
BRAKKK...
Suara gaduh terdengar dari kamar Sergio. Rakka dan Fahrez yang mendengarnya segera berlari ke kamar Sergio yang berada di lantai dua.
"SERGIO!"
Rakka yang pertama kali membuka pintu mendapatkan pemandangan yang membuat dia terkejut.
"Rakka ada ap-"
Fahrez yang baru sampai hanya terdiam melihat pemandangan yang ada di depannya.
"Kekekeke.... Kalian sudah sampai. Kalian tau, sebagai penjaga kalian terlalu lengah."
Seorang pria dengan jubah hitam compang-samping saat ini sedang mencekik leher Sergio dan tubuhnya bersender di dinding yang retak.
"Lihat tuanmu. Tidak berdaya seperti ini. Aku tak percaya kalau anak ini adalah monster itu."
Keadaan Sergio saat ini tidak baik. Karena benturan di dinding, kening Sergio mulai mengeluarkan darah.
"J-jangan m-main-main.... De-dengan diriku. S-sampah!"
Sergio berkata dengan nafas sesak. Dia memegang keras pergelangan tangan orang itu, tapi sama sekali tidak berefek.
"Hohoho.... Kamu masih sadar."
BRAKKK....
Lagi. Orang itu mendorong Sergio dengan keras ke dinding. Tangan Sergio yang sebelumnya memegang tangan orang itu, perlahan terlepas. Sergio, dia tidak sadarkan diri.
"Tidurlah, tuan muda."
"********!"
Fahrez yang marah melesat maju, dia ingin memotong tangan yang sedang mencekik Sergio, namun orang itu menghilang.
"Segini saja kekuatan dari dua orang penjaga. Lemah!"
Orang itu sekarang berada di luar, dia melayang, orang itu menjaga agar Sergio tak jatuh hanya menyentuh kerah baju Sergio.
Rakka, dia membuat bola-bola angin kecil, setelah itu dia mengarahkannya ke arah orang asing itu.
"Wind magic [Wind Blade]"
Bola-bola angin itu langsung berubah menjadi tebasan. Seharusnya tebasan itu dapat membelah besi.
Tapi satu tebasan itu tidak pernah sampai.
Orang asing itu menghindar. Gerakannya minimalis, dia hanya menghindar seperlunya.
Belum selesai sampai disitu, Rakka melanjutkan serangan lagi.
"Fire magic [Fire Ball]"
Puluhan bola api muncul di udara. Dengan cepat bola api itu melesat ke arah orang asing itu.
"FAHREZ!"
Fahrez, dia saat ini sedang berdiri diam, terlihat Fahrez menutup matanya. Tapi saat mendengar suara Rakka, matanya terbuka. Warna mata abu tua berubah menjadi merah terang.
Tak hanya itu, muncul sisik di kedua tangannya dan leher. Jari-jari Fahrez memanjang dan berubah menjadi cakar yang sanggup membelah besi.
Setelah selesai dengan perubahan dirinya, Fahrez melesat maju kearah orang asing itu.
"Ohh... Inikah perubahan tuan Leviathan itu."
Fahrez sudah sampai di hadapan Orang itu, tapi lagi-lagi orang itu menghindar. Dia kembali menghilang dari hadapan Fahrez.
"Takkan kubiarkan! Ice magic [Ice Barrier]!"
Kubah es besar menutupi seluruh rumah Sergio. Rakka berusaha untuk menutup jalan keluar dari orang asing itu.
BOOMM!!!
Sebuah lubang besar muncul di kubah es. Orang asing itu melesat pergi ke arah lubang itu.
Fahrez yang melihatnya segera mengejar orang itu, dia ingin menebas orang itu, tapi dia takut kalau Sergio terkena dampaknya.
'Kuh.. Sergio maaf.'
"[Thunder Storm]"
Tangan Fahrez mengeluarkan percikan listrik, kemudian Fahrez melakukan gerakan menusuk ke arah orang asing itu.
"Tak ragu-ragu dalam menyerang!"
Orang itu akhirnya memasang posisi bertahan, sebuah pelindung tipis berada di depan orang itu. Fahrez segera saja melesat maju, dia berusaha menggapai Sergio. Berusaha untuk menariknya.
Tapi.
Lagi-lagi gagal.
Orang asing itu menghilang lagi. Dikarenakan serangan Fahrez, kubah es yang menutupi di beberapa tempat telah rusak. Orang asing itu pergi melewati kubah es yang rusak itu.
"SIAL!"
Fahrez berteriak, kesal pada dirinya sendiri.
"SIALAN!"
Satu hari sebelum keberangkatan. Sergio menghilang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°||