The Another Soul

The Another Soul
Ch. 78,2 [Kebersamaan]



"Apa?" gumam Sergio.


Val mengangguk pelan, "Dari apa yang kulihat dan yang kurasakan, memang benar asal dari energi pedangmu berasal dari ketiga dunia. Terdengar gila bukan?"


Sergio termenung. Apa yang di katakan Val membuat pikiran Sergio berkelana. Terlalu membingungkan dan mengejutkan baginya.


Val membalik ikan agar masak dengan sempurna. Ia pun melirik Sergio yang terlihat melamun.


"Itulah kenapa tanganmu terkulai seperti itu. Tubuhmu tak sanggup menerima aliran energi yang berbeda."


"Apa tanganku bisa bergerak seperti biasanya lagi?"


"Sepertinya.... Bisa" jawab Val yang terdengar ragu.


Sergio yang mendengar nada keraguan dari Val sedikit menghembuskan nafas kecewa. Ia berharap jawaban dari lelaki yang terlihat seumuran dengannya ini bisa menenangkan pikirannya yang tengah kalut.


Tapi, alasan apa yang bisa membuat Sergio mempercayai Val semudah ini?


Bukankah mereka baru saja bertemu?


Setelah di pikir baik-baik, Sergio mendapatkan kejanggalan.


"Darimana kau mengetahui hal ini?"


Val melirik Sergio sebentar, sebelum atensinya kembali pada ikan yang sedang di bakar.


"Ya... Karena aku mengetahui masalahmu, itu saja."


Mata Sergio menyipit, menatap Val curiga dengan alasan yang diberikan oleh Val.


"Berapa umurmu?"


Val terlihat berpikir sejenak "Hmm.... Mungkin 26 tahun?"


"Mungkin kau bilang? Apa kau tak ingat hari lahirmu sendiri."


Val meringis mendengar perkataan Sergio yang sedikit membuat hatinya sakit. "Begitulah" ucap Val pelan.


Baiklah, Sergio mencurigai lelaki yang ada di hadapannya ini. Terlalu aneh baginya melihat seseorang yang tinggal di hutan Silvam yang dipenuhi dengan monster mengerikan.


Tapi ya... Sergio mencoba berpikir positif. Lelaki yang ada di hadapannya ini telah membantunya dan menemani dirinya selama ia berada di hutan Silvam. Sergio mencoba memaklumi Val yang terlihat sedang merahasiakan suatu hal.


"Kau tahu. Kau terlihat merahasiakan sesuatu, tapi dari wajahmu. Kau terlihat ingin mengatakannya agar seseorang membantumu."


Val terdiam.


Sergio terkekeh "Sepertinya yang kau butuhkan adalah kepercayaan, kan?"


Val menggigit bibirnya. Perkataan Sergio ada benarnya dan ada pula salahnya.


"Aku-"


"Aku tak memaksamu untuk mengatakannya. Aku hanya menebak dirimu saja" potong Sergio cepat. "Jika pun kau ingin menceritakannya. Aku akan sangat senang, karena apa? Karena kau sudah mempercayaiku."


Sial, batin Val kesal. Kenapa orang ini tahu begitu banyak?


"Nah, setelah pembicaraan yang melelahkan ini. Ayo kita makan sejenak. Setelah itu kita akan berdiskusi panjang" ucap Sergio yang terlihat memutuskan suatu hal secara sepihak.


Val mengikuti ucapan Sergio dalam diam. Dengan pikiran yang sedikit membebani dirinya.


Mereka pun memakan ikan hasil buruan mereka sendiri. Sesekali Sergio sedikit kesulitan karena ia hanya bisa memakai tangan kiri saja.


Hanya terdengar suara retakan kayu yang dilahap oleh api dan perlahan berubah menjadi abu dan menguar ke udara.


Terasa sangat tenang dengan aliran sungai yang tidak terlalu deras di dekat mereka berdua.


"Ini terlalu tenang" gumam Sergio.


Val pun menyetujuinya "Benar. Biasanya aku harus bersembunyi dari para monster sialan itu."


"Apa kau tidak melihat apapun dari jarak pandangmu?"


Val pun menuruti ucapan Sergio. Ia memperhatikan sekeliling dengan netra coklat terangnya yang sedikit bercahaya.


Tak lama kemudian Val kembali fokus memakan ikan bakar miliknya. "Mereka ada di radius 200 meter di sekitar kita."


"Woah... Apa mereka akan menyerang kita?"


Val menggeleng "Tidak. Dari apa yang kulihat mereka seperti tengah menjauhi kita."


Menjauhi?


"Apa kau tahu alasannya?"


Val menghembuskan nafas kasar "Kupikir karena pedangmu. Kau tahu, pedangmu berasal dari energi ketiga dunia, sudah pasti hal itu membuat para monster yang ketakutan dengan ketiga energi yang sangat mengerikan itu."


Sergio mengangguk paham "Tapi kau lihat bukan" Sergio menunjuk tangan kanan-nya menggunakan tangan kiri. "Aku sedang tidak memegang pedang saat ini."


