
Gadis ini buta.
Cukup dari cara dia berjalan, dan matanya yang terus tertutup itu. Aku sudah tau, dan aku penasaran kenapa gadis ini berada di jembatan yang sepi, dan sesubuh ini.
"Jika ada seseorang disini, tolong jawab aku."
Dia masih saja bertanya seperti itu. Aku masih melihat di ujung jembatan, memperhatikan sambil bersedekap tangan.
Dia, gadis itu mulai berjalan kearahku sambil mengarahkan tongkatnya. Aku hanya diam menunggu, tapi gadis itu tidak tau kalau dia sebenarnya berjalan kearah lubang paling besar di jembatan itu.
'Sial'
"Diam disana!"
Aku berteriak dari ujung jembatan.
Gadis itu langsung berhenti. Kelihatannya dia agak terkejut.
"Eh? Ternyata benar ada orang."
Dia menengok kesana kemari, padahal aku berada di beberapa meter di depannya. Diam dan masih menunggu.
"Diam disana, aku akan ke tempatmu."
Aku berjalan kearah gadis itu. Aku hanya berniat membantunya, tak mungkin kan aku meninggalkan seorang gadis buta disini.
Tapi aku heran. Bagaimana bisa dia sampai ke tengah-tengah jembatan. Padahal jembatan ini sudah reyot dan banyak bolong di beberapa bagian.
"Eh? B-baiklah, t-terima kasih."
Dia menjawab gugup.
Dia menghentakkan pelan tongkat kayunya ke jembatan. Aku berjalan pelan kearahnya, dia masih menengok kesana kemari.
"Aku berada di depanmu."
Dia terkesiap. "Oh.... Ahhh... Mmm.... Oh begitu, hahaha....."
Dia tertawa sambil menggaruk kepalanya.
Aku yakin kepalanya tidak gatal.
Dan aku sudah sampai. Aku masih memandangi gadis ini. Gadis biasa, tidak bukan gadis biasa. Kalau dia gadis biasa tak mungkin dia duduk di jembatan tua yang hampir rusak ini.
Baju putih pula.
Aku masih membayangkan dia sebenarnya adalah seorang hantu.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Dia terkesiap lagi.
"Aku? Aku sedang melihat bintang."
Huh?
"Melihat.... Bintang?"
Gadis itu mengangguk semangat. "Iya, kalau aku melihatnya saat subuh bintangnya terlihat lebih jelas."
Aku tak tau dia ini bercanda atau apa, tapi aku coba saja.
"Ohh... Kalau begitu dimana posisi bintang paling terang sekarang?"
Tanpa ragu dia menunjuk ke arah kanan.
"Barat. Sebenarnya aku memang melihat bintang paling terang itu."
Aku terdiam. Dia benar.
"Kakak ini jangan-jangan penyuka bintang juga, yah?"
'Kakak?'
Aku menemukan sebuah kejanggalan.
"Ya, kakak juga suka bintang. Bisa Kamu jelaskan beberapa rasi bintang disini?"
Dia terdiam, kemudian dia mengangguk cepat.
"Iya! Jadi, di Timur laut ada Cygnus, di selatan ada Cassiopeia, dan Barat daya ada Ursa Major dan Ursa Minor."
Aku terdiam.
"Kau tau banyak yah."
Aku mengelus kepalanya. Gadis itu tersenyum senang.
"Tentu saja aku tau semua, itu semua karena aku adalah bintang!"
Huh?
"A-apa?"
Gadis itu mengangguk. "Ya, aku adalah bintang. Namaku Ankaa bintang tercerah dari rasi bintang Phoenix."
"........"
Aku terdiam.
Gadis ini, tiba-tiba saja dia berkata kalau dia adalah bintang.
"Namaku Sergio, salam kenal."
Hanya ini yang bisa kulakukan.
Aku tak mengerti. Dia memperkenalkan dirinya adalah bintang? Aku tak paham, tapi kejadian yang baru-baru saja kualami juga tak masuk akal.
Gadis itu, Ankaa tersenyum setelah mendengar namaku.
"Pantas saja aku tak bisa melihat kakak. Kakak terlalu gelap."
"Gelap?"
Ankaa mengangguk. "Ya, terlalu gelap. Kekuatan kakak yang satunya berbahaya."
Aku terkejut.
Lagi, Ankaa mengangguk. "Bahkan aku tau tentang dua penjaga kakak. Saran dariku kakak jangan terlalu sering menggunakan kekuatan itu."
"Aku juga tak ingin menggunakan kekuatan ini."
Siapa juga yang mau memakai kekuatan ini.
"Bagus, dan satu lagi. Kakak jangan terlalu percaya pada dua penjaga kakak."
"Kenap-"
"Dan satu orang! Jangan percaya pada orang itu!" Lanjut Ankaa.
"Apa maksudmu?"
Aku bertanya bingung.
"Ya itu karen-"
Aku menunggu Ankaa melanjutkan perkataannya, tapi Ankaa hanya menunjukkan wajah rumit. Setelah itu ekspresi wajah Ankaa kembali normal lagi.
Ankaa menghela nafas kasar. "Intinya seperti itu. Percaya pada perkataanku."
Aku mengangguk.
Setelah itu Ankaa berjalan kearahku. Setelah dia sampai di hadapanku, tiba-tiba saja dia menarik kepalaku ke depan wajahnya.
Aku terkejut.
"Ankaa, apa maksudnya ini?"
"Diam."
Satu kata. Hanya satu kata darinya sudah membuatku tak bisa bergerak.
Aku sedikit membungkuk dikarenakan tinggi kami yang berbeda. Ankaa hanya setinggi dadaku, jadi aku harus membungkuk ke depan.
Tiba-tiba saja Ankaa mencium keningku.
"....."
"Sekarang, aku bisa tenang."
Ankaa menjauh, tapi aku masih tetap berada di posisi sebelumnya.
Aku tak yakin kalau dia itu buta.
"Kakak, apa kakak melamun?"
Aku langsung berdiri. "Ti-tidak, hanya terkejut saja. Ngomong-ngomong apa yang baru saja kau lakukan."
Ankaa tersenyum. "Kakak akan tau."
Aku hanya bisa terdiam mendengar jawabannya.
"Sepertinya aku harus pergi."
Ankaa berkata sambil melihat ke arah timur.
"Oh. Apa.... Kita akan bertemu lagi?"
Ankaa menatapku. Aku tak yakin dia menatapku, karena matanya terus tertutup tapi aku rasa iya.
"Pasti."
"Aku senang mendengarnya."
Ya, aku merasa senang mendengarnya. Entah kenapa.
"Kalau begitu sampai jumpa, Ankaa."
"Ya."
Aku berbalik, pergi dari hadapan Ankaa. Matahari sudah terbit, aku harus cepat pulang jika tidak ingin telat ke sekolah.
Tapi ada satu yang tidak kusadari.
"Hmm... Dia ternyata masih kecil."
Ankaa, perlahan penampilannya berubah. Rambutnya yang sebelumnya bewarna hitam berubah menjadi merah terang, tinggi badannya pun berubah. Tapi perubahan paling besar ada pada matanya.
Perlahan, Ankaa membuka matanya. Matanya sangat indah. Matanya bewarna oranye yang bercampur dengan warna biru, matanya menampilkan gradasi warna yang indah.
"Sergio, kita akan segera bertemu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°°°||