The Another Soul

The Another Soul
Ch. 40 [Cosytus]



"Hei, bangunkan Sergio."


"Memangnya dia bisa bangun?" Tanya Fahrez pada Rakka.


"Tentu saja. Sebentar lagi dia bangun. Katakan saja padanya. Ada banyak makanan."


"Oke."


Saat ini sudah memasuki jam makan siang. Rakka sudah selesai memasak. Di atas meja makan terdapat berbagai macam makanan, dan masih hangat. Aroma menggiurkan memenuhi ruang makan. Orga saja sampai menahan liurnya agar tidak jatuh ke bawah.


Di meja makan saat ini ada Orga, Rakka, dan Reina. Fahrez pergi untuk membangunkan Sergio.


Fahrez menggoyangkan bahu Sergio. "Hei bangun. Ada banyak makanan."


Tidak ada jawaban.


Fahrez lebih keras menggoncang tubuh Sergio. Sampai akhirnya Sergio menunjukkan tanda-tanda akan bangun.


Dia membuka kelopak matanya perlahan. Kemudian dia menatap Fahrez dengan bingung.


"Ayo makan siang. Rakka sudah memasak banyak untuk kita hari ini."


Sergio tidak menjawab. Tapi dia terlihat berusaha untuk bangkit. Fahrez membantunya, karena sepertinya Sergio terlihat kesulitan.


"Terima kasih. Aku memang sangat lapar saat ini. Tapi sepertinya aku tak bisa merasakan kakiku sekarang."


Fahrez mengerutkan keningnya. Dia bingung dengan perkataan Sergio. "Apa maksudmu?"


"Aku juga tak mengerti" Sergio menggelengkan kepalanya pelan.


Yang dia rasakan saat ini adalah bagian bawah tubuhnya terasa kaku. Entah kenapa.


"Hmm...biar kuperiksa."


Fahrez menyentuh kaki Sergio. Dan dia tahu apa sebabnya. Dia langsung menarik ke atas celana Sergio. Terlihatlah kaki Sergio yang terlihat membeku. Keadaan-nya hampir sama dengan tangan Fahrez sebelumnya. Ada serpihan es di kaki Sergio.


Fahrez menyentuhnya. "Apa kau ada merasakan sentuhan ini?"


Sergio menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak. Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Kau membekukan Kamarmu. Kemudian kau sadar, setelah itu batuk darah. Dan akhirnya kau tertidur" jelas Orga.


"Hah?"


"Oh kalian disini."


Orga, Rakka, dan Reina berdiri di balik sofa panjang yang di tiduri Sergio. Orga bersender ke depan, dan bertumpu pada kedua tangannya.


"Jadi, kenapa kamu bisa membekukan kamarmu sampai kakimu dan tangan Fahrez membeku. Juga es yang kamu buat itu sangat keras. Aku bahkan masih merasa nyeri di pergelangan kaki ku."


"Entah. Aku tak tahu."


Sergio juga tidak tahu. Apa yang sebenarnya terjadi padanya.


Orga melirik Rakka yang sedang menatap Sergio.


"Sergio. Kau ingin makan?" Tanya Rakka.


"Tentu saja mau. Saat ini aku sedang lapar."


Sergio berusaha untuk menggerakkan kedua kakinya. Tapi kakinya tidak bergerak sedikitpun. Rakka yang melihatnya menyentuh kaki Sergio.


"Ohh...seluruh otot dan saraf di bagian bawah tubuhmu semuanya membeku."


"EHH?! Bukankah itu berarti aku tidak bisa berjalan lagi!"


Entah kenapa Sergio menjadi panik.


"Aku tak mau menjadi orang lumpuh!"


Rakka memutar bola matanya malas. "Kau tidak akan lumpuh. Ini akan kembali seperti semula. Tangan Fahrez sebelumnya juga begitu."


"Umm....Rakka, tanganku saat ini masih tak bisa digerakkan juga."


"Kalau begitu potong" jelas Orga.


"Kau ingin aku mati, yah!"


Orga mendengus pelan. "Seorang Demi-human takut tangannya menghilang."


"Bagaimana denganku!"


Sergio menunjuk dirinya sendiri. Entah kenapa dia menjadi semakin panik mendengar perkataan Fahrez.


"Bukankah tadi tuan Fahrez dan Tuan, tadi berkata tentang elemen es murni, Cosytus."


"Ahh...iya aku ingat" ucap Rakka.


"Cosytus? Apa itu Cosytus?"


"Sergio" panggil Orga. "Cosytus adalah sebutan untuk elemen es murni. Elemen es ini sangatlah keras dan juga elemen es ini bisa membekukan area dengan sendirinya. Walau yang mengendalikannya sudah mati, es ini akan tetap menyebar. Elemen es murni Cosytus sangatlah langka. Biasanya yang memiliki elemen es ini yang hanya meminum darah dari hewan paling langka di dunia. Naga."


