The Another Soul

The Another Soul
Ch. 72 [As You Wish]



'Lain kali jangan berlebihan. Kau terlalu banyak menggunakan kekuatan pedang ini di saat kau masihlah belum menguasainya.'


'Jangan meminta bantuan terus menerus kepada-nya. Itu merepotkan bagi-nya.'


'Dan juga..'


'...Bantu dia sebisamu. Dia cocok untuk menjadi sahabat untukmu...'


Sebuah usapan terasa di kening Sergio. Perlahan Sergio membuka kedua matanya. Sergio menyipitkan kedua matanya, merasa silau dengan cahaya matahri. Kemudian ia melihat bayangan buram yang dimana Sergio hanya melihat rambut bewarna hitam legam dan memakai kaos lengan panjang bewarna putih serta celana jeans.


'Siapa dia?'


Kemudian orang itu berdiri. Tubuh tegap itu berjalan menjauhi Sergio yang berusaha mengeluarkan suaranya yang sekarang terasa sulit baginya hanya untuk mengeluarkan sebuah suara.


Orang itu perlahan semakin menjauh. Sergio berusaha mengeluarkan suaranya, sampai akhirnya diapun berhasil.


"Siapa kau?"


Lemah. Suaranya terdengar lemah. Sergio ragu kalau suaranya dapat di dengar dari jarak jauh itu.


Tidak ada jawaban, sampai pada akhirnya Sergio merasa pusing dan matanya terasa berat. Ia akan kembali tidak sadarkan diri.


Tapi. Siapa orang itu?


'Hanya... Menyapa.... Anaknya.'


Apa?


CTIKK...


Sergio merasakan sekeliling-nya kembali ramai. Sergio kembali tidak memperdulikan apapun kali ini. Perlahan, pandangannya menggelap.


Sergio tak sadarkan diri dengan beribu pertanyaan yang menanti di kepalanya.


.


.


.


.


.


"Uhuuk... Ugh...!"


Suara ringisan itu berhasil membangunkan ketiga orang yang tertidur di dalam sebuah kamar. Ketiga orang itu sama-sama berdiri dan bergegas mendatangi Sergio yang terbatuk dengan keras.


Ya. Dia Sergio. Saat ini ia berada di rumah dan dijaga oleh ketiga penjaga setianya itu.


"Sergio!" sahut Fahrez heboh.


"Diam bodoh! Ia akan pusing mendengarmu!" ucap Orga yang kemudian menggeplak kepala Fahrez dengan keras.


Tentu saja Fahrez mengaduh kesakitan. Orga memiliki kekuatan fisik ras Vampire. Tentu saja hanya menggeplak sedikit rasanya bagaikan ditindih gajah.


Beda dengan kedua penjaga yang heboh. Rakka membantu Sergio bersandar dengan di belakang Sergio ditumpuk bantal agar lebih nyaman.


Kemudian Rakka menyodorkan segelas air putih untuk Sergio. Tentu saja Sergio menerimanya dengan senang hati. Sergio pun meminum airnya hingga tandas.


"Ini jam berapa?" Tanya Sergio dengan suara serak.


"Jam 02:45 pagi" sahut Orga.


Sergio tertawa pelan, "Sepertinya aku membawa masalah lagi."


Ketiga penjaga itu saling pandang. Berbicara lewat kode mata yang hanya dipahami oleh mereka bertiga.


"Oh ya" Sergio menatap Fahrez. "Tadi ada temanmu yang menjenguk. Tapi karena kau tidak sadar, mereka pulang dan hanya menitip salam saja."


"Mereka itu Deiva, Argen, dan Atra bukan?"


Fahrez mengangguk, "Ada satu orang lagi."


Sergio mengerutkan keningnya. Ia merasa tidak memiliki kenalan lain selain mereka bertiga. "Siapa?" Tanya Sergio penasaran.


"Nain" ucap Orga. Kemudian Orga menatap Sergio dengan serius "Aku tak tahu. Ternyata kau berteman dengan seorang Ium."


Nain?


"Apa ada yang ingin di katakan Nain?"


"Hmm... Sepertinya tidak" ucap Orga dengan nada ragu.


Sergio menghela nafas lelah "Baiklah. Ceritakan padaku. Apa yang terjadi setelah aku tak sadarkan diri?"


"Banyak yang terjadi" Fahrez tertawa kecil. "Kau terlalu banyak menarik perhatian."


"Ya. Bahkan Dewa Agni sampai pusing karena mendapatkan banyak pertanyaan dari Dewa dan Dewi lainnya" celetuk Orga.


Wajah Sergio memucat. "S-sebesar itu?"


Orga dan Fahrez mengangguk yakin.


"Dan juga ada pesan dari Dewa Hermes" ucap Orga.


"Huh?"


"Uhhh... Aku malas membacanya. Kamu saja yang baca" Orga kemudian menyerahkan selembar kertas.


Sergio menerimanya dan mulai membacanya dalam hati.


...Hei manusia. Kalau ingin membuat masalah pikirkan kita juga ya! Kita dibuat pusing dengan berbagai pertanyaan yang mengarah kepada Agni! Demi kuku kaki Dewa Zeus! KAU MANUSIA PEMBAWA MASALAH!...


- Dewa Hermes yang sedang menanti menjatuhkanmu dari langit ketujuh


"Ah. Hahaha" Sergio tertawa kaku.


