
"Kalau kau ingin berhenti katakan sekarang."
"Umm... Tidak, ayo cepat lanjutkan."
"Haahh....."
Deiva menghela nafas panjang. Sekarang ditangan kanan-nya ada sebuah pedang anggar bewarna silver.
Di belakang Deiva ada Atra yang sudah siap dengan busur dan anak panah.
Seorang Saber dan Archer dan Unknown.
Sergio, dia hanya menggunakan dua belati di tangan kiri dan kanan. Entah apa yang di pikirkan oleh manusia yang tidak memiliki Class apapun itu.
"Kalian siap?" Tanya Galeon.
"""SIAP!!!"""
Galeon menatap mereka satu-persatu, "Baiklah..."
Sergio mengeratkan Pegangannya pada sepasang belati, sampai pada akhirnya....
"Mulai!"
"Sembunyikan keberadaanku dan berkahilah, Archo Selene!"
"Bakarlah musuhku, Archo Ra."
"Kuh!"
Archo Selene dan Archo Ra. Dua kata ini merupakan sebuah kata perizinan untuk meminjam kekuatan Dewa atau Dewi yang berada di dunia Egolas.
Deiva menggunakan Archo Selene. Dewi bulan yang berasal dari mitologi Yunani, dan di ruangan latihan itu menjadi dipenuhi kabut bewarna biru pucat.
Sedangkan Atra menggunakan Archo Ra. Dewa matahari yang berasal dari mitologi mesir kuno. Busur yang dipegang oleh Atra menjalar api yang sangat merah. Terlihat sangat kontras dengan mata merahnya yang terlihat serius.
'Huwaa.... Mereka berpengalaman' batin Sergio.
Sergio sedikit terkejut. Ya terkejut.
Sebelumnya dia sudah diberi pembelajaran tentang Archo dan lain-lain.
'Ahh... Sial, apa aku bisa menggunakannya.'
Sergio semakin mengenggam kedua belatinya. Dia berkeringat dingin, tapi di saat yang sama juga darahnya terasa panas dan berdesir.
'Inikah rasanya...'
Sergio tersenyum lebar. Matanya menunjukkan semangat tinggi dan tekad yang kuat.
"Berhentilah waktu dan pulihkan...."
"Archo...."
"...Gerna."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TUK...TUK...TUK...
"Hei, apa kau tidak bisa memahami pelajaran semudah ini hah!"
"Tolong yah Guru Rakka yang manis dan berwibawa. Aku baru saja berada di dunia ini selama beberapa minggu. BAGAIMANA BISA AKU MENGERTI PELAJARAN YANG KAU BERIKAN!"
TUKK....!
Sebuah penggaris panjang menghantam kepala Sergio yang malang, kasihan :v
"Sakit!" keluh Sergio.
"Itu baik untuk otak bodohmu itu."
Sergio menggerutu kesal.
"Baiklah, aku mulai dari awal lagi. Archo adalah kata perizinan di dunia Egolas ini. Dalam dunia ini cara untuk bisa menggunakan Archo adalah dengan melihat aliran Chrocus yang berada di seluruh dunia Egolas."
"Hmm.... Kalau begitu aku bisa menggunakan--"
"Meminjam Sergio. Meminjam, bukan menggunakan."
"Ya, itu maksudku. Berarti aku bisa meminjam kekuatan semua Dewa Dewi yang berada di dunia ini bukan?"
Rakka menggeleng-gelengkan kepalanya, dan terlihat sangat kecewa.
"Ckckck..... Pikiran manusia sangatlah naif."
"Hei!"
"Begini. Aku akan menjelaskan dengan mudah dan sesuai dengan otak bodohmu."
Sergio semakin merengut mendengar ejekan tiap ejekan dari mulut kejam seorang Rakka Hartez.
"Sekarang aku ingin bertanya. Apa kau melihat sesuatu di dalam ruangan ini?"
Sergio memperhatikan ruangan besar dan bewarna putih ini.
"Tidak."
Rakka tersenyum tipis. "Kalau begitu...."
Rakka menutup kedua mata Sergio menggunakan telapak tangan. Sedikit terkejut, tapi Sergio menenangkan dirinya.
