The Another Soul

The Another Soul
Ch. 33



"Tentu saja, mereka bertiga adalah teman."


"Teman?"


"Iya teman. Waktu itu kita pernah tidur di satu tenda, benar-benar kenangan yang bagus. Iya kan, Levi, Zoe, dan Orga."


Rakka, Fahrez, dan Orga semakin berkeringat dingin. Mereka menatap lantai restoran dengan perasaan gugup.


"Iyakah? Tapi siapa Levi dan Zoe? Orga? Apa dia sama dengan Orga disini?"


"Eh?"


Orang itu menatap Sergio kaget. Dia menatap Sergio.


'Anak ini, belum mengingatnya.'


Orang itu menatap tajam Rakka. Sedangkan Rakka yang merasa ditatap menjadi merinding.


"Yah... Mungin saja bukan. Wajah mereka hampir sama."


"Terus ketika kau berkata mereka adalah penjaga?"


"Ituu....wajah mereka bertiga mirip dengan wajah penjaga istana! Wajah mereka pasaran sekali."


"Pfft..."


Reina terlihat seperti menahan tawanya. Orang itu menatap Reina, seketika Reina kembali memasang wajah dinginnya kembali.


"Ohh... Kalau begitu, ayo kita makan" ucap Sergio.


"Kalau begitu aku tak akan sungkan lagi, nak."


"Anda terus memanggilku nak. Padahal dari yang terlihat umur anda sekitar 20 tahunan."


Penampilan Anig memang terlihat seperti seseorang yang berumur 20 tahunan. Dengan memakai celana kain bewarna hitam dan kemeja biru muda. Rambutnya pendek, dan bewarna hitam. Matanya bewarna oranye cerah.


Mereka bertiga duduk di tempat masing-masing. Sergio memanggil pelayan sambil mengatakannya.


"Senang dianggap muda, tapi umurku sebenarnya lebih tua darimu."


"Oh, jadi aku harus memanggilmu paman?"


"Eh?"


Orang itu terkejut.


'Selama ini, tidak pernah ada yang memanggilku paman.'


"Y-yah.... Bisa saja."


"Baiklah, paman Anig. Bisa kau ceritakan kenapa kau bisa muncul waktu itu."


"Hahahaha..... Bagaimana mengatakannya yah. Sebut saja insting."


"Oh."


Seorang pelayan datang ke meja mereka, kemudian dia menyodorkan menu pada Anig dan Sergio.


"Sepertinya terlihat enak, aku pesan ini, ini, ini, dan ini" ucap Anig sambil menunjuk gambar.


Si pelayan hanya mengangguk dan mencatat.


"Bukankah itu terlalu banyak?" Tanya Sergio.


"Eh? Apa aku tak boleh memesan banyak makanan?"


"Tidak. Tentu saja boleh, maksudku apa paman bisa menghabiskannya? Aku tak terlalu suka melihat makanan terbuang."


Anig membeku. Dia sangat terkejut, dipikiran Anig adalah. Ini pertama kalinya ada yang menegurnya.


"Tenang saja, makanan itu akan kuhabiskan. Walaupun tubuhku kurus, sebenarnya aku adalah orang yang banyak makan."


"Oh baguslah. Maaf paman."


"Tidak apa."


Sedangkan tiga orang yang mendengar Sergio menegur Anig merasa nyawa mereka akan melayang dengan cepat. Rakka, Fahrez, dan Orga semakin berkeringat dingin. Satu-satunya yang ada di pikiran mereka bertiga adalah, Sergio gila!


"Kalian? Ada apa dengan kalian?"


Sergio memperhatikan mereka bertiga. Sejak kedatangannya tidak ada yang berbicara satupun, bahkan wajah Fahrez yang sebelumnya berkulit pucat menjadi semakin pucat.


'Ada yang tidak beres'


Sergio merasakannya. Kegugupan mereka bertiga dirasakan oleh Sergio. Tapi sepertinya Sergio tidak terlalu peka, dan memilih melupakan apa yang terjadi pada mereka bertiga sekarang.


Namanya juga laki-laki, tidak peka dengan keadaan sekitar.


"Terima kasih karena sudah menolong membawakan belanjaan saya" ucap Sergio.


"Ayolah, itu hanya hal kecil. Seharusnya aku senang ketika kamu mengajak ku kesini."


"Saya hanya menyampaikan rasa terima kasih. Oh iya, saya masih baru di kerajaan ini. Apa anda bisa menjelaskan pada saya tentang kerajaan ini?"


Anig tersenyum. "Tentu saja bisa. Apa yang ingin kamu dengar dahulu?"


Sergio memasang ekspresi wajah berpikir.  "Hmm... Bagaimana kalau dimulai dari sejarah? Bagaimana bisa para Dewa Dewi berada di dunia Egolas?"


