The Another Soul

The Another Soul
Ch. 69,2 [Pertemuan Yang Tidak Menyenangkan II]



"Kenapa sih kamu selalu kena masalah!"


Sergio yang berada di kursi hanya bisa menghela nafas kasar yang kesekian kalinya. Benar-benar merepotkan.


"Mana kutahu! Tanyakan saja sama ma'am Reyya!" balas Sergio tak kalah kesal.


"Hari pertama kau berkelahi dengan Villia! Kemudian hari kedua kau berduel bersama Arthur! Ya tuhan! Kau memiliki magnet untuk membawa masalah ya."


Sergio merengut. Satu temannya ini hanya mencerocos dirinya dengan ucapan-ucapan tak penting. Lebih baik ia membantu Sergio untuk menjelaskan tentang peraturan duel di akademi ini.


Deiva menepuk kedua bahu Sergio dengan kuat, "Nah Sergio. Aku ingin bertanya."


"Apa?"


"Apa senjatamu kuat?"


Sergio menghela nafas, "Beltza."


Tiba-tiba saja sebuah pedang hitam segelap malam itu muncul di tangan kanan Sergio begitu saja. Deiva yang melihatnya terpekik kaget.


"Kau memiliki sihir ruang?!"


"Bukan!"


Deiva menaikkan alis kanannya, heran "Jadi?"


Sergio menunjukkan gelang bewarna perak yang terlingkar manis di bagian pergelangan kanan. Gelang perak itu terlihat berpendar sebentar sebelum menghilang.


Deiva menutup mulutnya "Item sihir!"


Sergio mengangguk, "Ya. Jadi sudah jelas?"


"Sekaya apa sih dirimu ini?" Tanya Deiva penasaran.


Sebenarnya bukan Sergio yang kaya, tapi para ketiga penjaganya yang kaya. Sangat kaya bahkan.


Deiva kemudian melirik pedang hitam milik Sergio. Ketika ia ingin menyentuhnya, Sergio menghalau tangan Deiva dengan cepat.


"Jangan sentuh."


"Apa? Kenapa kau posesif sekali?"


"Bukan posesif. Aku hanya tak ingin mendapatkan masalah baru lagi" jawab Sergio cepat.


Deiva mengerutkan keningnya. Tanda ia bingung dengan maksud dari ucapan Sergio.


"Baiklah, kalau kau tak ingin menjelaskannya."


Sergio tersenyum, "Terima kasih."


Deiva menghela nafas pelan "Lawanmu adalah seorang Saber yang menduduki kursi nomor satu di Class Saber. Arthur itu.... Kuat tentu saja."


"Ya, ya, ya, aku tahu. Apa tidak ada informasi tentang kelemahannya?"


"Kelemahan...kah?" gumam Deiva.


Sejenak Deiva kembali melirik pedang hitam milik Sergio yang menguarkan aura gelap dan dingin.


"Pedangmu."


"Huh? Apa?"


"Pedangmu adalah kelemahan bagi Arthur, sepertinya" ucap Deiva dengan ringisan di akhir katanya.


"Pasti karena kau berpikir dia memiliki elemen cahaya bukan?"


Deiva mengangguk setuju, "Benar sekali. Belum lagi pedangnya sangatlah kuat karena pemberian dari Dewi Theia itu sendiri" setelahnya ia menghela nafas lelah. "Kuharap pedangmu sekuat milik Arthur."


Sergio tersenyum miring. 'Bahkan pedangku pernah melukai Dewi Bishamon' batin Sergio.


Ya biarlah yang terjadi waktu itu hanya menjadi rahasia dari kelima Dewa-Dewi, Ketiga penjaga beserta Reina, serta tiga orang penonton gelap.


"Kalau begitu aturan untuk duel di akademi ini bagaimana?"


"Hmm... Sebenarnya untuk masing-masing Class memiliki aturan masing-masing."


"Hooh, menarik" gumam Sergio.


"Untuk Saber, kau harus mempertaruhkan suatu hal yang berharga bagimu. Entah itu kehormatan, benda, atau hal lainnya. Yang penting harus berharga."


Sergio sedikit bingung, "Tapi yang memberikan duel kan Ma'am Reyya? Apa aku harus mempertaruhkan hal berharga?"


