
CKLAKK..
Aku masuk ke dalam kamar. Setelah tidak ada yang menjawab pertanyaanku, aku merasa...aku butuh waktu sendiri.
Aku berjalan ke arah kasur, kemudian aku duduk di pinggiran. Aku menatap keluar, menatap ke arah jendela dan melihat langit biru dan awan putih yang lembut.
Apa yang kamu lakukan, Sergio.
Rasanya aku sangatlah bodoh. Mencaritahu seperti apa mereka, padahal aku bukan siapa-siapanya mereka. Aku hanyalah seorang laki-laki yang kebetulan memiliki wajah yang mirip dengan Ilka.
Hanya itu.
'Benarkah hanya itu saja?'
Eh?
'Hei, kenapa kamu terlihat bingung.'
"Eh? Rasanya aku pernah mengalami hal ini."
'Tentu saja! Apa jangan-jangan kamu sudah lupa!'
"Ehmm....tidak, hanya saja aku terlalu terkejut."
Aku tak bohong. Aku benar-benar terkejut.
'Haah...kenapa kamu tidak kesini.'
"Kesini? Kemana memangnya?"
'Ke tempat itu. Aku merasa mual ketika kamu berpikir seperti itu. Sekarang kamu membutuhkan bimbingan.'
"Eh?"
Aku menjadi bingung.
'Sudahlah, ikuti perkataanku. Tutup matamu, kemudian panggil namaku. Kita berbicara di dalam jiwamu.'
Oh..bisa seperti itu juga ternyata.
Aku mengikuti perkataan-nya. Aku menutup mataku, kemudian aku menyebutkan nama.
"Kaeiru."
Aku merasa, kesadaranku seperti ditarik. Tiba-tiba saja aku merasa pusing, tapi itu tak lama. Hanya sebentar saja.
"Bagus. Untuk percobaan pertama berhasil."
Aku membuka mataku. Dan yang kulihat adalah seorang laki-laki berambut putih dan mata biru menatapku sambil menyilangkan tangannya.
"Oh, aku bertemu denganmu dalam wujud dewasa. Sebenarnya aku agak rindu dengan wujudmu yang seperti anak kecil itu."
"Bocah, inilah wujudku yang sebenarnya. Kau terlihat seperti seorang pedofil, kalau aku memakai wujud anak kecil."
"Hei!"
Aku protes. Apa-apaan maksudnya itu.
"Lupakan tentang hal itu. Sekarang, lihatlah ke sekitarmu. Apa yang kamu lihat?"
"Heh....tiba-tiba mengalihkan percakapan. Baiklah..."
Aku melihat ke sekitar. Kemudian aku menyadari ada suatu hal yang aneh.
Aku berada di padang rumput, seharusnya. Tapi yang kulihat adalah rumput yang layu. Warna rumput yang seharusnya hijau, sekarang bewarna kuning kecoklatan, layu.
Disini juga ada beberapa pohon, semuanya layu. Bahkan aku melihat satu pohon yang berubah menjadi abu-abu, kemudian menghilang menjadi debu.
Apa.... Apa ini?
"Sekarang, kau sudah melihatnya bukan."
"Apa... Aku tak mengerti."
"Bocah, bukankah kamu seharusnya tahu kita sekarang berada di mana."
"Di dalam, jiwa...ku"
Aku menjawab ragu. Bukankah itu berarti.
"Kau benar. Sekarang kita berada di dalam jiwamu. Disini benar-benar kering, aku saja harus menahan kekeringan ini."
"Itulah sebabnya kau merasa mual."
"Iya, jadi ceritakan padaku. Tentang kegelisahanmu selama ini."
"...."
"Ayolah, aku tak ingin tinggal di tempat seperti ini. Kau tahu, sebelumnya tempat ini adalah tempat yang indah. Rerumputan hijau tumbuh disini, pohon-pohon yang rindang, dan bunga-bunga kecil bewarna warni. Sekarang, yang ada hanyalah kekeringan, sejauh mata memandang."
"Itulah, keadaan jiwamu yang sebenarnya."
"Aku tak tahu, selama ini aku memiliki sesuatu yang indah di dalam diriku."
Kaeiru tertawa kecil. "Bocah, kamu itu hanyalah seorang manusia. Apa kau tahu di dalam dirimu? Tentu saja tidak bukan."
Dia benar. Selama ini aku tidak pernah tahu akan diriku sendiri.
Kaeiru berjalan, dia berdiri di sampingku. Kemudian duduk dengan satu kakinya yang di tekuk. Kedua tangannya berada di belakang, menahan tubuhnya.
"Sekarang, mari kita berbicara. Bagaimana kalau sambil minum teh?"
Aku tersenyum. Kemudian mengikutinya, duduk dan menatap rerumputan kering.
"Aku tak ingin teh bohongan. Aku ingin teh asli."
"Pergi saja ke dunia nyata sana. Disini hanyalah jiwa, kita tidak akan merasa lapar atau haus. Aku hanya membuat teh untuk memulai percakapan."
