The Another Soul

The Another Soul
Ch. 16



**Oke, jadi disini aku ingin memberitahu kalian sesuatu. Disini pasti ada yang bingung dengan cerita ku. Sama sebenarnya Author juga bingung, mungkin kalau di beberapa kesempatan bakal di revisi. Entah itu tanda baca atau kata-kata yang salah, intinya akan di usahakan yang terbaik.


Untuk POV (Point Of View) aku masih bingung. Sebenarnya lebih enak dengan seperti ini**


"Richard, kenapa bisa begini. Aku memang tidak menyuruhmu untuk membunuhnya, tapi kalau begini terus dia bisa mati."


Richard, lelaki yang telah menculik Sergio saat ini dia sedang berada di ujung ruangan. Dia sedang berbicara dengan klien yang telah menyewanya.


"Dia tidak akan mati."


Richard memandangi Sergio yang saat ini menggigil kedinginan.


"Kamu yakin sekali."


Richard tersenyum miring mendengarnya.


"Anggap saja, insting sesama monster."


||°°°°°°||


Ini buruk.


Sangat buruk.


Selama ini aku tinggal di daerah tropis, dan tiba-tiba saja aku pergi ke kutub utara. Tubuhku tidak dapat menyesuaikan suhu dingin di sini.


**Kalau aku menggunakan nama berarti aku menggunakan 'Author POV'


Tapi, kalau aku menggunakan kata 'Aku' berarti itu adalah tokoh utama. Bisa saja tokoh lainnya, kalian bisa menebaknya sendiri. Author malas menggunakan tanda seperti di awal-awal chapter.


Ribet soalnya.


Berikutnya untuk rumah Sergio. Sama, author malas menjelaskan. Tolong maafkan Author yang pemalas ini.


Rumah Sergio itu berlantai dua, rumahnya memiliki tiga kamar, satu ruang tamu, satu kamar mandi dan satu toilet, ruang tamu, dan dapur.


Tanahnya luas, rumahnya memiliki halaman depan dan halaman belakang,


Kamar Sergio berada di lantai dua.


Dan untuk Mira. Akan di bahas di beberapa chapter selanjutnya. Author menikmati alur cerita, tapi sepertinya alur cerita yang kubuat lambat. Bahkan untuk pergi ke dunia Egolas membutuhkan 15 chapter lebih.


Kalian ingat kan? Di beberapa chapter ada beberapa Flashback. Kalian mungkin sudah ada yang tau artinya, tapi Flashback ini akan terus ada.


Untuk kakek Sergio dan orang tuanya akan dibahas juga.


Tapi nanti.


Wkwkwkwk....


Mohon bersabar dan nikmati cerita yang ada.


Oke, itulah sebagian curhatan Author. Kalau ada salah-salah kata mohon maaf.


Author juga manusia yang bisa salah, oke.


Selamat membaca!


Salam manis,


Raiyu


||°°°°**||


"Ya ampun. Aku baru saja tiba, tapi sudah disambut oleh kalian-kalian."


Fahrez menggaruk belakang kepalanya. Dia baru saja tiba, tapi sudah disuguhkan pemandangan yang aneh.


"Kalian tidak pernah membiarkanku bersantai."


Ratusan, tidak. Ribuan kelelawar dengan berbagai macam bentuk  berdiri  sejauh beberapa meter dari hadapan Fahrez.


"Aku penasaran, Apa perjanjian yang terjadi di antara penjaga gerbang sama Je-? Tiba -tiba aku lupa namanya. Ya sudahlah, tak penting mengingat namanya."


Para kelelawar yang menyerupai manusia itu berteriak dengan suara khasnya.


""""KIIKKK....!!!""""


"Ok. Mari kita bermain kasar."


Fahrez memulai pertarungan. Walaupun baginya makhluk yang ada di depannya ini hanyalah makhluk lemah, namun Fahrez tidak segan-segan dalam menggunakan kekuatannya.


'Rakka, kau harus cepat.'


Di sisi lain, Kutub Utara.


"Kuh... Dimana Sergio."


