
"Aku Ium dari Dewi Theia."
Ohh... Sial.
Ium yah?
Tadi dia bilang apa? Ium dari Dewi Theia?
Kalau tidak salah atau seingatku. Dewi Theia adalah Dewi cahaya yang berasal dari Yunani.
Tiba-tiba aku merasa sakit kepala.
Ketika aku masih sibuk berpikir dengan hal-hal yang membuatku sakit kepala, tiba-tiba saja ada yang memukul pintu ruang latihan dengan keras.
Tentu saja kami semua yang berada di dalam ruangan latihan itu refleks melihat seorang pria dengan rambut ungu muda dan warna mata yang senada sedang bersender di pintu latihan dengan tangan yang terkepal menumpu pada pintu.
"Kalian semua..." ucapnya dengan nada dingin dan mata yang melihat semuanya bagaikan magsa yang siap disantap.
"Ahh... Umm... Teman-teman, sepertinya kita terlalu lama membuat Radolph menunggu" ucap Arthur dengan senyuman yang terlihat terpaksa.
"Eh? Aku benar-benar melupakannya!" ucap si gadis pink, atau kupanggil Wendy? Karena sebelumnya aku mendengar Arthur memanggilnya seperti itu.
"Wendy benar! Aku melupakan Dodo!" ucap si kuning.
Dan si rambut ungu atau Radolph?-- Lagi-lagi aku hanya tau nama seseorang jika mereka menyebutkannya. Dia menatap tajam si rambut kuning.
Si rambut merah menghela nafas kesal, "Maaf Radolph. Kami terlalu lama membuat kau menunggu."
"Tak apa Lisa, tak masalah. Tapi...." Radolph menatap Arthur dengan tatapan buas.
"E-eh? Apa? Jangan menatapku seperti itu!"
Radolph berdecih kesal, "Kau yang menerima misi kenapa kita yang kena sialnya."
Arthur tertawa kering, "Wahh... Kata-kata mu masihlah tajam yahh..."
Arthur menoleh kearahku, "Baiklah. Sepertinya kami harus pergi dari sini. Kita akan bertemu lagi, Sergio."
Setelah berkata hal itu, Arthur dan yang lainnya pergi meninggalkan ruang latihan.
Mataku terus menatap kepergian mereka. Apalagi Arthur dan Radolph.
Menurutku... Aura mereka menunjukkan bahwa mereka berdua adalah yang 'terkuat' di akademi ini.
"Deidei nanti telpon kakak yah!"
"Berhenti! Kau kakak paling memalukan!"
Ahh... Aku lupa ada seorang Siscon di akademi ini.
Pada akhirnya kakak Deiva pergi dengan air mata yang berlinang-- oke kakak Deiva terlalu berlebihan untuk menjadi seorang Siscon.
Setelah mengucapkan salam perpisahan yang hampir membuatku muntah. Kakak Deiva menatapku tajam. Sangat tajam dan bahkan aku merasakan aura membunuh.
Huwaa... Menakutkan.
Bercanda :v
"Kau! Akan kubalas kau suatu hari nanti!"
"Kakak!"
Kakak Deiva masih menatapku tajam sampai diapun mengilang dari balik dinding.
Benar kata Arthur.
Aku menadapatkan musuh.
Clapp...Clapp...
"Oke semua, para Ium sudah pergi. Jadi ayo kita pergi ke kelas dan belajar seperti biasa" ucap Galeon.
Aku berjalan kearah Atra yang masih terduduk di lantai.
"Bisa berdiri?" tanyaku sambil mengulurkan tangan kananku-- berniat membantunya berdiri.
Atra memandangku, "Ohh... Terima kasih."
Atra menerimanya. Dia berdiri dengan cepat dan membersihkan rok kotal-kotak bewarna hitam kemerah-merahan.
"Kau baik-baik saja Atra?" tanya Deiva dengan khawatir.
Atra tersenyum kecil, "Aku baik."
Deiva menghela nafas lega dan kemudian dia menatapku dengan tajam.
Hell, berapa kali aku mendapatkan tatapan tajam hari ini?
Di hari pertama bukannya mendapatkan teman yang ada malah musuh!
Pada akhirnya aku harus mengucapkan satu kata berjuta makna.
