The Another Soul

The Another Soul
Ch. 30



TAPP...


Akhirnya, aku menginjakan kakiku di dunia Egolas.


"HAAHHH...."


Aku menarik napas dalam-dalam. Menghirup udara Egolas. Kemudian membuangnya. Aku tersenyum lebar setelah itu.


"Pemandangan yang indah."


Gerbang dunia Egolas muncul di atas bukit, aku tak tau ini dimana, tapi yang pasti aku bisa melihat pemandangan malam dunia Egolas dari atas sini.


Ada banyak gedung-gedung pencakar langit, bahkan ada satu bangunan yang mencapai langit, aku bahkan tak bisa melihat ujungnya. Ada berbagai macam warna menghiasi bangunan disana, seperti bintang.


Mataku juga melihat sesuatu yang terbang kesana kemari, tapi ada yang aneh dengan tumbuhan yang berada disini.


Rerumputannya mengeluarkan cahaya dengan beragam warna, bahkan batunya juga.


Indah.


Rasanya ingin kuambil kemudian kujadikan hiasan di rumah?


Tunggu. Bukankah aku tak memiliki rumah lagi?


"Di tempatmu saja."


"Tidak, rumahnya kecil."


"Hei! Rumahku paling tidak seluas 80 meter, itu standar."


"Standar dari mana. Rumahku seluas 10 hektar."


"Jangan sombong hanya karena rumah!"


"Sudah, sudah, bagaimana kalau di rumahku?"


""Tidak!""


"Umm... Apa yang sedang kalian bicarakan?"


Aku bertanya bingung pada mereka bertiga. Dari tadi mereka meributkan tentang rumah.


Mereka bertiga menatapku, kemudian kembali saling tatap bertiga. Ada apa sih?


"Kita tentukan dengan batu, gunting, kertas."


"Oke."


"Yang menang, akan tinggal dengan Sergio."


"Hmm...!"


"Hei, kenapa kalian menentukannya seperti itu."


"Rakka, batu gunting kertas itu adil."


Orga kemudian mengangkat tangannya, Fahrez dan Rakka mengikuti.


"""Batu, gunting, kertas!"""


Aku menatap mereka. Dan yang menang adalah.


"Hehehe... Sepertinya Sergio memang harus bersamaku."


Yang menang adalah Rakka. Mereka berdua kembali saling tatap.


"Tunggu, sekali lagi" ucap Fahrez.


"Ya, sekali lagi."


Orga ikut menyetujuinya. Mereka kenapa sih.


"""Batu, gunting, kertas!"""


Dan yang menang...


Rakka lagi.


"Ini tidak adil!"


Fahrez protes.


"Eh? Bukankah kata Orga batu, gunting, kertas itu adil?"


"Rakka, keberuntunganmu itu tak adil" ucap Orga.


"Eh?"


Rakka menatap mereka bingung. Aku sedari tadi hanya diam dan memperhatikan. Apa jangan-jangan mereka sedang menentukan aku akan tinggal dengan siapa?


Jadi aku akan tinggal dengan Rakka?


Aku mulai membayangkan ketika tinggal dengan Rakka.


"*Sergio, ayo bangun."


"Sergio, kau sudah makan?"


"Sergio, pakaianmu sudah kusiapkan*."


Imajinasi ku liar sekali. Aku masih belum terbiasa dengan 'wajah cantik' Rakka. Bisa-bisa aku kalau kelamaan tinggal sama Rakka, aku akan menganggap Rakka sebagai kakak perempuanku.


Oke Sergio, berhenti memikirkan itu. Rasanya imajinasiku semakin aneh.


"Ummm.... Kalau boleh aku ingin tinggal dengan Fahrez."


"""Eh?"""


Mereka bertiga menatapku kaget.


"Apa? Ada apa?"


Aku menatap bingung mereka.


"Umm... Yah.... Kalau Sergio berkata seperti itu, Fahrez kuserahkan dia padamu."


Orga menepuk pelan bahu Fahrez.


Fahrez menatapku dengan tatapan tak percaya. "Kau yakin?"


"Yakin. Kenapa? Apa ada masalah?"


Fahrez menggelengkan kepala kaku. "Tidak, uhh... Seharusnya aku membersihkan rumahku dulu."


"Ngapain kau membersihkan rumahmu. Bukankah, kalian sudah meninggalkan rumah kalian selama..."


Fahrez dan Rakka menatap tajam Orga. Orga terdiam, dia tidak melanjutkan kata-katanya lagi.


