
Orga, aku sama temanku akan makan di rumah. Tolong beritahu Rakka- Sergio.
Orga terdiam.
Dia terdiam ketika membaca pesan yang dikirim oleh Sergio.
Mata merahnya kemudian menatap di ruang tamu. Dimana ia menatap kelima orang yang mengeluarkan aura yang membuat siapapun yang melihatnya akan membungkuk hormat.
Sekali lagi Orga memutuskan untuk melihat pesan yang dikirim Sergio. Memastikan bahwa yang mengirim pesan benar-benar Sergio.
'Matilah kita' batin Orga.
Orga langsung berdiri dari duduknya. Ia langsung melangkah ke arah Fahrez yang tengah memakan buah apel.
"Fahrez" panggil Orga.
"Hm? Apwah?" Balas Fahrez dengan mulutnya yang penuh dengan buah apel.
Tanpa banyak kata-kata, Orga menunjukkan pesan yang dikirim oleh Sergio. Fahrez membacanya dengan serius, setelah itu ia menatap Orga.
"Terus?"
Orga menepuk jidatnya. "Apa kau bodoh?"
"Tidak" balas Fahrez sambil ia menggigit buah apel.
Rasanya Orga ingin menenggelamkan Fahrez di laut.
"Maaf. Aku melupakan fakta bahwa kau bodoh."
"Apwa maksudwmu Swialan!"
(Apa maksudmu sialan!)
Orga menatap Fahrez dengan skeptis. Baiklah, lupakan saja Demi-human yang satu ini. Lebih baik dirinya pergi mendiskusikan dengan Rakka yang sibuk memasak di dapur.
Orga melangkah ke arah dapur. Ia melihat Rakka yang tengah sibuk memotong sayuran dan di kompor ada pamci yang asapnya mengepul ke atas. Belum lagi aroma masakan yang enak menguar dari dapur.
Di tambah Rakka mengikat rambut panjangnya penjadi ponytail. Aura seorang Rakka Hartez yang memiliki wajah cantik itu entah kenapa terasa berbeda ketika di dalam dapur.
Tak terelakkan, Orga sedikit terpesona dengan pemandangan yang ada di dapur.
Ingat. Hanya sedikit. Ini karena Orga sudah lama tidak melihat Fahrez yang memasak dengan serius. Seperti saat ini.
"Rakka" panggil Orga.
"Hm? Ada apa Orga?" balas Rakka sambil ia memotong wortel.
"Sergio membawa temannya ke rumah."
TAKK...
Orga melirik wortel yang langsung terbagi dua dalam satu hentakkan. Orga melihat Rakka yang terlihat melamun, kemudian Rakka berbalik dan menatap dirinya dengan horror.
"Orga..."
"Aku tahu. Jadi?"
"Jadi?" Rakka menaikkan alisnya. "Kau bertanya padaku?" Rakka menunjuk dirinya sendiri.
Orga mengangguk. "Ya. Menurutmu kita harus bagaimana?"
"Suruh Sergio untuk-"
"Mereka sudah di perjalanan" potong Orga cepat.
Terlihat wajah Shock di wajah Rakka. "Serius?!"
Orga mengangguk lagi. Terlihat Rakka yang berjalan mondar-mandir di dalam dapur. Mulutnya terus menggumam kata-kata yang tak terlalu didengarkan oleh Orga.
"Ada apa?"
""Huwaaa....!!""
Mereka berdua refleks berteriak ketika melihat seseorang yang tiba-tiba saja datang dan berdiri di sebelah Orga dengan senyuman ramah di bibirnya.
"Dewa Agni, apa anda butuh sesuatu?" Tanya Rakka dengan ramah.
Dewa Agni tersenyum, "Tidak. Aku hanya melihat kalian berdua yang sepertinya sedang berdebat akan suatu hal. Ada apa?"
Orga dan Rakka saling memandang satu sama lain.
"Umm... Begini" Rakka berbicara. "Sergio membawa temannya ke rumah untuk makan bersama, jadi... Umm... Anda mengerti maksud saya, kan?"
Dewa Agni mengerjapkan kedua matanya dahulu sebelum ia menoleh dan menatap keempat orang-- maksudnya keempat Dewa lainnya.
"Wahh..." Dewa Agni terkekeh. "Kau benar" Dewa Agni menatap Rakka dengan tatapan aku-mengerti-jadi-harus-bagaimana?
"Jika boleh... Anda dan Dewa lain menjadi.... Ummm..."
"Maksudmu kita harus merubah penampilan kita? Begitu?"
