
Jadi di sinilah aku berada.
Di ruangan yang cukup luas dan di sini ada para penjaga dan pelayan yang manis imut, tapi minta di tendang keluar dari ruangan ini.
Itu semua karena...
"Galeon, apapun yang terjadi kau harus menjaga tuanku."
"Iya, aku setuju dengan Rakka soal ini."
"Hei, kau berlebihan Fahrez. Sergio hanya sekolah saja disini, tapi Galeon. Jaga tuan mudaku dengan baik."
Aku menghela nafas lelah. Di sebelahku ada Reina yang sedang memakan sekotak po*ky rasa strawberry.
"Hentikan itu. Kalian menjijikkan" ucap Galeon dengan wajah jijik.
"Hei, ini permintaan dari gurumu" ucap Rakka dengan serius.
"Eh? Guru?"
Reina yang mendengar nada kebingunganku pun menoleh kearahku. "Ohh ya, kau tak tahu apapun" ucap Reina sambil memakan po*ky.
"Galeon itu murid Rakka."
Aku membeku seketika.
Yahh... Mungkin memang cocok jika Galeon itu murid Rakka.
Itu semua karena Galeon memiliki telinga elf dan juga rambut biru tua dan mata hijau yang indah. Galeon ini memanglah serupawan yang di kisahkan dalam ras Elf.
"Guru macam apa yang meninggalkan muridnya selama be- mmppff....!"
"Hehehe.... Galeon, kalau mau bicara perhatikan baik-baik ucapanmu," ucap Rakka yang tengah menutup mulut Galeon dengan tangan kanan-nya.
Aku melihat Galeon memberikan tatapan tajam pada gurunya itu.
"Pwahh... Baiklah, aku paham. Jadi dia yang akan masuk disini?" ucap Galeon sambil menatap diriku dari atas sampai bawah.
"Hmm... Dia sangatlah biasa."
Jlebb...
Ok Sergio. Sepertinya kau mendengar suara sesuatu yang menusuk di hatimu yang retak ini.
Baiklah, lupakan apa yang kupikirkan tadi.
"Hei teman, jangan nilai seseorang dari tampangnya saja" ucap Fahrez dengan nada bodoh-nya itu.
"Tapi tampang Sergio memang tidak meyakinkan Fahrez" celetuk Orga.
Jleb... Jlebb...
Pada akhirnya aku mengelus dada dengan penuh rasa kesabaran.
Maaf jika tampangku ini terlalu biasa. Ini semua karena author yang buat saya seperti ini.
//HEH, DIEM YA SERGI
Author Raiyu
Oke dia marah. Daripada aku nanti di bikin mokad olehnya jadi mari kita kembali ke jalan cerita.
"Jadi bagaimana? Apa selama disini Sergio akan aman?"
Galeon yang mendengar ucapan dari Rakka mengangkat alis kanan-nya, heran. "Aman? Disini? Dengan para Ium muda yang berkeliaran?"
Mereka bertiga tertawa kering mendengar ucapan Galeon.
Jujur saja, aku bingung dengan apa yang mereka bahas sedari tadi.
Galeon menepuk jidatnya dengan keras. "Baiklah, baiklah, Sergio bisa bersekolah disini..."
"""YEEYY...!"""
Hoii... Ingat umur hoii...
Aku tak habis pikir kepada mereka bertiga yang sekarang bertingkah seperti anak kecil.
"....Tapi, ada syaratnya" lanjut Galeon.
Mereka bertiga langsung terdiam.
"Hei, kenapa ada syaratnya?!" Protes Fahrez.
Galeon sekarang menatapku, setelah itu berjalan kearahku dan aku cukup kaget. Dia lebih tinggi dariku.
"Kau.... jangan pernah menggunakan elemen es Cocytus selama di sekolah ini."
"Eh?"
"""HAAHHH....!!!"""
Aku diam memperhatikan mata hijau cerah Galeon yang menatapku tajam. Hei, yang benar saja. Aku saja hanya bisa mengendalikan satu elemen saja saat ini.
