
'*Ilka! Tidak! Jangan pergi kesana!'
Di lapangan besar. Terlihat bekas peperangan. Mayat dimana-mana, bau darah menguar di udara. Hanya ada dua orang yang masih hidup di antara para mayat.
Seorang laki-laki dengan rambut coklat sedang berdiri di sebuah lubang hitam. Dia berbalik dan melihat seseorang dengan mata merahnya menatap dirinya dengan tatapan takut.
Orang itu juga terluka parah. Terlihat dari perutnya yang terus mengeluarkan darah, mata kirinya tertutup, terlihat ada luka tebasan di sekitar kelopak mata.
'Orga, kau adalah orang yang paling tua disini.'
'Tidak! Aku tak ingin mendengarnya!'
'Jaga mereka berdua.'
'TIDAK!'
Orga, dia menangis. Dia berusaha untuk bangkit, tapi apa daya. Tubuhnya tak bisa digerakkan. Dia berusaha menggapai seseorang yang sangat jauh darinya.
Sedangkan orang itu, Ilka. Dia hanya tersenyum kecil.
'Sampai jumpa lagi.'
'TIIDAAKK..!'
Ilka memasuki lubang hitam itu. Orga, dia masih menangis. Kemudian dia berteriak.
'AAHHHH...ARGGGHHHH...!!'
Suara yang penuh penyesalan, dan suara penuh keputusasaan. Tidak ada yang mendengarkan suara teriakan hati yang tersakiti*.
||°°°°°°°||
"Orga."
Merasa terpanggil. Orga berhenti, dia melirik seseorang yang berada di punggungnya. Dan dia melihat setetes air mata jatuh.
Orga terdiam.
"Orga, ada apa?"
Fahrez yang melihat Orga berhenti segera menghampirinya. Setelah itu dia menyadari kalau Sergio menangis dalam tidurnya.
"Anak ini... Mulai mirip dengannya."
Orga kembali berjalan. Fahrez mengikuti dari belakang.
"Aku merasa takkan berani melihatnya lagi setelah ini."
Fahrez berjalan dengan kepala menunduk. Orga yang melihatnya hanya bisa terdiam juga.
"Ini takdirnya."
Hanya itu perkataan Orga.
"Aku takut."
Orga kembali berhenti. Kali ini dia menatap serius Fahrez. Memang benar di dalam tatapan Fahrez, ada rasa ketakutan yang besar. Bahkan jika diperhatikan baik-baik tangan-nya bergetar.
Orga menghela nafas. "Jika kau takut, tak perlu ikut. Pergi saja."
Fahrez melebarkan bola matanya. Dia terkejut, tapi di saat yang bersamaan dia merasa cukup tenang sekarang. Entah apa alasannya.
"Terima kasih."
Orga berjalan mendahului Fahrez. Dia tidak menjawab, hanya terus berjalan. Fahrez hanya tersenyum kecil melihatnya.
Fahrez berbalik, dia menghampiri Orga dan berjalan bersebelahan. Mereka sebentar lagi akan sampai di pintu bawah tanah. Dimana mereka akan melakukannya.
Dan sampailah mereka di depan pintu dengan berbagai ukiran dan permata. Dewi Sanita dan Fifi tidak terlihat, disini mereka hanya ada berempat. Fahrez membuka pintu itu, dan terlihatlah sebuah ruangan besar.
"Akhirnya kalian sudah sampai."
Rakka menyambut mereka bertiga. Saat ini Rakka sedang membuat lingkaran sihir yang sangat besar. Lingkaran sihir itu memiliki empat lingkaran. Lingkaran yang paling besar berada di tengah, dan tiga lainnya membentuk segitiga.
"Aku butuh beberapa waktu lagi. Tunggu sebentar."
Rakka pergi, dan dia sedang membuat garis-garis yang tidak diketahui oleh mereka berdua. Pada akhirnya mereka berdua duduk di pinggiran.
Sergio yang masih tak sadarkan diri, bersender di pundak Orga, Fahrez berada di sebelah kirinya. Sergio sekarang berada di antara mereka berdua.
"Kau seperti seorang kakak" celetuk Fahrez.