"Tak perlu" balas Deiva cepat. "Kau tak perlu mempertaruhkan hal berharga ketika orang lain yang menyuruhmu untuk berduel. Itu pengecualian" tegas Deiva.


Sergio mengangguk-angguk mengerti. "Apa ketika duel boleh memakai sihir?"


"Tentu saja boleh, tapi..."


"Tapi apa?"


Deiva menggeleng, "Tidak. Aku hanya pesimis saja."


"Hei, berpikirlah positif untuk kawanmu ini."


Deiva merengut, kemudian ia menoyor jidat Sergio "Aku berpikir kau akan terluka lagi. Bagaimana aku bisa menjelaskan ke Kak Rakka nanti?"


"Huh? Baru sehari bertemu kalian sudah akrab ya."


Deiva bersedekap dada, ia menatap Sergio dengan sebuah senyuman miring di bibir ranumnya, "Tentu saja. Kak Rakka memberikan ilmu yang bermanfaat untukku."


"Biar kutebak. Memasak?"


Deiva tersenyum misterius, "Bukan hanya itu teman."


Sergio terkekeh, "Sok misterius."


"Sergio Vandelhein" panggil Ma'am Reyya dari sebrang podium.


Ah ya. Di tempat pelatihan ini terlihat seperti stadion kecil dengan kapasitas mencapai 100 orang saja. Di tengah-tengah terdapat panggung berbentuk lingkaran dengan beton bewarna coklat yang terlihat berpasir. Belum lagi terdapat banyak sabetan pedang yang menjadi bukti seberapa lamanya tempat latihan ini dipakai.


Dan Sergio duduk di kursi penonton dengan para Siswa-Siswi yang menjauhi mereka berdua.


Arthur? Ia sedari tadi duduk di sebelah ma'am Reyya sembari menyilangkan kedua kaki. Netra hijau zamrud menatap Sergio dengan instens. Belum lagi cahaya matahari pagi yang cerah membuat rambut pirangnya terlihat bersinar.


Nama Princeps Lucem sangatlah cocok untuknya.


"Yes ma'am?"


"Apa kamu sudah siap?"


Sergio tersenyum "Sudah ma'am."


Reyya mengangguk, "Dengar! Duel ini tidak akan mempertaruhkan apapun! Disini murni untuk pelatihan bagi mereka berdua serta kalian!" Netra coklat madu itu menatap satu-persatu wajah muridnya dengan tajam. "Kuharap kalian memperhatikan dengan serius" ucap Reyya dengan nada dingin di akhir katanya.


"""YES MA'AM!!!"""


Suara balasan dari seluruh Siswa dan Siswi membuat stadion kecil ini bergetar. Benar-benar membuat bulu kuduk milik Sergio berdiri karena teriakan penuh semangat dari para murid yang menyandang Class Saber.


"Ritter Segen!" Teriak Reyya.


"""Stärke die Ritter!""" balas para murid di sini.


Disini Sergio hanya menganga tak tahu dengan teriakan-teriakan penuh semangat dari murid lain. Bahkan Deiva membalas dengan penuh semangat juga.


"Silahkan kepada kedua-nya untuk ke atas panggung."


Sergio menelan ludahnya. Tiba-tiba saja ia merasa gugup.


Ini pertama kalinya ia berduel dengan berpuluh-puluh pasang mata yang memperhatikan dirinya.


Selagi Sergio menghilangkan rasa gugupnya. Arthur berjalan dengan pelan menuruni setiap anak tangga. Di setiap langkahnya ia menggumamkan kata demi kata.


"O lux. Rogavi vos venire ad me..."


Arthur kemudian menarik dengan perlahan pedang miliknya. Mata hijau zamrud itu terlihat serius.


Bilah pedang dua sisi terlihat. Pedang itu terlihat seperti pedang biasa saja, tapi tak lama kemudian pedang itu menguarkan aura suci yang kuat.


"...Cum sanctis mihi luceat, Lux..."


Arthur telah sampai di atas panggung. Tempat dimana Sergio dan Dirinya akan berduel dengan tanpa mempertaruhkan apapun.


Hanya murni sebagai latihan.


