The Another Soul

The Another Soul
Ch. 29



"Hauupp...nyam..slurp... Fifi, tambah nasi-nya."


Di ruangan besar dewi Sanita, Sergio memakan semua makanan yang diberikan oleh Fifi.


"Sergio, astaga. Apa perutmu itu terbuat dari karet?"


Fahrez bertanya dengan tatapan tak percaya.


"Slurpp... Kalian pikir ini semua karena siapa?"


Fahrez terdiam. "Maaf, nanti di Egolas kubelikan makanan yang banyak."


Sergio menunjuk Fahrez menggunakan sendok. "Itu bagus, ah ya. Kalian belum memperkenalkanku dengan Orga."


Sergio kembali melanjutkan makannya setelah berucap itu. Rakka yang melihatnya hanya bisa tersenyum.


"Sergio, sampai kapan kamu mau makan?"


"Sampai kenyang!"


Alis Rakka berkedut. Yang dimasalahkan oleh Rakka saat ini adalah tumpukan piring yang berada di atas meja.


Pakaian Sergio masih belum berganti, dia masih memakai baju dengan penuh bercak darah. Ketika sampai keluar, Sergio meminta untuk diantar ke ruangan tempat Dewi Sanita berada.


"Rakka, biarlah dia seperti itu."


"Tapi, Orga!"


Orga menggelengkan kepalanya pelan. Dia tersenyum melihat tingkah Sergio, dia sebenarnya agak kaget dengan tingkah laku tuan barunya itu.


"Rakka, dia tadi banyak kehilangan darah. Aku rasa wajar dia memakan sebanyak ini."


Rakka terdiam.


"Sekarang, biarkan dia makan sepuasnya. Lagipula Dewi Sanita tidak menegurnya, jadi tidak apa-apa kan?"


"Kamu benar."


Orga tersenyum tipis. Dia memperhatikan Sergio dari atas sampai bawah.


'Dia mirip dengannya, tapi kenapa dia terlalu lemah?'


Orga berpikir tentang Sergio. Dia menatap Sergio begitu lama, sampai akhirnya Sergio menyadari tatapan itu.


"Orga? Ada apa? Apa kau lapar juga?"


Orga kembali dari lamunan-nya. Dia menggelengkan kepala pelan. "Tidak, hanya berpikir."


"Jangan terlalu banyak berpikir. Nanti kau jadi tua."


"Sudah terlambat mengatakannya. Aku ini lebih tua darimu."


"Eh? Berarti aku harus memanggilmu kakek?"


"Hei!"


Sergio tertawa kecil. "Bercanda, sesekali kau harus seperti ini. Jangan memasang wajah serius terus."


'Orga, wajahmu terlalu serius.'


Orga termenung. Tiba-tiba saja dia mengingat sesuatu. Orga tersenyum, kali ini senyumannya terlihat sedih. Rakka yang melihatnya menepuk pundak Orga.


"Dia mirip bukan?"


"Ya, dia sama dengan Ilka."


Rakka memandang Sergio. Saat ini Sergio sedang berdebat dengan Fahrez.


"Orga, Ilka sudah tidak ada lagi."


"Ya, aku tau itu."


Orga mengepalkan tangannya.


"Jadi aku minta, lupakan masa lalu."


"Tidak."


"Orga."


Orga menatap Rakka. Dia menatap serius Orga.


"Orga, aku tau kalau kamu yang terakhir kali melihat kepergian Ilka. Lepaskanlah masa lalumu, tolong."


Orga menatap nanar wajah Rakka. Dia kembali menatap lantai, "Rakka, aku sebenarnya ingin melupakan. Tapi tak bisa. Yang kurasakan setiap hari adalah penyesalan. Kenapa aku tak bisa menghentikannya waktu itu, kenapa aku tidak berusaha berdiri, dan kenapa...."


"Orga, cukup."


Rakka menepuk pelan kepala Orga. Orga mengangkat kepalanya, dia melihat ada seseorang yang berdiri di hadapannya.


"Orga, aku tak tau selama ini kau menyimpan rasa penyesalan."


Sergio mensejajarkan tubuhnya dengan Orga. "Tapi, bukankah aku sudah minta maaf."


"Apa maksud-"


Sergio tersenyum. "Aku mungkin bukan Ilka, tapi aku akan berusaha untuk membuatmu berhenti merasakan penyesalan itu. Ini merupakan tugas Ilka, untukku."


"Apa yang kau bicarakan?"


Sergio tersenyum. Dia menepuk pelan kepala Orga.


"Kerja bagus, Orga."


Orga menunduk. Dia mengepalkan tangannya, terdengar suara isakan pelan.


Rakka yang mendengarnya memalingkan pandangannya. Begitu juga dengan Fahrez.


"Kenapa.... Kenapa wajah dan suaramu harus sama."


"Bukankah sudah jelas."


"Aku tau."


"Dan kenapa kau bertingkah seperti Ilka?"


"Orga."


Sergio memanggil Orga. Orga menatapnya, dan yang terlihat adalah wajah Sergio yang tersenyum.


"Aku adalah aku. Ilka adalah Ilka, sudah kubilang bukan. Ini hanya tugas dari Ilka, untukku."


"Itu...curang."


"Hehehe.... Tentu saja tidak."


"Kenapa Ilka memberikan tugas itu padamu."


"Mungkin.... Mungkin karena dia mempercayakan kalian padaku."


"Benar-benar."


Orga terkekeh. Sergio tersenyum lebar.


'Ilka, ini yang kau inginkan bukan?'


Fahrez memandang bulan yang bersinar. Dia senang, karena sebuah penyesalan dari saudaranya menghilang.


||°°°°°°||


"Sanita, jangan rindu padaku yah."


"Siapa yang akan rindu padamu!"


"Hehehhe.....kalau kamu rindu katakan saja."


Wajah dewi Sanita memerah. Dia menghentakkan kakinya. "Sergio, sekali lagi kau mengatakannya lagi, aku tak ingin bertemu denganmu!"


Sergio mengangkat kedua tangannya, tanda dia menyerah. "Oke, oke, tapi wajahmu lucu ketika marah."


"Sergio!"


Saat ini mereka semua sedang berada di luar gerbang menuju Egolas. Dengan dewi Sanita dan Fifi yang mengantar kepergian Sergio dan yang lainnya.


"Sergio, jangan membuat dewi marah" tegur Rakka.


"Habisnya cukup menyenangkan melihatnya."


"Sergio!"


"Oke, aku tak akan membahasnya lagi."


"Hmph! Baguslah, bagaimana bisa seorang dewi sepertiku selalu digoda oleh manusia."


"Ahh.. Sanita, kamu cantik."


Wajah dewi Sanita kembali memerah.


"Kelihatannya kau senang."


"Tidak!"


Sergio tertawa.


"Sudah, sudah, kita harus cepat pergi." Rakka melerai mereka berdua.


"Hmm.... Baiklah Sanita, sampai jumpa lagi."


Dewi Sanita mengangguk. Sergio lalu berbalik, menuju ke arah gerbang Egolas yang terbuka. Dewi Sanita melihat punggung Sergio, lalu dia berdoa di dalam hati.


'Sergio, semoga kau kuat menjalani takdirmu.'


Dewi Sanita tersenyum sedih melihat punggung Sergio.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°||