The Another Soul

The Another Soul
Ch. 25



"Siapa Ilka?"


Setelah mendengar pertanyaanku Rakka terdiam. Rakka sepertinya ingin menjawabnya, tapi langsung berhenti.


Aku yang melihatnya hanya menghela nafas.


"Tak ingin mengatakannya tak apa."


Aku kembali berjalan. Rakka masih dibelakangku, sepertinya dia masih terkejut dengan pertanyaanku.


"Ilka! Dia adalah orang yang sangat berharga bagiku, dan bagi Fahrez."


Aku berhenti. Aku menoleh kebelakang, dan melihat Rakka yang menatapku serius.


Aku tersenyum. "Senang mendengarnya. Kalau begitu akupun akan menjadi orang yang berharga bagi kalian bertiga."


Rakka terkejut mendengar perkataanku. Aku tidak membual. Aku berkata jujur dari dalam hatiku. Jika orang itu, yang bernama Ilka bisa. Maka seharusnya aku bisa.


Tunggu. Aku tadi berkata bertiga?


||°°°°°°°||


"Tak kusangka ternyata dia datang juga."


Sanita menatap Orga dengan tatapan tak percaya.


"Akupun juga tak percaya."


Fahrez berkata sama seperti Dewi Sanita. Sedangkan orang yang menjadi bahan pembicaraan hanya menguap lebar.


"Aku masih penjaga dari orang itu. Tidak mungkin aku pergi dan melupakannya."


"Tapi kau pergi dari Bumi karena sudah menyerah."


"......"


Orga terdiam setelah mendengar perkataan Fahrez. Orga menghela nafas panjang.


"Maafkan diriku. Waktu itu aku terlalu banyak pikiran."


Fahrez tersenyum mendengarnya. "Kalau sudah tau, ya sudah."


"Hei Sanita. Kangen diriku?"


Sanita yang mendengarnya langsung saja teperanjat kaget. "H-hah? A-apa mak-maksudmu?!"


"Heheheh.... Cukup menyenangkan menggodamu."


"Sergio!"


Sanita berteriak ke arah Sergio yang baru saja tiba bersama dengan Rakka. Sergio hanya tertawa kecil mendapatkan respon itu.


Sedangkan Rakka, Fahrez dan Orga memasang ekpresi terkejut. Mereka terlihat bingung. Bagaimana bisa seseorang yang baru saja sadar telah mengenal Dewi Sanita.


"Eh? Sergio. Kau memanggil Dewi Sanita hanya dengan nama?"


Rakka yang di belakang Sergio, bertanya dengan bingung. Sergio menoleh kebelakang.


"Tentu saja. Dia kan temanku."


"""HEH?!"""


Respon pertama dari semua orang adalah terkejut. Mereka bertiga memasang berbagai macam ekspresi.


"Kenapa?"


Sergio bertanya bingung pada semua orang. Kemudian perhatiannya berhenti pada Orga.


Orga yang merasa di tatap, berjalan ke arah Sergio. Setelah sampai di hadapan Sergio, Orga mengangkat tangannya. Dia ingin menjabat tangan Sergio.


"Hai Sergio, namaku-"


"Orga, bukan?"


Seketika ruangan itu hening. Tapi sepertinya Sergio tidak memperdulikannya, dia membalas jabat tangan Orga.


"Namaku Sergio Vandelhein. Aku mungkin tak mirip dengan Ilka, tapi akan kuusahakan aku akan menjadi orang berharga bagi kalian."


"Rakka."


"Ya."


Orga memanggil Rakka yang berda di belakangnya. Setelah itu Orga menatap tajam Rakka.


"Apa kalian belum melakukan itu?"


Rakka mengalihkan perhatiannya. Dia tak bisa menatap Orga.


"Kami sebenarnya akan melakukannya, di tempat ini. Kuharap Dewi tidak keberatan."


Fahrez menatap Dewi Sanita. Sedangkan orang yang ditatap hanya menganggukan kepala.


"Apa yang ingin kalian lakukan?"


Sergio berbalik. Dan terlihatlah ada perubahan pada tubuh Sergio.


Matanya berubah warna menjadi biru terang, rambutnya memutih dan muncul satu tanduk di kepalanya.


"Eh? Hai Zoe, hai Levi. Dan ada Orga juga."


Sebuah keanehan muncul. Orga yang berada paling dekat dengannya melebarkan matanya. Begitu juga dengan Rakka dan Fahrez.


"Siapa kau?"


"Hah? Ada apa denganmu Zoe. Ini aku, Ilka."


Rakka terdiam. Dia berjalan kearah Sergio, setelah sampai. Dia menepuk pelan kepala Sergio.


"Aku tak tau siapa kau. Tapi yang kutahu, Ilka sudah mati."