Val terdiam. Sergio benar. Saat ini Sergio tidak memegang pedang miliknya karena pedang itu telah kembali pada gelang penyimpanan milik Sergio.


Sergio melirik Val yang dimana Val juga melirik Sergio.


"Apa kita sepemikiran?"


Val mendengus "Memangnya aku tahu isi pikiranmu."


Sergio menyeringai "Kalau begitu katakan apa isi pemikiranmu."


"Ada yang tengah memperhatikan kita dan menjauhi kita dari monster itu selama kita bersama."


Sergio menyeringai semakin lebar "Tepat sekali. Wahh... Kita seperti kawan lama yang sudah mengetahui hal terkecil dari diri kita masing-masing."


Val menunjukkan wajah jijik "Eww... Apa-apaan itu."


Bukannya kesal atau marah, Sergio tertawa. "Aku hanya mengatakannya. Jangan dianggap serius."


Val tidak menanggapi ucapan Sergio. Ia hanya kembali memakan ikan bakarmya dan berusaha menikmatinya walau apa yang dikatakan Sergio barusan membuat Val memperhatikan sekitar dengan serius.


"Hei Sergio."


"Hm?"


"Apa kau bisa menggunakan sihir?"


"Tentu saja bisa."


"Syukurlah kalau begitu" lega Val.


"Kenapa?"


Val menatap Sergio "Kupikir kita akan mendapatkan masalah setelah ini."


"Apa maksud-!"


BRUAGH.... SRETT...


"Ugh..!"


"Ayo cepat!"


Belum selesai Sergio meringis kesakitan, tubuhnya sudah ditarik begitu saja oleh Val. Terlihat Sergio yang berusaha untuk berlari mengikuti Val di belakang.


GROAAAWWW...!!


Sergio terkesiap. Ia mendengar suara geraman dari monster.


"Hahh... Sepertinya dia tak ingin melindungi kita lagi" ucap Val sambil berlari.


Sergio terkekeh, ia seperti tidak merasa khawatir dengan penuturan dari Val. "Dia sepertinya ingin membuat masalah dengan kita."


Val mengangguk "Rasanya aku ingin menendang bokong miliknya dan berkata 'Sialan! Kau menganggu waktu sarapanku!' begitu."


Sergio terbahak "HAHAHA....! Sialan! Kau membuat perut ku sakit mendengarnya."


Sergio tak mengetahui siapa seseorang yang mereka sebut dengan 'dia'. Tapi yang pasti orang itu hanya bermain-main dengan Sergio ataupun Val.


"Hei Val."


"Hah... Hah.... Apa?" balasnya dengan nafas terengah-engah.


"Apa kau memiliki sihir?"


Di sela lari mereka, Val tersenyum miring "Jika aku memilikinya, tak mungkin aku berlari."


Sergio mengangguk paham.


DUG! DUG! DUG!


Suara langkah kaki yang terdengar cepat itu membuat Mereka berdua saling menatap.


"Apa Rank monster itu?"


Netra coklat terang itu bercahaya sejenak dan kembali ke warna semula setelah beberapa saat. "A, dengan elemen api dan dia cepat."


"Bentuknya?"


Val terlihat berpikir sejenak "Umm... Serigala? Tapi ia memiliki tanduk, ugh... Intinya begitulah" putus Val yang terlihat bingung.


Api, kah? Pikir Sergio.


Sergio berpikir sejenak. Ia memiliki elemen es Cocytus saat ini, tapi ia tak ingin mengeluarkannya.


Karena apa?


Karena ia tak ingin lepas kendali seperti kejadian di akademi waktu itu.


Ia membekukan kantin akademi dan membuat masalah pada hari pertamanya ia masuk.


Heh, sepertinya aku harus mengikuti ucapan Kaeiru, batinnya.


DUG! DUG! DUG! GROAWW...!


Suara itu semakin dekat dengan mereka berdua. Belum lagi suara langkah kaki yang terdengar sangatlah banyak.


"Sial! Hah... aku lupa mengatakan bahwa... Hah.... Mereka berkelompok!"


Pupil mata Sergio melebar ketika dari sisi kanannya ia melihat siluet serigala yang dimana ekornya seperti dilahap oleh api.


"Val!"


Sergio mendorong Val kedepan.


GROAWW!


"Kuh!"


Serigala itu berhasil menerkam Sergio. Terlihat serigala itu tengah menggigit perut Sergio dengan ganas.


Sergio berusaha menahan geraham serigala itu agar tidak terlalu melukai perutnya yang sebenarnya sudah terluka.


"Sial!"


Seandainya aku bisa menggunakan tangan kananku!


"Sergio!"


Val yang tersungkur di atas tanah segera bangkit dan berniat membantu Sergio.


GROAWWW.... GRRRR....!!


Val kembali mundur. Ia dihadang oleh dua ekor serugala yang dimana ekor serigala itu terdapat api merah yang terasa panas.


"Ugh...!"


Sergio merasa dirinya tak kuat menahan geraham serigala ini. Ia melihat Val yang di kepung oleh dua ekor serigala yang sama.


Pada akhirnya ia mengambil keputusan.


"Ice magic [Ice Area]!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°||



161 kata