"Dan juga kau mulai terkenal di sekolah hanya karena duelmu melawan Arthur itu" ucap Fahrez.


"dan..."


"Sudah ceritanya?"


Fahrez dan Orga terdiam. Sergio mendengar suara dingin itu berasal dari Rakka yang duduk sambil menyilangkan kedua kakinya. Terlihat anggun dan berbahaya menurut Sergio.


"Dan dia marah" lanjut Fahrez dengan berbisik ke arah Sergio.


Sergio kemudian melirik Orga yang diam-diam mengangguk. Membenarkan ucapan Fahrez.


"Ck, apa kau belum puas, huh?"


"Yaa...?"


Rakka menatap tajam Sergio "Mengeluarkan elemen es Cocytus di hari pertama mu sekolah, kemudian berduel dengan Dewi Bishamon yang kemudian menghancurkan halaman depan. Kemudian HARI INI! kau berduel dengan Arthur sampai kalian menghancurkan setengah bangunan podium!"


Sergio menganga lebar.


Sebegitunya kah masalah yang ia buat?


"Sebagai hukuman untukmu!"


"Kau akan latihan privat SELAMA 1 MINGGU!!"


"AKU TIDAK MAU...!"


.


.


.


.


.


.


.


"Raja menerima Mahkota


Sekumpulan pemberontak mencuri mahkota


Kerumunan Rakyat meminta Mahkota


Kemudian...


Siapakah gerangan sang Mahkota?


Mahkota, sebuah keindahan dan kecantikan semu


Membosankan..."


Seorang wanita yang memakai gaun tipis bewarna putih saat ini sedang memutar-mutar segelas wine di tangan kirinya. Wanita itulah yang mengucapkan sebuah puisi atau syair mungkin?


Rambut pirang keemasannya menyapu lantai. Kulit putih bersih dan mulus itu terlihat bercahaya dikarenakan sinar bulan di malam hari. Bibir merah merona itu kemudiang menghela nafas panjang seakan lelah dengan kehidupan yang dirinya jalani.


"Bagaiamana menurutmu tentang apa yang kukatakan barusan, Arthur."


Seorang laki-laki itu berbaring di atas kasur dengan sprei putih lembut. Sebuah selimut hangat membuat dirinya enggan untuk bangun.


Dia adalah Arthur. Dia sebenarnya tertidur dari sore hari yang kemudian terbangun hanya karena mendengar suara seseorang yang sangat ia kenali itu.


Wanita itu kemudian berdiri dari duduknya. Setelahnya ia berjalan menghampiri kasur Arthur dan duduk di tepi kasur dengan anggun.


"Kau terlihat lelah" jemari lentik itu mengusap pelan rahang tegas Arthur. Perlahan, jari-jemari itu naik hingga telinga dan menyusupkan anak rambut Arthur.


Wanita itu kemudian menarik tangannya. Netra kuning keemasan itu menatap Arthur dengan tajam. "Apa dia terlalu kuat untukmu, Arthur ku sayang."


Tegas dan penuh ancaman. Suatu hal yang sudah menjadi kebiasaan bagi Arthur.


"Tidak nona. Dia tidak kuat, hanya saja..."


"Hanya saja?"


"Jiwa lain itu yang terlalu kuat."


Wanita itu tertawa kecil, "Kau benar."


Wanita itu kemudian mengusap lembut rambut pirang Arthur. Wanita itu merasakan betapa halusnya rambut Arthur.


"Kemudian, kenapa kau melewatkan makan malam mu, hm?"


Arthur menghela nafas, "Saya mengantuk karena saya tidur larut malam kemarin. Belum lagi tugas saya sebagai Ium anda, Dewi Theia."


Wanita itu-- Dewi Theia tertawa dengan lembut. Benar-benar rupa sempurna seorang Dewi yang ada di kisah-kisah.


"Oh ya. Maafkan aku yang lupa dengan tugas-tugasmu yang menumpuk itu" Dewi Theia mendengus geli.


Arthur tersenyum tipis sebagai tanggapan. "Anda tidak tidur?"


Dewi Theia menggeleng pelan "Tidak. Aku tak ingin tidur saat ini."


Arthur melirik gelas berisi wine yang berada di tangan kiri Dewi Theia. Dengan sigap Arthur mengambil gelas itu dan menjauhkannya dari Dewi Theia.


"Jangan minum Wine saat tengah malam nona. Itu tak baik."


Dewi Theia kembali tertawa. Kali ini suara tawanya terdengar alami dan mengalun indah.


"Kau lucu Arthur."


"Terima kasih pujiannya nona."


"Arthur" panggil Dewi Theia dengan lembut.


"Hm?"


"Teruslah berada di sisiku, berdiri di sisiku, dan membantu diriku hingga kau memiliki keturunan."


Sebuah ucapan yang sering Arthur dengar. Kata-kata yang selalu ia dengar selama ia hidup.


Arthur tersenyum lembut. Kemudian Arthur mengambil tangan kanan Dewi Theia. Arthur mencium dengan lembut tangan kanan Dewi Theia.


"As you wish, my pretty Goddess."


Malam hari itu, ada sebuah hati yang sedang menahan amarahnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


NAHH...


oke, sip 3 Chap 3 hari ya. Mantep


1. 164 kata