The Another Soul

The Another Soul
Ch. 57 [Classku dan Bertemu Ium]



"Berhentilah waktu dan pulihkan...


.... Archo Gerna."


""??!!!""


Seketika waktu berhenti dan membeku. Tidak ada pergerakan apapun, bahkan terlihat sunyi dan hanya Sergio yang bisa bergerak bebas di dalam ruang waktu.


Sekeliling Sergio dipenuhi dengan kabut biru pucat yang terasa dingin.


Mata Sergio terus mencari-cari keberadaan seorang Saber di dalam kabut.


'Disana.'


Dalam satu tebasan kabut pucat itu menghilang. Dan di waktu yang sama, waktu kembali berjalan seperti semula.


Terlihat raut wajah shock dari Deiva, Atra, dan Galeon sebagai penonton di pinggir ruangan.


"Kau... Apa yang kau lakukan?" Tanya Deiva dengan nada suara agak terkejut.


Sergio tersenyum miring, "Kurasa tak perlu berbicara terlalu banyak."


TRINGG...


Sergio melesat maju ke arah Deiva dengan kedua belati yang siap menebas. Dengan sigap Deiva menghadang tebasan Sergio dengan pedang anggar-nya.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Sergio menyerang Deiva dengan serangan beruntun. Hal itu membuat Deiva harus mundur selangkah demi selangkah dikarenakan tekanan serangan yang diberikan oleh Sergio.


SYUTT...


Sebuah anak panah melesat dan hampir mengenai kepala Sergio jika saja dia tidak menghindar.


"Aku melupakanmu" ucap Sergio sambil melirik Atra yang berada jauh di belakang Deiva.


Tidak mennyia-nyiakan kesempatan, Deiva balas menyerang dengan serangan tusukan cepat yang mengarah pada organ vital.


Sekarang Sergio yang berada pada posisi tak menguntungkan dirinya.


Tapi Sergio tak menyerah, dia bahkan tersenyum tipis. Senyuman itu tak luput dari pandangan Deiva.


"Kau tersenyum?"


"Eh? Benarkah?"


"Cih!"


Deiva menjadi jengkel mendengar ucapan polos dari Sergio.


SYUTT...


Lagi, sebuah anak panah yang diselimuti api kemerahan melesat ke arah Sergio.


Dikarenakan Sergio yang fokus menahan serangan beruntun dari Deiva, anak panah Atra tepat mengenai lengan atas Sergio.


"Kuh...!"


"Maaf" gumam Atra.


"Bagaimana rasanya anak baru? Apa sekarang kau menyesal karena harus melawan kami berdua?" ucap Deiva dengan senyuman mengejek di bibirnya.


Sergio tersenyum kecil, "Rasanya.... Aku seperti bernostalgia."


Deiva mengerutkan keningnya, merasa heran dengan jawaban ambigu dari Sergio.


"Anak muda yang bersemangat" gumam Galeon dengan senyuman.


Kemudian senyuman itu menghilang ketika mendengar suara-suara yang sedikit menganggu bagi dirinya.


"Hei, hei, hei, siapa yang sedang bertarung bersama adikmu itu?" Ucap seorang wanita agak pendek berambut merah muda dan mata yang senada rambut sedang menunjuk ruang latihan dengan semangat.


"HAH?!....ADIKKU BERTARUNG!" teriak seorang pria berambut biru malam dengan mata ungu yang menatap tak terima pada ruang latihan.


"Diamlah Siscon, mereka akan menyadari kehadiran kita nanti," ucap seorang perempuan dengan ekpresi wajah dingin dan rambut merah beserta mata merah ruby yang bersinar terang.


"Wah, wah, disini ramai sekali," ucap seorang pria berambut kuning cerah dengan mata coklat terangnya.


"Halo pak Galeon, apa boleh kami menjadi penonton disini?" ucap seorang laki-laki dengan rambut pirang beserta mata hijau zamrud-nya.


