
"Dasar. Padahal sudah kuperingatkan untuk tidak menggunakannya" gumam seorang elf yang sibuk mencairkan es yang ada di kantin.
Siapa lagi kalau bukan Galeon. Ia terus memfokuskan diri untuk melelehkan elemen es Cocytus. Sesekali ia melirik pada seorang gadis yang duduk di kursi dengan selimut yang menyelimuti tubuhnya.
Mata merahnya menyiratkan sebuah emosi. Tubuhnya masihlah menggigil kedinginan, wajahnya yang pucat terlihat makin pucat dikarenakan suhu dingin.
"Kau baik-baik saja, Villia?"
Mata merah itu melirik guru nya. "Aku baik, sir" balas Villia.
"Ingin pergi ke ruang perawatan?"
Villia menggeleng. "Tak perlu."
Galeon terdiam. Ia memandangi gadis yang ada di hadapannya ini.
Pada akhirnya ia menghela nafas lelah. Rasanya baru saja dirinya mengingatkan Sergio tentang elemen 'khusus' nya itu. Baru saja. Baru saja diberitahu.
Tapi sudah dilanggar dengan begitu mudahnya.
Memang, berurusan dengan masalah gurunya itu selalu membawa masalah.
Galeon memandang Villia lagi. "Ayo pergi ke ruanganku. Kau butuh minuman hangat."
Awalnya Villia ingin menolak, tapi apa yang di katakan gurunya ini memanglah benar. Pada akhirnya ia mengangguk dengan kaku.
Di dalam hatinya. Villia berharap ia tidak mendapati ceramah panjang dari guru nya ini.
.
.
.
.
.
Di ruang perawatan yang terbilang luas itu. Terdapat Atra, Argen, dan Deiva. Mereka sedang duduk di kursi yang dimana mereka sedang menunggu seorang laki-laki sadar.
Laki-laki itu adalah Sergio. Setelah kejadian dimana ia mengeluarkan elemen es Cocytus, dia langsung jatuh tak sadarkan diri
Tentu saja Atra, Argen, dan Deiva sangatlah panik saat itu.
Untung saja Galeon datang di waktu yang tepat. Galeon langsung membawa Sergio ke ruang perawatan. Galeon meminta mereka bertiga untuk menjaga Sergio sebelum dirinya pergi untuk mengurus kekacauan yang terjadi.
"Villia sialan! Bagaimana bisa dia mengeluarkan sihir nya!" kesal Deiva.
"Villia keterlaluan" ucap Argen dengan dingin.
"Maaf."
Argen dan Deiva menatap Atra yang menunduk.
"Apa-apaan dengan nada suara penyesalan itu?" heran Deiva.
Argen terdiam. Ia hanya memandang kedua gadis ini.
Atra menghela nafas berat, "Jika saja aku-"
"Tunggu-" potong Deiva. "Jangan menyalahkan dirimu. Lagi." lanjut Deiva demgan matanya yang menatap Atra dengan serius.
Atra yang melihat mata kuning emas itu menatap dirinya dengan tegas hanya bisa memalingkan wajahnya.
Sebenarnya, apa yang dikatakan oleh Deiva itu benar. Atra mengakui nya.
"Ukhh...."
Mereka bertiga langsung menatap Sergio yang terlihat akan sadar sebentar lagi.
Akhirnya, mata Sergio terbuka dan memperlihatkan netra hitam nya. Mata hitam itu melihat sekelilingnya dan berakhir menatap Atra yang menatap khwatir dirinya.
Sergio tersenyum tipis, "Hai" sapa Sergio.
"Bodoh!"
Sergio tersentak. Ia kaget dengan nada suara yang terlihat marah. Ia menatap gadis lainnya, "Oh. Hai Deiva" sapa Sergio dengan kaku.
"Hahaha.... Kau membuat mereka berdua khwatir, Sergio" ucap Argen dengan kekehan di akhirnya.
Sergio hanya tersenyum kaku.
