The Another Soul

The Another Soul
Ch. 51 [Who I Am]



...Ketika kau kehilangan arah...


...Dan...


...Kau merasa seperti kehilangan seseorang yang penting bagimu...


...Itulah saatnya...


...Iblis mengambil hati...


...Manusia...


...🌌🌌🌌...


Sakit.


Blupp...


Sakit...


Blupp...


'Siapapun! Hentikan rasa sakit saat ini juga!'


KRAKK...!


\=\=\=\=\=\=\=


"Hei Sergio, kau melamun?"


Terlihat Sergio tersentak kaget. Dia terlihat linglung untuk sesaat ketika Rakka yang sekarang berada di hadapannya tengah menatap khawatir padanya.


"Ya... Maaf" ringis Sergio di akhir.


'Tadi aku melihat apa?'


"Jangan terlalu banyak pikiran, itu tak baik."


Sergio mengangguk pelan. Terlihat Rakka tengah mengeluarkan kotak berukuran sedang bewarna hitam. Rakka membukanya dan terlihatlah 3 suntikkan berisi cairan berbeda warna.


KAAKK...


"Hoohh... Tenang Grey, Sergio akan baik-baik saja."


Sergio menoleh ke belakang. Terlihat Orga yang sedang mengelus Grey yang terlihat gelisah.


"Sergio, mendekatlah sedikit."


Sergio kembali menghadap Rakka yang saat ini sedang memegang suntikkan bewarna merah terang.


Sergio menurut, dia berjalan mendekati Rakka. Rakka mengambil tangan kiri Sergio, kemudian dengan cepat Rakka memasukkan jarum suntik dengan cepat, tanpa persiapan apapun.


Seketika Sergio meringis kesakitan.


"Urghh...!"


Dan demgan cepat pula Rakka menarik kembali.


"Maaf agak kasar, tapi memang harus cepat untuk suntikkan pertama" ucap Rakka dengan nada menyesal.


"Setidaknya beritahu aku lebih dahulu," ucap Sergio dengan kesal.


Rakka hanya menyengir tanpa merasa bersalah.


"Seharusnya sudah terasa sekarang."


"Apa maksud- Uhh....!"


Sergio merasa tubuhnya sangatlah panas. Bahkan  Sergio merasa goyah dan akan jatuh kapan saja.


Dengan segera Rakka mengambil suntikkan dengan cairan bewarna biru pucat. "Tenang Sergio, selanjutnya kau tidak akan merasa sepanas ini" Rakka kembali menyuntikkan cairan kedua di tempat yang sama.


Sergio merasa tubuhnya sangatlah panas, jantungnya juga berdetak dua kali lebih cepat. Nafasnya juga mulai tidak beraturan karena rasa panas pada tubuhnya.


"Selagi menunggu efeknya, aku akan menjelaskan apa kegunaan dari setiap cairan yang kuberikan."


Sergio merasa tubuhnya terasa lemas. Dia akan jatuh, itulah yang di pikirkan oleh Sergio.


Namun sebelum dia jatuh menyentuh lantai, ada dua tangan yang tengah menahannya dari belakang.


"Tadi berbahaya sekali."


"Hei Rakka, kenapa tidak kau sediakan kursi?!"


Sergio kenal dengan nada protes yang sangat khas itu. Fahrez yang tengah protes pada Rakka, dan Orga yang saat ini menatap Rakka dengan tatapan kesal.


"Ohh... Aku lupa" jawab Rakka dengan enteng-nya.


Sergio merasa ingin memberikan tinjuan penuh amarah pada Rakka saat ini.


Dan sepertinya pikiran Sergio dengan Grey sama. Setelah Sergio berpikir seperti itu, dengan segera Grey mematuk kepala Rakka dengan keras.


"Aww...! AHH.... GREY HENTIKAN!"


Baiklah, Sergio sekarang merasa sangat puas.


Terimakasih Grey yang telah mewakilkan tuanmu yang sedang tidak berdaya saat ini.


"Baiklah kulanjutkan penjelasanku yang terpotong barusan" ucap Rakka dengan benjolan besar di kepalanya.