Dua orang perempuan dan tiga orang laki-laki sedang berkumpul di depan pintu ruang latihan.


Galeon menghela nafas pasrah.


'Yah... Cepat atau lambat Sergio akan bertemu dengan mereka juga.'


"Apa yang kalian lakukan disini, para Ium?"


Seorang pria dengan rambut pirang dan mata hijau zamrud tersenyum kecil.


"Itu karena kami merasakan aliran Chrocus yang tidak pernah ada."


.


.


.


.


.


.


.


.


'Sial, anak panah ini menganggu.'


Bagaimana tidak menganggu. Anak panah ini masih menancap di lengan atas dengan indahnya. Bahkan ada sedikit sensasi rasa terbakar.


Mereka berdua.


Adalah kombinasi yang paling mengerikan.


Apa yang harus kulakukan?


Pada akhirnya aku menggertakkan gigiku dengan kesal.


Tidak ada pilihan lain.


"Berhenti."


Waktu kembali berhenti. Aku mengambil nafas sebelum aku mengangkat tanganku dan mengarahkannya pada rak-rak yang penuh dengan senjata.


"Furre," gumamku.


Seketika sebuah anak panah dan busurnya melayang kearahku. Kalian tahu apa yang kugunakan?


Aku baru saja menggunakan telekinesis.


Terima kasih pada pakgurumenyebalkanbinmenjengkelkan-- yaitu Rakka Hartez.


Dia sedikit memberikan pelajaran tentang sihir-sihir sederhana. Dan ini sangatlah berguna.


Sepertinya aku harus sedikit berterima kasih padanya.


Aku menarik tali busur dan menempatkan satu anak panah dan aku ingin mencoba suatu hal yang baru.


Hal yang dikatakan oleh Galeon beberapa waktu lalu.


Menahan Essence sihir elemen es Cocytus.


Ini pertama kali-nya.


Dan aku yakin aku bisa.


Aku menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.


Aura dingin menguar dari tubuhku. Perlahan aura itu berkumpul pada sisi tajam anak panah dan terlihat sedikit membeku.


"Maaf Atra, kau menjadi bahan percobaanku."


Aku melepas tali busur. Anak panah itu melesat dengan cepat pada sisi kiri bahu pakaian Atra yang tentunya tidak akan mengenai tubuhnya.


Hei aku tidak mungkin melukai seorang perempuan.


Walau dia melukaiku sih.


.....


Umm.... Melukainya sedikit boleh tidak?


Ya tuhan, setan mana yang menyarankan hal itu.


WHAT THE *beepp...


*maaf kata-kata harus disensor karena kasar hehehehehe.... :v


Aku menggelengkan kepala dengan kasar.


'Fokus Sergio fokus.'


Aku kembali menarik tali busur dan menempatkan anak panah dan mengulangi hal yang sama.


Aku membidik sisi kanan bahu pakaian Atra. Dan....


SYUTT....


Tepat! Hanya mengenai pakaiannya saja.


Yosh... Atra sudah diatasi, sekarang tinggal Deiva.


Aku membuang busur dan anak panah ke lantai dan kembali mengambil sepasang belati.


"Pulihkan."


Waktu kembali seperti semula.


BRAKK...


"Eh? Eh? EHHH?!"


Atra terlihat panik dan bingung pada dirinya sendiri yang tiba-tiba saja berada di dinding denga dua anak panah yang menusuk bajunya hinggga dinding.


Tentu saja Atra tak bisa bergerak bebas.


"Atra!"


Deiva mengalihkan pandangannya.


Aku melesat ke arah Deiva, terlihat Deiva terkejut melihat jarakku yang begitu dekat dengan dirinya.


"Peraturan pertama dalam pertarungan..." bisikku. ".... Jangan mengalihkan perhatian."


BUKK...


"Arghh..!"


Aku memukul bahu kanan Deiva dengan menggunakan ganggang belati. Pedang anggar itupun jatuh ke lantai beserta Deiva yang meringis kesakitan sambil menyentuh bahu kanan-nya.


