
Pagi Harinya
Kringgg..... Kringggggg..... Kringggg....
Aku terbangun.
Dengan susah payah aku bangun, dan setelah itu aku berusaha untuk meregankan tubuhku.
Rasanya badanku sakit semua.
Aku kembali menatap jam yang masih berbumyi nyaring karena bel alarm.
'Jam 7:30. Aneh, biasnya aku bangun jam 5 pagi.'
Yahh... Sekolah juga dimulai jam 9, Aku rasa tak apa telat sedikit.
Aku berjalan kearah kamar mandi, tapi aku mulai merasakan ada yang aneh dengan tubuhku.
'Kenapa kaki ku terasa sakit?'
Aku memeriksa kakiku dan aku cukup terkejut melihat memar yang lumayan mengerikan.
"Uhh... Ini menyakitkan. Apa yang kulakukan semalam?"
Selanjutnya aku berjalan terseok-seok setelah melihat lukanya. Aku mengambil handuk, dan masuk ke dalam kamar mandi dengan rasa sakit.
Aku meringis pelan. Selanjutnya aku membuka satu-persatu baju tidurku, kemudian aku menyadari satu lagi hal aneh.
Sangat-sangat aneh.
Aku merasa bukah hanya aku saja yang berada disini.
Aku menatap sekitar.
Oke, ini mulai menjadi horror. Tiba-tiba aku menjadi takut sendiri.
Tak perlu menunggu lama. Aku mengetahuinya asal dari aura itu.
Seorang manusia, tidak. Aku rasa dia manusia, tapi disini lain dia tidak seperti manusia. Kulitnya sangat pucat.
Dia menatapku tajam. Sangat tajam, matanya yang warna abu-abu gelap semakin memperlihatkan betapa mengerikannya tatapan dia.
Aku terdiam.
Lebih tepatnya terkejut.
"AAAAHHHHHHHH..................!!!"
AKU BERTERIAKKKK!!!
ASTAGA APA-APAAN MAKHLUK INI.
SUNGGUH MENGERIKAN.
Dia, manusia itu kurasa. Menatapku dengan tatapan aneh. Seakan-akan dia berkata 'Kenapa kau sangat aneh? Apa ada hantu disini.'
Aku berlari keluar. Tak peduli dengan apa yang kulihat tadi. Anggap saja dia hanya hantu yang lewat. Ya. Hantu yang lewat.
Intinya haru keluar dari tempat itu!
Tapi sebelum aku bisa keluar, dia menarikku, dan mengunci pergerakanku, kemudian dia menjatuhkanku ke lantai kamar mandi.
"Aww... Lepaskan aku! Aku tak pernah membuat masalah padamu!"
Dia masih terdiam.
Uhhh... Dia orang menyebalkan.
Tak bisakah dia menjawab satu saja pertanyaanku. Dia semakin mirip hantu saja. Dan aku tak suka.
Ketika aku ingin bergerak, dia semakin mencengkram pergelangan tanganku. Seperti dia ingin meremukkan tulang ku.
"Eh.... Hei! Itu sakit! Tak bisakah kau berhetnti dan mulai menjelaskan kenapa kau berada disini, hah!?"
Dia menatapku. Tapi sepertinya dia mendengarkan perkataanku. Pegangan nya mengendur, dan ini merupakan kesempatan ku untuk lari.
Segera saja aku berdiri, dia pun juga berdiri membiarkanku saja, tapi kemudian aku kembali terjatuh.
Bukan. Bukan karena dia yang menjatuhkan ku lagi. Tapi karena kakiku yang sepertinya memarnya itu semakin parah karena terjatuh tadi.
'Sial, ini sakit sekali. Apa yang kulakukan semalam.'
Aku meringis kesakitan. Aku kembali berusaha untuk bangkit berdiri lagi, dan berhasil.
Aku duduk di meja belajar, kemudian aku melihat pergelangan kakiku yang membiru dan kelihatan bengkak sedikit.
'Ini mengerikan.'
Aku memijat pelan pergelangan kakiku, rasanya sakit. Tapi aku tak memiliki es batu dirumah ini.
"Uhh... Ini menyakitkan, seandainya saja ada yang membantuku."
Aku menatapnya. Menatap satu-satunya manusia disini.
Dia hanya menatapku tajam, tapi sepertinya dia tahu apa yang terjadi. Dia berjalan kearahku dengan pelan. Aku ingin pergi, tapi tak bisa berjalan.
Pada akhirnya dia berada di hadapanku, kemudian menunduk dan mulai menyentuh pergelangan kakiku yang bengkak.