"Maaf."
Aku menyesal dengan perbuatanku. Maksudku, mereka berdua perempuan dan aku terlalu menyakiti mereka, sepertinya?
"Kau terlalu merasa bersalah" ucap Deiva.
"Eh?"
"Deiva benar. Jangan merasa bersalah seperti itu, Sergio."
"Eh? Oh? Umm... Okay.."
Aku sedikit bingung dengan ucapan mereka, tapi yah... Baiklah.
"Oke semuanya, ayo kita ke kelas."
Kami mengangguk.
.
.
.
Tak terlalu lama, kami berempat sudah sampai di depan pintu kelas yang tadi ditunjukkan oleh Galeon.
Tanpa banyak kata Galeon membuka pintu kelas.
Terpampanglah ruang kelas yang luas. Yang sepertinya mampu menampung sekitar lima puluh murid? Entahlah, ruangan kelas ini terlalu besar.
Dan juga kelas ini cukup ramai juga ternyata.
Galeon menepuk tangannya terlbih dahulu untuk menginterupsi mereka.
Dan berhasil. Semua murid memandang Gakeon dan diriku yang berada di sampingnya.
Atra dan Deiva sudah berada di tempat duduknya masing-masing.
Oke, tiba-tiba saja aku merasa gugup.
"Perhatian semuanya! Kita kedatangan seorang murid baru. Bertemanlah yang baik dengannya, oke?"
"""Baik, sir!!"""
"Sergio, silahkan perkenalkan dirimu."
Aku gugup, aku gugup, aku gugup sialan!
Aku menarik nafas dalam-dalam, kemudian membuangnya. Oke Sergio, ini hanya semacam perkenalan diri. Kenalkan dirimu dan selesai. Tinggal duduk di tempat yang kuinginnkan.
"Umm... Hai, perkenalkan. Namaku Sergio Vandelhein, salam kenal semuanya."
Sudah.
Tapi kenapa sekelas hening semua!
Kalau kalian diam begitu aku semakin gugup tau!
"Apa ada yang ingin ditanyakan pada Sergio?" ucap Galeon.
"Baik, saya sir!"
Aku melihat seorang pemuda berambut hitam yang sama denganku sedang mengangkat tangannya.
"Baiklah Argen, apa yang ingin kau tanyakan?"
"Class mu apa Sergio?"
Oh, Class ku kah.
"Class ku adalah.... Saber."
Seketika seluruh murid di ruangan kelas ini saling berbisik satu sama lain.
"Kau seorang Regular atau Irregular?"
Dan...
Apa itu Regular dan Irregular?
"Dia Irregular, Sin."
"Huh? Memiliki Class Saber tapi seorang Irregular. Hei kau, buang Class Saber mu itu. Untuk seorang Irregular dengan Class Saber itu sangatlah tidak berguna."
Seluruh kelas tertawa keras. Mereka tertawa, kecuali Atra dan Deiva yang menatap para murid lain dengan tatapan-- kalian tidak tahu apa-apa!
"A-aku ingin ber-bertanya!"
Aku kembali mengalihkan perhatianku pada seorang gadis kecil dengan rambut abu-abu dan mata hijau muda nya.
"Ya, Nain? Silahkan bertanya" ucap Galeon dengan lembut.
Jangan-jangan elf satu ini seorang lolicon lagi.
"E-elemen si-sihir mu, apa?" tanyanya dengan gugup.
Ahh... Lucunya.
"Elemen sihirku adalah es."
Seluruh kelas kembali ribut. Ya ampun, apa memang begini cara memperkenalkan diri di dunia yang penuh sihir ini?!
"Archo mu?" tanya-nya kembali.
Archo? Kupikir ini adalah suatu hal yang harus dirahasiakan.
"Archo? Milikku adalah Archo Gerna."
Seluruh murid di kelas terdiam. Bahkan Atra dan Deiva memandangku dengan tatapan terkejut.
Apa? Kenapa? Ada apa ini?
Serius, aku membutuhkan Rakka di sampingku saat ini. Aku butuh kau Rakka, buku panduan berjalanku, dimana kau!
Kelas yang hening itu kembali bersuara ketika si rambut merah tertawa keras.
