
"Woow... Untuk sebuah teori, perkataan mu terlalu sulit untuk dipercaya" ucap Fahrez.
Aku setuju dengan perkataan Fahrez.
"Jika benar Sergio adalah penduduk dunia kita, dia tidak akan berumur 16 tahun, tapi umurnya harus lebih tua."
Fahrez memberikan teori lain. Dan aku setuju dengan perkataannya.
Dengan ekspresi serius Rakka menjawab, "Kau benar. Berarti teori pertama masuk akal."
Aku dan Fahrez mengangguk tanda setuju.
Kriuukkkk.....
Uh, suara yang sangat menyedihkan.
"Ahahahah..... Bagaimana kalau kita akhiri pembicaraan dan makan."
"Aku setuju. Hei, masak yang enak."
Fahrez memerintah Rakka, Rakka yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas kasar.
"Ok, tapi sepertinya kita harus pergi keluar."
"Kenapa?" Tanyaku.
"Di rumahmu sudah tidak ada apa-apa lagi."
Aku meringis. Aku memang tak suka masak di rumah, biasanya aku memakan makanan cepat saji atau mie instant.
Tunggu.
"Tunggu sebentar."
Aku pergi ke arah lemari baju, dan aku mulai mengobrak-abrik bajuku. Membuat baju yang sebelumnya rapi menjadi behamburan.
"Ini dia!"
Aku merasa bersyukur karena aku masih menyimpannya. Tiga bungkus mie instant kuah.
"Eemmm.... Kita akan makan mie instant?" Tanya Fahrez.
"Iya. Kalian tau kalau sekarang aku sangat lapar. Kata kalian aku sudah tak sadarkan diri lebih dari tiga hari, berarti aku butuh makan sekarang. Tak perlu menunggu lagi. Rakka!"
"Ya!"
Rakka menjawab cepat panggilanku. Dia mungkin kaget atau bersemangat juga.
"Masak mie ini menjadi enak. Lebih enak daripada makanan di restoran bintang lima!"
"Siap, laksanakan!"
Rakka mengambil mie itu dari tanganku. Dia berlari kearah dapur, dengan cepat dia menghilang dari pandangan kami berdua.
"Aku masih bingung. Kenapa ada mie instant di dalam lemari pakaianmu?"
Aku menatap Fahrez. "Yahhh.... Gimana menceritakannya yah. Tapi yang jelas, aku hidup berkecukupan, tapi juga cukup kekurangan."
"Ckckck.... Kasihan sekali dirimu."
Fahrez berdecak kasihan pada diriku. Tali aku tak menanggapinya. Selama ini aku hidup dari uang pensiun kakek dan kerja paruh waktu.
Untungnya aku memiliki rumah sendiri, jadi tak perlu membayar uang sewa rumah. Jika tidak hidupku akan semakin kekurangan.
"Karena aku kasihan pada dirimu, ini kuberikan."
Fahrez merogoh jaket kulitnya, kemudian di tangannya ada sebuah dompet hitam kecil warna coklat tua.
Tapi aku terkejut melihat dompetnya.
'Wahh... Dompetnya tebal.'
Dia mengeluarkan sebuah kartu warna hitam, kemudian dia memberikannya padaku.
"Ini, ambillah."
Aku melihat Fahrez memberikan ku kartu hitam itu. Aku menerimanya, kemudian aku kaget.
"Eh? Kartu ini bukannya kartu Black Card itu."
Fahrez mengangguk. "Ya, kartu itu. Tenang saja, aku masih ada yang lain."
"....."
SEBERAPA KAYANYA ORANG INI.
Kartu Black Card adalah kartu kredit tanpa batas! Biasanya yang memiliki kartu ini hanya orang-orang golongan ningrat. Dan hanya ada 15 kartu di dunia.
Tapi aku tak mengerti kenapa dia menyerahkan kartu ini padaku.
"Kenapa kau memberikannya padaku?"
"Anggap saja sebagai biaya hidupmu ketika singgah di dunia kami."
"Maksudmu kartu ini juga berlaku di dunia sana."
Fahrez mengangguk kecil.
"Bukankah itu berarti dunia sana juga hidup modern."
"Bisa dikatakan, bisa juga dikatakan tidak. Di berbagai wilayah ada yang hidupnya modern, tapi ada juga hidupnya seperti zaman dahulu. Semua tergantung pada pemerintahan masing-masing. Ada yang masih memerintah dengan sistem monarki, ada juga yang menggunakan sistem Republik."
"Bukankah itu artinya dunia sini dan dunia sana sama saja, tapi bedanya disini tidak bisa menggunakan sihir, tapi disana bisa menggunakan sihir. Apa aku benar?"
"Ya, Bumi dan Egolas bagaikan cermin. Mereka sama, tapi juga berbeda. Yahh... Kamu akan tahu ketika sudah datang kesana."
"Egolas?"
"Oh ya aku lupa. Dunia yang akan kamu tempati selanjutnya namanya adalah Egolas."
Aku jadi penasaran dengan dunia yang bernama Egolas ini.
Tapi sebelum aku sempat bertanya lebih banyak pada Fahrez. Rakka datang sambil menggunakan apron hitam.
"......"
"......"
Hahaha.... Aku masih seorang pria sehat. MASIH OKE, INGATKAN AKU KALAU RAKKA ADALAH SEORANG PRIA!
Sepertinya Fahrez juga menjadi salah tingkah. Jika kalian bertanya kenapa kami berdua menjadi seperti ini. Jawabannya ada pada Rakka.
Rambut putih yang mencapai punggung, kulit hitam eksotis, matanya yang bewarna kuning keemasan. Dan dia memakai apron hitam, semakin memperlihatkan kalau dia sebenarnya adalah seorang wanita.
Oke, berhenti memikirkan hal aneh. Tolong hentikan!
"Sudah siap! Ayo makan!"
Rakka terkihat bersemangat sekali. Terlihat dari matnya yang berbinar-binar itu.
Aku hanya tertawa kecil melihatnya.
Aku langsung duduk di lantai kamarku, Fahrez mengikutiku, kemudian Rakka duduk.
Entah kenapa, rasanya aku seperti bernostalgia. Aku seperti pernah melakukan hal ini dulu.
Tapi, kenapa aku merasa sedih?
||°°°°°°||