
"Hei Atra, nanti bisa temanin aku ke toko buku?"
Seorang gadis dengan mata merah yang tengah berjalan di lorong menoleh ke belakang. Ada seorang gadis berambut biru malam yang menepuk bahunya, belum lagi senyuman jenaka di wajahnya yang manis.
"Eh? Apa aku tidak salah mendengar? Apa tadi?"
Gadis itu seketika memasang wajah cemberut. "Atra, aku yakin kau mendengarnya dengan jelas."
Gadis itu-- Atra, tertawa ketika melihat wajah cemberut temannya. "Hahahaha.... Aku tak menyangka saja. Seorang Deiva sang pemalas tak ingin membaca tiba-tiba saja mengajak ke toko buku! Ini keajaiban!" ucap Atra dengan semangat.
Gadis berambut biru malam itu-- Deiva semakin cemberut. "Ini bukan kemauanku, tapi aku dipaksa oleh guru kita tersayang."
Atra mengerutkan dahinya, "Siapa? Reyya?"
Deiva mengangguk pelan. "Ya, Reyya, guru yang membuatku sakit kepala."
Atra ber-oh ria, "Masalah apa lagi yang kau buat sekarang?"
Deiva tersenyum masam mendengar ucapan dari teman sekelasnya ini. "Apa aku di matamu hanyalah gadis pembuat masalah?"
"Hmm... Ya dan tidak."
"Atra, kau kejam" ucap Deiva dengan nada lesu.
Atra terkekeh kecil mendengarnya. "Terimakasih pujiannya."
"Aku tidak memujimu sialan!" kesal Deiva.
Atra tertawa lagi. Mereka mengobrol sambil berjalan ke arah kelas. Di sepanjang jalan, banyak orang-orang yang berbisik dan Atra mendengarnya dengan jelas.
'Hei, bukankah dia mantan Regular itu?'
'Sejak kapan gadis itu menjadi irregular?'
'Apa kau tidak tau ceritanya?'
Atra mengepalkan kedua tangannya. Deiva yang menyadari bisikan-bisikan dari murid lain menatap tajam mereka.
"Atra, jangan pikirkan omongan mereka, oke?" ucap Deiva dengan nada khawatir.
Atra hanya tersenyum kecil pada Deiva.
"-disini kelasmu, tuan muda."
"Berhenti memanggilku tuan muda."
"Ohh... Kupikir aku harus memanggilmu seperti itu."
"Ck, kau menyebalkan."
"Tidak semenyebalkan para penjagamu itu."
Terdengar suara perdebatan di depan kelas Atra dan Deiva. Otomatis mereka berdua berhenti sejenak dan memperhatikan seorang pemuda berambut hitam, tinggi, dan matanya yang menatap malas seorang guru yang berada di sampingnya.
"Sstt... Siapa dia? Dia bersama pak Galeon" ucap Deiva berbisik pada Atra yang terdiam.
"Hei Atra, kau dengar?"
Tapi Atra masih terdiam, membeku menatap pemuda yang berada di hadapannya saat ini.
Merasa di tatap, pemuda itu menoleh ke arah Atra dan Deiva.
Dan tanpa di duga, pemuda itu mengangkat tangan kanannya dan kemudian...
"Hai..."
"Kau.... Sergio, kan?"
\=\=\=\=\=\=\=\=
Sebelumnya.....
"Sergio, bangun sekarang juga. Sudah pagi!"
Cahaya matahari menusuk mataku. Aku merasa silau, dan karena aku masih merasa mengantuk jadi aku menutup kepalaku dengan selimut.
"Hei! Kubilang bangun!"
Aku kenal suara ini.
"Ck, aku masih mengantuk Fahrez."
Si kulit pucat-- Fahrez memutarkan bola matanya, kesal. "Apa harus ku bangunkan dirimu menggunakan sihir seperti Rakka."
Aku menghela nafas kesal. Pada akhirnya aku menyibakkan selimut kemudian berdiri sambil mengusap mata kananku.
"Aku sudah bangun, puas?"
Fahrez mengangguk kecil, "Bagus, cepatlah bersiap-siap bocah. Kau akan sekolah hari ini."
Dan setelah mengatakan hal itu Fahrez beranjak keluar dari kamar yang beberapa minggu ini baru kutempati.
Aku menguap sebentar sebelum masuk ke dalam kamar mandi dengan handuk di bahu kiriku.
"Sekolah... Ya?"
Pandanganku tertuju pada pakaian yang tergantung di lemari. Blazer merah dengan celana kain senada, belum lagi dasi yang bewarna hitam.
Entah kenapa aku merasa tidak memiliki kepercayaan diri untuk bersekolah di dunia yang masih awam bagiku ini.
Walaupun aku sudah berlatih sejak lima hari yang lalu.
Dan aku merasa merinding seketika.
Latihan yang berat, dan menyiksa, tapi sepadan dengan apa yang kudapatkan.
Lagipula salahku juga sih yang meminta latihan ala monster disaat aku masih belum tahu apa-apa tentang sihir dan lain-lain.
Jujur sih, aku tak ingin meminta mereka melatihku lagi.
Bahkan sekarang aku masih merasakan luka-luka bekas latihan yang masih terasa sakit di seluruh tubuhku.
Aku meringis pelan.
Sial ini masih sakit.