Fyuhh... Akhirnya seles-


"APA YANG KAU LAKUKAN PADA ADIKKU!"


"Huh? Ap-"


BUKK... BRUKK...


Ah sial...


Aku baru saja mendapatkan satu tinju dengan penuh rasa kebencian.


"Dei, Dei, kau tak apa?"


Ucapan penuh rasa khawatir dan rasa sayang.


Aku berusaha untuk memfokuskan pandanganku ke arah Deiva yang masih duduk dilantai dengan tangan-nya yang meremat pelan bahu kanan-nya.


"Astaga, kau baru saja mendapatkan musuh. Anak baru."


Aku melihat seorang anak seumuranku atau mungkin sedikit lebih tua dariku? Entahlah. Dia laki-laki berambut pirang dan bermata hijau zamrud.


Dan dia sedang mengulurkan tangan kanan-nya kepadaku-- berniat membantuku berdiri.


Dan tanpa ragu aku menerimanya.


"Sepertinya aku sangat sial di hari pertama ku masuk sekolah."


Si pirang-- oke aku tak tahu namanya siapa, jadi kupanggil pirang saja. Dia tertawa mendengar ucapanku.


"Woahh... Elemen milikmu adalah es?"


Aku mengalihkan pandanganku pada Atra yang masih menempel di dinding. Terlihat seorang laki-laki berambut kuning tengah menatap Atra dengan tatapan menarik.


"Se-sergio, tolong lepaskan aku" ucap Atra dengan gugup.


Aku menjentikkan jariku. Es yang menyelimuti anak panah itu meleleh dan kemudian anak panah itu jatuh je lantai.


Atra merosot ke lantai dan terlihat dia mengambil nafas panjang.


Aku menang.... Kan?


Apa aku terlalu kasar?


Si pirang menatapku, "Kau bisa memanipulasi elemen es mu?"


Sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu, "Y-ya, seperti itu."


Si pirang mengangguk-angguk mengerti.


"Wendy, tolong sembuhkan Deiva dan anak baru ini" ucap si pirang.


"Baikk...!" jawab si gadis kecil dan agak pendek yang dimana pakaian-nya dipenuhi warna pink.


Bahkan rambut dan matanya bewarna merah muda.


"Sembuhkanlah dan berkahi, Archo Nyra."


Tanaman rambat dengan cahaya hijau pucat menyelimuti lengan atasku dan bahu kanan Deiva.


Untuk sesaat aku merasa sedikit hangat dan nyaman. Aku sedikit menikmatinya, sampai pada akhirnya tanaman rambat itu menghilang menjadi partikel.


"Sudah...!" ucap gadis itu dengan nada ceria.


Si pirang memberikan isapan jempol pada gadis pink itu, "Terima kasih wendy."


"Dei! Apa kau masih merasa sakit?!"


"Aku baik-baik saja."


"Tak mungkin, kau pasti masih merasa sakit, kan? Dimana? Dimana sakitnya? cepat katakan?!"


Aku merasa melihat siku-siku imajiner di kepala Deiva.


"Sudah. Ku. Katakan. AKU BAIK-BAIK SAJA KAKAKKU TERSAYANGGG....!!"


Si pirang dan aku menutup kedua telinga kami. Suara Deiva terlalu nyaring dan mungkin bisa memecahkan kaca.


Baiklah aku bercanda.


Pria itu, membeku dan dia terlihat ingin.... Menangis?


Whattt....?


"Hiks.... Adikku membenciku, adik perempuanku membenci diriku. Deidei tidak menyukaiku lagi."


Huh?


Sepertinya aku baru saja menemukan suatu hal yang unik di dunia ini.


Ternyata dunia Egolas juga ada seorang Siscon tipe akut, yah?


Si pirang menepuk jidatnya, dia pun menghela nafas panjang. "Hahh... Sistem Siscon-nya kambuh."