Aku tak tahu dia ingin melakukan apa, tapi yang pasti aku merasa waspada dengan makhluk tak jelas ini.
Kemudian, tanpa aba-aba dia memutar kakiku.
"AAAAKKKHHHHHH......!!!"
Aku berteriak lagi.
Semoga saja tetangga ku tak ada yang terganggu.
Aku meringis kesakitan. Dia kembali berdiri dan berjalan ke pojokan dinding. Kemudian dia bersandar dengan bersedekap tangan.
Gayanya seperti dia menungguku untuk selesai merasakan rasa sakit.
Benar-benar sadis.
"Khh.... Si- siapa kau?"
Aku bertanya sambil menahan rasa sakit.
Tapi, perlahan-lahan rasa sakit itu mulai berkurang. Aku menatap pergelangan kakiku dengan tak percaya.
'Kelihatannya sudah tak terasa sakit seperti sebelumnya. Tapi tetap saja yang terjadi barusan menyakitkan.'
Dia menatapku tajam.
Aku menatapnya juga.
Cukul lama kami saling tatap menatap. Dan jujur ini sangat menganggu.
"Aku tak yakin apa kamu adalah orang yang kucari."
Satu kalimat pertama yang diucapkannya.
"Maksudmu?"
Aku bertanya dengan perasaan bingung.
"Ya. Kamu terlalu lemah untuk menjadi 'dia' apa Rakka tak salah."
Dia, manusia di hadapanku ini mulai berkata hal yang tak jelas. Aku bahkan dibuat bingung olehnya.
"Apa maksudmu dengan 'dia' apa kau mulai bermain tebak-tebakan dengan diriku?"
Dia menatapku lagi. Kali ini dengan tatapan bingung di matanya.
"Kamu. Terlalu lemah, tapi kamu sangat mirip dengan 'dia'. Apa maksudnya ini."
Dia mulai berbicara sendiri. Tapi aku tak peduli.
Setelah merasakan rasa sakitnya yang berkurang, aku kembali berdiri dan memasuki kamar mandi. Aku ingin mandi dan pergi ke sekolah dan berusaha melupakan apa yang terjadi hari ini.
Aku berusaha melupakan apa yang terjadi, kemudian aku mandi dengan cepat.
Tak lama kemudian aku keluar kamar mandi dengan rambut basah. Aku keluar hanya menggunakan handuk yang hanya menutupi bagian bawahku.
Aku harap dia sudah pergi, tapi ternya tidak. Dia masih disini, masih dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.
Aku mendesah dalam hati.
'Hahhh.... Apa dia tak mengerti kalau aku ingin pergi ke sekolah.'
"Permisi. Apa kau masih ada keperluan lain disini. Aku sedang sibuk, tak bisakah kau pergi dari kamarku. Sekarang." Ucapku mencoba untuk ramah.
Dia menatapku. Setelah kuperhatikan, ternyata dia menggunakan jaket kulit warna hitam dan celana jeans dengan warna sama. Belum lagi kulit putih pucatnya sebagai bagian mencolok dari dirinya. Rambutnya warna coklat muda, dan diatas bahu rambutnya diikat sebagian. Matanya warna abu-abu tua, warna yang aneh. Tak dilupakan kalau dia ada seorang laki-laki.
Kupikir awalnya dia seorang wanita, tapi aku melihat rahang tegasnya, alu kembali memikirkan ulang apa yang kupikirkan.
"Kamu. Apa kamu tak merasa ada perubahan pada dirimu."
Dia mengatakan suatu hal aneh lagi.
"Maksudmu apa? Oh ayolah, aku lelah dengan segala tebak-tebakan ini. Tak bisakah kau bicara langsung saja."
Aku mulai kesal.
Dia menatapku ragu, kemudian dia berkata.
"Sepertinya kamu perlu melihat kearah kaca."
Aku menatapnya aneh.
"Percaya padaku," lanjutnya.
Baiklah, akan kucoba percaya padanya.
Aku berjalan ke arah lemari, karena disana ada kaca yang tak terlalu besar.
Aku menatap diriku didalam kaca itu. Aku memperhatikan satu-persatu apa yang berbeda dari diriku.
Dan aku tahu.
"Apa ini."
Aku semakin mendekatkan diriku ke kaca. Perlahan aku menyentuh bagian kelopak mataku.
"Kamu. Inilah yang terjadi jika kamu adalah 'dia'," ucap manusia pucat itu.
Ada apa dengan mataku.
Mataku... Berubah menjadi biru.
||°°°°°°°°°||