
"Sergio, jangan sentuh apapun."
"Iya."
"Rakka, jaga dia. Jangan sampai dia merusak mobilku."
"Orga, apa kau tak terlalu berlebihan" ucap Rakka.
"Ini bukan berlebihan!"
"Dia hanya merusak pintu mobilmu, bukankah kamu banyak mobil?" ucap Fahrez.
Aku menatap mereka bertiga yang sedang berdebat. Yang mengemudikan mobil adalah Reina, dan Orga di sampingnya. Di kiriku ada Rakka, dan kananku adalah Fahrez.
Aku berada di tengah-tengah mereka.
"Umm... Maaf. Aku tak tau kenapa aku bisa menghancurkan pintu mobilmu."
Aku berkata canggung.
Keadaan pintu mobil Orga sekarang adalah retak, bentuknya seperti habis ditabrak sebuah truk.
"Akupun juga tak tau" ucap Orga.
Bahkan Orga saja tak tau. Aku menatap Rakka.
"Aku juga tak tau kenapa, tapi nanti kau harus mampir ke rumahku. Aku ingin memeriksa tubuhmu."
"Memeriksa?"
Aku menjauh dari Rakka.
"Bukan itu! Aku hanya akan memeriksa tubuhmu untuk mencari tau penyebabnya! Fahrez berhenti menatapku!"
Fahrez menatap jijik Rakka. "Apa? Inilah sebabnya kami tak ingin Sergio di rumahmu."
"Ukh...."
Rakka tertunduk lesu.
Kasihan sekali Rakka. Padahal dia hanya berniat membantuku saja.
"Oke, nanti aku akan ke rumahmu."
Rakka yang mendengarnya mengangkat kepalanya kembali. Dia tersenyum kearahku. Sekilas aku seperti melihat seorang kakak perempuan.
"Sergio, perhatikan kiri kanan mu."
Aku mengikuti ucapan Orga.
"Wahh..."
Aku kagum.
Di sepanjang jalan, aku melihat kristal dengan berbagai warna dijadikan lampu jalan. Uniknya lagi aku melihat ada seorang elf!
"Apa yang barusan itu seorang Elf?"
"Ya, disini berbagai macam ras hidup secara harmonis. Lihat itu..." Fahrez menunjuk seorang pak tua yang tingginya mungkin hanya sampai perutku.
".....Itu Dwarf. Ras yang selalu menempa atau membuat persenjataan. Atau itu, yang bertelinga kucing. Itu disebut halfbeast. Mereka ahli dalam kecepatan...."
Aku menatap mereka semua dengan mata berbinar. Jadi selama ini yang dianggap sebagai dongeng atau legenda adalah nyata di sini.
"....Yang kulitnya warna merah itu adalah Orc. Mereka sebenarnya bodoh, tapi jangan main-main dengan kekuatan fisiknya. Mereka kuat."
Aku melihat seorang pria kekar dengan memakai baju kaos hitam ketat.
"Kenapa kau menyebutnya bodoh?"
"Ukh... Anggap saja aku permah bertemu dengan Orc."
"Oh..."
Rasanya aku ingin keluar dan berjalan-jalan.
"Ngomong-ngomong, apa kalian sudah membelikan pakaian untuk Sergio?"
Orga menoleh kebelakang, menatap kami bertiga bergantian.
"Belum" jawab Rakka.
"Belum, lagipula kita selama empat hari berada di dunia Nromu" ucap Fahrez.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita ke mall?"
"Mall? Disini ada mall juga?"
"Iya, kebetulan kita sebenarnya berada di Ibukota. Ada mall terbesar di kerajaan Akai."
"Akai?"
Aku menatap bingung Orga.
"Oh, kamu belum diberitahu yah. Kita sekarang berada di kerajaan Akai. Kerajaan terbesar pertama dari seluruh kerajaan, dan nama ibukotanya adalah Agni."
"Agni? Bukankah itu nama Dewa api?"
"Kau benar."
"Sergio, disini ada berbagai macam distrik. Dan setiap distrik selalu dikuasai oleh satu dewa atau dewi" ucap Rakka.
"Kalau begitu, disini berarti..."
"Ya, disini wilayah Dewa Agni."
||°°°°°°°||
"Sergio, kau jangan buka pintu mobilnya."
Aku yang sebelumnya ingin membuka pintu, langsung diperingatkan oleh Orga.
"Hahahah... Orga, kamu terlalu berlebihan."
Rakka tertawa, setelah itu dia membuka pintunya. Aku cepat-cepat keluar dari dalam mobil.
"Hooh... Tidak ada bedanya dengan duniaku."
Aku menatap sebuah gedung tinggi dengan cat putih dan kristal bewarna emas. Aku tak tau mall ini ada berapa lantai, tapi sepertinya sangat tinggi.
"Umm.... Sergio, kau ingin masuk mall dengan pakaian seperti itu?"
Fahrez menegurku. Aku memperhatikan diriku. Benar juga, kalau aku masuk dalam keadaan seperti ini bukankah gawat.
Pakaianku masih pakaian dari dunia Nromu, dimana masih ada bekas darah yang mengering. Aku tak sempat mengganti baju, karrna setelah makan kita berempat langsung pergi ke dunia Egolas.
Tiba-tiba saja ada sebuah jaket yang menggantung di pundakku. Aku menariknya.
"Rakka, ini milikmu bukan?"