"Selama?"


"Selama dia ke bumi. Ya, selama mereka ke bumi. Hahahahah...."


Aku menyipitkan mataku, menatap curiga pada Orga.


"Aku, aku sudah menelpon asistenku. Dia akan datang kesini sebentar lagi."


"Oh? Wanita itu?"


Fahrez terlihat tertarik dengan perkataan Orga.


"Asisten?"


Oke, kalau dia sudah berkata seperti itu.


"Aku ingin bertanya, bangunan apa itu?"


Aku bertanya dengan jari telunjukku mengarah pada bangunan yang paling tinggi.


"Itu? Saggara."


"Saggara?"


Aku menatap bingung Fahrez. "Ya, Saggara. Apa kamu ingat kita pernah membahas Dewa Ra?"


"Ya, terus apa hubungannya."


Fahrez tersenyum. Kemudian dia menunjuk bangunan tertinggi itu. "Bangunan itu adalah tempat dimana para Dewa Dewi turun kesini."


"Eh?"


Aku terkejut. "Jadi, Mitologi-mitologi yang ada di Bumi itu...."


"Mereka ada dan nyata. Disini para Dewa dan Dewi hidup seperti manusia biasa. Mereka tidak bisa menggunakan kekuatan mereka, tapi mereka bisa menggunakan berkat mereka."


"....?"


"Jangan menatapku seperti itu. Sulit untuk manusia bumi sepertimu percaya, tapi kamu akan segera tau."


Aku mengangguk. Memang lebih dimengerti kalau melihatnya sendiri, daripada mendengarkannya saja.


"Hei...! Disini...!"


Aku mendengar suara Orga yang sedang memanggil seseorang. Aku melihat ke arah hutan, ada cahaya kecil yang bersinar di dalam hutan.


Tiba-tiba saja cahaya itu menghilang.


"Eh? Kemana cahaya itu?"


TAPP...


"Tuan Orga, anda selalu saja merepotkan saya."


Eh?


Aku menoleh kebelakang, dan aku menemukan seorang wanita cantik dengan kulit pucat. Rambut ungunya berkibar karena angin malam, matanya merah sama seperti Orga.


"Reina, aku ini atasanmu."


"Tetap saja tuan Orga merepotkan saya. Kenapa harus menggunakan titik kordinat, tinggal katakan saja anda berada di bukit Millos."


"Err...."


"Hahahahha.... Sudah lama aku tak melihat pemandangan seperti ini" ucap Fahrez.


"Aku juga" Rakka setuju dengan Fahrez.


"Hei!"


"Tuan Orga, tugas anda menumpuk karena pergi meninggalkan organisasi selama satu minggu. Saya minta secepatnya anda harus kembali."


Wanita itu, Reina membungkukkan badannya sedikit.


"Uhh.... Aku tak suka itu. Bisa besok saja, aku ingin memperkenalkan dunia ini pada anak itu?"


Orga menunjuk diriku, Reina kemudian mengalihkan pandangannya padaku. Dia menatapku dari atas sampai bawah, seperti menilai diriku.


"Tuan Orga, apa anda tidak salah? Manusia seperti ini yang akan tuan lindungi?"


JLEBB...


Rasanya seperti ada pisau tak terlihat yang menusukku. Inikah rasa itu, rasa sakit tapi tidak berdarah?


"Reina, jangan berpikir seperti itu. Ini tugasku, ya memang sih dia lemah sekali. Tapi dia tetap tuan yang harus kulindungi."


Orga, kau berniat membelaku atau menghinaku.


"Baiklah jika tuan Orga berkata seperti itu."


"Bagus, bagus. Ayo kita pergi, Reina."


"Baik [Teleport]!"


||°°°°°°||


"Nah, kita sudah sampai" ucap Orga.


Aku membuka mataku. Aku melihat di depanku ada sebuah mobil van warna hitam. Saat ini aku berada di pinggir jalan, yang kulihat sepanjang mata hanyalah hutan.


"Kita akan pergi menggunakan mobil. Lebih enak seperti ini, sambil menjelaskan."


Orga seperti tau akan pikiranku.


"Baiklah, ayo masuk. Setelah itu kita akan ke rumah Fahrez."


"Oke."


Aku membuka pintu mobil, tapi....


KRAKK...


"""""........"""""


Mereka terdiam. Aku juga terdiam.


Pintu mobilnya, rusak.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°°°°||