"Jadi cairan pertama berguna untuk meregenasikan darahmu. Itulah kenapa tubuhmu terasa panas karena darahmu yang tergenerasi terlalu cepat."


"Yang kedua berguna sebagai penenang. Aku tahu cairan pertama sangat berat bagi tubuhmu yang masihlah tubuh manusia biasa. Jadi aku menggunakan cairan kedua ini. Dimana kegunaannya adalah untuk mendinginkan atau melemaskan syaraf-syaraf yang terlalu tegang." Ucap Rakka sambil mengambil suntikkan yang berisi cairan warna hijau terang.


"Dan yang ketiga" Rakka memasukkan jarum suntik pada lengan kiri Sergio. "Berguna untuk mencegah 'Dia' muncul dan membuat masalah yang tak perlu."


Rakka menarik dengan perlahan, kemudian Rakka berbalik dan membereskan alat-alat yang ia gunakan barusan.


Sergio terdiam ketika mendengar perkataan Rakka tentang 'Dia'.


Yang ada di pikiran Sergio saat ini adalah.


'Dia' Siapa?


"Fahrez bantu Sergio ke dalam tabung. Dan Orga, kupikir kau harus berada di tempatmu sekarang" Ucap Rakka.


"Oke" Ucap Orga. Orga kemudian berpindah tempat dengan berada di lapisan pertama.


Fahrez melakukan tugasnya dengan membawa Sergio di punggungnya.


"Jangan kau pikirkan ucapan Rakka, Sergio."


Sergio menatap wajah Fahrez dalam diam.


Fahrez menurunkan Sergio di dalam tabung, untuk sesaat Fahrez memperhatikan wajah Sergio yang terlihat pucat.


Fahrez menepuk pucuk kepala Sergio, "Jangan takut. Kami bersamamu" ucap Fahrez dengan nada lembut.


'Kami bersamamu.'


Entah kenapa Sergio merasa tenang untuk sesaat. Sergio membalas Fahrez dengan sebuah senyuman tipis.


Fahrez balas tersenyum, kemudian Fahrez berbalik meninggalkan Sergio sendiri di dalam tabung kosong.


Untuk sesaat Sergio merasa kosong. Seperti di dalam dirinya tidak pernah memiliki perasaan.


'Kau tidak sendirian Sergio, ada aku bersamamu.'


'Hmm... Kau benar Kai! Jangan lupakan diriku, Sergi~"


Sergio membelalakkan bola matanya, terkejut ketika mendengar suara yang sangat ia kenal itu.


"Kaeiru? Ankaa?"


"Yo... Lama tak mengobrol."


"Tunggu, bukankah kau sedang tidur dan akan bangun dua bulan lagi?"


"Ehh....? Ankaa yang mengatakannya padaku."


Hening beberapa saat, sampai tiba-tiba saja ada air bewarna biru gelap yang muncul dari dasar tabung.


"Aku tak permah mengatakan hal itu! Aku mengatakan pada Ankaa bahwa aku akan tertidur selama dua atau tiga hari!"


"Eh..? Apa aku salah menyampaikan?"


"Sangat salah!" jawab Kaeiru dengan kesal.


Sergio tertawa dalam hati ketika mendengar perdebatan mereka berdua. Sergio merasa dia sedikit terhibur.


Air bewarna biru gelap itu sudah mencapai dada Sergio yang saat ini masih bersender di dalam tabung. Sergio menatap ke luar, dan dia melihat wajah Orga yang menunduk.


Kemudian Sergio melirik ke kanan, dan dia mendapat Rakka yang tengah membuat lingkaran kecil Rune bewarna hijau, dan terakhir Sergio melirik ke arah kirinya.


Dia melihat Fahrez yang saat ini sedang menatap dirinya.


Air sudah mencapai dagunya, dan Sergio merasa tubuhnya mengambang. Dia berharap tidak akan kehabisan nafas jika terlalu lama di dalam air ini.


Tak perlu menunggu lama hingga air sudah penuh. Sergio mengambang dengan gelembung-gelembung air yang terus bermunculan ketika dia bernapas.


"Sudah di mulai, kah?" gumam Orga.


