The Another Soul

The Another Soul
Ch. 48 [Lupa]



"Woaahhh....!!"


"Hentikan itu Sergio, kau membuatku malu."


Sergio menoleh kearah Rakka yang hanya menatap lurus sebuah rumah besar bewarna putih yang sangat terlihat mewah. Belum lagi taman indah beserta bunga-bunga berbagai macam warna tumbuh di halaman rumah itu.


"Kau tidak bilang kalau rumahmu itu sangatlah besar" ucap Sergio.


Rakka-- dia masih saja memandang lurus, tidak menanggapi ucapan Sergio, seperti pikirannya pergi entah kemana.


Menyadari hal itu, Sergio dengan nada berbisik, dia bertanya pada Fahrez yang berada di sebelahnya.


"Fahrez, ada apa dengan Rakka?"


Fahrez melirik Sergio, sebelum dia menjawab pertanyaan dari Sergio. "Rumah ini terlalu banyak kenangan dari-"


"Fahrez..."


Fahrez langsung diam. Suara Rakka yang rendah dan penuh tekanan membuat Fahrez terdiam. Sergio juga ikut terdiam mendengar nada yang kurang bersahabat dari Rakka.


'Ada apa dengan Rakka?'


Itulah yang dipikirkan oleh Sergio. Dia masihlah awam pada ketiga penjaga ini. Saat ini di dalam mobil ada Orga, yang membawa mobil, dan di sebelahnya ada Rakka.Di kursi penumpang ada Sergio dan Fahrez yang hanya duduk dan tidak membahas apapun.


Menurut Sergio, saat ini keadaanya mereka sedang dalam canggung momen. Sergio sendiri bingung harus bereaksi seperti apa sekarang, jadi dia hanya akan diam-- atau ketika dia merasa penasaran dia akan bertanya.


Mobilpun berhenti di depan tangga putih dari bebatuan. Orga membuka sabuk pengamannya, begitu pula dengan Rakka dan Fahrez.


Tapi tidak dengan Sergio saat ini.


Dia masihlah duduk dalam diam dan terlihat melamun.


Orga yang menyadari Sergio tidak membuka sabuk pengamannya membuat Orga melambai-lambaikan tangan kanannnya di hadapan Sergio.


"Sergio? Kau tidak turun?"


Sergio tersentak. Terlihat dia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menghela napas kasar.


"Iya aku turun, kalian duluan saja keluar."


Orga mengangguk, mereka bertiga langsung keluar dari mobil, dan hanya ada Sergio di dalam mobil itu.


Lagi-lagi Sergio melihat kenangan Ilka.


Sergio menyentuh kepalanya dan berusaha mengingat-ingat sebuah kenangan yang baru saja ia dapatkan.


"Na....la?"


Semakin mengingatnya semakin pusing kepalanya. Sergio menarik napas dalam, kemudian membuangnya.


'Ayolah Sergio, hari ini hari penting. Yang dimana kau tidak boleh terlalu banyak berpikir karena akan berpengaruh pada hasil nanti.'


Sergio mengepalkan kedua tangannya kemudia mengangkatnya ke atas, "Yoshh! Semangat Sergio!"


Sergio membuka pintu mobil, kemudian dia turun dan melangkahkan kaki ke arah tiga penjaganya yang sedang sibuk berdiskusi.


Tapi lagi-lagi dia melihat sekelebat bayangan seorang gadis dengan rambut pirang keemasan sedang tersenyum padanya.


Hanya sekilas, tapi mampu membuat Sergio mengerang kesakitan.


Ketiga penjaga itupun menoleh kearah Sergio yang memejamkan matanya rapat.


"Sergio?!"


Mereka bertiga mendatangi Sergio yang masih memejamkan matanya. Rakka memegang erat bahu Sergio.


"Sergio? Ada apa? Kenapa kau terlihat kesakitan?"


Sergio mendesis pelan, dia membuka matanya perlahan. Kemudian menyadari tiga wajah khawatir yang menatapnya.


"Tidak ada. Aku.... Aku hanya merasa pusing karena hari ini panas."


Sergio melepaskan tangan Rakka dari bahunya. "Aku baik, tenang saja."


