The Another Soul

The Another Soul
Ch. 18



'*Ilka, ayo main salju!'


'Vira, di luar terlalu dingin. Kita masuk saja.'


'Tapi aku mau main!'


Gadis itu, Vira dia menggembungkan pipinya kesal.


Ilka, dia hanya bisa menghela nafas pasrah.


'Oke, kita main. Tapi hanya sebentar saja. Tak lama lagi ada badai salju, kamu tak mau kedinginan, kan?'


'YEAYY....!'


Vira yang mendengar persetujuan Ilka berteriak senang. Gadis itu langsung saja mengambil segenggam salju, setelah terasa padat, Vira melemparkannya ke arah Ilka dengan semangat.


Ilka yang melihatnya langsung menghindar, tapi setelah menghindar ada bola salju yang mengarah padanya lagi.


BUUKK...


Salju itu mengenai wajah Ilka.


'Hahahahaha.... Rasakan itu!'


Ilka menyingkirkan salju itu dari wajahnya. Wajahnya menunjukkan ekpresi kesal.


'Oke, aku akan membalas.'


Ilka mengambil segenggam penuh salju, kemudian dia lemparkan ke arah Vira.


Vira, dia menghindar. Kemudian dia juga mengambil segenggam salju, dia balik melemparkan ke arah Ilka.


'Ohh... Kamu mengajak perang salju yah! Aku terima tantanganmu!'


Ilka dengan cepat mengambil segenggam salju. Dia bersiap dengan serangan bola salju dari Vira.


'Terima ini!'


Vira melemparkan bola salju dan Ilka menghalaunya menggunakan lengannya. Setelah itu Ilka melemparkan segenggam salju di tangannya ke arah Vira.


Begitu seterusnya. Mereka bermain salju dengan suara tawa di hutan yang sunyi.


Pohon-pohon tertutupi salju, dan tempat mereka bermain salju. Terdapat satu rumah kayu yang kecil tapi hangat itu.


'Astaga, kalian bermain seperti anak kecil saja.'


Suara seseorang itu membuat Ilka ingin melempar bola saljunya berhenti di tengah udara.


Tak menyia-nyiakan kesempatan, Vira melempar bola salju ke arah Ilka. Ilka terlambat menghindar dan bola salju itu lagi-lagi mengenai wajahnya.


'Hahahahah.... Makanya jangan mengalihkan perhatian!'


Ilka kembali membersihkan wajahnya dari salju. Dia menatap kesal seorang anak kecil sekitar berusia 12-14 tahun. Dia memiliki rambut coklat dan mata abu-abu gelapnya yang mengintimidasi. Warna kulitnya yang pucat pasi tampak kontras dengan salju di sekitarnya.


'Levi, jangan tiba-tiba mengagetkanku.'


Bocah itu, Levi dia hanya tersenyum tipis.


'Maaf*.'


||°°°°°°||


"Lama sekali Rakka."


Fahrez, saat ini dia sedang duduk di atas tumpukan mayat kelelawar. Dia duduk dengan santainya seperti dia duduk di kursi.


"Sebentar lagi Gerbangnya terbuka. Apa yang dia lakukan sampai selama ini?"


Fahrez menggerutu kesal. Masalahnya saat ini dia sedang merasa bosan. Dia sudah cukup lama menunggu, semua musuh sudah dia kalahkan. Dan dia sangat tidak suka disuruh menunggu.


"Dia bilang 'jangan remehkan aku' tapi dia tidak muncul-muncul."


Fahrez menengadah, melihat ke arah langit. Dia melihat bintang-bintang yang bercahaya terang ataupun redup. Suasana malam hari yang sunyi membuat Fahrez terpikir sesuatu.


"Seandainya aku tak melakukannya, apa yang akan terjadi padaku yah?"


BRAKK...


Suara barang jatuh membuat Fahrez memasang posisi siaga. Dia berdiri dari duduknya, dan dia tau siapa yang datang.