Setelah itu muncul dua cangkir teh dan satu teko kecil. Dia menuangkannya kemudian memberikannya padaku. Aku menerimanya, kemudian meminum sedikit.
"Jadi?"
Kaeiru bertanya tentang masalahku. Masalahnya, aku tidak tau masalahku itu apa.
"Aku...aku tidak tahu harus darimana."
Kaeiru tertawa mendengarnya. "Tentu saja kau tidak tahu. Karena semua masalah yang terjadi selalu kau acuhkan."
"...."
Aku terdiam.
"Aku berkata seperti ini karena aku selalu bersamamu. Menurutku, kau adalah seorang pembohong yang sangat ahli."
"Huh?"
"Kau pasti bingung bukan?"
"Tentu saja. Rasanya aku tidak pernah berbohong."
Aku melihat kaeiru tersenyum sedikit. Dia meminum tehnya, kemudian menatapku serius.
"Sergio, secara tidak sadar kau membohongi dirimu sendiri."
"....!"
"Pertama, ketika kau berkata tidak apa-apa. Sebenarnya kau itu ada masalah, dan ketika kau ingin pergi ke Egolas. Kau ingin menolaknya, tali kau berbohong. Ketika kau berada di punggung Orga, kau merasa dirimu tidak pantas. Dan yang terakhir, ketika kamu kehilangan Mira."
"Cukup."
"Cukup! Hentikan!"
"Apa? Kenapa? Aku mengatakan sesuatu yang benar. Mira pergi, dan kakekmu kemudian pergi meninggalkanmu. Sendirian, tidak ada yang menemani."
"CUKUP!"
Aku menarik kerah baju Kaeiru. Saat ini aku merasa marah dan sedih di saat yang bersamaan. Tanpa sadara air mataku menetes. Kaeiru menatapku santai, seakan-akan tidak masalah dengan sikapku.
"Lihat. Kau membohongi dirimu sendiri. Kau pasti ingin tahu bagaimana caranya kau membohongi dirimu sendiri bukan? Jawabannya mudah. Kau selalu berkata 'Aku baik-baik saja' atau 'ya sudahlah'."
Kaeiru menepuk pelan kepalaku, kemudian mengusapnya pelan.
"Sergio. Yang ingin ku katakan adalah. Jujurlah pada dirimu sendiri. Kau terlalu lelah, belum lagi dengan masalah tiga penjagamu itu. Mereka tidak bermaksud buruk. Mereka hanya ingin melindungimu."
"Melindungi? Bukankah mereka hanya memaksaku! Mereka semua memaksaku untuk selalu berada di perlindungan mereka! Mereka bahakn menyembunyikan sesuatu dariku! Apanya yang melindungi!"
"Sergio. Tapi kenapa kau merasa senang."
"...."
Ya. Kenapa aku merasa senang. Aku merasa senang ketika mereka datang. Aku senang ketika Rakka memasakkan ku makanan, aku senang ketika Fahrez berbicara bodoh di hadapanku, aku senang ketika Orga merasa khawatir padaku.
Aku melepaskan cengkaramanku. Membiarkan Kaeiru duduk seperti semula. Aku menunduk, memikirkan semua hal.
"Itulah perasaanmu semua. Sergio, terima saja semua perasaanmu itu. Jangan membohongi dirimu."
Kaeiru menggoyangkan kepalaku ke kiri dan ke kanan. Aku mendengar dia tertawa kecil.
"Sekarang, rasanya seperti aku yang memberikan curahan hati."
"Ini tidak adil."
"Eh?"
Aku mengangkat kepalaku, kemudian menatap Kaeiru. "Kau tidak bercerita tentang dirimu."
"Umm....itu...."
"Kenapa? Tidak ingin memberitahu?"
Aku melihat Kaeiru sepertinya panik. Dia melihat ke segala arah, kemudian kembali fokus padaku.
"Baiklah, kuberi satu petunjuk tentang diriku."
Entah kenapa aku langsung merasa bersemangat.
"Aku adalah....bzzt..."
"Eh?"
"Sudah paham."
"Tunggu, aku tidak mendengarnya tadi. Sepertinya tadi ada angin."
"Oke waktunya pulang."
"Hei! Tu-tunggu dulu, eh? Woaahh! Kenapa aku menghilang seperti ini. Hei! Kaeiru!"
Dari kakiku, perlahan berubah menjadi partikel cahaya. Aku menjadi panik melihatnya.
"Ck..! Aku kan sudah memberitahukan tentang diriku."
"Aku tidak mendengarnya!"
"Tidak ada yang kedua kalinya."
Tubuhku mulai menghilang di bagian perut.
"Hei! Kaeiru.!"
"Tidaak...deengaarr..."
Kaeiru berbalik memunggungiku. Dia bahkan menutup telinganya. Kaeiru sialan!
Akhirnya sudah mencapai leherku, tinggal menunggu waktu saja aku akan menghilang dari dunia ini.
"Kaei--!"
Aku menghilang, sepenuhnya.
Yang terakhir kulihat adalah Kaeiru yang memunggungiku dan sepertinya aku melihat rambut merah?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°°°||