"Umm... Kalau begitu ayo kita masuk. Cuaca di luar memang sedang panas" ucap Fahrez.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Krieett...brakk...


"Woaahh...isinya masihlah sama. Kau tidak pernah merubahnya, yah?"


"Orga, dibandingkan rumahmu. Rumahku ini masihlah biasa."


"Tapi tetap saja isinya barang mewah semua. Sebutan Gold memang pantas buatmu."


Rakka mendelik ke arah Orga, "Jangan sebut aku seperti itu."


"Ohh... Jadi kau masih kesal dengan julukan itu, tuan Gold."


Orga tersenyum miring, berbanding terbalik dengan Rakka yang semakin cemberut mendengarnya.


"Hoo...rumahmu besar juga yah, Rakka."


Terlihat Sergio melihat sekelilingnya, sesekali dia berdecak kagum melihat furniture rumah yang terlihat kuno dan indah itu.


"Hah! Kau hanya belum melihat rumah aslinya itu seperti apa," ucap Fahrez sambil mendengus.


"Rumah asli?"


"Ya, rumah asli dari sang Black Witch, Rakka Hartez," ucap Orga dengan menunjuk Rakka menggunakan ibu jarinya.


Sergio yang mendengarnya memasang ekpresi wajah bingung, apa maksudnya?


"Daripada kau memasang ekspresi wajah seperti itu. Lebih baik kau melihatnya langsung," ucap Fahrez.


"Kalian, cepat kemari!"


Mereka bertiga melihat Rakka yang berada jauh dari mereka bertiga. Terlihat Rakka sedang berada di depan tangga indah yang menuju ke lantai dua rumah Rakka.


Mereka bertiga menghampiri Rakka, terlihat Rakka sedang meraba-raba beberapa anak tangga.


Fahrez, Orga, dan Sergio berdiri di belakang Rakka dengan memasang ekspresi wajah serius. Rakka masihlah meraba-raba beberapa anak tangga, sampai 10 menit berlalu, dan....


"Aku lupa dimana tombolnya."


""HAAHH?""


Orga dan Fahrez merasa kesal mendengar ucapan polos dari mulut Rakka.


Sergio yang tidak mengetahui apa-apa hanya memiringkan kepalanya, tanda ia pun juga bingung dengan situasi yang terjadi saat ini.


"Hoi! Ini rumahmu kan?! Jangan bilang ini rumah orang dan kita nyasar!"


Sergio yang melihat tingkah Fahrez yang terlalu melebih-lebihkan itu, hanya menghela napas.


Rakka yang mendengar ucapan Fahrez mendelik tajam kepada si kulit pucat. "Kau pikir sudah berapa lama aku nggak pulang ke rumah, hah?!"


"Banyak alasan. Bukankah kita sama!" Fahrez menunjuk Rakka dengan kesal, "Aku bahkan masih mengingat letak sendok di rumahku, kau tahu!"


Entah kenapa mendengar ucapan Fahrez, Sergio menjadi malu sendiri. Sekarang rasanya Fahrez bertingkah seperti anak kecil, dan itu memalukan bagi Sergio.


Terkadang mereka serius, dan terkadang mereka menjadi bocah, batin Sergio dengan menepuk jidatnya.


"Rakkashit, kau membuang waktuku saja" ucap Orga kessal.


"Rakkashit?" ucap Sergio bingung.


"Diamlah Orga, aku sedang memikirkan dimana tempatnya. Lagipula, jangan menambahkan nama seseorang dengan seenak jidat!" kesal Rakka.


Orga mengangkat bahunya keatas, "Itu terserahku. Lagipula aku lebih tua darimu."


Kekanak-kanakan, batin Sergio.


"Jadi bagaimana sekarang?" tanya Fahrez dengan alis mengerut.


"Kita hanya tinggal mecarinya bukan?" ucap Sergio. "Menurut ingatan terakhirmu, dimana letak tombolnya?"


Rakka terlihat sedang berpikir dengan keras. "Hmm.... Seingatku ada di anak tangga kedua, sebelah kiri bagian tangga, dan besar tombolnya kira-kira 2 cm."


Sergio berjalan menghampiri tangga dan mengikuti ucapan dari Rakka. Sekarang Sergio berdiri tepat di anak tangga kedua dan sebelah kiri bagian tangga.