Aku menyentuh tulang rusuk bagian kanan. Kemudian aku mengingat siapa yang memberikan luka ini.
"Uhh.... Aku tak ingin latihan private bersama Orga lagi."
Pada akhirnya aku masuk kamar mandi dengan perasaan dendam. Didalam kamar mandipun aku terus memikirkan pembalasan yang pantas bagi mereka.
Dan tanpa kusadari aku menyeringai.
\=\=\=\=\=\=\=
"Pagi."
Aku berjalan menuruni tangga dengan pelan, dan hal itu tak luput dari pandangan Rakka.
"Masih sakit... yah?" tanya Rakka dengan ringisan di akhir kalimatnya.
Aku mendengus kesal. Katakanlah aku kekanak-kanakan, tapi aku masih kesal dengan metode latihan yang di berikan oleh masing-masing pelayan manis yang membuatku ingin memakan mereka bulat-bulat.
"Lemah sekali" ucap Orga yang duduk sambil membaca koran.
Oh dan jangan lupa ada Reina di sampingnya.
"Tuan, anda menambah suasana menjadi panas. Tapi apa yang di katakan oleh anda memang benar" ucap Reina dengan wajah datarnya.
Aku tersenyum masam mendengarnya.
"Sudah, sudah, jangan membuat kepercayaan diri Sergio jadi ciut" ucap Rakka.
Rakka, aku mencintaimu.
Tapi seketika pemikiran itu menghilang ketika ia memberikan latihan yang membuat otakku ingin meledak saat itu.
Aku tak ingin mengingatnya lagi.
Baiklah lupakan kata-kataku barusan.
Aku duduk tepat di sebelah Rakka yang sibuk mengoles roti dengan selai coklat.
Setelah selesai, dia memberikannya padaku, dan dengan senang hati aku menerimanya.
"Dimana Fahrez?" Tanyaku.
"Aku disini. Ada apa mencariku?"
Hampir saja aku menyemburkan teh hangat yang baru saja kuminum. Tiba-tiba saja Fahrez muncul di belakangku dengan tepukan keras di bahuku.
Dia benar-benar muncul begitu saja tau! Tanpa suara atau apapun itu!
Melihat reaksiku Fahrez terkekeh, "Kau terkejut?"
"Sialan, kau muncul begitu saja bagaimana bisa aku tidak terkejut."
Fahrez tertawa kali ini. Dia berjalan ke arah kursi di sebelah Reina. Kemudian dia duduk sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Jadi, aku sudah berbicara pada Galeon."
"Galeon?" beo-ku
"Apa saja yang dia katakan?" Tanya Rakka sambil mengoleskan roti dengan selai yang kemudian dia memberikannya lagi padaku.
Akupun menerimanya lagi.
"Hmm... Untuk Sergio dia bisa masuk ke kelas Regular dengan kelas yang memiliki murid dengan kemampuan tinggi."
"Bukankah hal itu semakin berbahaya?" ucap Orga.
"Memang berbahaya, jadi aku meminta pada Galeon untuk memindahkan Sergio di kelas Irregular."
"Hmm.... Tapi aku merasa Sergio tidak pantas berada di kelas Irregular," ucap Rakka yang lagi-lagi memberikan roti padaku.
Mendengar ucapan Rakka, Orga tertawa sinis. "Ayolah Rakka, dia masih belum bisa mengendalikan sihirnya yang luar biasa berantakan dan juga elemen sihirnya yang membuat geger siapapun."
Fahrez mengangguk setuju pada ucapan Orga. "Aku setuju dengan Orga. Dia masih belum bisa mengendalikannya, dan jika dia masuk ke kelas Regular. Dia akan menyatakan keberadaan dirinya dan kemudian boom! Terjadilah perdebatan."
Aku masihlah mengunyah roti ketigaku ketika mereka sedang melangsungkan perdebatan panas antar pelayan.
Dan ketika sudah selesai memakannya, Rakka kembali memberikan roti keempat.
"Apa kau senang menjejali diriku dengan roti?"
"Eh? Kau tak suka?" tanya Rakka dengan agak kaget.
Dikatakan tak suka juga tidak benar, tapi rasanya Rakka sudah terbiasa melakukan hal ini.
"Yah.. Mungkin aku hanya tidak terbiasa saja" jawabku sambil menerima roti keempat.
Iya tidak terbiasa sarapan pagi dengan seseorang yang meyiapkan sarapanku.
Biasanya aku sarapan pagi hanya dengan mie instant dan itupun kalau sempat.
Bahkan kakekku hampir tidak pernah menyiapkan sarapan untukku maupun dirinya.
Dan karena hal itu Mira mulai mengajariku tentang memasak.
Dia wanita, sudah pasti bisa memasak.
Tanpa sadar aku meremas pelan roti yang berada di tanganku. Kenangan manis itu muncul kembali.
Tapi aku cukup senang dengan keadaan saat ini.
Maksudku lihat, aku tidak lagi duduk sendirian di meja makan dan di hadapanku hanyalah mie instant plus nasi agar aku kenyang.
Sekarang aku memiliki mereka. Rakka yang terus menaruh selai di atas roti, Orga yang berdebat dengan Fahrez, dan Reina yang sibuk menggeser-geser Tab yang di pegangnya sambil meminum teh hangat.
'Mira, aku tak sendirian lagi.'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°°°||