Orga melirik Fahrez. "Aku memang kakak untuk kalian."
Fahrez terkekeh. "Memang benar, kau kan yang paling tua disini."
"Bisa jangan bahas umur. Bukankah umurmu yang tak normal."
"Hah? Umurku normal. Umurmu itu yang tak normal."
"Iya, iya, tuan iblis."
"Kau!"
"Baiklah, sudah selesai."
"Baiklah, ayo kita lakukan."
Orga kembali berdiri, dia menggendong Sergio di kedua lengannya. Dia berjalan ke tengah, dimana lingkaran paling besar itu berada.
Setelah sampai, Orga menaruh Sergio dengan lembut. Setelah selesai dia berdiri, kemudian memasuki salah satu dari tiga lingkaran itu.
Rakka dan Fahrez juga mengikuti Orga. Masing-masing dari mereka menempati dua lingkaran yang tersisa.
Mereka bertiga saling menatap. Fahrez menghela nafas panjang, berusaha menenangkan dirinya.
"Rakka, ayo kita mulai."
Rakka menelan ludahnya. Tanganya juga agak bergetar, tapi dia harus melakukan ini.
"Wind magic [Wind Chain]."
"Earth magic [Earth wall]."
"Fire magic [Fire Chain]"
Masing-masing dari mereka mengucapkan mantera. Dan saat ini Sergio sedang dalam keadaan terikat.
Sebuah salib yang terbuat dari tanah muncul dari bawah, kemudian rantai angin Rakka mengikat pergelangan tangan dan kaki Sergio. Selanjutnya, rantai api Orga mengikat leher, perut, dan seluruh bagian bawah.
Sekilas terlihat berlebihan, tapi apa yang akan terjadi selanjutnya adalah sebuah pertarungan.
Lagi, Rakka kembali menelan ludahnya. Dia takut, dan sekarang tangannya bergetar hebat.
"Rakka, tidak bukan itu. Zoe! Lakukan."
Rakka menatap Orga. Untuk sesaat rasa takut itu menghilang setelah melihat tatapan meyakinkan dari Orga.
Rakka menarik nafas, kemudian membuangnya. Rakka mengambil sesuatu dari dalam jaketnya, setelah merasa dapat, dia mengeluarkannya.
Sebuah pisau kecil bewarna putih bersih berada di tangan Rakka. Tidak ada gagangnya, seluruh bagian sangat tajam. Bahkan Rakka melapisi pisau itu dengan sebuah kain hitam.
Rakka membuat pusaran angin kecil. Setelah itu angin itu membungkus pisau itu. Pisau itu melayang dengan bantuan angin yang dibuat oleh Rakka. Perlahan pisau putih itu terbang, menghampiri Sergio. Setelah sampai, pisau itu melayang pelan. Pisau itu sebelumnya berada di atas kepala, perlahan turun dan pisau itu berhenti tepat di dada bagian kanan Sergio.
Lebih tepatnya di bagian jantung.
Tangan Rakka bergetar hebat. Sekali lagi dia merasa takut. Takut akan sebuah kegagalan.
Dia melirik Orga, kemudian Fahrez yang saat ini sedang menatapnya. Ketika melihat Fahrez dia juga melihat sebuah ketakutan dari matanya.
'*Aku harus melakukan ini. Sergio maafkan aku.'
CRATTS*...!
Pisau itu menusuk tepat di jantung Sergio. Sergio yang merasakan ada yang menusuknya langsung membuka matanya. Dia menatap nanar ketika melihat ada pisau yang menancap di jantungnya. Dia ingin mecabutnya, tapi menyadari kalau kedua tangannya terikat.
"Apa... Yang... Uhuukk...uhuukk...!!"
Sergio memuntahakan darah segar, pandangannya mulai buram. Tapi yang pasti Sergio menatap Rakka dengan tatapan bertanya.
Rakka yang melihatnya hanya mengiggit bibir bawahnya. Jujur, hatinya merasa sakit ketika melihat Sergio.
Perlahan, mata Sergio menutup. Kepalanya tergolek lemas. Dadanya tidak naik turun, Sergio tidak bernapas.
Apa ia mati?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°°°°||