
"Yarn, silahkan duduk, Argen. Silahkan angkat tanganmu."
Argen mengangkat tangan kanan-nya. Memberitahu pada Yarn tempat duduknya.
Disini Sergio sudah merasa pusing. Tadi pagi Dewi mesum itu sudah mengata-ngatai tubuhnya, kemudian menamparnya, setelah itu muncul di KELAS yang sama dan DUDUK di meja yang sama.
Mengesalkan.
Jika ada yang tahu isi pemikiran dari Sergio, mungkin ia akan ditimpuk menggunakan buku tebal bersampul hard cover yang sangat menyakitkan.
Ia baru saja menghujat seorang Dewi!
Dan tentu saja Yarn atau Dewi Nyra menyadari arti tatapan Sergio yang terlihat sangat kesal. Yarn tersenyum kecil.
Ingat, ia sudah meminta izin Sergio tadi pagi. Yang dimana ia mengatakan...
"Kalau begitu aku akan menyamar menjadi murid di sekolahmu!"
"Serah kau saja!"
Lihat? Dewi Nyra itu penurut.
Ia menuruti ucapan Sergio. Dan juga ia tidak memperdulikan title-nya sebagai seorang Dewi yang agung.
Benar-benar Dewi sengklek.
"Hai Yarn, aku tak tahu kamu akan bersekolah disini" sapa Argen.
Yarn tersenyum "Aku ada pekerjaan di sini."
'Pekerjaan?' pikir Sergio.
"Huh? Kamu bekerja?" ucap Deiva dengan nada bingung.
Diam-diam Dewi Nyra melirik Sergio yang masih menatap dirinya dengan tatapan 'Ngapain kau disini?! Pulang dan bertugaslah seperti Dewi pada umumnya!'
Dewi Nyra tersenyum lebar, "Aku di suruh pamanku untuk menjaga keponakannya."
Sabar...
"Memangnya umur berapa keponakan pamannu itu?" Tanya Atra penasaran.
Yarn terlihat berpikir sebentar "Hmm... Tidak juga muda, tapi tidak juga tua."
"Remaja?" tebak Argen.
"Benar" ucap Yarn.
Sabar... Emosi nya bisa nanti.
"Wahh... Pasti sulit menangani anak remaja" komentar Deiva.
Yarn mengangguk setuju "Benar sekali. Bahkan ketika aku ingin menyiapkan pakaian miliknya untuk bersekolah aku diusir dari kamarnya."
Boleh Sergio pergi dari kelas? Telinganya terasa panas.
"Jahat sekali anak itu" ucap Atra sedikit kaget.
Ketahuilah wahai teman-teman Sergio. Sedari tadi orang yang kalian bahas berada sangat dekat dengan kalian. Dan orang itu sedang menahan kekesalan miliknya yang sudah memuncak.
Ia butuh pertolongan.
"Baiklah, semuanya. Silahkan ke ruang latihan masing-masing Class. Seperti biasanya, bawa senjata milik kalian masing-masing untuk kali ini."
Pertolongannya sudah tiba!
MHUAHAHAHA.....
Sergio sangatlah senang.
"Oh, aku lupa hari ini ada latihan Class masing-masing" ucap Deiva.
"Hm?"
Argen menatap Sergio yang terlihat bingung dengan ucapan Deiva.
"Jangan bilang kau tidak mengetahui latihan Class?" tebak Argen.
Dengan polosnya Sergio mengangguk membenarkan.
Argen menghela nafas kasar, "Dengar. Setiap Siswa-siswi disini memiliki Class masing-masing. Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan perkembangan senjata dan mana sihir milik kita sendiri. Kau memiliki senjata milikmu bukan?"
Sergio mengangguk.
"Nah... Gunakan senjata itu. Aku berharap kau menjadi tontonan utama" ucap Argen dengan senyuman misterius miliknya.
"Huh?"
.
.
.
.
.
.
.
"W-wah..."
Sergio ber-woah ria ketika melihat ruang latihan yang sangat luas. Terlampau luas hingga ia tidak tahu dimana ujungnya.
Mereka berlima berdiri di depan gerbang yang menjulang tinggi. Sergio terpana dengan kemegahan serta keindahan yang ada di tempat ini.
Tempat latihan ini berbeda dengan yang ia lakukan untuk mendapatkan Class.
Di tempat latihan yang waktu itu sepertinya memang dikhususkan untuk para murid mencari Class milik mereka masing-masing.
Sedangkan disini, adalah tempat dimana mereka mengembangkan skill milik mereka. Ada beberapa panggung kecil berbentuk bulat. Terlihat pula ada dua orang yang sedang bertarung menggunakan senjata masing-masing.
Tapi sepertinya hanya panggung Archer yang berbeda.
