The Another Soul

The Another Soul
Ch. 24



"Ahh... Berendam air hangat memang yang terbaik."


Aku mendesah nikmat. Rasanya aku seperti tidak mandi selama berbulan-bulan. Aku membasuh wajahku dengan air hangat, dan aku merasa sangat segar saat ini.


Aku menutup mataku, kemudian membenamkan setengah wajahku ke air. Aku sedang ingin berpikir saat ini.


Apa tadi perjanjian yang kubuat terlalu sulit, yah?


Apa aku terlalu memaksa.


Sepertinya tidak. Bahkan Sanita langsung menyetujuinya. Berarti apa yang kulakukan benar kan?


Kenapa aku jadi ragu sekarang.


Apa ada yang salah?


Apa yang salah dari apa yang kulakukan.


Kriukk...


Uh... Suara memalukan itu lagi. Perutku berbunyi lagi. Apa karena aku terlalu banyak berpikir?


Aku keluar dari bak pemandian, setelah itu aku mengambil handuk. Aku keluar dari kamar mandi, dan mendapati kamarku masih kosong.


Kenapa mereka lama sekali kembalinya?


Aku menghela nafas. Biarlah mereka pergi. Mungkin setelah ini mereka akan jarang bepergian karena harus menjagaku.


Aku berjalan ke arah jendela, dan memandangi bulan beserta langit dan awan yang aneh itu.


"Egolas, orang tuaku, dan perjanjian yang mereka buat."


Aku kembali memikirkan perjanjian yang orang tuaku ingin ikuti. Tapi aku menolaknya. Untuk apa menuruti orang tua yang tidak ku kenal.


Sepertinya aku akan dikutuk jadi batu kalau orang tuaku mendengarnya.


"Sudahlah. Masa lalu adalah milikku, dan masa depan milik mereka semua. Jadi aku tak perlu memikirkannya sekarang. Hanya membuatku semakin lapar saja, eh? Apa ini?"


Ketika aku ingin beranjak pergi dari jendela, aku merasa menginjak sesuatu. Aku mengambilnya dan melihat sebuah dompet hitam.


"Ini... Bukannya ini milik Fahrez?"


Aku membuka dompet Fahrez, dan benar ini milik Fahrez. Tebal dompetnya sama dengan yang kuingat.


"Mereka mencarinya kemana-mana, tapi dompetnya sebenarnya berada di sini."


Aku menaruh dompet Fahrez di atas meja. Kemudian aku mengambil baju yang di gantung dekat jendela.


"Uhh... Baju siapa ini?"


Aku melihat satu celana jeans hitam, dan baju kaos lengan panjang dengan garis biru di lengannya. Sederhana, tapi ini baju siapa?


"Ya sudahlah. Lagipula tak ada baju lain lagi."


Aku langsung memakai baju itu, tapi ketika aku ingin memakainya aku mearasa ada suara langkah kaki yang sedang berlari.


"SERGIO..!"


BRAKK...


Aku merasa kasihan dengan pintu itu. Pintunya sampai terlepas dari engselnya.


Dan yang membukanya sampai seperti itu adalah Rakka. Dia menatapku kemudian dia melihat ku dari atas sampai bawah.


"Hmm... Ada apa? Kenapa kau melihatku seperti itu?"


Aku kembali melanjutkan memakai bajuku. Setelah selesai aku beranjak ke arah pintu, dimana Rakka masih terdiam disana.


"Ada apa denganmu?"


"Sergio, yakin sudah sehat."


Aku mengangguk. "Sudah, tapi ada di beberapa tempat aku merasa nyeri. Pak tua itu terlalu berlebihan."


"Dimana!"


Rakka langsung memegang kuat bahuku. Aku meringis pelan.


"Rakka, salah satunya di tempat yang kau sentuh. Aku baik-baik saja."


Aku melepaskan tangan Rakka dari bahuku. Dia masih menatapku khawatir, tapi ya sudahlah.


"Ngomong-ngomong, dimana Fahrez?"


"Oh, dia berada di tempat Dewi Sanita. Dan ada satu orang yang ingin kuperkenalkan padamu."


"Siapa?"


"Kau akan tau. Ayo kita pergi. Apa kau sudah makan?"


"Sudah."


"Kapan kau sadar?"


Rakka bertanya sambil kita berjalan ke tempat Sanita. Akupun menjawab.


"Sekitar dua jam yang lalu. Ketika kalian mencari dompet Fahrez."


"Maaf meninggalkanmu."


"Tak apa. Lagipula aku mendapat teman baru disini."


"Teman?"


Aku mengangguk. "Ya, seorang teman yang akan kuingat."


"Sergio."


"Hmm?"


Aku menjawab panggilan Rakka hanya dengan bergumam. Rakka tiba-tiba saja berjalan di depanku, setelah itu dia berbalik dan membungkuk rendah. Aku yang melihatnya terkaget.


"Maafkan aku yang telat menyelamatkanmu!"


"Eh?"


"Tugasku seharusnya menjadi penjagamu, tapi aku merasa tidak berguna. Aku, aku minta maa-- ouch! Apa yang kau lakukan?!"


Aku baru saja menyentil kening Rakka. Aku tau mungkin saja dia lebih tua dariku, tapi apa yang di lakukannya sekarang, kekanak-kanakan.


"Tak perlu berkata seperti itu. Kita itu keluarga, untuk apa kau meminta maaf."


Aku kembali berjalan. Meninggalkan Rakka yang masih menyentuh keningnya. Eh tunggu? Apa tadi aku menyebutkan kata keluarga?


Bukankah aku baru saja bertemu Rakka dan Fahrez. Bagaimana bisa aku menganggap mereka keluarga secepat ini.


'Levi, Zoe, dan Orga. Mulai sekarang kita adalah keluarga. Jadi jangan pernah melupakan keluargamu, oke.'


Tiba-tiba saja ada sebuah ingatan yang masuk ke dalam kepalaku. Aku menyentuh kepalaku, rasanya kepalaku pusing. Orga? Siapa Orga?


"Sergio!"


"Aku, aku baik-baik saja."


Aku sekarang dalam posisi bersender di dinding kayu. Rakka sekarang menatapku khawatir.


"Sepertinya kau belum sehat. Bagaimana kalau kita kembali saja ke kamar?"


"Tidak. Tidak perlu."


Aku kembali berjalan. Rasa pusingnya secara perlahan menghilang. Ingatan apa itu tadi?


"Rakka?"


"Ya?"


Aku menatap Rakka dengan serius, Rakka yang merasa ditatap mengalihkan perhatiannya padaku. Aku pun mulai bertanya tentang sesuatu yang selama ini mengganjal pikiranku.


"Siapa Ilka?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°°°||