"Hei, h-hei berhenti. Berhenti menangis bodoh!"


"Huwaa.... Adikku membentakku!"


Aku pun menepuk jidatku sendiri. Ikut-ikutan dengan si pirang.


"Hentikan Siscon, kau memalukan."


Aku menatap seorang gadis berambut merah dan mata ruby merahnya yang menatap tajam pria berambut biru malam itu.


Mata ruby merah?


Seorang Vampire?


Gadis itu menatap diriku dengan tajam. Sangat lama, bahkan aku sempat merasa gugup.


"Kau, apa kau seorang Chroma?"


"Huh?"


"Ahh.... Kau benar. Bukankah kau menggunakan busur dan sepasang belati?" ucap si pirang.


Aku menggaruk belakang kepalaku yang tak gatal.


"Dia itu Saber."


"""Hahh...?"""


Kami bertiga-- aku, si pirang, dan si rambut merah terkejut dengan perkataan Galeon.


"Dia seorang Saber sebenarnya," ucap Galeon dengan entengnya.


Apa maksudnya ini?


"Seorang Saber? Bukankah dia baru saja menggunakan sepasang belati?" ucap si rambut kuning.


"Itu karena dia tidak ingin memakai pedang yang lain. Untuk seorang Saber, bukankah ini hal yang wajar. Benar bukan, Arthur?"


Eh?


Apa tadi?


Apa aku tak salah mendengarnya tadi?


Ar...thur?


"Yahh... Apa yang di katakan pak Galeon benar" ucap si pirang dengan agak ragu.


"Ta-tapi, bukankah pak Galeon meminta kami untuk membantunya mendapatkan Class?" ucap Deiva.


"Iya. Class yang baru maksudku. Dia ingin mengganti Classnya atau mencoba untuk menjadi Chroma."


Eh? Eh? Aku tak terlalu mengerti. Ada apa ini? Kenapa?


"Ohh... Begitu," Deiva mengangguk-angguk mengerti.


Tunggu dulu.


APA HANYA AKU YANG TIDAK MENGERTI APAPUN?!


RAKKA AKU BUTUH DIRIMUUU....!


Si pirang menepuk bahuku, "Jadi kau ingin mengganti Classmu?"


"Eh? Umm.... Yah... Tidak. Aku ingin menjadi Saber saja."


Kebohongan yang sangat lancar Sergio. Mulus kayak jalan tol.


"Ohh... Begitu. Kalau begitu dimana pedangmu?"


Matilah aku.


"A-aku... Meninggalkannya di rumah. Ya dirumah."


Si pirang menatapku ragu untuk sesaat, sampai kemudian dia tersenyum lebar. "Ahh... Pedangmu rusak?"


Aku mengangguk dengan cepat.


"Hahaha... Oh begitu, memang pedang membutuhkan perbaikan. Tapi kau cukup hebat untuk seorang Saber."


Aku berkeringat dingin.


"Kau bisa menjadi Archer dan Assasin. Dan juga..." Si pirang mendekat kearahku dan berbisik. "Archo mu unik. Memanipulasi waktu, dan Essence elemen es mu... Terlihat langka."


Aku membeku. Terdiam dan terkejut.


Bagaimana....


Bagaimana bisa dia mengetahuinya?


Dia menarik dirinya dan tersenyum.


"Anak baru, aku tak mengenali dirimu. Siapa namamu?"


Aku menelan ludahku dengan gugup, "Sergio Vandelhein. Seorang Saber dan memiliki elemen es."


Si pirang tersenyum semakin lebar, tapi wajahnya semakin terlihat rupawan.


"Hai Sergio, perkenalkan. Namaku Arthuria Pendragon. Class kita sama, seorang Saber. Dan juga aku..."


Ahh aku lupa tentang peringatan Galeon.


"... Seorang..."


Bahwa aku harus.


"...Ium dari Dewi Theia."


Menjauhi para Ium!


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°||


1.740 kata!


*Hanya sebagai pengingat