
"Oh."
Sergio hanya memberikan respon 'oh' saja. Dirinya seperti tidak merasa terganggu dengan ucapan dari Dewa Hermes.
Dewa Hermes mengerutkan keningnya, "Kenapa kau sangatlah santai setelah mendengar hal itu?"
"Hmm.... Bagaimana yah..." Sergio terlihat berpikir hanya untuk menjawab pertanyaan Dewa Hermes. "Mungkin.... Aku sudah menduganya?"
"Aneh" gumam Dewa Ares.
"Terima kasih" balas Sergio.
Dewa Agni menghela nafas berat. "Seperti itulah Sergio. Jadi bagaimana?"
"Aku masihlah menolak."
"Alasannya?" Tanya Dewi Nyra.
"Kalau kalian bertanya tentang alasan. Maka aku akan menjawab... Aku tidak mempercayai kalian."
Dewi Bishamon mendengus kesal, "Hah! Kita melakukan pembicaraan yang tidak akan membuahkan hasil."
"Itu kau tahu."
"Bagaimana jika begini" celetuk Dewa Agni.
Sergio melirik Dewa Agni dengan serius.
"Bagaimana jika ditentukan dengan cara duel?"
"Duel?"
Dewa Agni mengangguk. "Bukankah sebelumnya kau akan mengajak Bishamon berduel?"
Sergio menunjukkan senyuman tertarik. "Hoohh... Jadi kamu memintaku berduel dengan Shamon?"
"Ya."
"Dan apa hadiahnya?"
"Jika kamu menang, kami tidak akan merepotkanmu tentang perlindungan atau apapun. Tapi jika kau memang dalam masalah kami dengan sigap akan menolongmu."
Sergio menyipitkan matanya, menatap curiga Dewa Agni yang masih memberikan senyuman ramah. "Dan jika aku kalah?"
"Turuti perintah ku."
"Hei itu curang!" protes Dewi Bishamon.
"Apanya?" Tanya Dewa Agni dengan bingung.
"Kan aku yang duel dengannya! Kenapa kau yang harus memberikan perintah pada satu manusia ini?!"
"Baiklah, aku setuju."
""Hehh?!""
"Sergio, kamu serius?!" Tanya Rakka dengan nada panik.
"Baiklah, mari kita mu-"
"Ahh... Aku ingin menambahkan lagi" potong Sergio.
"Tentang apa?"
"Jika aku menang. Aku ingin mengetahui tentang masa lalu Ilka dan masa lalu.... Ğerna."
Kelima Dewa-Dewi itu membeku ketika mendengar nama Ğerna dari mulut Sergio. Rakka dan Fahrez yang berdiri di belakang Sergio pun juga ikut membeku.
"Sergio, kupikir-"
"Aku tak ingin mendengar apapun darimu, Rakka."
Rakka sedikit tersentak. Untuk sesaat dirinya melihat bayangan Ilka yang sedang marah pada dirinya saat ini.
"Lakukan apa yang akan membuat hatimu tenang."
Sergio melirik Fahrez yang tersenyum tipis pada dirinya. "Aku mendukungmu" lanjutnya.
Sergio balas tersenyum pada Fahrez. "Terima kasih."
"Baiklah, aku setuju. Tapi bagaimana jika kau kalah?"
Sergio kembali ke mode seriusnya. "Jika aku kalah. Aku akan menuruti semua perintah dari Kelima Dewa-Dewi yang ada disini."
Dewa Ares tersenyum lebar. "Menarik. Sangat menarik."
"Jangan menyesalinya" ucap Dewi Nyra dengan sebuah tatapan tajam.
"Akhirnya aku bisa melemparkanmu dari langit ketujuh" gumam Dewa Hermes.
Dewi Bishamon menyatukan tinjunya. Dirinya terlihat sangat bersemangat dan juga merasa tertantang.
"Murni fisik?" Tanya Dewi Bishamon.
"Murni fisik" tegas Sergio.
Dewi Bishamon tertawa girang, "Baiklah. Dimana kita akan melakukannya?"
"Di taman depan cukup luas."
"Hei! Jangan merusak taman rumahku!" protes Fahrez.
"Tenang Fahrez. Kita akan memakai barrier, bukan?" Tanya Rakka pada Sergio.
Sergio memiringkan kepalanya, tanda dia bingung dengan ucapan Rakka. "Apa itu barrier?"
Rakka menepuk jidatnya sendiri. "Maaf, aku lupa kau tidak terlalu mengenal istilah-istilah dunia ini."
"Tentu saja kita memakai sebuah barrier, Rakka" ucap Dewa Agni. "Kamu tak ingin rumah ini hancur karena kekuatan fisik Bishamon bukan?"
Otomatis Rakka dan Fahrez menggelengkan kepala dengan cepat. Mereka berdua tidak ingin rumah ini hancur lagi dan membayar biaya kerusakan.
Bisa-bisa mereka berdua kena omel Orga.