"Apa ada yang sakit?" Tanya Atra.
"Tidak ada. Tapi sebenarnya aku-"
Growlll....
Mereka bertiga langsung menatap perut Sergio. Ya, tadi itu suara perut Sergio yang berbunyi.
Wajah Sergio langsung memerah "Apa kalian lapar?"
"Pfftt... Bwahahahaha" pecahlah suara tawa di dalam ruang perawatan itu.
Mereka bertiga tertawa dengan puas. Apalagi Argen.
Sergio langsung merengut, "Tolong saja. Aku belum makan dari siang. Aku lapar."
"Hahaha... Baiklah, baiklah," ucap Deiva sambil ia menghapus air mata yang keluar karena terlalu banyak tertawa. "Bagaimana kalau kita makan di luar?"
"Owhhh... Itu boleh juga" ucap Argen, menyetujui saran Deiva.
"Terus siapa yang bayar?" Tanya Atra.
Dengan senyuman lebar. Deiva dan Argen menatap Sergio yang sudah menduga hal itu.
"Aku yang bayar" ucap Sergio dengan pelan.
""Yeyy...!""
Mereka berdua langsung memberikan tos.
"Kalau begitu kita makan dimana?"
"Di cafe dekat akademi saja, bagaimana?"
"Aku sudah sering datang kesana. Yang lain"
"Hmm... Bagaimana kalau di..."
Dan seterusnya.
Sergio tidak terlalu memperhatikan percakapan antara Argen dan Deiva. Ia hanya melihat Atra yang terdiam dengan wajah yang menunduk.
"Kau baik-baik saja?"
Tersentak, Atra mengangkat wajahnya dan menatap Sergio. Atra mengangguk pelan, "Ya. Aku baik."
"Tapi tidak terlihat seperti kau 'baik-baik' saja."
Atra terdiam.
"Apa karena adikmu?" tanya Sergio lagi.
"Maaf."
Sergio menaikkan alisnya, heran. "Maaf?"
"Tolong maafkan adikku. Ia tidak bermaksud untuk mengeluarkan sihir miliknya."
"Huh? Apa?"
Tiba-tiba saja bayangan akan gadis kecil yang menangis di sebuah kamar lewat di dalam pikiran Atra.
"Aku tak tahu apa yang kau katakan, tapi." Sergio menatap Atra dengan tegas. "Dia yang membuat masalah. Dia juga yang harus meminta maaf."
"Tapi-"
"Bukan kakaknya yang meminta maaf" lanjut Sergio.
Atra terdiam. Lagi-lagi ia terdiam dengan kebenaran yang diucapkan oleh seorang teman.
"Sudahlah" ucap Deiva sambil ia merangkul tubuh Atra. "Jangan dipikirkan terlalu berlebihan. Sekarang, ayo kita pergi makan sepuasnya!"
"Sepuasnya!" celetuk Argen dengan semangat.
Atra tersenyum. Benar apa yang dikatakan Deiva. Dia tidak harus memikirkannya terlalu berlebihan.
Sergio tertawa "Baiklah. Ayo kita pergi."
Sergio langsung menurunkan kakinya. Ketika ia ingin menapak lantai, ia menjadi limbung dan akan terjatuh.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Argen dengan khawatir.
"Ya, aku baik. Hanya terlalu lemas saja" jawab Sergio dengan senyuman tipis di bibirnya.
'Aku tak menyangka efeknya sebesar ini' batin Sergio dengan matanya yang menatap tangannya yang bergetar.
"Kubantu" ucap Argen yang menaruh lengan kanan Sergio di bahunya.
"Aku juga" ucap Atra yang ikut menaruh lengan kiri Sergio di bahunya.
"Lahh... Terus aku bantu apa?" Tanya Deiva sambil ia menunjuk dirinya sendiri.
Argen terlihat berpikir sebentar, kemudian ia mendapatkan sebuah ide.
"Kau" Argen menarik tas sekolahnya dan melempar ke arah Deiva. "Bawakan tasku, Atra, dan Sergio."