Sergio, dia tertawa keras setelah mendengar perkataan Rakka.


"Zoe, kamu bercanda kan. Aku masih hidup. Ngomong-ngomong dimana Vira? Aku tak melihatnya?"


Sergio melihat kesana kemari. Ekpresi Rakka mengeras, dia menggertakan giginya. Dan tanpa disadarinya dia berteriak keras.


"BERHENTI MENIRU ILKA IBLIS!!"


Sergio terperanjat. Tapi setelah itu Sergio tertawa. Aura hitam pekat menguar dari tubuh Sergio. Dengan Sigap Orga yang berada di belakangnya mengunci pergerakan Sergio, dia membuat Sergio tiarap di lantai sekarang.


Rakka terdiam. Bahkan Orga yang mengunci pergerakan Sergiopun juga ikut terdiam. Fahrez akhirnya beberdiri dari duduknya, kemudian menghampiri Sergio.


"Hei iblis. Kita bertiga tidak akan membiarkanmu mengambil alih tubuh Sergio. Karena apa, Sergio adalah orang yang berharga bagi kami."


"Heh. Omong kosong! Kalian hanya ingin Ilka. Jika Ilka sudah kembali, kalian akan membuang anak ini seperti sampah!"


Fahrez hanya menghela nafas. Kemudian dia menatap Rakka. "Ini tugasmu."


Fahrez langsung menyingkir. Sedangan Rakka, dia langsung berjonkok dan dia mengambil sesuatu di balik jaketnya.


"Aku tau dia baru saja sadar, tapi iblis ini terlalu berisik. Sergio maaf."


Rakka membuka tutup suntikan itu. Sedangkan Sergio, dia hanya tertawa.


"Hahaha... Manusia, tunggu saja pembalasanku."


Rakka menyuntikkan cairan bewarna biru terang itu. Perlahan Sergio menutup matanya. Perubahan yang terjadi pada Sergio juga lenyap, seperti tidak pernah muncul.


Orga masih mempertahanakan kunciannya. Setelah yakin Sergio sudah tidak sadarkan diri, Orga berdiri.


"Apa dia pernah seperti ini?"


Sanita bertanya pada Rakka. Rakka mengalihkan perhatiannya pada Dewi Sanita.


"Tidak. Baru kali ini dia seperti ini. Saya mohon maaf kalau pemandangan tadi menganggu Anda."


Dewi Sanita menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku jadi paham kenapa kalian harus menjaganya."


"Terima kasih."


Rakka membungkukkan badanya. Setelah itu menatap Fahrez. Fahrez yang mengerti langsung menarik tangan Sergio, dan menempatkannya di punggung.


"Tunggu. Biarkan dia beristirahat disini."


Mereka bertiga menatap Dewi Sanita.


"Tapi-"


"Aku yakin dia akan sadar dalam waktu satu atau dua jam kan?"


Rakka mengangguk.


"Bawa dia kemari."


Dewi Sanita memerintahkan Fahrez. Fahrez melihat Rakka, dan Rakka mengangguk. Menyetujui perkataan Dewi Sanita.


Fahrez membawa Sergio, dan mengantarkannya ke arah Dewi Sanita. Sofa tempat Dimana Dewi Sanita duduk cukup panjang dan lebar. Jadi bisa untuk tempat tiduran.


Setelah itu Fahrez meletakkan Sergio di sofa. Dewi Sanita membantunya dan dia menaruh kepala Sergio di paha Dewi Sanita. Sergio menjadikan paha Dewi Sanita sebagai bantal.


Setelah itu Fahrez mundur beberapa langkah, kemudian berbalik dan menghampiri Rakka dan Orga.


"Jika kalian ingin melakukan ritual itu, akan kutunjukkan tempatnya."


Rakka, Fahrez, dan Orga saling tatap. Kemudian mereka merendahkan tubuh mereka. Memberikan penghormatan pada Dewi Sanita.


"Terima kasih."


Rakka berterima kasih. Dewi Sanita hanya tersenyum. "Fifi, tolong antarkan mereka ke ruang bawah tanah."


"Baik, nyonya."


Fifi kembali muncul. Sekarang dia berada di hadapan Dewi Sanita. Dia berjalan ke arah Rakka.


"Lewat sini, tuan."


Fifi mengarahkan mereka bertiga untuk pergi menuju ruangan bawah tanah. Sergio sekarang masih berada di sini, hanya berdua bersama Dewi Sanita.


Setelah kepergian Rakka dan yang lainnya, Dewi Sanita menatap wajah Sergio yang damai. Dia mengelus wajah Sergio dengan lembut.


"Sergio, takdir begitu kejam denganmu."


Dewi Sanita mencium kening Sergio. Sebuah kecupan manis, dengan tanpa disadari oleh orangnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°°||