"Pakai saja."
Aku memakai jaket Rakka. Daripada disebut jaket, mungkin ini jubah. Panjangnya sampai selututku. Jaket dengan warna hitam ini menyamarkan bajuku yang sobek dan bekas darah.
Sekarang Rakka hanya memakai kemeja warna merah marun. Rambutnya dia ikat ekor kuda, lengan kemejanya ia lipat hingga siku.
"Ayo," ajak Orga.
Kita berlima memasuki mall.
||°°°°°°||
"Sergio, ini bagus. Oh ini juga, warna ini juga bagus."
"Rakka, astaga.."
Aku menepuk jidatku keras. Saat ini Rakka yang memilihkan semua pakaian. Aku hanya diam dan melihat saja.
"Apa?"
"Tak apa" jawabku.
"Pftt... Sergio, kau harus terbiasa dengan sifat Rakka yang seperti ini" ucap Fahrez.
"Aku tidak akan pernah terbiasa dengan sifatnya yang ini."
Aku menghela napas pasrah ketika Rakka mencocokkan baju kearahku. Aku hanya mengangguk, atau mengiyakan saja. Yang penting ini cepat selesai.
"Reina, apa ini cocok buatku."
"Bagus sekali tuan Orga, rasanya saya seperti ingin membakar pakaian itu."
"Reina, aku serius."
"Saya juga serius, tuan."
"....."
"....."
"Aku tak tau Orga memiliki sisi seperti ini."
Aku berbisik pada Fahrez yang berdiri di sebelahku.
Fahrez yang mendengarnya terkekeh kecil. "Dia tidak serius memakai itu, dia hanya mencari perhatian."
"Mencari perhatian?"
"Iya, sebenarnya...."
Fahrez membisikkan sesuatu di telingaku. Aku mendengar secara seksama.
"Ohhh...."
Aku mengangguk paham. Jadi begitu.
"Kasihan sekali Orga."
"Kau benar, tapi dia tidak pernah menyerah."
Benar-benar seorang pria yang pantang menyerah, aku kagum.
"Sergio, aku sudah membayarnya."
"Oh, ok--ASTAGA, APA-APAAN INI!?"
Aku terkejut ketika melihat ada enam paper bag di masing-masing tangan Rakka.
"Apa?"
Rakka menatapku bingung. Aku masih menatap terkejut ke arah tangan Rakka.
"Baju sebanyak itu untuk apa?"
"Kamu akan tinggal disini selama sisa hidupmu. Bukankah harus membeli baju yang banyak, belum lagi kita harus mencari handphone baru untukmu."
"Disini ada handphone juga?"
"Tentu saja ada, apa kau hidup di jaman batu."
"Ukh..."
Aku merasa sakit mendengarnya.
"Orga, jangan bermain-main, cepat lepaskan pakaian itu sebelum Reina berulah" ucap Rakka.
"Eh, dia tidak akan berulah. Iya kan, Reinaku yang manis."
TAPP... KRAKK...
"AWW...!"
Orga melompat-lompat sambil menyentuh kaki kanannya. Sepertinya aku mendengar suara retakan tadi.
"Oke, Reina sudah memulai. Lebih baik kita mengikuti Rakka. Ayo Sergio", ajak Fahrez.
Aku mengangguk.
"Ngomong-ngomong Rakka."
"Hm?"
Rakka menoleh kebelakang.
"Kau membayar pakai apa?"
"Tentu saja memakai kartu kreditmu."
"HA..?!"
"Apa? Diantara kita bertiga, kau yang paling kaya."
"Tapi kau juga kaya!"
"Aku? Aku tidak kaya, bahkan aku hanya punya satu rumah."
"Satu rumah tapi sebesar 20 hektar itu apa! Kamu membelinya memakai daun memangnya!"
"Sudahlah, ayo kita pergi untuk membeli handphone baru untuk Sergio."
"Memakai uangku lagi!"
"Tentu saja. Kau pikir pakai daun?"
"Kau...!"
"Siapa suruh kau lengah."
Aku melihat Rakka menunjukkan dompet kulit bewran hitam. Itu, bukankah dompetnya Fahrez.
"Dompetku! Kembalikan!"
Ketika Fahrez ingin mengambilnya, Rakka langsung menyembunyikannya kembali.
"Akan kukembalikan ketika kita sudah belanja. Jadi bersabar."
"Iblis kecil ini.."
Fahrez berucap geram. Memang benar Rakka mirip seperti seorang iblis.
Aku menepuk bahu Fahrez. "Mohon bersabar, ini sebuah ujian."
"Iya, ini salah satu sifat Rakka yang jarang muncul."
Fahrez berkata lesu. Aku ingin tertawa, tapi aku menahannya. Lagipula apa yang dikatakan Rakka memang benar. Fahrez memiliki banyak uang, jadi kenapa dia menjadi pelit.
"Ayo pergi" ucap Rakka.
"Ya."
"Reina, kau tega sekali kepadaku.
"Mohon maaf tuan, tapi saya tidak peduli sama sekali."
Aku tertawa pelan. Orga berbeda sekali waktu di dunia Nromu. Disini dia terlihat ceria, tidak seperti di dunia Nromu.
Rakka dan Fahrez juga berbeda. Sebelumnya mereka masih menatapku dingin, sekarang ada tatapan pertemanan di tatapan mereka.
Apa ini pertanda bagus?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°°||