya.
Benar-benar pemandangan asing, tapi aku senang melihatnya.
Aku melihat di pinggir jalan ada pengemis jalanan dengan baju lusuhnya. Bukan hanya satu, tapi lima.
Aku mengerutkan keningku melihatnya.
"Disini bahkan ada pengemis?"
Orga menoleh ke arah yang sama. "Itu hal wajar. Di duniamu bukankah hal ini sudah biasa?"
Aku terdiam mendengarnya. Pengemis memanglah hal yang biasa. Tapi aku tak menyangka di dunia Egolas juga ada.
Kupikir disini rakyat lebih makmur daripada di bumi.
Aku menperhatikan pengemis itu, dan kemudian aku menatap gang sempit dan gelap.
Aku melihat ada dua orang pria besar sedang memojokkan satu orang perempuan. Perempuan itu terus mundur sampa menabrak tembok. Walau jauh, aku bisa melihat binar ketakutan dari matanya.
Sesekali perempuan itu menggelengkan kepalanya kemudian berbicara, tapi sepertinya tidak didengarkan oleh kedua pria itu.
Aku mendecih kesal melihatnya.
Untuk beberapa saat aku diam, memperhatikan mereka. Sampai pada akhirnya mobil berjalan karena lampu hijau.
Entah kenapa aku merasa tak enak hati.
"Cih! Reina berhenti!"
Aku menarik bahu Reina. Tiba-tiba saja Reina memberhentikan mobil. Membuat kita semua hampir menghantup apa yang ada di depan kami.
Aku langsung membuka sabuk pengaman, kemudian membuka pintu mobil dan berlari meninggalkan Orga dan Reina yang berteriak memanggilku.
||°°°°°°°°||
"Untuk apa kalian mendatangiku lagi?"
"Oh sweetie. Kau cukup manis. Aku hanya ingin menagih hutang ayahmu yang sudah telat lebih dari dua bulan."
"Kenapa kalian mencariku! Cari saja ayahku!"
Kedua pria besar itu melangkah mendekati diriku yang perlahan mudur sampai aku merasakan dinding yang sedikit berlumut.
"Kau tahu manis. Ayahmu sebenarnya menjualmu pada kami."
Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak! Aku tidak percaya omong kosongmu!"
"Kau tidak percaya? Kalau begitu akan kubuat kau percaya, my sweet."
Salah satu pria itu memegang kedua tanganku, aku memberontak. Berusaha melepaskan cengkaramannya yang sangat kuat. Tapi percuma saja, tenaga pria besar berotot dan tenaga dari seorang gadis kecil tak berdaya tidak akan mungkin bisa menang.
"Lepaskan aku!"
Lelaki yang menahan diriku tertawa. "Teruslah berteriak manis. Tidak akan ada yang membantumu."
Aku menjadi takut mendengar ucapannya. Lelaki yang berada di hadapanku mulai membuka satu persatu kancing baju kemeja biruku. Aku semakin memberontak, tapi percuma.
Air mataku jatuh melihat kedua pria besar ini menjatuhkan harga diriku.
'Tolong! Tolong siapapun!'
TAP...TAP..TAP..BRAKK...BRUKK....
Aku membuka mataku yang sebelumnya tertutup. Aku terkejut ketika melihat pria yang sebelumnya berada di hadapanku telah jatuh dengan wajah yang terlihat bonyok.
"Sialan kau!"
Pria yang menahanku melepas diriku. Dengan cepat aku menjauhi perkelahian mereka berdua. Beruntung aku pergi menjauhi mereka berdua. Saat ini ada seorang anak laki-laki berambut hitam sedang menendang pria yang menahanku.
Tapi pria itu menahan tendangannya. Si rambut hitam tidak hilang akal, dia menjepit leher pria itu menggunakan kedua kakinya. Kemudian dia menjatuhkan dirinya dan kedua kakinya melempar pria yang menahanku itu.
Sekilas aku mendengar suara retakan tulang. Aku menjadi ngilu mendengarnya.
"Sergio! Apa maksudmu pergi meninggalk- HEHH...!? APA INI?!"
Aku melihat ada seorang lelaki berambut hijau dan berkacamata. Matanya merah dan dia memakai jaket parasut coklat yang membuatnya terlihat keren.
Aku melihat si rambut hitam membersihkan pakaiannya. Kemudian dia menatapku.
Aku tersentak kaget melihatnya.
"Kau baik-baik saja?"
"Tolong perbaiki bajumu."
Aku melihat pakaianku. Wajahku memerah seketika. Tak kusangka kancingnya terbuka sampai terlihat warna bra yang kupakai hari ini.
Aku cepat-cepat mengancingkan bajuku.
"Sergio, jadi ini yang membuatmu pergi dari mobil?"
"Ya, sebenarnya aku ingin mengabaikannya. Tapi aku merasa akan menyesal kalau aku tidak membantunya."
Aku mematung mendengarnya. Bukankah itu berarti dia sudah melihatku dari awal.
"Ckckckck...parah sekali luka yang kau berikan. Darimana kau mempelajarinya?"
Aku melihat si rambut hijau berjongkok pada pria yang menahanku. Dia mencoba merasakan detak jantung, kemudian dia menangguk.
"Bagus, masih hidup. Sergio, kau belum menjawab pertanyaannku."
Sepertinya si rambut hitam ini namanya Sergio. Aku mendengar beberapa kali, jadi sudah di pastikan namanya adalah Sergio. Dia terlihat melamun, kemudian dia tersadar dari lamunannya ketika si rambut hijau bertanya.
"Dari film?"
Aku mendengar Sergio ini ragu dengan ucapannya.
"Film? Kau meniru pergerakan bela diri hanya dari Film!"
Aku nelihat si rambut hijau terkejut mendengarnya. Sergio mengangguk mengiyakan.
"Ya. Apa ada masalah?"
Si rambut hijau menggeleng cepat. "Tidak, tapi aku mengerti. Ternyata kau seorang monster."
"Hei, aku tak suka dianggap sebagai monster."
"Jadi akan kita apakan kedua orang ini?"
Si rambut hijau terlihat tidak peduli dengan protesan Sergio.
Tanpa diduga Sergio menatapku.
"Kalau itu terserah dia saja."
"Eh? Aku? Tapi bukankah kamu yang mengalahkannya."
"Aku hanya membantu. Jadi terserah pada dirimu sekarang. Orga, ayo kita pergi."
"Oke."
Si rambut hijau berdiri. Dia mengikuti Sergio yang sudah berjalan duluan. Aku menatap bingung pada dua orang yang sedang tidak sadarkan diri.
Oh iya aku lupa satu hal.
"Tunggu! Siapa namamu?"
Sebenarnya aku tahu namanya. Tapi aku ingin mendengar lansung dari mulutnya.
Dia berhenti, kemudian menoleh kearahku. "Sergio Vandelhein."
Dia kembali berjalan. Meninggalkanku di gang sempit dan gelap. Sampai akhirnya tidak terlihat punggung Sergio lagi, aku masih berdiri di dalam gang sempit ini.
Aku menghela napas berat.
Sekarang, apa yang harus kamu lakukan, Atra.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°°°||