"Perlihatkanlah kebenaran, Mizel" bisik Rakka.
Telapak tangan Rakka berpendar biru dan Rakka menarik tangannya.
Sergio mengerjap-ngerjapkan matanya, sampai pada akhirnya mata hitam itu membelalak terkejut.
"Ra-rakka..."
"Hmm.... Kenapa?" Tanya Rakka dengan sebuah senyuman kecil di bibirnya.
Sergio ingin mengucapkan sesuatu, tapi tak jadi. Pada akhirnya dia tersenyum kecil.
"Kau benar. Aku hanyalah manusia biasa di dunia ini."
Rakka terkekeh. "Sekarang, kau bisa melihat aliran Chrocus bukan?"
"Ya."
"Apa yang kau lihat?"
"Aku seperti melihat benang-benang berbagai macam warna dan bentuk beserta kilauan-kilauan indahnya."
Mata Sergio menunjukkan kekaguman dan keterkejutan.
"Kau bisa melihatnya melalui mataku."
"Huh?"
"Untuk para warga Egolas, mereka hanya bisa melihat satu atau dua aliran Chrocus. Dan untuk orang jenius, mereka bisa melihat Dua atau lebih aliran Chrocus, dan mereka harus memilih salah satunya saja."
"Hmm? Kenapa begitu?"
Rakka menatap Sergio, "Ada berbagai macam alasan. Yang pertama, aliran Chrocus tak sesuai dengan elemen lahiriah. Kedua, Tubuhmu tak begitu kuat menerima aliran Chrocus yang begitu kuat. Dan pada intinya adalah, sebuah kesinkronan haruslah tinggi...."
".... Contohnya begini, kau memiliki elemen lahiriah. Yaitu elemen es murni Cocytus. Tapi, kau hanya bisa melihat Aliran Chrocus bewarna merah, yaitu api. Tentu saja hal itu sama seperti yang kukatakan pada poin pertama."
Sergio mengangguk-angguk mengerti.
"Untuk poin kedua. Aliran Chrocus ada yang kuat dan ada yang lemah. Kau tidak bisa hanya melihat melalui mata telanjang saja. Kau harus benar-benar melihat dan merasakan. Apakah aliran Chrocus ini sesuai untuk tubuhmu atau tidak. Dan jika tidak sesuai, maka kehancuran yang akan kau terima."
Lagi, Sergio Mengangguk-angguk mengerti.
Rakka menjentikkan jarinya. Seketika Sergio tidak dapat melihat aliran Chrocus.
"Sekarang, lihatlah aliran Chrocus yang menurutmu cocok dengan dirimu."
Sergio menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, "Umm... Bagaimana cara melihatnya?"
Rakka memukul jidatnya sendiri. Setelah itu dia menghela nafas yang penuh dengan kesabaran.
Sergio mengikuti ucapan Rakka. Dia menutup kedua matanya dan berusaha untuk merasakan keadaan sekitar.
'Gelap.'
Sergio hanyalah melihat kegelapan. Hitam tak berdasar, dan terasa dingin.
Beberapa menit berlalu, dan Sergio masih belum menunjukkan reaksi.
Tapi berbeda dengan Rakka yang saat ini sedang meneguk ludahnya gugup.
"Kau terlalu menarik perhatian, Sergio."
Ratusan aliran Chrocus berada di sekitar Sergio. Tapi anehnya Sergio tidak membuka matanya sama sekali, padahal ada ratusan aliran Chrocus di sekitarnya.
Tentu saja Rakka bingung dengan apa yang terjadi.
'Biasanya, jika ada satu aliran Chrocus, pasti orang itu langsung membuka matanya, tapi ini....'
Ratusan dan bukan satu. Kenapa Sergio tak kunjung membuka matanya?
Selagi Rakka sibuk berpikir dengan otak jeniusnya itu, Sergio sudah membuka kedua matanya.
"Rakka, apa yang harus kulakukan selanjutnya?"
"Eh?"
Rakka mengerjap-ngerjapkan bola matanya. "KAU SUDAH SELESAI!"
Sergio menutup kedua telinganya. "Ya sudah. Dan tolong jangan berteriak."