Kutegaskan, Latihan.


"...Archo Theia."


SWUSHH...!


Serentak semua murid yang ada di situ menutup wajah mereka semua. Hal itu karena ledakan cahaya yang terjadi karena Arthur menggunakan Archo miliknya, terkecuali Reyya yang tengah menatap tajam  Sergio yang terdiam dengan tangan kanan-nya yang memegang erat pedang miliknya.


"Jadi kau sudah memilikinya" gumam Reyya. Kemudian Reyya tersenyum miring, "Ini menarik."


Sedangkan Sergio saat ini merasa bingung dengan getaran yang terasa pada pedang miliknya-- Beltza.


'Kenapa pedangku sangatlah rakus?' batin Sergio.


Sebenarnya Sergio tengah menahan sakit pada tubuhnya. Ia merasa pedang miliknya tengah menyedot mana yang ada di dalam tubuhnya.


Bukan itu saja, tapi ia juga menyerap cahaya yang tersebar di sini.


Cahaya milik Arthur yang seharusnya menjadi sumber kekuatan miliknya.


Arthur tidaklah terkejut dengan apa yang terjadi.


Sejenak Arthur menutup kedua matanya, mengingat sebuah tugas yang harus segera ia tuntaskan.


"Sergio.... Kamu memang harus pergi dari dunia ini" gumamnya.


"Hei!" tepuk Deiva kearah punggung Sergio dengan keras. "Cepat turun kebawah!"


Tersentak, Sergio menatap panggung kecil yang terlihat penuh dengan aliran-aliran cahaya bewarna kuning keemasan.


Sergio menghela nafas pasrah. Kemudian ia sedikit menunduk, mengambil ancang-ancang untuk melompat.


WUSHH...


Dalam sekejap Sergio telah sampai ke atas panggung dengan pedang miliknya yang terus meneruk menelan setiap aliran cahaya milik Arthur.


"Maaf menunggu."


Arthur membuka kedua matanya, "Tak masalah."


"Jadi... Bisa kita mulai?"


"Kau yakin?" Tanya Arthur.


"Ahh... Ya. Aku lupa."


Ia melupakan suatu hal. Sebelumnya ia hanya memanggil nama pedang miliknya. Bukan memanggil kekuatan yang ada di dalam pedang miliknya.


Ia pun baru mengetahui hal ini ketika ia mendapatkan sebuah buku dari Dewa Hermes.


Katanya 'Aku tak sudi melindungi orang yang tidak mengetahui apapun tentang dunia ini!'


Seketika mood Sergio langsung turun ketika mengingat ucapan sang Dewa pesan.


"Argia irentsi eta suntsitu, Beltza."


Tak mau kalah dengan pedang milik Arthur. Sebuah ledakan energi dengan warna hitam pekat keluar dari pedang milik Sergio.


Seketika aura dingin memenuhi ruangan. Aura di ruang ini bercampur dengan gelap dan terang dari kedua elemen pedang mereka.


Benar-benar membuat kacau seluruh ruang latihan setiap Class.


Ya. Bahkan Class lainpun merasakan aura yang berasala dari ruang latihan Class Saber.


Dua ledakan aura berbeda elemen itu membuat Satu penonton yang tengah duduk di atas pohon sambil rebahan di dahan pohon tertinggi mengeryitkan keningnya.


"Apalagi yang kau buat kali ini" gumamnya.


Siapa dia?


Silahkan tebak sendiri.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°||


Ritter Segen\= Berkahi Ksatria (B. Jerman)


Stärke die Ritte\= Kuatkan Ksatria (B. Jerman)


O lux. Rogavi vos venire ad me. Da mihi fortitudinem punire tenebris unum. Cum sanctis mihi luceat lux


Artinya:


Wahai cahaya. Aku memintamu untuk datang padaku. Berikan aku kekuatan untuk memberikan hukuman kepada sang gelap. Sinari aku dengan cahaya sucimu. (B. Latin)


Argia irentsi eta suntsitu, Beltza.


Artinya:


Lahaplah cahaya dan berikan kehancuran, Hitam. (B. Basque)


Yaaapp, Rai mnggunakan Bahasa lain lagi😅


Mudahan benar ya.


1. 372 kata