
Setelah pembicaraanku dengan Fahrez dan Rakka, aku langsung pergi. Sebentar lagi jam 9. Tak mungkin kan aku bolos sekolah. Walaupun aku sudah tidak akan ada disini lagi, tapi ya sudahlah. Anggap saja ini yang terakhir kalinya aku menjalani hidup normal.
Aku membuka pintu rumah, setelah itu bergegas masuk.
Aku membuka pintu kamar, dan lagi-lagi aku dikejutkan oleh sesuatu.
"Apa yang kalian lakukan disini?"
"Itu pertanyaan yang sama. Seperti sebelumnya" kata Fahrez.
Ya. Mereka ada lagi di dalam kamarku. Sebelumnya mereka ada di warung pinggir jalan sebelum kutinggalkan. Dan sekarang mereka ada di sini lagi. Mereka mengikutiku apa.
"Kalian mengikutiku ya."
"Ya. Kamu lupa tugas kami berdua ya."
"Tapi tidak seperti ini juga."
"Jadi mau seperti apa?"
"Seperti...."
Aku juga tak tau mereka harus seperti apa.
"Intinya, jangan terlalu dekat dengan ku. Dari jauh saja."
"Memang itu yang kami lakukan."
"......"
"Sudahlah. Berhenti berdebat, Sergio. Selama ini kami berdua hanya memperhatikanmu dari jarak aman. Jadi tenang saja, oke."
"Ya sudah. Kalau Rakka berkata begitu. Kalian, keluar."
"Kenapa?" Tanya Fahrez.
"Aku mau siap-siap. Aku mau mandi dan ganti baju, jadi kalian keluar. Sekarang."
"Memangnya tidak bisa tunggu disini saja?"
"Tidak. Keluar."
Aku berkata sambil menunjuk pintu. Tiba-tiba saja aku kesal dengan Fahrez, entahlah.
"Oke, oke. Rakka, ayo pergi."
Rakka mengangguk. Mereka berdua berjalan kearah pintu, dan aku masih memperhatikan mereka berdua. Sebelum Rakka keluar, dia berkata padaku.
"Sergio, jangan marah ya."
"Hah? Aku tak marah."
"Oh, oke."
Rakka menutup pintunya, setelah itu tidak terdengar suara apapun dari balik pintu.
Aku menghela nafas.
'Akhirnya, aku memiliki waktu sendiri.'
Aku memandangi sebuah foto di atas meja. Fotoku bersama dengan Mira. Foto pertama
Dan yang terakhir.
||°°°°°||
"Fahrez, kau melihatnya."
Fahrez mengangguk. "Ya, padahal dia hanya kesal padaku. Tapi matanya berubah."
Rakka, dia memandang lantai dengan perasaan kesal.
"Kau tak berpikir, kalau kekuatan itu terlalu cepat."
"Ya. Terlalau cepat. Bahkan perubahan mulai terlihat pada Sergio."
Rakka mengangguk, membenarkan. "Kita harus mencegah kekuatan itu muncul kembali."
"Kupikir tak perlu."
"Hah?"
"Kau tau, cerita Sergio tadi."
"Yang dia bertemu bintang?"
"Benar, kurasa Ankaa sudah mengantisipasi hal itu."
"Darimana kau tau."
Fahrez dia berjalan ke arah jendela. Saat ini mereka berdua berada di ruang tamu rumah Sergio.
"Saat aku mengelus kepalanya tadi. Aku bisa merasakan sebuah segel, aku ingin memeriksanya. Tapi takbisa, seperti ada yang menghalangi."
"Sungguh sesuatu yang tidak terduga bukan."
Fahrez berbalik, menghadap Rakka yang saat ini memasanga raut wajah terkejut.
"Bukankah Ankaa membenci kita."
"Bukan hanya Ankaa, tapi semua bintang membenci kita."
"Kau benar."
Rakka memandang lantai kembali. Kali ini dengan pandangan menyesal.
"Jangan memasang wajah seperti itu."
Rakka mengangkat kepalanya. Dia melihat Fahrez berada di hadapannya.
"Ingat perkataannya."
'Kamu harus terus tersenyum.'
Rakka tersenyum. Dia mengingat sesuatu yang hampir dia lupakan.
"Bagus, Sekarang bagaimana cara kita pergi besok?"
"Teleportasi?"
"Memangnya kamu sanggup."
"Kau meremehkanku."
Fahrez tersenyum miring mendengarnya. "Buktikan padaku."
||°°°°°°||
Akhirnya selesai.
Saat ini aku sedang memandangi diriku. Baju putih dan celana abu-abu yang agak kusut, dan tas selempang warna coklat.
Tapi ada yang aneh.
Mataku berubah jadi biru.
Tidak berubah sama sekali. Ada apa dengan mataku?
Ya sudahlah. Aku tinggal bertanya saja pada mereka berdua.
Aku berjalan ke arah pintu, tak lupa aku melihat foto di atas meja.
Hal ini merupakan kebiasaanku.
Aku berjalan ke arah meja dekat jendela.
Tapi sesuatu yang tidak terduga muncul.
"Apakah kamu yang namanya Sergio?"
Aku menoleh, dan aku mendapatkan seorang yang memakai jubah hitam compang-camping, dia sedang duduk di jendela kamarku.
"Siapa kau."
Bukannya menjawab, orang itu malah tersenyum lebar.
Hahh... Masalah, tak pernah bosan kau datang padaku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°||