"Bag-bagaiman mungkin?!..."
"...Biasanya perlu Beberapa hari, minggu, bulan, bahkan tahun! Dan kau!"
Sergio hanya menatap bingung Rakka yang terlihat tak tenang.
"Kau hanya perlu lima menit. LIMA MENIT SERGIO!"
"Hei, hei, hei. Tenang Rakka, tenang."
"Kau tak normal."
Sergio terkekeh, "Terima kasih pujiannya. Sekarang apa yang harus kulakukan?"
"Dimana aliran Chrocus mu?"
"Eh? Kau tak melihatnya?"
Rakka menaikkan alis kanan-nya. "Apa maksudmu? Aku tak melihat apapun."
"Serius? Kau tak melihat sebuah aliran yang bewarna putih keabu-abuan dan kilauan peraknya?"
Rakka menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku tidak melihatnya."
"Serius?"
Rakka mengangguk yakin. "Ya, aku yakin sekali."
Sergio pun melihat kearah atas dengan tatapan berbinar. "Padahal bentuknya sangatlah indah."
'Aneh...'
Bagaimana bisa Sergio dapat melihat sedangkan Rakka tidak bisa melihatnya?
'Kecuali....'
Rakka melirik Sergio yang sepertinya masih terpana dengan aliran Chrocus yang ia lihat.
"Sergio, kau harus berbicara pada aliran Chrocus itu."
"Berbicara?" ucap Sergio tak paham.
"Ya, bicaralah pada aliran Chrocus itu. Apapun itu katakanlah."
Sergio menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Terlihat raut wajah bingung, dan alisnya mengeurt tajam.
"Aku tak begitu mengerti, tapi.... Bisakah kau keluar sebentar?"
Rakka menatap heran Sergio, "Kenapa aku harus keluar?"
"Aku butuh privasi."
Rakka menghela nafas panjang, "Baiklah, baiklah, aku keluar."
Kemudian Rakka keluar dari ruang latihan itu. Sekarang hanya ada Sergio sendiri yang terus memandang langit-langit.
"Sekarang tidak ada orang lagi. Jadi apa yang harus kukatakan?"
Detik demi detik berlalu, menit, dan pada akhirnya jam. Sergio tak kunjung mengatakan satu kata pun.
Sampai pada akhirnya Sergio menampar dirinya sendiri.
PLAK...PLAKK..
"Apasih yang kau pikirkan begitu lama, hah!"
"Baiklah, hanya satu kalimat ini saja yang terlintas dipikiranku ini."
Sergio dengan serius menatap ke atas-- tempat dimana aliran Chrocus berbentuk kupu-kupu bewarna putih keabu-abuan yang sedang terbang dengan lembut.
"Hei, Apa kau ingin melindungiku, menjadi temanku, ataupun penjagaku?"
"......."
Hening.
Dan selanjutnya Sergio menghantamkan kepalanya pada meja.
"Kenapa aku merasa malu mengatakan-nya! Sial!"
Sergio merasa dia harus mengatakan-nya. Mengatakan bahwa dia membutuhkan sebuah pelindung, teman, dan penjaga. Dia merasa harus mengatakannya dan wajib.
Jika tidak dia merasa menyesal jika tidak mengatakan hal itu.
Sergio mengangkat kepalanya, dan betapa terkejutnya dia.
"A-apa...?"
Seorang pria dengan tubuh pucat muncul begitu saja. Rambutnya pendek dan juga ada sebuah senyuman manis di bibirnya.
Tubuh pria itu terlihat bercahaya putih keabu-abuan, yang itu berarti...
"Chrocus."
Pria itu tersenyum lebar sampai matanya ikut menyipit.
Dan suatu hal yang tak terduga, pria itu memeluk Sergio. Dan mengatakan...
'Senang melihatmu, sahabatku.'
Setelah mengatakan hal itu, pria itu menghilang menjadi partikel kecil dan menyelimuti seluruh tubuh Sergio.
Sergio sendiri membeku ditempat. Sampai pada akhirnya dia meneteskan air mata.
"Gerna."
Pada hari itu, Sergio merasakan apa itu kesedihan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°||