"Apa yang kamu tanyakan adalah hal mendasar di dunia ini. Tapi tak apalah, aku akan menjelaskan."


||°°°°°°||


Dulu sekali, ada satu Dewa yang ingin tinggal di dunia manusia. Nama Dewa itu adalah Ğerna, salah satu 50 Dewa utama. Dia selalu berpikir, bagaimana kehidupan manusia di bawah sana?


Karena dia adalah seorang Dewa, dia tidak bisa turun dan melihat secara langsung. Semua itu dikarenakan, jika seorang Dewa atau Dewi turun ke bawah, maka mereka akan melawan hukum yang sudah dibuat sejak manusia pertama.


Hukum itu adalah, dilarangnya Dewa dan Dewi untuk turun ke dunia manusia. Jika melanggar, mereka akan tinggal di dunia manusia selamanya, tidak bisa kembali.


Tapi, bukankah Dewa dan Dewi yang telah membuat manusia? Kenapa hukum itu diberlakukan?


Alasan pertama karena kekuatan Dewa atau Dewi sangatlah kuat. Jika seorang Dewa ingin memusnahkan gunung hanya dengan satu jentikan jari, mereka bisa.


Alasan kedua, manusia bisa mengambil sedikit kekuatan para Dewa Dewi.


Bagaimana bisa?


Hal ini dikarenakan kekuatan Dewa Dewi yang meciptakan dunia manusia. Manusia terbiasa tinggal di bawah, jika seorang Dewa Dewi tinggal terlalu lama di dunia manusia, tanpa sadar manusia mengambil kekuatan para Dewa Dewi.


Misalkan kekuatan Seorang Dewa adalah 1.000 maka yang akan diambil manusia sekitar 0,01. Memang sedikit, tapi kelebihan manusia adalah evolusi.


Bukankah dari angka 0,01 menjadi 1.000. Atau bisa juga melebihi.


Itulah sebabnya Hukum itu dibuat. Tapi Dewa Ğerna seperti tidak peduli dengan hal itu. Dia hanya ingin pergi ke dunia manusia dan ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri.


Akhirnya dia memutuskan.


Dia pergi ke Gate World. Gerbang dunia.


Gate World dijaga oleh seorang malaikat bersayap enam. Salah satu 10 malaikat tertinggi, namanya adalah Mael.


Tugas malaikat berbeda dengan Dewa Dewi. Malaikat tugasnya adalah memperhatikan manusia, sedangkan Dewa Dewi adalah menciptakan manusia.


Mael bertanya pada Dewa Ğerna.


"Ada tujuan apa, wahai engkau Dewa Ğerna."


"Aku ingin pergi ke dunia manusia."


"Dewa Ğerna. Ada apa engkau turun ke bawah. Bukankah hukum itu berlaku bagi Anda."


"Aku tahu."


"Kalau begitu?"


"Tolong bukakan gerbangnya, Mael."


"Tapi..."


"Mael, aku tahu sebab kekhawatiranmu. Tapi aku ingin melihat manusia, tidak lebih tepatnya aku ingin tinggal di dunia manusia."


"....."


"Mael, tolong aku."


Mael melebarkan bola matanya. Dia baru mendengar seorang Dewa yang memohon pada dirinya.


"Dewa Ğerna, apa anda telah mendapatkan izin dari Dewa tertinggi?"


"Tidak. Aku tidak pernah meminta izin-nya. Aku pergi dengan kehendakku sendiri."


"Begitu ya."


Mael berbalik, dia berjalan ke depan gerbang dunia.


"Kalau boleh tahu, apa alasan anda ingin tinggal di dunia manusia?"


Dewa Ğerna tersenyum. "Mungkin... Aku sudah bosan hidup abadi dan hidup dalam kesendirian."


"......."


Mael terdiam.


Dia membuka gerbang dunia, gerbang itu bercahaya terang dan akhirnya terbuka lebar. Gerbang yang tidak pernah dibuka lagi setelah pembuatan dunia manusia.


"Dewa Ğerna, ketika kau menginjakkan kaki di dunia manusia. Kau bukanlah bagian dari 50 Dewa utama. Kau hanyalah menjadi manusia biasa. Apa kau masih ingin pergi?"


Dewa Ğerna mengangguk pelan. Wajahnya serius. Mael yang melihatnya hanya terdiam.


Mael menyingkir dan mempersilahkan Dewa Ğerna lewat. Mael membungkuk dengan tangan kiri di dadanya. Mael menghormati Dewa Ğerna di saat terakhir.


"Semoga anda hidup dengan aman dan tentram di dunia manusia."


"Terima kasih."


Dewa Ğerna memasuki gerbang, dan saat itu juga dia menghilang. Setelah kepergian Dewa Ğerna, gerbang dunia tertutup dengan sendirinya.


Mael memperhatikan gerbang dunia, kemudian dia berbisik pelan.


"Dewa Ğerna, namamu akan dikenang sebagai Dewa pertama yang ingin melepaskan keabadian. Aku kagum."


Inilah awal cerita, dan dimulainya para Dewa Dewi yang turun ke dunia manusia.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°°||