The Another Soul

The Another Soul
Ch 42 [Keputusan]



"Makanan yang dibuat Rakka tidak pernah mengecewakan diriku."


Aku mendengar ucapan Orga. Aku melihat dia seperti bernostalgia ketika makan.


Saat ini kita sedang berada di ruang makan. Aku makan dengan lahap. Aku sangat lapar, entah kenapa. Aku tidak lagi memperdulikan Ankaa dan Rakka yang masih berada di dalam kamarku.


"Kalian makan tanpa diriku?"


Kita semua menoleh ke arah tangga. Dimana ada Rakka dan Ankaa dibelakangnya. "Aku yang buat, tapi aku juga yang tidak makan."


"Ini karena Sergio. Katanya dia sudah sangat lapar, jadi dia makan duluan."


Aku menatap Fahrez. Kenapa dia menyalahkan diriku?


Tapi aku tak peduli. Aku memang lapar, jadi aku makan duluan. Aku rasa mereka hanyalah mengikuti diriku saja.


"Sergio."


"Kenapa Ankaa?"


Aku menjawab panggilan Ankaa. Dia menuruni pelan setiap anak tangga. Aku fokus pada dirinya. Rambut merah membara dan mata oranye cerah itu membuatku terpana. Entah kenapa aku baru menyadari keindahan mata Ankaa.


"Hei, kau melamun."


Aku tersentak kaget. Kaget karena sekarang dia sudah ada di hadapanku sambil melambaikan tangan kirinya di depan wajahku.


"Ya? Aku melamun. Tentu saja. Jadi ada apa?"


"Aku mau kembali. Ingat perkataanku."


Aku mengangguk dua kali. "Iya, iya, aku mengingatnya."


"Bagus. Ingat kekuatanmu terbatas. Jadi gunakan ketika kau sedang dalam keadaan yang membahayakan dirimu."


Aku mengangguk lagi.


"Entah kenapa aku tidak bisa tenang melihatmu hanya meresponku dengan anggukan."


Alisku menyatu, menatapnya bingung. "Jadi kau ingin aku bereaksi seperti apa?"


"Mungkin...penolakan?"


"Untuk apa aku menolak?"


"Yaa..." Ankaa memainkan rambutnya. "Sudahlah aku akan kembali. Aku akan muncul kalau kau dalam keadaan bahaya lagi."


Ankaa berubah menjadi cahaya terang, setelah itu muncul cahaya keemasan yang sangat kecil. Cahaya itu melayang kearahku dan memasuki tubuhku seperti meresap dalam diriku.


"Dia pergi" ucap Fahrez.


"Dia pergi. Berkurang lagi gadis cantik disini."


Reina yang mendengar ucapan Orga mencatuk Orga menggunakan sendok.


Aku melanjutkan makanku. Menganggap tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Rakka duduk di sebelahku yang kebetulan kosong.


"Jadi, apa yang kalian bicarakan di dalam sana?" Tanyaku.


Rakka mengambil segelas air. Dia meminumnya terlebih dahulu sebelum menjawabku. "Banyak hal. Dan ada yang ingin ku diskusikan padamu terlebih dahulu."


"Apa itu?"


Rakka menatapku ragu. "Aku mendengar dari Ankaa. Sekarang kamu sudah bisa mengendalikan satu elemen."


"Ya, tapi itu hanya sementara."


"Ankaa juga bilang padaku. Karena elemen es murni, Cosytus terlalu kuat. Elemen es ini bisa melukai tubuhmu dan hal itu baru saja terjadi. Kakimu membeku."


Aku terdiam.


"Jadi Ankaa memintaku untuk membuatmu kuat untuk mengendalikan elemen es murni sepenuhnya. Tapi aku ingin kau mendengar bagaimana caranya terlebih dahulu."


Entah kenapa tidak ada satu pembicaraan lain di meja makan. Mereka semua mendengarkan dengan seksama. Aku menjadi tegang dengan suasana ini.


Aku menelan ludahku. "Aku mendengarkannya."


"Sebenarnya cara untuk membuatmu kuat itu sangatlah menyakitkan. Disini kau harus menahan rasa sakit."


Sudah kuduga. "Kenapa aku harus menahan sakit?"


Rakka semakin ragu menjelaskannya. "Sebenarnya aku tidak ingin melakukannya, tapi ini demi kebaikanmu. Proses untuk membuatmu kuat adalah dengan menghancurkan seluruh tulang dan membuat tulang baru dan memperkuat setiap organ tubuh yang ada."


Aku berkeringat dingin mendengarnya. "A-apa harus dilakukan?"


Rakka menatapku dengan tatapan tidak nyaman. Dia pasti tahu ketakutanku. "Harus, bahkan wajib. Tapi kau bisa memilih dua cara."