"Seorang Irregular, memiliki Class Saber, dan Archo mu adalah Archo Gerna. Hahaha.... Menarik Irregular, kau terlalu menarik."
Aku menggaruk rambutku yang tak gatal. Dan kemudian aku tertawa kering mendengar ucapan si rambut merah.
"Baiklah, sekian dulu perkenalan dari Sergio. Kalian bisa menanyakan hal lainnya ketika jam istirahat. Sergio, silahkan duduk di sebelah Argen. Argen, angkat tanganmu."
Argen-- atau si rambut hitam itu mengangkat tangannya dengan semangat. Ohh, di sebelah Argen ternyata ada Atra dan Deiva yang duduk.
Baguslah jika begitu, ada yang kukenal dalam satu meja ini.
Tempat duduk ini menaik, alias seperti tempat duduk di stadium. Dan juga mejanya panjang dan terbuat dari kayu yang berkualitas.
Sepanjang aku menaiki anak tangga, aku mendengar bisikan-bisikan para murid lainnya.
"Hei, dia bisa memakai Archo Gerna."
"Tapi kenapa dia jadi Irregular?"
"Dia tampan."
"Iya, dia tampan. Tapi dia berada di urutan ketiga dari tipe ketampanan milikku."
"Akan kuajak dia berduel nanti."
Dan bisikan lainnya.
Aku duduk di sebelah Argen. Dan dia tiba-tiba saja mendekat kearahku. Sangat dekat, bahkan aku bisa merasakan nafasnya.
"Kau! Kau hebat!"
Eh?
"Argen, jangan takuti Sergio dengan mendekat seperti itu."
Aku melihat Atra yang menarik kerah baju Argen dengan lembut.
"Eh, maaf Atra. Tapi Sergio sangatlah hebat!"
"Ya, ya, ya, kami tahu itu Argen" ucap Deiva dengan nada jengkel.
"Oh ya," Argen menjulurkan tangan kanannya. "Perkenalkan, namaku Argen Frederick Dayleif. Class ku adalah Lancer, elemen sihirku angin dan Archo milikku adalah Vayu, dan aku sama sepertimu. Seorang Irregular, salam kenal, Sergio."
Aku membalas juluran tangan Argen. "Salam kenal Argen."
Argen tersenyum senang, dia melespas tangannya. "Kau tahu. Kau baru saja ditandai dengan Sin."
"Sin?"
Argen mengangguk, "Ya, si rambut merah. Namanya Sin Vunder Ruth. Kudengar dia calon Ium Dewa Ra yang selanjutnya."
Aku meneguk ludahku, "dan Class miliknya?"
"Hmm... Kudengar dia akan menjadi Chroma dalam waktu satu tahun lagi. Class utama miliknya adalah Berserker dan dia ingin mengambil Class Saber juga."
"Kau tahu banyak, yah."
Argen terlihat sedikit terkejut. Dia tersenyum kecil, "Karena aku ahli dalam hal informasi."
Informasi, yah?
"Argen, aku tak terlalu mengenali akademi ini. Bisa aku minta temani aku keliling ketika jam istirahat?"
Mata Argen berbinar-binar senang ketika mendengar ajakan ku. "Dengan senang hati!"
Aku tersenyum juga melihatnya.
"Kau jahat sekali Sergio, tidak mengajak kami berdua."
Aku melirik pada Deiva yang menatapku dengan cemberut.
"Eh?"
"Ehh... Sepertinya Sergio melupakan kami, ya kan, Deiva?"
"Eh?"
Dua gadis ini...
"Baiklah, baiklah, ketika jam istirahat bisa temani aku keliling akademi ini. Atra, Deiva?"
Mereka berdua tersenyum kecil. ""Oke!!""
Mereka berdua kembali ngobrol. Argen sesekali menceritakan tentang Ekstrakurikuler yang ada di akademi ini.
Sesaat aku merasa... Hidupku bewarna.
Mira, aku memiliki teman lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°||
Author Note:
Yosh, satu chapter setelah ujian!
Sorry lama update. Author lagi ujian yang menguras pikiran dan tenaga.
Author bakal update dua chapter, oke!
Tunggu yah!
Salam manis
Raiyu
1.437 kata