"Natili."
"Yoru!"
Dewa Agni dan Dewi Bishamon sama-sama memanggil seseorang.
Dalam sekejap, satu orang wanita yang memiliki rambut panjang bewarna oranye cerah dan satu orang lelaki berambut hitam pendek dan memiliki bekas luka di wajah pucatnya. Mereka berdua membungkuk hormat di hadapan para Dewa-Dewi.
"Ya Dewa Agni/ada apa memanggil saya Bishamonten-sama."
"Natili. Buat barrier di halaman sekarang."
"Ikuti perkataan Dewa Agni."
"Baik!/baik!"
Sergio sedikit kagum dengan kedatangan dua orang yang secara tiba-tiba itu.
"Ium kalian?"
"Benar sekali" jawab Dewa Agni.
"Ahh... Yoru!" Panggil Dewi Bishamon.
Yoru menoleh ke arah Dewi Bishamon, "Ya Bishamon-sama?"
"Pinjam katanamu."
Yoru langsung menarik pedang katana yang berada di pinggangnya. Pedang katana itu memiliki sarung pedang bewarna merah gelap dengan ukiran naga bewarna perak.
Terlihat indah dan berbahaya.
Dewi Bishamon tersenyum senang.
Dan disinilah kebodohan Sergio dimulai.
"Umm.... Fahrez?"
"Ya?" responnya.
"Apa aku memiliki pedang sendiri?"
"Umm.... Seingatku tidak ada."
Sergio menatap horror Fahrez.
"Pftt.... Hahahaha...." Dewa Hermes tertawa keras. "Kamu menantang Bishamon, tapi kamu tidak memiliki sebuah pedang. Pftt... Hal lucu apa ini hahaha..."
Sergio cemberut. "Aku melupakan suatu hal yang penting."
"Aku sudah menduga hal ini" gumam Rakka.
Rakka mengeluarkan sebuah cincin bewarna merah gelap dengan ada permata ruby di tengahnya.
"Kau harus berterimakasih padaku" ucap Rakka pada Sergio.
"Hah?-- eh?!"
Sergio terkejut ketika sebuah pedang bewarna hitam gelap berada di tangan Rakka saat ini. Pedang itu sangatlah gelap mungkin disebut sebagai vantablack. Warna tergelap di dunia.
"Ini. Pedangmu" Rakka melemparkan pedang hitam gelap itu kepada Sergio.
Dengan sigap Sergio menangkap pedang gelap itu. Ketika berada di tangan Sergio. Sinar redup keperakan muncul di pedang gelap itu. Cahaya redup itu menjalar dan membuat sebuah tulisan yang tidak diketahui oleh Sergio.
...እኔ...
...ጨ...
...ለ...
...ማ...
...ው ...
...ተ...
...ጠ...
...ቃ...
...ሚ...
...ው ...
...ብ...
...ር...
...ሃ...
...ኑ ...
...ነ...
...ው...
"Apa... Ini?"
"Hmmm.... Menarik."
Sergio terkejut ketika dirinya melohat Dewa Hermes yang berada di sampingnya. "Kau bisa membacanya?"
Sergio mengangguk.
Dewa Hermes berbalik dan kemudian berjalan ke arah taman yang dimana menjadi panggung berduel untuk Dewi Bishamon dan Sergio.
"Maka menanglah dan aku akan menjawab pertanyaanmu."
Sergio mendengus "Hah. Banyak mau-nya."
Sergio kemudian menarik pedang vantablack itu dari sarungnya. Bilah besi pedang gelap itu tak kalah gelap dengan sarung pedangnya. Sergio terlihat membolak-balikkan pedang itu dan melihatnya dengan serius.
'Ini pertama kalinya aku melihat pedang segelap ini' batin Sergio.
Sergio kemudian mengusap sisi tajam pedang itu menggunakan jari telunjuk. Terasa dingin dan misterius.
Kemudian Sergio meringis kesakitan karena dirinya mendapatkan luka di bagian telunjuknya.
"Aww..."
Darah mengalir dari jari telunjuknya. Dengan cepat Sergio memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut.
Lagi, Sergio tersentak ketika dirinya melihat tulisan yang berpendar redup di bilah besi pedang itu.
...ቁስ...
...ሉን ...
...ሰጠ...
...ሁት ...
... እና...
...ምበ...
...ምላ...
...ሹጥ...
...ንካ...
...ሬን...
... እሰ...
...ጥዎ...
...ታለሁ ...
"Aku tak mengerti."
Selagi Sergio mengomel tak jelas karena dirinya tidak mengerti cara membaca tulisan yang muncul pada pedang miliknya.
Sedangkan di sisi lain. Dewa Agni tengah berbicara dengan Rakka di sisi taman yang lain.
"Darimana kau mendapatkannya?" Tanya Dewa Agni dengan tatapan tajam.
"Dari rumah Sergio, Tuan."