Orga menatap Sergio dengan serius, dia menunggu reaksi apa yang akan diperlihatkan oleh Sergio.


Untuk beberapa saat Sergio merasa biasa saja. Dia merasa biasa, dan tidak merasakan rasa sakit yang diceritakan oleh Orga, Fahrez, ataupun Rakka.


Namun pemikiran itu segera ditepis jauh-jauh.


Pertama-tama dia merasa tubuhnya hanyalah terasa nyeri di berbagai tempat, tapi rasa nyeri itu berubah menjadi rasa sakit yang paling menyakitkan dari yang pernah ia rasakan.


Tubuhnya terasa terbakar, tulang-tulang terasa seperti diremukkan, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Syaraf-syaraf di seluruh tubuhnya menegang, hingga ia merasa tidak akan bisa bergerak hingga kapanpun.


BLUPP...BLUPP...


Gelembung-gelembung air mulai bermunculan. Terlihat Sergio mulai gelisah dengan rasa sakit yang ia rasakan.


"Tahan sakitnya Sergio!" Ucap Rakka.


"Sergio jangan menyerah!" ucap Fahrez.


"Kumohon Sergio bertahanlah" gumam Orga.


Sergio mendengar semuanya. Dia hanya membalas dengan sebuah senyuman kecil. Meyakinkan mereka kalau dia akan baik-baik saja.


'Kasihan sekali dirimu. Entah kenapa aku melihat kau sebagai kelinci percobaan.'


Sergio terdiam. "Siapa?"


Suara misterius itu terkekeh. 'Siapa aku? Ohh... Ayolah, kita pernah bertemu sebelumnya.'


Sergio mengerutkan alisnya.


Tunggu.


Sejak kapan dia berada disini.


Berada di dalam jeruji hitam dengan seseorang berambut coklat yang saat ini tertunduk dengan lemah.


Belum lagi keadaan tubuhnya yang penuh dengan ranta-rantai hitam beserta pasak.


Siapa dia?


'Kekekeke~ melihat dirimu seperti itu sangatlah menyenangkan. Ahhh.... Aku berharap kita akan melakukan pertarungan itu sekali lagi.'


Sergio mengerutkan keningnya. Dia sungguh tidak mengerti arah pembicaraan dari suara yang tidak ia kenali.


'Sergio Vandelhein, putra Ellion dan cucu Elgar. Kau mengecewakan.'


Sergio terkejut. "Siapa Kau?!"


'Kekeke~ aku? Bukankah sudah kukatakan bahwa kita sudah pernah bertemu.'


Sergio menggertakan giginya. Dia merasa marah dikarenakan suara misterius itu terlihat seperti memainkan dirinya.


"Jangan bercanda. Siapa kau dan keluarlah Bre*gsek!"


Hening.


Tidak ada lagi terdengar suara-suara aneh yang membuat Sergio kesal setengah mati.


Belum lagi dia tidak tahu sekarang dia berada dimana. Bukankah harusnya dia tengah menjalankan proses penguatan? Bagaimana bisa dia berada di sini sekarang.


'Tak kusangka Putra dari Ksatria Surga Ketiga selemah ini. Sungguh kau mengecewakan diriku dan dirinya.'


"Siapa? Apa?! Sialan aku tak mengerti apa yang kau katakan suara sialan!"


Tiba-tiba saja seseorang berambut coklat itu bergerak. Terlihat dia melirik Sergio, dan ketika Sergio menatap wajahnya.


Sergio jatuh.


Dia merasa sangat lemah ketika ditatap oleh mata merah yang dipenuhi oleh amarah dan dendam.


Dan tidak dilupakan hasrat membunuh yang sangat besar menguar begitu saja. Dari tubuh seorang pria berambut coklat.


Tubuh Sergio bergetar. Dia ketakutan, sangat ketakutan. Di tengah kegelapan semu, dia merasa dingin, terasingkan, terabaikan. Dan dia ingin...


Membunuh seseorang.


Tapi sebelum itu ada satu pertanyaan yang tiba-tiba saja muncul di pikiran Sergio.


"Siapa.... Aku?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°||