Suara lemah lembut menyapa pendengaran Rakka dan Orga.
"Nyra?"
Perempuan itu-- Dewi Nyra menatap Dewa Agni. "Apa? Aku benar bukan?"
"Itu maksud kami, Dewi Nyra, Dewa Agni" jelas Orga.
"Itu hal yang mudah, untuk kami."
""......!""
Lagi-lagi Rakka dan Orga dibuat terkejut dengan kedatangan tiba-tiba. Kali ini yang datang menghampiri adalah Dewa Ares dengan senyuman playboy nya itu.
"Hai manis, ingin jadi kekasihku?"
"eh?"
Kalian pasti sudah tahu siapa yang dianggap menjadi kekasih oleh Dewa Ares.
"Kau bagaikan mawar putih di gurun pasir yang cant-"
"Maaf Dewa Ares. Saya laki-laki."
"Eh?"
"Pffttt..." Dewa Agni berusaha untuk menahan tawanya.
Tapi sepertinya Dewi Nyra tidak seperti itu.
"BWAHAHAHHA.... Lihat Agni! PFFTT.... WHUAHAHAHA....!!"
Untuk sesaat, Orga mempertanyakan dimana sang Dewi yang lemah lembut sebelumnya?
"Hei, kenapa kalian berkumpul di dapur?"
Seorang perempuan yang memiliki rambut pirang panjang dan manta ungu gelapnya menatap penasaran pada kerumunan yang berkumpul di depan dapur. Dia adalah Dewi Bishamon.
"Kalian bahkan tidak mengajak kita berdua."
Kali ini yang datang adalah Dewa Hermes dengan mata coklatnya yang menatap sebuah buku usang yang ada di tangan kanan-nya.
Oke, baiklah. Para Dewa-Dewi yang menjadi 'tamu' di kediaman Fahrez Alluvka saat ini berkumpul di depan dapur.
Jika para 'Fans' mereka melihat Dewa-Dewi mereka berkumpul di depan dapur seperti ini. Sudah dipastikan, hidup Rakka dan Orga tidak akan tenang sampai kapanpun.
Bahkan Rakka dan Orga menyadari ada beberapa orang yang memperhatikan mereka semua sedari awal para Dewa-Dewi ini berkumpul.
Rakka tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Jadi begini" ucap Dewa Agni. "Sergio akan membawa teman-temannya ke rumah. Tak mungkin bukan kita memakai identitas kita yang merupakan seorang Dewa atau Dewi."
Mereka semua mengangguk mengerti.
"Aku kurang mengerti" tapi sepertinya ada satu orang yang tak mengerti.
"Pikirkan sendiri dengan otak ototmu itu" balas Dewi Bishamon dengan sinis.
"Diam kau nenek" balas Dewa Ares tak kalah sengit.
Percikan listrik imajiner muncul dari kedua mata mereka yang terus memberikan tatapan tajam satu sama lain.
"Kalau begitu ayo kita lakukan sekarang" ucap Agni.
"Perubahan wujud? Itu hal mudah" ucap Hermes yang masih fokus pada buku yang di bacanya.
"Hmm... Aku mencium bau yang enak" ucap Dewi Nyra.
Rakka tersenyum malu "Hanya masakan rumahan yang sederhana. Saya harap anda dan Dewa lainnya bisa menerima masakan sederhana saya."
Dewa Agni tersenyum lembut. "Masakanmu tidak pernah mengecewakan."
Untuk sesaat Rakka merasa de'javu ketika mendengar pujian dari Dewa Agni.
"Selamat datang Sergio."
Samar-samar mereka semua bisa mendengar suara Fahrez yang menyambut kedatangan Sergio di depan pintu.
"Hei! Cepat ber- eh? Kalian meninggalkanku!" protes Dewa Agni.
Bagaimana tidak. Mereka semua sudah merubah wujud mereka menjadi orang lain dan meninggalkan Dewa Agni yang masih belum berubah sama sekali.
"Cepat lakukan. Kami akan pergi duluan" Dewa Hermes menepuk bahu Dewa Agni kemudian ia berlalu pergi bersama yang lainnya.
Dewa Agni tersenyum kesal. Pada akhirnya ia merubah dirinya sendiri menjadi orang lain.
Dewa Agni menjadi Anig.
Dewa Agni atau Anig itu berjalan ke arah pintu depan. Ia mendapati pemandangan yang dimana ia dibantu oleh dua orang yang Dewa Agni yakini adalah teman-teman Sergio.
Terlihat heran sebenarnya. Kenapa Sergio sampai harus di papah seperti itu?