"Kau meminta Sergio untuk mempelajari elemen lain?!" Tanya Rakka dengan panik.
Galeon menoleh ke arah Rakka. "Ya, jika bisa."
"Itu. Tidak. Mungkin!" Tegas Rakka.
"Kenapa tak bisa? Bukankah kau adalah sang Black Witch yang terkenal bisa membuat ketidakmungkinan menjadi mungkin?"
"Argghh... Jangan ingatkan aku dengan julukan itu!" kesal Rakka.
Galeon tersenyum miring. "Baiklah, akan ku beritahu cara lainnya."
Galeon kembali menatapku dengan sinar mata tertarik.
Dan sekarang aku merasakan bahaya hanya dari tatapannya saja.
"Jangan-jangan...." ucap Orga.
Galeon tersenyum kecil mendengar ucapan Orga. "Yapp... Benar sekali. Kau, hanya tinggal menahan essense yang ada di dalam energi sihir yang akan kau keluarkan. Mudah bukan?"
Aku memiringkan kepalaku ke arah kanan, kemudian.... "Hah?"
Rakka, Orga, dan Fahrez menepuk jidat mereka masing-masing.
'SERGIO TIDAK MUNGKIN PAHAM HAL ITU' Pikir mereka bertiga.
"Uhmm... Begini Sergio..." ucap Rakka.
Aku menatap Rakka dengan tatapan bingung.
"...Coba kamu bayangin, umm... Apa yah..."
Rakka pun bingung menjelaskan-nya secara rinci.
"Dengar Sergio..." ucap Orga.
Aku menatap Orga kali ini. "Coba kau bayangkan air keran..."
Aku mengangguk.
"...Nahh... Sekarang air keran itu sedang menyala dan mengalir deras air. Kali ini bayangkan kalau air itu energi sihir yang mengalir...."
Aku mengangguk lagi.
"....dan sekarang, air keran itu kau tutup dengan kain. Apa yang terjadi?"
"Hmm.... Apa air itu akan tersaring dan air itu mengalir sedikit demi sedikit?"
Orga tersenyum lega mendengar ucapanku. "Ya.. Kurang lebih seperti itu. Jadi cara menahan Essence sihir adalah; kau harus menahan inti Essence sihir yang mengandung elemen es Cocytus. Jika kau berhasil menahannya dan membiarkan Essence sihir elemen Es biasa mengalir begitu saja, maka yang kau keluarkan hanyalah elemen es biasa. Tidak ada campuran elemen es Cocytus. Sampai disini paham?"
Aku mengangguk kaku.
Orga menepuk jidatnya pelan. "Hahh... Sergio masihlah awam di dunia Egolas ini."
"Kenapa tidak di jelaskan secara praktek?" ucap Fahrez.
Setelah mendengar ucapan Fahrez, Rakka dan Orga menatap Galeon.
""Kenapa tidak kau lakukan sedari tadi!""
Galeon mengedip-ngedipkan matanya, sebelum berucap "Kalian tidak menyuruhku."
Sungguh ucapan yang polos.
Rakka menggeram kesal, "Galeon, cepat berikan contoh pada Sergio. Sekarang!"
"Santai dong, jangan emosi" ucap Galeon.
"Nah, manusia biasa yang terjebak disini. Dengar dan lihat aku."
Elf di depanku ini memang.... Menyebalkan.
"Disini aku mengeluarkan api Phoenix" sebuah api kecil keluar dari telapak tangan kiri-nya.
"Ahh... Mirip api Ankaa" ucapku.
"Eh? Kau kenal Ankaa?" Tanya Galeon.
"Iya, aku kenal dengan gadis itu."
Galeon mengangguk-angguk, "Berarti ini akan lebih mudah."
"Apa kau tahu perbedaan api Phoenix dan api biasa?"
"Warna, mungkin?" tebakku asal.
"Benar," Galeon kembali mengeluarkan api di tangan kanan-nya. "Nah, sekarang aku akan bertanya. Yang mana api Phoenix dan yang mana api biasa?"
