The Another Soul

The Another Soul
Ch. 64 [Kesepakatan]



Setelah mendengar perkataan dari mulut Sergio. Kelima dewa-dewi terdiam.


Sergio masihlah meringis kesakitan dikarekan kepalanya berdenyut sakit.


Dirinya juga bingung. Kenapa dia seperti melihat ingatan seseorang yang sedang melakukan pembantaian.


Apa yang dilihatnya sangatlah menyeramkan.


"Kita masuk dulu ke dalam" ajak Rakka.


Kelima dewa-dewi itu beserta Rakka, Fahrez, dan Sergio masuk ke dalam rumah. Sergio dibantu oleh Rakka yang memapahnya berjalan ke dalam rumah.


Sergio duduk di sofa tunggal ruang tamu. Ia menghela nafas berat, kemudian Sergio menutup matanya.


Tapi bukannya mendapatkan ketenangan. Yang ia dapatkan malah gambaran baru tentang pembantaian.


Sergio melihat puluhan monster dengan berbagai macam bentuk dan warna tergeletak di atas tanah yang terlihat basah oleh darah para monster.


Amehnya Sergio melihat semua itu seperti dirinya berada di sana. Seperti Sergio melihat pembantaian itu menggunakan mata kepalanya sendiri.


Dan dia melihat ada seorang wanita berambut hitam yang menatap kosong mayat para monster.


'Siapa?'


Sergio memfokuskan pandangannya. Tapi terlihat seseorang yang sepertinya menjadi mata keduanya itu kembali menghadap depan yang kemudian menatap seorang laki-laki berambut pirang dan memiliki mata hijau zamrud.


Sergio terkejut. Dirinya terkejut karena laki-laki itu memiliki luka besar di perutnya. Darah merembes begitu saja menembus pakaian yang di pakai lelaki itu.


'Ini tak mungkin' pikir Sergio tak percaya.


Terlihat seseorang yang menjadi sudut pandangnya ini mengangkat tangan kanan-nya dan mengarahkannya pada lelaki pirang itu.


'Tidak. Jangan' batin Sergio.


Dari tangan kanan orang itu, muncullah sebuah bola sihir bewarna hitam keunguan. Terlihat gelap dan mengerikan.


'Tidak! Arthur!'


Bzzttt...


"-Gio, Sergio!"


Sergio tersentak. Dia mengambil udara dengan rakus. Keringat dingin mengucur dari wajahnya yang kemudian menetes ke lantai.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Dewa Agni.


Setelah dirasa cukup tenang Sergio menghembuskan nafas dengan pelan. Setelah itu dirinya menatap Kelima dewa-dewi dengan tajam.


"Jadi bisa jelaskan tujuan kalian berada disini?"


"Sebelum itu" ucap Dewa Hermes. "Bukankah kamu tidak mengenal kami sebelumnya?"


Sergio terdiam. "Kalau begitu perkenalkan diri kalian masing-masing."


Dewa Hermes menutup buku yang sebelumnya ia baca. "Namaku Hermes. Dewa pembawa pesan."


Singkat. Itulah perkenalan yang diucapkan Dewa Hermes.


"Selanjutnya aku" ucap Dewa Ares. "Ares, sang Dewa perang yang berasal dari Yunani kuno. Salam kenal Sergio."


Sergio mengangguk. Matanya kemudian menatap Dewi Bishamon.


"Namaku Bishamon. Bishamonten lebih tepatnya. Dewi perang yang berasal dari jepang. Salam kenal Sergio-sama."


"Sama?"


Sergio bingung. Dirinya mengetahui sedikit tentang honorofic jepang. Dia bingung. Kenapa seorang Dewi memanggilnya dengan akhiran 'sama' di namanya?


"Selanjutnya aku. Namaku Nyra. Sang Dewi alam. Salam kenal Sergio" ucap Dewi Nyra dengan lembut.


"Ohh.... Apa anda mengenal Ium yang bernama Wendy?"


"Eh? Kamu mengenal Wendy?"


Sergio tersenyum tipis. "Dia menyembuhkan ku hari ini."


"Hahaha... Senang mendengarnya."


Sergio memberikan senyuma tipis pada Dewi Nyra. Selanjutmya dirinya menatap Anig yang juga memberikan senyuman ramah padanya.


"Namaku Agni. Sang Dewa api, maaf selama ini membohongimu."


"Aku sudah tahu."


Dewa Agni mengerutkan keningnya. "Apa?"


"Aku tahu kalau kau itu adalah seorang Dewa sejak aku memasuki rumah."


Kelima Dewa-Dewi itu kaget. Jadi Sergio tahu? Seorang manusia tahu bahwa mereka adalah seorang Dewa dan Dewi?


"Hei bro, bagaimana caranya kamu bisa tahu kalau kita seorang Dewa dan Dewi?" Tanya Dewa Ares.


Sergio terlihat berpikir sebentar, "Hmmm.... Aku menggunakan insting alami milikku. Oh, kalian bukan yang pertama kalinya kutebak seperti ini."


"Siapa yang pertama?" Tanya Dewa Hermes penasaran.


"Sanita."


"Dewi Sanita maksudmu?" Tanya Dewa Agni.