"Rakka, apa kamu tak terlalu lama?"


"Fahrez! Cepat bantu aku!"


Fahrez merasa bingung dengan nada kepanikan Rakka. Tapi dia datang dengan melompat dari tumpukan mayat itu.


Dia melihat Rakka menaruh seseorang berambut hitam dengan lembut ke atas salju.


Fahrez yang menyadarinya langsung saja berlari ke arah Rakka. Dia meliha Rakka membongkar tas yang berada di sebelahnya.


"Fahrez, tolong buatkan pelindung."


Fahrez mengangguk.


"Earth magic [Wall]."


Tiga dinding tanah muncul dan menutupi mereka bertiga, tak lupa Fahrez membuat atap jadi bisa menghalau udara dingin. Setelah itu Fahrez memunculkan tanah berbentuk persegi panjang untuk Sergio.


Rakka langsung saja mengangkat Sergio ke atas tamah itu. Dia meletakkan Sergio dengan lembut, setelah selesai, dia kembali membongkar tas besar yang dia bawa sebelumnya.


"Apa yang terjadi selama aku tidak ada?"


"Banyak hal, oh bisa tolong buatkan api."


Tanpa banyak bicara, Fahrez memunculkan sebuah api di telapak tangannya. Kemudian dia membuat tanah berbentuk tiang di keempat sisi kasur sementara Sergio.


Fahrez melemparkan api pada masing-masing tiang. Akhirmya di dalam pelindung itu menjadi terang karena api Fahrez.


Sekarang Fahrez bisa melihat dengan jelas, apa yang terjadi pada Sergio.


"Orang itu!"


Fahrez mengepalkan tangannya. Dia merasa marah dengan apa yang dia lihat sekarang.


Sergio, dia masih menggigil kedinginan. Bibirnya mulai berubah menjadi biru pucat, tubuhnya pun sangat dingin seperti es. Nafasnya sesak, tidak beraturan. Belum lagi bekas darah yang mengering, dan luka lebam dan memar di beberapa tempat.


Rakka membuka jaket Sergio dan setelah itu Rakka membalut luka Sergio dengan perban.  Sebelumnya dia membersihkan tubuh Sergio dengan air hangat yang sudah dia bawa dari rumah Sergio.


"Hm? Kau seperti sudah mengetahui akan terjadi hal ini."


Sambil membersihkan bekas darah Sergio, Rakka menjawab. "Sebelumnya air hangat ini untuk menyeduh teh."


"Teh?"


Rakka mengangguk. "Ya, siapa tau kalian nanti haus."


"...."


Fahrez tak tau harus merespon apa.


"Ngomong-ngomong bisa kau jelaskan apa yang terja-"


"Uhukk... Uhuukkk!!"


"Fahrez! Tahan tubuhnya!"


Fahrez menurut, Rakka mengambil sebuah benda di dalam jaketnya. Dia mengeluarkan sebuah suntikan dengan cairan bewarna hijau terang di dalamnya.


Rakka menyuntikkanya di leher Sergio. Setelah menerima suntikan itu, nafas Sergio kembali normal. Suhu tubuhnya kembali seperti semula.


Rakka yang merasa keadaan mulai tenang mulai melanjutkan membersihkan beberapa luka Sergio. Setelah membersihkannya dia membalut luka itu dengan perban.


"Akhirnya selesai."


Rakka berkata sambil menyelimuti Sergio dengan Selimut tebal.


Setelah dirasa selesai, Fahrez membuat dua kursi dan satu meja yang terbuat dari tanah. Dia juga memnculkan tiang yang terbuat dari tanah, dan membuat obor.


"Aku butuh penjelasan."


"Bagaimana kalau sambil minum teh."


"Setuju."


Mereka berdua duduk di kursi batu sambil menyeruput teh hangat.


"Apa yang terjadi?"


Fahrez bertanya pada Rakka yang saat ini sedang menyeruput teh.