Aku berpikir keras untuk hal ini.
Di tangan kiri Galeon warna apinya merah terang dan berkobar dengan liar, dan di tangan kanan, warna apinya seperti kuning keemasan dan ada sedikit sentuhan warna biru. Api itu berkobar dengan tenang, dan jujur aku sempat terpana dengan api itu.
Tapi, kenapa api Phoenix milik Galeon berbeda dengan milik Ankaa?
Apa karena Ankaa berasal dari rasi bintang Phoenix, makanya warna api-nya juga berbeda.
Hmm....
"Keduanya api Phoenix bukan?"
Galeon sedikit terkejut mendengar ucapanku. "Kenapa kau menebak seperti itu?"
Kenapa yah?
Aku juga tidak tahu.
//Dasar Sergio geblek :v
Galeon kemudian terkekeh, "Kamu benar. Keduanya adalah api Phoenix, tapi apa kau tahu perbedaan secara spesifik?"
"Yahh... Ini hanya hasil pemikiranku semata. Api di tangan kirimu itu..." ucapku sambil menunjuk tangan kirinya. "....Aku rasa api itu berguna untuk membakar apapun yang ada dan yang ada di tangan kananmu, itu untuk menyembuhkan. Apa aku benar?"
Lagi, Galeon terperangah mendengar ucapanku.
"Darimana dasar pemikiranmu itu?"
Aku menyipitkan mataku, yang kemudian menatap Rakka yang tengah santai meminum teh di kursi.
"Dari seseorang yang hampir membuat kepalaku pusing hanya dengan pembelajaran-nya," ucapku yang masih setiap menatap Rakka dengan ganas.
Aku tak ingin mengingatnya lagi.
"Oh," ucap Galeon yang sepertinya paham dengan penderitaanku.
"Nahh... Contohnya seperti ini. Lihat, aku bisa membagi api Phoenix dalam dua hal, Yaitu; api untuk menyerang dan api untuk menyembuhkan."
Aku mengangguk mengerti.
"Seperti yang di katakan tuan Orga, kau bisa melakukannya dengan tidak mengeluarkan Essence sihir yang mengandung elemen sihir Cocytus. Dalam kasusku, elemen sihir alamiku memang api Phoenix, jadi aku hanya bisa membagi Essence sihir yang kuinginkan. Tapi berbeda denganmu, seorang manusia biasa yang entah kenapa bisa berada disini."
Hehehehe... Sabar itu sebuah kebajikan. Ingat itu Sergio.
"Elemen alamimu... Tunggu. Apa elemen alamimu?" Tanya Galeon.
"Eh? Memangnya aku memilikinya?"
"Ya sudah pasti punya. Walaupun kau manusia biasa, pasti ada elemen alami."
Hoohh.... Aku merasa keren hanya dengan mendengar mempunyai elemen alami.
Berarti aku bisa mengeluarkan sihir dari elemen alamiku dongg..
"Umm... Sergio, apa kau tidak ingin keliling sekolah barumu ini?" ucap Orga.
"Tidak."
"Sergio, apa kau tidak ingin mencari pacar disini?" ucap Fahrez dengan bodohnya.
"Apa-apaan" ucapku sambil menatap aneh Fahrez.
"Ahh... Bukankah tadi ada suara bel? Hey Galeon, apa kau menyuruh Sergio untuk telat masuk di hari pertamanya!" ucap Rakka.
"Hah? Bukankah tadi kau menyuruhku untuk menjelaskan terlebih dahulu!" kesal Galeon.
"Itu tak penting lagi sekarang. Nahh.. Cepat antar Sergio ke depan kelasnya, sekarang!" ucap Rakka dengan nada memerintah.
Galeon mendengus kesal. "Baiklah, baiklah, ayo Sergio."
Akupun mengikuti Galeon yang berjalan di depanku. Sesekali aku melirik ke arah mereka bertiga.
Aku tahu.
Aku tahu mereka menyembunyikan sesuatu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°||