Sergio mengangguk. "Ya. Kita bahkan menjadi teman dekat. Belum lagi masakan buatan Fifi sangatlah enak. Apa mungkin aku akan datang menjenguknya ya?"


Kelima Dewa-Dewi itu sedikit teperangah.


"Sergio memang tak normal" ucap Fahrez blak-blakan.


Dengan cepat Rakka menyenggol bahu Fahrez.


"Jadi bagaimana dengan tujuan kalian?"


Kelima Dewa-Dewi itu saling melirik satu sama lain. Meminta seseorang untuk berbicara pertama kali.


"Jadi begini Sergio" ucap Dewa Hermes.


Di dalam hati, keempat Dewa-Dewi itu bersorak senang ketika Dewa pesan angkat bicara.


"Kami berada di sini untuk membuat kesepakatan dengan dirimu."


"Ohh... Kesepakatan apa?" Tanya Sergio dengan senyuman miring di wajahnya. Dia sedikit tertarik karena kelima Dewa-Dewi ini bersedia datang membuat kesepakatan dengan dirinya.


"Sergio Vandelhein. Tujuan kami datang har ini adalah untuk...


.... Melindungimu."


Senyuman miring Sergio hilang ketika mendengar tujuan kelima Dewa-Dewi ini.


"Apa?"


"Kami berlima akan melindungimu mulai sekarang."


"Tunggu dulu. Aku masih belum mengerti. Untuk apa seorang Dewa dan Dewi melindungi seorang manusia yang tidak memiliki aliran mana dalam tubuhnya?"


"Sergio-"


Dewa Agni menatap Sergio dengan serius. "Tidak, bukan dia tap-"


"Ohh... Aku tahu" potong Sergio dengan cepat. Sergio terkekeh kecil "Pasti dia bukan?"


"Bisa kau dengarkan penjelasan kami dulu?" Ucap Dewa Agni dengan serius.


Sergio mendengus, "Baiklah. Mari dengarkan."


"Kami melindungimu karena ada suatu kelompok yang menginginkan jiwamu."


"Ralat. Jiwa Ilka lebih tepatnya" ralat Sergio dengan sarkas.


"Hei nak. Bisa kau tenang dan dengarkan kami dulu?" ucap Dewa Hermes dengan jengkel.


"Ohh maaf ya Tuan Hermes. Disini aku sangatlah kesal karena tidak hanya tiga orang yang menjadi penjaga ku. Sekarang bertambah menjadi lima. Tiga saja sudah merepotkan ku, apalagi lima?"


"Jadi kamu menganggap kami merepotkan, begitu?" Tanya Dewi Bishamon.


Sergio mengangguk setuju. "Ya. Sangatlah merepotkan."


Kelima Dewa-Dewi itu sedikit merasa terhina.


Ayolah. Status mereka adalah seorang Dewa dan Dewi. Sosok yang di agungkan oleh seluruh umat manusia di dunia Egolas maupun di Bumi.


Semua orang selalu menginginkan perlindungan Dewa-Dewi. Selalu ingin mendapat berkah dari sang Dewa dan sang Dewi.


Tapi ini.


Ada seorang manusia yang menolah perlindungan Dewa-Dewi dengan begitu mudahnya. Sergio menolaknya juga tanpa berpikir keras sama sekali.


Benar-benar tipikal manusia naif, pikir kelima Dewa-Dewi itu.


"Jika ini bukan perintah dari Dewa Zeus. Aku pasti sudah melemparkanmu dari langit ketujuh" ucap Dewa Hermes yang kesal.


Sergio tersenyum manis, "Ohh... Terima kasih ajakanmu yang menyenangkan itu. Dewa Hermes."


Dewa Hermes mendengus kesal.


Dewa Agni menghela nafas lelah. "Tolong dengarkan aku bisa?"


"Baiklah, baiklah, bicaralah Agni. Aku mendengarkan."


Nafas Fahrez dan Rakka tercekat. Mereka berdua terkejut ketika mendengar Sergio tidak memanggil Dewa Agni seenaknya atau menganggap seperti teman biasa.


Tapi bukannya marah atau kesal, Dewa Agni malah terkekeh kecil.


'Aku merasa bernostalgia' pikirnya.


"Kami berlima akan melindungimu dari bahaya yang akan datang di masa depan."


"Contohnya?"


Dewa Agni terlihat sedang berpikir, "Contohnya.... Ketika kamu memiliki musuh yang datang kepadamu dengan tujuan untuk mengambil jiwamu. Kami akan melindungimu."


"Sampai mati?"


Mata kelima Dewa-Dewi itu menajam.


Dewa Agni tersenyum lebar. Senyuman yang penuh dengan keyakinan. "Kami melindungimu sampai titik darah penghabisan. Atau lebih tepatnya sampai kami mati."


Sergio menatap serius kelima Dewa-Dewi ini.


'Tatapan mereka.... Tidak main-main' pikir Sergio.


"Walau musuhku seorang Dewa atau Dewi sekalipun?"


"Itulah gunanya kami disini bocah" celetuk Dewi Bishamon.


"Huh?"


"Begini Sergio" ucap Dewa Hermes.


"Musuhmu bukanlah hanya manusia saja. Tapi juga....


.... Para Dewa-Dewi adalah musuhmu."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°||


1.107 kata