"Sergio, dia membangkitkan kekuatan jiwa itu lagi."


Fahrez mengalihkan perhatian ke arah Sergio. "Berapa?"


"Lima."


"LIMA!"


Fahrez berteriak kencang. Rakka yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas.


"Tolong jangan berteriak. Telingaku sakit."


"Bagaimana bisa! Pertama kali kita bertemu tiga, dan sekarang lima!"


Rakka terdiam.


"Bagaimana kalau dia... Dia...."


Fahrez tak sanggup melanjutkan perkataannya.


"Tenang saja, Sergio memiliki segel bintang."


"Segel... Bintang?"


Rakka mengangguk. "Tadi aku bertemu dengan seorang gadis. Aku tak tau siapa dia, tapi sepertinya gadis itu berniat membantu Sergio."


"Apa mungkin gadis itu yang namanya Ankaa?"


Rakka mengangkat bahunya ke atas, tanda dia tidak tau. "Entah, katanya tanyakan saja pada Sergio."


"Tapi kita tak tau kapan Sergio sadar kembali."


Fahrez menatap murung Sergio. Saat ini Sergio masih tidak sadarkan diri. Entah berapa lama. Sebelumnya Sergio pernah menggunakan tiga kekuatan dari jiwa itu, dan setelah menggunakannya dia tidak sadarkan diri selama tiga hari.


Entah berapa lama Sergio tidak sadarkan diri.


"Perkiraanku lima atau enam hari Sergio akan sadar."


"Berarti ketika kita memasuki gerbang. Sergio baru sadar, begitu?"


"Ya, lagipula kita memerlukan Sergio untuk sadar. Bagaimana caranya dia membuat perjanjian dengan penjaga gerbang."


"Hmm... Kau benar."


Sama ketika mereka pergi ke bumi. Setiap orang yang ingin memasuki dunia Egolas juga harus membuat perjanjian pada penjaga gerbang, tapi ini khusus untuk orang bumi. Untuk Rakka dan Fahrez, yang sudah pernah membuat perjanjian tidak perlu membuatnya lagi. Mereka bisa bebas keluar masuk antar dua dunia.


BOOMMM....!


Suara ledakan terdengar dari luar tempat perlindungan mereka. Rakka dan Fahrez saling tatap, seakan tau apa yang mereka pikirkan.


"Gerbangnya sudah muncul."


Rakka berdiri, dia membersihkan gelas bekas teh mereka dan memasukinya ke tas besar.


"Kamu, bawa Sergio."


Tanpa banyak kata, Fahrez berjalan ke arah Sergio. Dia menggendongnya di punggung. Selimut tebal masih menyelimuti tubuh Sergio.


"Sudah, ayo kita pergi."


Rakka mengangguk. Dia berjalan duluan ke luar, Fahrez menyusul di belakang. Setelah keluar dia menghentakkan kakinya ke tanah dan dinding tanah yang dibuatnya turun kembali ke dalam tanah.


Setelah selesai, Fahrez menatap ke depan.


"Sudah lama aku tak melihatnya."


Sebuah gerbang besar seukuran dengan lapangan bola terbuka di hadapan mereka. Di dalamnya terlihat pemandangan aneh, dimana langit bewarna merah dan awannya yang bewarna ungu gelap. Tidak ada matahari disana, yang terlihat hanya bulan dengan sinar peraknya. Belum lagi tumbuhan yang bewarna biru terang seperti lampu.


"Ayo masuk."


Fahrez mengangguk. Dia menoleh ke arah Sergio yang saat ini sedang tertidur.


"Sergio, cepatlah bangun."


Setelah berkata seperti itu. Fahrez berjalan ke arah gerbang, begitupun dengan Rakka.


Mereka bertiga akhirnya masuk ke dalam gerbang. Meninggalkan dunia Sergio dengan Sergio yang tidak mengucapkan salam perpisahan pada Bumi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°||