Untuk Archer di sediakan sebuah boneka untuk dijadikan bidikan. Atau tidak....
GROAAAA....!
Monster.
Sergio terkesiap ketika mendengar raungan monter berbentuk landak yang sangatlah besar.
Monster itu memiliki duri landak yang sangat tajam. Dan kemudian beberapa orang menggunakan tameng untuk menghalau lesatan-lesatan duri landak yang menyerang.
Orang-orang itu memiliki Class Berserker. Memiliki ketahanan paling kuat dari yang lainnya.
Menurut Sergio kedua Class ini yang memiliki tempat latihan yang sedikit berbeda dari yang lainnya, tapi entahlah. Dirinya masihlah awam pada dunia persihiran ini.
"Kalau gitu kita berpisah disini" ucap Argen.
"Eh? Kita tidak bersama-sama?" bingungnya.
Argen terkekeh, "Aku benar-benar tidak tahu tempat tinggalmu ketertinggalan informasi hingga seperti ini."
Sergio merengut. Ya maaf saja. Tempatnya (Bumi) tidak ada orang yang dimana orang-orangnya mengeluarkan sihir seenak jidat.
"Setiap Class memiliki tempat pelatihan yang berbeda-beda" jelas Atra.
Sergio mengangguk paham, "Kalau begitu..." Sergio melirik Deiva yang bersedekap dada.
"Ayo cepat, aku selalu menunggu latihan ini."
"Hmm... Aku juga harus pergi" gumam Yarn.
Sergio melirik Dewi Nyra dengan aneh "Apa seorang Dewi harus mengikuti latihan yang dimana kau sudah senior?" bisiknya.
Dewi Nyra melirik Sergio dengan senyuman tipis, "Kau tahu. Aku sedang menyamar."
Setelah itu Dewi Nyra berlalu pergi ke kerumunan para Healer berada.
"Dah Sergio..." ucap Atra sambil melambaikan tangan kanan-nya dan berjalan menjauh.
Sergio membalas lambaian tangan Atra. Setrlah itu Argen menepuk pundak Sergio dua kali, "Aku tunggu pertunjukannmu" ucapnya.
Sergio mengerutkan keningnya bingung. Apa? Ada apa ini?
Argen pun ikut pergi menghampiri kerumunan Class Lancer yang berkumpul. Sekarang hanya tinggal dirinya dan Deiva yang masih setia menatapnya.
"Sekarang tinggal kita berdua."
Deiva mengangguk, "Ya. Jadi jangan membuat masalah yang tidak perlu."
Sergio kembali mengerutkan keningnya, "Aku tidak pernah membuat masa-"
"Ya, ya, ya, kau melupakan kejadian hari pertama mu masuk akademi ini ya?"
Sergio terdiam. Oke, dia memang suka mencari masalah. Tapi baginya masalah itu yang datang padanya.
Siapa juga yang mau menimbulkan masalah sih.
Tidak ada bukan?
"Ya. Aku memilikinya."
"Bagus."
Deiva berbalik pergi dan berjalan kearah kerumunan Siswa-siswi yang berkumpul di depan seseorang berambut pirang.
"Kak Arthur! Bagaimana caranya untuk menjadi Saber terkuat?!" Tanya salah satu Siswi yang terlihat bersemangat.
Yap, dia Arthur Pendragon. Mata hijau zamrudnya menatap ramah kepada siswa-siswi yang berkumpul di depannya ini.
"Aku hanyalah terus berusaha untuk menjadi kuat. Juga aku-" mata hijau zamrud itu tiba-tiba saja melirik Sergio sekilas. "Memiliki tujuan untuk hidup" lanjutnya yang diakhiri dengan sebuah senyuman.
""KYAAA...~""
Sergio memutar bola matanya malas. Ini kedua kalinya ia mendengar kata 'KYAAA...~' itu. Menyebalkan, tapi Sergio sedikit iri.
Iri karena dirinya tidak pernah dikerumunin para gadis sebanyak itu.
Baiklah, lupakan sesi curhat dari sang tokoh utama. Kita kembali ke jalan cerita.
"Apa dia memang seterkenal itu?" Tanya Sergio pada Deiva yang berdiri di sampingnya.
"Hm? Oh Arthur? Ya, dia sangatlah terkenal. Bahkan dia memiliki nama di akademi ini."
"Nama? Dia tidak punya nama memangnya?"
Deiva menghela nafas kasar. "Princeps Lucem."
"Huh?"
"Itu nama julukannya di akademi ini. Kau tahu? Setiap Siswa Siswi yang memiliki pengaruh di akademi ini akan mendapatkan nama yang dimana semua orang akan mengingatmu" jelas Deiva.