Aku menghela nafas lega, hanya untuk sesaat.


"Yang pertama, secara bertahap. Aku akan menyuntikkan cairan ke dalam tubuhmu. Rasa sakit ini hanya terjadi sekitar dua menit, tapi cara ini akan selesai selama enam bulan lamanya."


Lama sekali. Dan aku akan merasakan rasa sakit selama enam bulan itu.


"Dan yang kedua. Aku akan menguatkan seluruh tulang dan organ tubuhmu. Aku akan memasukkan tubuhmu ke dalam tabung kaca dan..."


"Dan..?"


Rakka menatapku ragu, tapi dia kembali melanjutkan ucapannya yang terhenti. "Cara ini hanya membutuhkan waktu satu hari, tapi rasa sakit yang di rasakan akan terasa lebih menyakitkan daripada cara yang pertama."


Aku terdiam. Intinya sama saja. Aku akan merasakan rasa sakit pada dua cara ini. Yang berbeda hanyalah waktu rasa sakit yang kurasakan.


Aku menghela napas berat.


"Kamu bebas memilih yang mana. Kalau kau ingin menolaknya juga tak apa, tapi jika kau menolak aku takut elemen es itu akan membekukan tubuhmu setiap kali kau menggunakannya."


Aku bersender pada kursi. Aku menutup mataku, memperkirakan apa yang terjadi jika aku memilih diantara kedua cara ini.


Tidak ada suara apapun. Mereka semua seperti sengaja memberi ruang untukku berpikir.


"Pikirkan baik-baik Sergio. Aku tidak akan menyalahkan pilihanmu."


Aku membuka kedua mataku. Aku memandang Rakka dengan yakin. Aku menjawab dengan perasaan yakin 100%.


"Aku memilih...cara kedua."


""HAAHH?!""


Aku menatap Orga dan Fahrez.


"Kenapa kau tidak memilih yang pertama?!" kulihat Fahrez menggebrak meja makan.


"Sergio, jangan memilih cara yang cukup menyiksa bagimu" aku juga melihat tatapan khawatir dari Orga.


"Begini. Aku memilih cara kedua karena cara ini sangat cepat. Walau rasa sakitnya sangat luar biasa, tapi aku yakin aku bisa menahannya."


"Kau tidak akan bisa menahannya!"


Aku menoleh kearah Fahrez. "Kenapa kau seyakin itu? Apa kau pernah merasakannya?"


"Ya. Aku pernah merasakannya. Tapi yang kurasakan adalah cara yang pertama. Saat itu rasa sakitnya sangatlah menyakitkan. Walau hanya terjadi selama dua menit, tapi tetap saja rasanya sangatlah menyakitkan."


Oke, mendengarnya membuat keyakinanku sedikit goyah. Aku menelan ludahku. Belum apa-apa otakku sudah membayangkan proses yang akan terjadi nanti.


Rakka menatapku lagi. "Sekarang, apa kau ingin berubah pikiran?"


Aku menatap serius Rakka. Sekali lagi aku mempertimbangkan ulang keputusanku.


"Bukankah sebelumnya kau bilang aku akan sekolah?"


"Ya. Kamu akan akan sekolah minggu depan. Aku sudah mengurusnya."


Aku mengangguk mengerti. "Kalau begitu keputusanku tidak berubah. Aku akan tetap memilih cara kedua."


"Serius!"


Aku mendengar Fahrez mendengus kesal.


"Hei, aku juga tidak ingin memilih cara yang kedua. Tapi aku akan bersekolah. Dan aku tak ingin pembelajaranku terganggu hanya karena masalah memperkuat tubuhku. Belum lagi sekolah disini pasti berhubungan dengan sihir. Aku harus bisa mengendalikan sepenuhnya Cosytus."


Rakka mengangguk setuju mendengar penjelasanku. "Apa yang dikatakan Sergio benar. Aku setuju dengan Sergio yang memilih cara kedua."


"Rakka kau serius?! Seharusnya kau tahu rasa sakit yang kau dan aku derita waktu itu."


"Fahrez. Jangan membahas masa lalu."


Aku menatap Orga yang terlihat tenang.


"Tapi Orga. Rasa sakit itu bisa merusak saraf otak dan menyebabkan kelumpuhan. Apa kau ingin Sergio terluka!"


"Fahrez!"


Aku mendengar Orga membentak Fahrez. Orga menatap Fahrez. Mata merahnya bersinar terang, membuatnya terlihat berbahaya.


"Jangan membuat Sergio membatalkan keputusannya. Dia yang memutuskan, dan kita hanya bisa menurutinya."


Fahrez mendecih kesal. "Terserah kalian!"


Fahrez kembali duduk. Sebelumnya dia berdiri ketika menjelaskan padaku. Menjelaskan tentang efek samping yang terjadi.


