The Another Soul

The Another Soul
Ch. 7



"Huh?"


Fahrez melanjutkan. "Kekuatanmu, maksudku jiwa lain yang berada di dalam tubuhmu itu terlalu berbahaya dan terlalu hebat. Banyak yang ingin memiliki kekuatan itu dan banyak juga yang ingin menghancurkannya. Dan benar, jiwa itu berhubungan dengan masa lalumu."


"Fahrez!"


Rakka berteriak keras.


"Rakka, kita harus memberitahunya. Kamu tak ingin Sergio seperti yang lain bukan."


Rakka terdiam. Rakka yang sebekumnya berdiri kembali duduk dengan tenang.


"Aku lanjutkan, sebelum kami bertemu denganmu ada orang lain yang ditempati oleh jiwa itu. Dan hasilnya, mereka semua mati."


"......"


Aku hanya bisa terdiam. Bukankah itu berarti aku akan mati juga?


"Tidak seperti yang kamu pikirkan. Kamu tak akan mati, untuk sekarang. Alasannya adalah kamu adalah orang pertama yang berhasil mengeluarkan tiga kekuatan dari jiwa itu. Orang yang sebelumnya, mereka bahkan belum mengeluarkan kekuatan itu sudah mati."


"Itu berarti....."


"Ya, Kamu cocok dengan jiwa itu. Tapi aku tak tahu sampai kapan kamu cocok dengan jiwa itu, bahkan yang terlama hanya bisa menahan selama dua hari. Dan kamu, sudah bertahan selama tiga hari. Ini sebuah keajaiban."


"Dan jika Jiwa ini sudah tak cocok  dengan diriku. Aku akan mati saat itu juga."


Fahrez mengangguk pelan. "Benar, tapi kamu bisa berbicara dengan jiwa itu untuk mempertanyakan atau membuat perjanjian."


"Caranya?"


Lagi, Fahrez dan Rakka saling menatap lagi. Mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang meminta persetujuan.


"Sergio, jika kamu ingin melakukannya tidak disini. Tapi di dunia kami."


"Dunia.... Kalian?"


Rakka mengangguk. "Dunia ini, Bumi lebih tepatnya tidak memiliki sirkuit sihir. Sedangkan Dunia yang kami tinggali memilikinya. Dan disana kami dapat menggunakan kekuatan kami dengan leluasa."


Oh begitu, tapi ada pertanyaan yang mengganjal pikiranku.


"Terus, bagaimana bisa tadi kau menggunakan sihir, dan Fahrez bisa memuculkan sayap bagai capung itu."


"Kamu melihat pertarungan ku tadi?" Tanya Fahrez.


Aku mengangguk. "Ya, aku melihatnya. Tapi tak terlalu jelas."


"Luar biasa" Fahrez hanya bisa kagum melihatku.


"Kenapa?"


"Sergio" panggil Rakka. "Apa kamu tak sadar, kalau kamu baru saja melihat pertarungan dari jarak 2 kilometer."


"Hahahaha... Kalian bercanda. Aku yang melihatnya saja seperti melihat dari jarak 5 meter atau lebih."


"......"


"......"


"Hei, jawab aku. Kalian berbohong, kan."


Mereka berdua terdiam setelah mendengar pernyataan ku.


"Uhh... Baiklah, aku mulai menjadi tak normal."


Aku hanya bisa berkata pada diriku sendiri.


"Baiklah, aku punya satu pertanyaan lagi. Apa yang aku lakukan di hutan waktu itu."


"Ahh.... Waktu itu" Fahrez berbicara. "Jujur saja aku juga tak mengerti, aku melihatmu, tapi sepertinya kamu melihatku dengan pandangan lain."


Aku mengingat kembali. "Ya, aku melihatmu sebagai manusia pucat dengan bayangan hitam dibelakangmu. Bukan hanya satu, tapi banyak. Itu yang membuatku takut."


"Bayangan hitam? Waktu itu aku hanya sendiri."


"Tidak, aku melihat bayangan hitam di belakangmu waktu itu. Makanya aku berlari. Tapi, walaupun tak ada bayangan hitam itu juga aku akan tetap berlari."