"Disini?"


"Ya, disitu. Tapi anehnya tidak ada reaksi apapun. Biasanya setelah ditekan, akan terbuka dengan sendi-"


DUUKK...DUUKK...DUKK..


"Emm....Sergio, apa yang kau lakukan?"


"Aku....hahh....sedang menekan....hahh....tombolnya!"


Terlihat Sergio dengan semangat empat lima sedang menginjak dengan keras anak tangga yang diucapkan oleh Rakka. Terdengar suara sepatu dan karpet beludru bewarna merah yang meredam suara.


"Kupikir kau tak perlu seperti ini, Sergio" ucap Orga.


"Dia benar, mungkin saja tombol itu tidak ada di situ, dan kau hanya buang-buang tenaga" ucap Fahrez.


Sergio terlihat tidak memperdulikan ucapan mereka berdua. Dia masih menginjak-injak di tempat yang sama, walau keringat mulai berjatuhan di wajahnya.


"Sudahlah Sergio, kupikir memang tidak di san-"


Clickk..


"""Eh?"""


"YES! BERHASIL!" Senang Sergio.


Sergio memasang ekspresi wajah senang, dan berbanding terbalik dengan ekspresi wajah ketiga pelayan yang memasang wajah bodohnya.


"Ba-bagaimana bisa?"


Sergio mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Rakka. "Mudah saja. Mungkin saja tombolnya itu sudah terlalu tua dan tidak bisa ditekan seperti biasanya. Jadi aku berpikir untuk menggunakan kekuatan agar tombolnya mau membuka pintu itu."


Mereka bertiga ber-ohh ria mendengar penjelasan dari Sergio.


"Tapi ini cukup melelahkan juga, fyuhhh...." ucap Sergio sambil mengipasi dirinya menggunakan tangan.


"Tunggu apalagi, ayo kita masuk" ucap Fahrez.


"Ayo kita masuk. Aku duluan" ucap Rakka.


"Ngomong-ngomong Rakka" ucap Orga dengan nada berbisik.


"Hm?"


Terlihat Orga dan Rakka berbisik satu sama lain, seakan-akan takut ada yang mendengarnya.


"Bagaimana keadaan peliharaanmu di bawah sana?"


Mendengar ucapan Orga. Rakka berkeringat dingin, kemudian dia merutuki kebodohannya.


"Astaga!"


Mendengar nada panik dari Rakka. Sergio dan Fahrez menoleh kearah Orga dan Rakka.


"Kenapa?" tanya Sergio.


"Fahrez..." panggil Rakka dengan wajah pucat.


Fahrez yang melihatnya mengernyit bingung. "Kau kenapa? Apa ada masalah baru lagi?"


"Masalah yang sangat besar" jawab Orga dengan senyuman-- yang Sergio rasa senyuman Orga adalah sebuah senyuman pahit.


"Hah? Apasih maksud kalian? Aku tidak menger-"


Fahrez terdiam. Untuk beberapa saat hanya ada sunyi di rumah Rakka. Fahrez mengangkat wajahnya, kemudian menatap horror wajah pucat dari Orga dan Rakka.


"Kau bercanda? Bagaimana bisa kau melupakannya?! Ahhhh....dasar Rakkashit!"


Terlihat Fahrez mengacak-acak rambutnya frustasi. Sergio menjadi bingung dengan situasi yang terjadi sekarang.


"Sekarang, kita hanya bisa mengharapkan seseorang yang akan menjinakkannya."


Ucapan Orga membuat Rakka dan Fahrez menatap Sergio penuh arti.


Merasa ditatap, Sergio menunjuk dirinya sendiri dengan sebuah senyuman aneh.


"Ke-kenapa kalian menatapku?"


Sekarang Sergio merasa gugup.


Mereka bertiga saling pandang, kemudian terlihatlah senyuman jahat dari mereka bertiga.


Percayalah, sekarang Sergio merasa melihat titisan iblis dari ketiga pelayannya.


"Sergio, bisa bantu kami?" ucap Orga dengan senyuman mani- ralat, senyuman jahat di wajah Orga.


Habislah sudah aku, batin Sergio.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=