Bola mata Sergio berbinar-binar. Bolehkah Sergio merasa bersemangat sekarang? Dia merasa sangat menginginkan nama julukan yang keren akan tersemat pada dirinya.
Hohoho... Jangan terlalu banyak berkhayal Sergio. Nanti jatuhnya sakit loh.
TUK... TUK... TUK...
Suara ketukan sebuah benda tumpul terdengar dari arah gerbang tinggi yang dimana terdapat ukiran dua pedang yang menyilang.
Di depan gerbang itu terdapat seorang wanita yang memakai pakaian putih sedikit ketat dan rambut panjang warna pink rose menjuntai hingga lutut walau sudah diikat. Mata Coklat madunya menatap tajam siapapun, dan juga terdapat tahi lalat di dagu bagian kiri.
Di tangannya terdapat sebuah sarung pedang yang memiliki ukiran-ukiran rumit yang terlihat misterius dan indah. Sarung pedang itulah yang menjadi sumber bunyi sebelumnya.
"Sudah selesai bicaranya?"
Suara wanita itu terdengar dalam dan tajam. Benar-benar memperlihatkan seorang wanita veteran dalam hal berperang.
"Dia siapa?" bisik Sergio kepada Deiva.
Ketika Deiva ingin menjawab, sebuah suara mengalihkan perhatian Sergio.
"Anak baru. Jika kau ingin bertanya. Tanyakan saja padaku."
Sergio terdiam. Siswa dan siswi yang berkumpul menatap Sergio dengan terang-terangan.
'Hei, bukankah dia Irregular baru itu?'
'Ahh... Yang dia memiliki Archo Gerna itu bukan?'
'Wahh... Nekat.'
Sergio merasa sedikit terganggu mendengar bisikan-bisikan setan yang membuat Sergio kesal.
Nggak di Bumi nggak di Egolas semua sama aja. Sama-sama mencibir tanpa tahu orang itu seperti apa aslinya.
Menyebalkan.
"Maaf Nyonya...?"
"Reyya. Reyya Szytern. Jadi kau yang di katakan oleh Galeon."
Sergio mengerutkan keningnya, "Maaf?"
Reyya menggeleng pelan, "Tidak. Selamat datang di akademi Aiarimavi Sergio. Saya menyambutmu dengan sepenuh hati."
"O-oh, terima kasih" balas Sergio dengan gugup.
"Dan Deiva" panggil Reyya.
Deiva berjengit kaget. Ia tau kenapa guru yang satu ini memanggilnya. "Y-ya ma'am?"
Tatapan tajam itu terarah pada Deiva yang menunduk dalam diam. "Tugasmu-- sudah selesai?" ucap Reyya.
Menggeleng adalah respon dari Deiva. Ia terlihat sedikit pasrah.
Reyya menghela nafas pelam, "Baiklah. Tapi aku minta kau lakukan secepatnya."
"Yes, ma'am."
"Dan Arthur."
"Yes ma'am" jawab Arthur.
Netra coklat madu itu menatap Arthur dengan serius. "Aku ingin-" netra coklat madu itu beralih ke arah Sergio. "Kalian berduel di panggung utama."
Seketika terdengar suara bisikan yang bisa juga dikatakan bukanlah bisikan karena suara dari siswa dan siswi lain terdengar hingga ke telinga Sergio.
'Irregular melawan Regular?! Yang benar saja!'
'Apa ma'am Reyya tidak salah?'
'Sudah jelas Irregular itu akan kalah.'
'Masalah, apa kau tidak lelah mendatangiku terus menerus' oleh batin Sergio yang lelah dengan bisikan-bisikan itu.
Poor Sergio :v
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author Note:
YO! APA KABAR SEMUA?!
Baek-baek aja kan?
Oke, setelah sekian lama Author nggak ada Author Note. Disini Rai mau nyampain sesuatu.
SELAMA INI RAI LUPA NAMA AKADEMI NYA SERGIO.
AWOKAWOKAWOK
Asli heh parah. Dan ada fun fact disini
Aiarimavi merupakan singkatan dari (Agni, Indra, Apollo, Ra, Ishtar, Marama, dan Virka.)
Dan dengan mudahnya Rai nelupakan nama ini.
*Untung baca ulang, kalau kagak jadi aneh dong *Wkwkwk*
Oh ya, arti dari Princeps Lucem adalah Pangeran dari cahaya. Rai pake bahasa latin.
Dan Rai ingin berterima kasih kepada film-film dan game yang membuat Rai kembali melanjutkan cerita ini.
And sorry karena lambat update nya. Semuanya karena Rai sibuk saat bulan Ramadhan dan setelah bulan Ramadhan, Rai tidak mendapatkan satupun imajinasi untuk menulis.
Great.
Oke, sekian untuk Author note kali ini.
ADIOS...!
1. 583 kata