The Another Soul

The Another Soul
Ch. 19



Jauh di kedalaman gerbang dunia, ada sebuah rumah besar dengan dinding bewarna hitam gelap. Walaupun di sebut rumah, di bagian dalamnya hanya ada satu ruangan besar yang diisi dengan satu sofa berhias emas dan permata. Dan kain bewarna merah gelap yang ada di setiap dinding.


Di sofa itu, duduklah seorang wanita yang memakai pakaian yang mirip dengan pakaian Sari bewarna biru gelap (pakaian wanita india). Tubuhnya ramping, warna kulitnya putih bersih tidak ada cacat satupun, rambut biru terang bergelombanya membingkai wajahnya yang tirus. Wajahnya sangat cantik, hidung mancung, bulu mata yang tebal dan lentik, dan tak dilupakan mata ungunya yang membius setiap orang yang melihatnya.


Dia menatap ke luar, dimana dia melihat pelayan setianya sedang melaporkan apa yang terjadi.


"Nyonya, ada tiga orang yang masuk."


"Oh, ada yang datang. Kita harus menyambutnya sebagai tamu. Fifi, tolong bawa mereka kemari."


"Baik!"


Dalam sekejap, pelayan wanita itu menghilang. Wanita itu diam termenung setelah kepergian pelayan. Wanita itu menatap ke arah cermin, dimana dia bisa melihat dua orang yang baru saja memasuki gerbang.


Wanita itu menghela nafas.


"Rumit sekali."


||°°°°||


"Rakka, apa tidak bisa kita istirahat dulu."


"Fahrez, tak mungkin kan kamu kelelahan hanya dengan berjalan selama dua jam."


"Tidak. Aku tidak kelelahan, tapi Sergio."


"Sergio?"


Rakka menoleh ke belakang. Selama ini dia berjalan paling depan dan Fahrez di belakang, mengikuti. Rakka berjalan menghampiri Fahrez, dan dia memang melihat ada yang aneh dengan Sergio.


Nafasnya kembali tidak beraturan, wajahnya memerah dan suhu tubuhnya tinggi.


"Dia demam."


Rakka menyentuh kening Sergio, setelah itu Rakka menarik tangannya dan dia kembali berjalan di depan.


"Kita cari tempat yang agak tersembunyi. Di sini masih jalan utama untuk sampai di gerbang Egolas."


Fahrez mengangguk. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tapi, tiba-tiba saja ada seorang gadis dengan pakaian serba hitam muncul di hadapan mereka.


"Salam Tuan-tuan" gadis itu sedikit membungkuk, kemudian melanjutkan. "Nyonya saya ingin kalian bertamu di tempat kami, dan dengan khusus saya akan memandu kalian."


"Nyonya? Maksudmu si penjaga gerbang?" Ucap Fahrez.


Gadis itu mengangguk pelan.


Rakka dan Fahrez saling menatap. Mereka sebenarnya ingin menolak, tapi permintaan penjaga gerbang tak bisa ditolak.


"Baiklah, tuntun kami.... Emmm... Siapa namamu?"


Rakka bingung ketika ingin memanggil nama gadis di hadapannya ini.


"Fifi, panggil saja Fifi."


"Baiklah Fifi, mohon bantuannya."


Fifi mengangguk pelan. Kemudian dia berbalik dan tangannya terangkat ke atas. Kemudian Fifi berseru.


"[Teleport]!"


||°°°°||


"Hmm... Mereka sudah disini."


Wanita itu membuka matanya, dia tersenyum setelah melihat pelayannya Fifi bersama dengan tiga orang.


"Nyonya, saya sudah membawa mereka."


"Kerja bagus."


Fifi membungkuk pelan. "Anda terlalu memuji."


Wanita itu hanya tersenyum. Kemudian wanita itu mengalihkan perhatiannya pada tiga orang yang baru saja tiba.


"Tanyakan saja apa yang ingin kalian tanyakan."


Tiga orang itu, Fahrez, Rakka dan Sergio. Fahrez dan Rakka saling menatap, kemudian Rakka  merendahkan tubuh dan tangan kiri berada di atas dada. Untuk Fahrez dia hanya membungkuk sedikit, karena ada Sergio di punggungnya.


"Sebuah penghormatan Dewi Sanita mengundang kami ke tempat kediaman anda."


"Tak perlu sungkan." Dewi Sanita kemudian menatap Fahrez, lebih tepatnya menatap Sergio.


"Dia.... apa dia yang selama ini kalian cari?"


"Ya, apa anda merasa terganggu?"


"Ahh.... Tidak, sama sekali tidak. Ada apa dengannya?"


"Ketika dalam perjalanan kemari, kami ada sedikit hambatan. Sekarang kondisi tubuhnya sedang demam, jika Dewi berkenan...."


"Tentu saja bisa. Fifi, tolong siapkan tempat tidur, air hangat, dan kain bersih."


"Baik."


Fifi pergi dari hadapan mereka. Fahrez melirik Rakka dalam diam, mungkin dia bingung.


"Kalian mendekatlah."


Rakka dan Fahrez maju lebih dekat, setelah di rasa cukup Rakka berhenti dan menatap Dewi Sanita.


Dewi Sanita menatap satu-persatu wajah Fahrez dan Rakka. Tapi hanya wajah Rakka yang dia tatap paling lama.


"Jadi inikah, anak dari sang penyihir paling kejam dalam sejarah, Zoe Hartez."


Rakka yang mendengarnya hanya bisa mengepalkan tangan. Fahrez yang melihatnya hanya bisa diam.


Dewi Sanita kembali menatap Fahrez, kali ini dengan tatapan kasihan.


"Dan kamu, seorang Demi-human. Darah campuran. Apa kabar Leviathan?"


Fahrez menatap Dewi Sanita dengan tatapan tajam.


"Aku baik, lebih baik daripada Demi-human lainnya."


Dewi Sanita tersenyum. "Senang mendengarnya."


"Nyonya."


"Ahh... Sepertinya sudah siap. Silahkan kalian mengurus anak itu terlebih dahulu. Jika sudah siuman, bawa anak itu kemari. Aku ingin bicara padanya."


"Terima kasih."


Rakka menjawab, kemudian berbalik pergi. Begitu juga dengan Fahrez.


Dewi Sanita hanya tersenyum melihat kelakuan mereka.


"Haahh... Ellion, anakmu sudah tumbuh besar."


Dewi Sanita menatap punggumg Fahrez. Dia melihat seseorang yang sebentar lagi akan mengguncang dunia Egolas.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°||