Dewa Agni menyipitkan matanya, "Rumah Sergio? Yang ada di Bumi?"
"Benar. Saya pun juga terkejut dengan keberadaan pedang itu di rumah Sergio."
Dewa Agni menghela nafas berat. "Kenapa kamu memberikan pedang seberbahaya itu kepada Sergio?"
"Karena... Pedang itu memang miliknya."
"Tidak. Pedang itu bukan miliknya" tegas Dewa Agni.
Rakka menatap Dewa Agni dengan tajam. "Anda menyangkalnya?"
"Aku sedang tidak ingin di bantah" ucap Dewa Agni dengan tatapan tajam yang penuh dengan amarah yang tidak diketahui apa sebab Dewa Agni marah.
"Aku akan mengambil pedang itu setelah pertarungan selesai."
"Siapa yang akan mengambil pedang miliknya?"
Rakka dan Dewa Agni langsung waspada ketika mendengar suara yang penuh dengan ancaman. Dari sisi taman yang terhubung dengan hutan kecil di dekat rumah, muncullah seorang pria hang memakai jubah hitam dan memiliki surai hitam yang sedikit bersinar karena sinar bulan.
Dewa Agni langsung menurunkan sikap waspadanya. "Ellion."
'Ellion!' batin Rakka terkejut.
Netra hitam gelap itu menatap Rakka dengan tajam. "Oh kau."
Ellion berjalan mendekat ke arah Rakka. Setelah berada di hadapannya, Ellion memberikan sebuah tepukan pelan di kedua bahu kecil Rakka.
"Terima kasih sudah menjaga Sergio selama ini."
Rakka terdiam. Dia masihlah terkejut dengan kedatangan sang Black Archangel.
Kemudian Ellion menatap Dewa Agni dengan serius. "Apa hakmu mengambil pedang miliknya?"
"Ellion. Kau pasti tahu seberapa bahayanya pedang itu berada di tangan Sergio."
"Jadi?"
"Jadi?" Ucap Dewa Agni mengulanhi ucapan Ellion. "Kau ingin Sergio terbunuh?!"
Ellion terkekeh. "Hahaha.... Kau lucu sekali Agni."
"Aku berbicara serius disini."
"Aku juga serius" balas Ellion.
"...."
"...."
Kedua orang itu saling menatap dalam diam. Seorang Malaikat yang tidak menyetujui ucapan sang Dewa yang memiliki keputusan mutlak.
Dan juga seorang penyihir yang tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan saat ini.
Dirinya merasa sesak nafas dengan aura yang dikeluarkan oleh dua orang yang berada di hadapannya saat ini.
Pada akhirnya Ellion mengalah. Ellion berbalik dan kembali berjalan ke arah hutan gelap.
"Apapun itu. Aku akan mengambil pedang nya!"
Ellion berhenti. Ia melirik Dewa Agni dengan dingin. "Baiklah."
Sedikit kebingungan, tapi Dewa Agni menghela nafas lega karena Ellion menyetujui sarannya.
"Tapi aku tak yakin dia akan memberikan pedang Schwarz kepadamu."
"Aku akan memaksa" tegas Dewa Agni.
Ellion mendengus, "Apa kau khawatir Sergio akan mati hanya karena sebuah pedang?"
"Ellion!"
"Jika Sergio mati karena pedang Schwarz" Ellion berbalik dan menghadap Dewa Agni. Ellion tersenyum miring. "Dirinya tidak pantas menyandang nama keluarga Vandelhein."
Dewa Agni menggertakkan giginya. Dirinya merasa kesal saat ini.
"Baiklah aku pergi. Zoe, jaga Sergio dengan baik sampai aku bertemu dengannya."
"Baik, tuan Ellion" ucap Rakka.
Sang Archangel menghilang di dalam gelapnya hutan. Tidak ada hawa-hawa keberadaan Ellion lagi.
Rakka melirik Dewa Agni yang masih berdiri diam di tempat yang sama. Sampai kemudian....
"MATI SAJA KAU MALAIKAT SIALAN!"
Rakka terperanjat. Dia terkejut ketika sang Dewa Api yang terkenal dengan keramahannya itu terlihat emosi hanya dengan berbicara pada seorang malaikat.
"Hei Agni! Dimana kau! Duelnya akan segera dimulai!"
Terdengar suara teriakan Dewa Ares yang memanggil Dewa Agni.
Dewa Agni mengambil nafas kemudian membuangnya. Setelahnya Dewa Agni menatap tajam Rakka.
"Rahasiakan hal ini pada Sergio, paham?"
Rakka mengangguk patuh.
Dewa Agni berjalan ke arah sisi taman lain yang dimana duel akan dilakukan.
Rakka mengikuti di belakang.
Hari ini, entah kenapa Rakka melihat berbagai macam Drama. Sekarang dirinya membutuhkan kasur empuknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°||
**Eaa.... Tebak yang Author pake bahasa apa?
Hehehehe....
566 kata**