Rakka menatapku lagi. "Jadi, ingin merubah keputus--"


"Aku akan tetap memilih yang kedua. Tidak ada yang berubah."


Rakka menatapku ragu. "Kau yakin? Tidak ingin merubahnya setelah mendengar ucapan Fahrez."


Aku menggeleng pelan. "Kenapa kau terlihat tidak percaya padaku?"


"Bukannya tidak percaya padamu. Tapi aku hanya khawatir saja. Memang benar yang dikatakan oleh Fahrez. Rasa sakitnya terlalu menyakitkan."


Aku menarik napas dalam, kemudian menatap serius Rakka. "Percayalah padaku. Aku pernah merasakan sesuatu yang terasa lebih menyakitkan."


Rakka terdiam mendengarnya. Dia kemudian berdiri dari duduknya, dia mengangkat piringku yang telah kosong.


"Kalau begitu akan kita lakukan lusa. Hari ini kau istirahat saja dan siapkan mentalmu."


"Sebenarnya hari ini aku ingin keliling di dunia Egolas. Apa boleh?"


Rakka menatapku. "Boleh, tentu saja. Kau memang harus mengenal dunia barumu ini."


Aku merasa semangat mendengarnya. Tapi setelah itu aku merasa tidak bersemangat lagi.


"Orga dan nona Reina akan menemanimu. Mereka akan menjelaskan selak-beluk kerajaan ini."


"Apa tidak bisa sendiri saja?"


"Hah?" Rakka berhenti mengambil piring kotor ketika mendengarku. "Kau ingin pergi sendiri? Aku yakin kau tidak akan tahu jalan pulang dan berakhir tersesat."


Aku merasa melihat seorang ibu yang melarang anaknya main diluar. Ya itulah Rakka. Dia memiliki sifat keibuan, walau dia seorang lelaki.


"Baiklah. Aku akan pergi dengan Orga dan Reina."


"Bagus. Orga, aku serahkan penjagaan padamu."


"Serahkan saja padaku."


Aku berdiri dari kursi meja makan. Orga dan Reina mengikuti. Tiba-tiba saja Orga merangkul bahuku.


"Jadi Sergio, kau ingin mengetahui sisi gelap kerajaan ini?"


"Eh? Memangnya ada?"


Orga menatapku aneh. "Apa kau tidak pernah diajarkan tentang hal gelap di duniamu?"


Aku mengerti tentang hal gelap yang dibicarakan Orga. "Mungkin...mafia dan tempat pub?"


"Ternyata masih dasar saja tentang dunia gelap. Tak apa, aku akan mengajakmu kesana sekarang."


TAKK....


"Aduh!"


Aku mendengar Orga mengaduh kesakitan. Dia mengelus kepalanya, dan dia menengok ke belakang.


"Kenapa kau suka sekali melempar sendok!"


"Ohh....jadi kamu ingin aku melempar piring ke kepalamu! Oke, baik! Dengan senang hati aku akan melemparnya!"


Rakka memasang ancang-ancang ingin melempar piring.


"Kau gila yah!"


"Makanya jangan membawa Sergio ke tempat-tempat yang kau sebutkan itu! Ke tempat yang sewajarnya saja!"


Aku tertawa melihat mereka berdua. Terlihat seperti seorang istri yang marah pada suaminya yang mengajak anaknya ke tempat yang berbahaya.


Sebenarnya aku tidak keberatan, tapi aku merasa belum waktunya untuk mengenal dunia gelap seperti itu. Aku hanya ingin mengetahui dunia Egolas yang tenang seperti yang kulihat malam kemarin.


"Sudah-sudah, sebaiknya kita cepat pergi dari sini."


Aku melerai mereka berdua yang masih adu mulut. Tapi mereka tidak mendengarkanku, jadi aku menatap Reina yang juga diam.


Reina yang tau arti tatapanku mendekati Orga, dan tanpa kuduga Reina menarik kerah baju Orga. Dia menariknya seperti anak kucing.


"Eh? Reina? Kenapa kau menyeretku seperti ini?"


"Anda terlihat seperti bocah. Saya tidak tahan, jadi saya akan mendisiplinkan anda ketika kita berada di organisasi."


"Eh? Reina apa salahku?"


Reina tidak menjawab dan masih terus menyeret tubuh Orga. Aku mengikuti dari belakang, menatap mereka berdua dengan tatapan lucu.


Iya lucu. Mereka berdua seperti tokoh kartun T*m&je**y. Selalu berkelahi, tapi ada satu kesempatan mereka akan bersama.


Aku pamit pada Rakka, dan aku melirik ke arah Fahrez yang tidak seperti biasanya.


Sudahlah, dia akan tenang dengan sendirinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°°°°||