"Hahhh...?"
Mereka bertiga berlalu, meninggalkan Deiva yang masih bengong dengan perkataan Argen.
"Mohon bantuan-nya" ucap Argen dengan senyuman jenaka.
"Mohon bantuan-nya" ucap Atra. Ikut-ikutan Argen.
Tersadar dari lamunan, Deiva langsung berbalik dan meneriaki si pemberi saran.
"ARGEN SIALAN! MEMANGNYA AKU INI BABU MU!?"
Argen tertawa keras. "HAHAHA...Ayolah Dei. Sesekali nona muda menjadi seorang babu."
Atra terkekeh. "Argen, jangan berkata seperti itu."
"Kau juga tertawa Atra" Celetuk Sergio.
Deiva dengan kesal menghentakkan kakinya ke lantai. Wajahnya cemberut dan terlihat ia mengomeli atau menyumpahi Argen.
"Tunggu saja pembalasanku!"
.
.
.
.
.
Mereka berempat akhirnya sampai di depan gerbang akademi. Atra dan Argen masih setia memapah Sergio yang masih lemas.
Sedangkan Deiva masihlah mendumel dan menyindir Argen terus menerus.
"Dasar lelaki tidak berperasaan."
"Mudahan saja kau dikutuh jadi batu."
"Argen sialan."
Dan lainnya.
Argen yang mendengar hanya tertawa senang. Atra sesekali ikut tertawa ketika mendengar Deiva yang terlihat tidak ikhlas membawakan tas mereka bertiga.
Sergio berusaha untuk menahan tawany, tapi tak bisa. Dia pun ikut tertawa bersama Argen dan Atra.
"Tuan muda."
Mereka bertiga langsung berhenti ketika melihat seorang perempuan yang berdiri di hadapan mereka.
BUKHH...
"Ahh.... Kenapa kalian berhenti!"
Deiva menabrak punggung Sergio yang diam menatap perempuan yang ada di hadapannya ini.
"Reina?"
"Tuan Orga menyuruh saya untuk menjemput anda."
Sergio mengangguk-angguk mengerti. "Tapi aku ingin pergi makan. Apa kau ingin ikut?"
Reina langsung melirik Argen, Atra, dan Deiva yang mendumel di belakang Sergio.
"Maaf, tapi anda sudah ditunggu tamu."
"Tamu?"
Atra dan Argen saling pandang.
"Pergilah Sergio. Tamu itu mungkin penting untukmu" saran Argen.
"Ya, kita bisa makan bersama lain kali" ucap Atra, menyetujui saran Argen.
"Apa? Kita tak jadi pergi?" tanya Deiva.
Sergio memandang Reina. Tiba-tiba saja sebuah ide muncul di pikiran Sergio.
"Bagaimana jika kalian makan di rumahku saja?"
"""Hah?"""
"Ya. Dirumahku. Bagaimana? Kalian mau?"
"Tapi kau memiliki tamu dirumah" ucap Deiva.
"Paling hanya tamu dari Orga atau Rakka."
"Umm.... Kau yakin?" tanya Argen dengan ragu.
"Aku yakin."
Mereka bertiga saling pandang, meminta persetujuan dari mata mereka.
"Baiklah, kami ikut" jawab Atra.
Sergio tersenyum. Ia menatap Reina yang masih setia berdiri di hadapannya. "Tak masalahkan?" Tanya Sergio.
"Tentu saja tidak masalah. Tapi anda harus memberitahukannya dulu pada tuan Orga atau tuan Rakka" saran Reina.
Sergio mengangguk mengerti. "Akan kulakukan di mobil."
Reina mengangguk. Ia berbalik dan menjauhi Sergio. Mereka berempat mengikuti di belakang Reina dengan Argen dan Atra yang masih membantu Sergio.
Tidak tahu saja Sergio. Bahwa tamu yang ada di rumahnya adalah tamu istimewa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°||
1. 286 Kata