"Eh? Tapi aku lahir di bumi. Bagaimana caranya aku minum darah naga dan menghasilkan elemen es murni, Cosytus?"


"Nah itu. Aku juga tidak mengerti" ucap Orga.


"Jadi apa solusinya?" Ucap Fahrez.


"Sepertinya aku mendengar tentang elemen es murni, Cosytus."


""""Hah?"""


"Siapa?"


"Hei, kau tak mungkin melupakan diriku bukan?"


Sergio melihat ke sekeliling. Mencari sumber suara yang tiba-tiba saja muncul. Yang lainnya juga begitu. Mereka melihat sekeliling.


Tanpa di duga-duga, dari kening Sergio. Muncul cahaya kecil bewarna kuning keemasan. Kemudian cahaya kecil itu berubah menjadi gadis tinggi semampai, rambut merah membara, dan ketika dia membuka matanya, warna oranye cerah dengan campuran biru membuat semua orang disana terpana.


"Hai! Kita bertemu lagi!"


Gadis itu terlihat senang. Berbanding terbalik dengan Sergio yang bingung.


"Siapa kau?"


"Eh? Kau tak mengenalku? Bukankah kita pernah bertemu?"


Gadis itu menghela napas panjang. Kemudian tubuhnya yang sebelumnya tinggi mendadak berubah menjadi pendek. Rambutnya berubah menjadi hitam, matanya tertutup.


Setelah melihat penampilan gadis itu. Barulah Sergio mengingat. Siapa gadis yang berada di hadapannya ini.


"Ankaa?"


"Yap! Benar sekali."


Ankaa. Gadis bintang dari rasi bintang Phoenix muncul di hadapan mereka semua. Orga, Fahrez, dan Reina terpana melihat Ankaa.


Ankaa merubah penampilannya. Menjadi tinggi dan rambut merah membara.


"Ohh.... Ternyata disini ada para penjaga. Sudah lengkap, baguslah." Ankaa manggut-manggut. Dia menatap Rakka, Fahrez, Orga, dan Reina. Kemudian berakhir pada Sergio.


"Kenapa kau?" Tanya Ankaa.


"Tidak. Ternyata seseorang yang selama ini kuanggap hantu memiliki rupa secantik ini."


Wajah Ankaa memerah, tapi wajahnya berubah menjadi bingung seketika. "Hantu? Jadi selama ini kamu menganggap diriku hantu!"


Ankaa merasa kesal. Dirinya yang memiliki paras cantik, tiba-tiba saja di katakan mirip hantu.


"Ya. Maaf saja, tapi penampilanmu dengan rambut hitam panjang dan baju putih yang menutupi seluruh kakimu. Saat itu aku benar-benar mengira, kau adalah hantu. Belum lagi kau bersenandung waktu itu."


Sergio merinding ketika mengingatnya.


"Tapi jangan samakan aku dengan hantu! Aku ini bintang!"


"Iya, iya, jadi ada apa kau kesini?"


Ankaa mendengus jengkel. "Aku ini hanya serpihan Roh yang di tinggalkan. Lebih tepatnya, aku ini hanya klon."


"Eh? Klon?"


Sergio menjadi bingung.


"Sergio, Klon itu sebutan untuk tiruan dari yang asli. Biasanya klon bisa memiliki setengah atau sedikit kekuatan dari aslinya" jelas Rakka.


Sergio mengangguk mengerti.


"Bagus. Aku disini untuk menyembuhkan kedua kakimu dan tangan dari seorang penjaga, ah tidak. Dua penjaga."


"Kau bisa menyembuhkan kami?"


"Tentu saja. Kau lupa yah rasi bintangku."


"Umm...apa yah?"


Sergio memasang ekspresi wajah berpikir. Ankaa yang melihatnya merasa gemas dengan Sergio.


"Aku Ankaa, dari rasi bintang Phoenix! Ada apa dengan otakmu itu?"


"Oh iya. Phoenix. Iya aku lupa, maaf Ankaa."


"Huh... Karena kau sudah meminta maaf ya sudah. Aku akan menyembuhkan dua penjagamu dulu."


Ankaa membuka telapak tangannya, kemudian muncul api merah yang memanjang seperti tongkat. Setelah api itu menghilang, terlihat tongkat besi bewarna biru terang. Di ujung bagian atas terlihat ukiran burung Phoenix yang sedang mengepakkan sayapnya.


Ankaa menghentakkan tongkat itu ke lantai. Untuk sesaat mereka merasa ada aura besar yang membuat mereka semua terdiam kaku.


"Jadi..." Ankaa memperhatikan Fahrez dan Orga yang terdiam. "Kalian, maju sini. Aku tahu tangan dan kaki kalian itu membeku."


"Mau apa kau?" Tanya Sergio.


"Membakarnya."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°°°°||