"......."


Fahrez terdiam.


"Kalau tak salah, kau ada menyentuh kepalaku. Apa yang kau lakukan waktu itu."


"Tak apa, hanya ingin menyentuh saja."


"Kau bohong."


"Tidak, aku hanya ingin menyetuh kepalamu. Itu saja."


Tapi, entah kenapa perasaanku  berkata kalau dia bohong. Entahlah, aku tak peduli.


"Bukannya kamu ingin tahu kenapa aku dan Fahrez bisa menggunakan sihir bukan?"


Rakka mulai menjawab pertanyaanku. Tapi kurasa dia hanya mengalihkan pembicaraan.


"Ya, bagaimana kalian bisa menggunakan sihir disini. Katamu, di Bumi kalian tak bisa menggunakan sihir kalian."


"Kami bisa menggunakan sihir karena kami membuat perjanjian."


"Perjanjian?"


Rakka mengangguk pelan. "Ketika kami ingin melewati gerbang antar dunia, kami harus membuat perjanjian pada penjaga gerbang. Perjanjian yang kubuat adalah tidak menggunakan kekuatanku lebih dari 5%, sedangkan Fahrez diminta untuk tidak menunjukkan wujud aslinya. Jika kami melanggar, kami harus kembali ke dunia kami, dan tidak boleh pergi ke dunia manapun. Selamanya."


"Apa kalian semua, yang berada di dunia sana sering pergi antar dunia?"


"Tapi gerbang antar dunia itu hanya bisa terbuka di waktu tertentu saja" ucap Fahrez.


"Ya" Rakka melanjutkan. "Kadang hanya terbuka setahun sekali, sehari sekali. Atau bahkan 100 tahun sekali."


"Terakhir kali terbuka kapan?"


Aku penasaran tentang gerbang itu.


"Terakhir sekitar 27 tahun yang lalu, dan untuk gerbang itu terbuka lagi tinggal tiga hari lagi."


"Tiga hari, yah."


Aku berbicara padaku sendiri. Jadi jika aku ingin pergi dari dunia ini maka waktunya hanya tinggal tiga hari lagi.


"Maaf aku berbicara seperti ini" ucap Fahrez. "Kalau kamu menolak untuk pergi bersama kami, maka kami akan memaksa kamu untuk ikut bersama kami. Jika cara damai tak bisa, maka kami akan menggunakan cara kasar."


"Itu jika aku tak mau bukan?"


"Ya. Eh? Kamu menurut begitu saja?"


Aku menghela nafas. "Apa aku punya hak untuk menolak?"


"Ehh.... Ya.... Itu.... Hahahaha, kamu benar."


Fahrez menjawab pertanyaanku gugup. Aku tak tahu kenapa dia.


"Ya, kamu tak punya hak untuk menolak" tegas Rakka.


"Oke, lagipula di dunia ini tidak ada yang kukenal."


'Selain dia.'


"Tapi ada satu pertanyaan di kepalaku. Kata Rakka, di bumi kalian berdua tak bisa menggunakan kekuatan kalian jika tidak ada perjanjian. Aku benar."


"Ya, kamu benar. Jadi apa masalahnya" ucap Fahrez.


"Kenapa aku bisa menggunakan kekuatan yang ada pada jiwa ini. Bahkan sampai membuat kalian terluka waktu itu."


"......"


"......"


Mereka berdua kembali terdiam. Mereka seperti tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


"Jujur saja, apa yang kamu katakan juga membuat kami bingung."


Fahrez memberi respon pertama.


"Ini menurut teoriku saja" Rakka menatapku serius. "Pertama, karena jiwa itu berasal dari dunia kami, dia bisa mengeluarkan kekuatan penuh di dunia ini. Karena jiwa itu tidak membuat perjanjian dengan penjaga gerbang, kedua ini memang tidak masuk akal."


"Maksudmu?"


Fahrez menatap serius Rakka. Akupun juga menatap serius Rakka, teorinya cukup masuk akal.


"Yang kedua, kamu sebenarnya adalah penghuni dari dunia kami yang pindah disini."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°||