Akhirnya Sergio menatap dirinya. Sempat melamun sesaat, tapi setelah itu dia terlihat tersentak kemudian ia tersenyum kecil.
"Hai Anig" sapa Sergio.
Dewa Agni tersenyum. "Hai Sergio."
Sergio terlihat memandangi keempat Dewa-Dewi lainnya yang juga menatap Sergio dengan pandangan menilai.
"Mereka temanmu?" Tanya Sergio pada Dewa Agni.
Dewa Ares mendekati Sergio dengan senyuman lebar "Hai Sergio! Aku sudah mendengar banyak tentang dirimu dari Anig. Senang bertemu denganmu. Oh ya! Perkenalkan, namaku Ressa."
Sergio balas tersenyum. "Salam kenal, Ressa."
"Aku Yarn. Salam kenal Sergio" ucap Dewi Nyra. Suara Dewi Nyra yang lemah lembut berubah menjadi agak berat.
"Salam kenal."
"Aku Shamon! Salam kenal Sergio" ucap Dewi Bishamon yamg sepertinya menyamar menjadi seorang laki-laki.
"Hai Sergio, Perkenalkan, namaku Mers. Senang bertemu denganmu" ucap Dewa Hermes dengan matanya yang masih fokus pada buku yang ada di tangannya.
Orga, Rakka, dan Fahrez terdiam ketika mendengar perkenalan singkat di antara Dewa-Dewi yang menyamar ini.
Mereka berdoa, mudahan Sergio tidak mengenali kelima orang yang menyamar dengan sempurna.
Jika penyamaran kelima Dewa-Dewi ini terbongkar. Ia tidak tahu bagaimana reaksi ketiga teman Sergio.
Ingat, Sergio menyamar menjadi murid biasa di akademi. Bagaimana reaksi seseorang jika mendapati bahwa dirumahmu ada kelima Dewa-Dewi yang menjadi tamu?
Sudah pasti terkejut. Dan heboh sendiri.
Rakka dan Orga tidak ingin hal itu terjadi. Jadi beginilah mereka. Diam dan tidak memberitahu Sergio yang berjalan ke arah sofa.
Sergio duduk di sebuah sofa tunggal. Atra dan Argen yang membantu ikut duduk di sofa lainnya.
Deiva yang memikul ketiga tas temannya itu. Dengan kesal Deiva asal melempar tas dan ikut duduk di sebelah Atra yang memandangi rumah Sergio.
"Sergio" panggil Dewa Agni.
"Ya?"
"Siapa teman-temanmu ini?" Tanya Dewa Agni dengan penasaran.
Seakan mengerti dengan ketidak sopanan mereka. Atra langsung memperkenalkan dirinya.
"Ahh... Maaf. Perkenalkan, nama saya Atra Rykolius. Salam kenal semuanya."
"Hohh... Kau manis" celetuk Dewa Ares.
Setelah Dewa Ares berkata seperti itu, sebuah jitakan meluncur di jidat Dewa Ares.
Pelakunya adalah Dewa Nyra yang menatap sinis Dewa Ares.
"Deiva Rekka Fafri. Salam kenal semuanya" ucap Deiva dengan perkenalan singkatnya itu.
Mata para Dewa-Dewi langsung menajam ketika mendengar nama keluarga yang cukup terkenal
'Keluarga Fafri dan keluarga Rykolius jangan-jangan....' batin para Dewa-Dewi.
"Argen Frederick Dayleif. Salam kenal semuanya."
Bagaikan tersambar petir. Mulut para Dewa-Dewi tanpa sadar menganga lebar.
'Teman-teman Sergio....
'.... Berbahaya semua!'
Itulah isi pikiran para Dewa-Dewi yang saat ini sepertinya terkena serangan Shock mendadak.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°||
Author Note:
Dua chapter guys :v
Jafi di Author Note ini Author mau ngasih tau.
Up The Another Soul setiap hari Sabtu atau minggu. Begitu pula The Story of White Dragon.
Kalau ditanya kenapa?
Author sudah mulai kuliah 😥 kebetulan Author dapat libur. Makanya Author rajin Up.
Jadi begitulah
Tapi kalau nggak sibuk-sibuk amat Author usahakan Up selain hari Sabtu-minggu.
Mengerti?
Oh ya terima kasih untuk 700 like nya 🎉🎉
Sebenarnya nih novel banyak View nya, tapi kenapa Like nya dikit yah? 😅
Oke itulah Sedikit curahan hati dari Author.
Sampai juga di chapter selanjutnya!
Adios!
Salam manis
Raiyu
1. 527 kata