Rakka, saat ini dia sedang berdiri di tengah-tengah badai salju yang terjadi saat dia datang. Badai ini membuat pandangan Rakka terhalang, udara yang semakin dingin juga menganggu pergerakan Rakka. Bagaimanapun juga Rakka masihlah manusia, dia bisa mati kedinginan kalau terlalu lama berada di dalam badai.


Rakka berjalan, dia tidak bisa terus-terusan berdiam diri. Salju semakin menebal, langkah kaki Rakka menjadi lambat.


"Aku tak bisa seperti ini."


Rakka menggigit ibu jarinya, darah keluar dari ibu jarinya. Kemudian Rakka menggoreskanya ke udara. Bukannya jatuh, darah itu malah membentuk sebuah rune kecil di udara.


Setelah selesai, rune itu bersinar. Perlahan sinar itu menghilang dan berubah menjadi kupu-kupu indah dengan campuran berbagai warna. Kupu-kupu itu sebesar kepalan tangan.


"Tolong bantu aku mencari seseorang."


Seakan mengerti perkataan Rakka, kupu-kupu itu terbang. Rakka langsung mengikuti kupu-kupu itu.


BOOMM....!!!


Baru saja beberapa langkah dia berjalan, terdengar suara ledakan. Suara ledakan itu terdengar keras membuat Rakka yang mendengarnya membuat dia menjadi khawatir.


"Apa itu?"


||°°°°||


"Hai Sergio. Sepertinya kamu terlihat sehat."


Sehat?


Babak belur gini di bilang sehat? Sepertinya pak Jevan yang tidak sehat.


"Apa maksudnya ini?"


Aku menatap tajam pak Jevan. Aku tak mengerti, kenapa wali kelasku yang seharusnya berada di sekolah sekarang berada di kutub utara.


"Sergio. Aku yakin kamu tak sebodoh ini."


Aku tersenyum miring. "Tak kusangka, guru yang selalu memperhatikanku ternyata adalah musuhku."


Jevan membalas senyumanku, kemudian dia berkata. "Tak kusangka, Murid yang selalu kuperhatikan adalah seorang monster yang harus kubunuh."


"Monster, monster. Seburuk itukah aku di mata kalian."


"Sebenarnya bukan kamu, tapi jiwa lain itu."


"Tetap saja, tatapan kalian melihatku. Bukan jiwa itu."


"....."


Jevan terdiam. Aku melanjutkan.


"Kalian melihatku seperti monster. Padahal aku hampir tak pernah menggunakan kekuatan jiwa ini. Bahkan aku baru mengetahuinya sekitar empat hari yang lalu. Ini benar-benar membuatku kesal."


"Sergi-"


"Aku tak pernah membuat masalah denganmu, tapi kau melakukannya. Menculikku di hari dimana aku akan pergi ke dunia itu."


"Sergio-"


"APA!"


BUAKHH...!!


Sebuah tinju mengenai dagu ku. Kepalaku sekali lagi kena tiang yang mengikatku. Kepalaku terasa sangat pusing, dan aku kembali merasa ada yang cairan hangat mengalir dan jatuh ke lantai.


Darah?


"Bocah, kamu terlalu banyak bicara."


"Richard, cukup. Hentikan perbuatanmu."


Pak tua itu, Richard. Dia mundur kembali. Aku menunduk menatap lantai, melihat darah yang terus saja menetes. Tapi ketika sampai di lantai, darah itu membeku.


Aku baru sadar betapa dinginnya tempat ini.


Sepertinya karena keterkejutanku pada Jevan, aku jadi sedikit melupakan rasa dingin.


Sial.


Hiportemia ini, semakin parah. Mataku mulai tidak bisa melihat dengan jelas. Nafasku mulai tak beraturan, bahkan bernafas saja aku sulit.


Apa aku akan mati di sini?


'Hehh.... Tak akan kubiarkan kamu mati disini.'


Ternyata kau masih bisa bicara.


'Jadi Sergio. Ingin kekuatan?'


Ya.


Aku merasa jiwa lain itu tersenyum senang.


'Kalau begitu, sebut namaku.'


Nama?


Tiba-tiba saja aku merasa ada satu nama yang mengisi kepalaku. Aku mengucapkannya dengan pelan, hampir tidak bisa terdengar oleh siapapun.


Namanya adalah.


"Kaeiru"


BOOMM.....!!!


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°||