The Another Soul

The Another Soul
Ch. 55 [Kelebihanku]



Jadi, apa yang akan kugunakan?


Aku terus menyusuri setiap rak yang menyusun berbagai macam senjata.


Anggar, fleksibel, menghindar, berlindung... Hmm...


Saat ini aku sedang berdiri di depan rak senjata yang sepertinya untuk fisik.


Hmm.... Sarung tangan?


"Mmm.... Galeon, apa ini akan berguna?" Tanyaku sambil menunjuk sarung tangan bewaran hitam dengan ada hiasan besi yang sepertinya sakit jika kena pukulan dari serangan ini.


Galeon menghampiriku, "Ahh... Itu, Sergio. Setiap senjata disini di tempa khusus. Jadi.... Walaupun terlihat hanya seperti sarung tangan biasa, tapi sarung tangan ini berguna dalam pertarungan jarak dekat. Menurutku sarung tangan ini berguna di tangan seorang Beast dan Assasin."


Jarak dekat? Hmm...


Apa yang akan kugunakan?


Apa aku harus mengambil sebuah pedang anggar juga?


Ahh, tidak. Aku tak begitu tau tentang teknih pedang itu.


Apa aku mengambil pedang asia, eropa, atau timur tengah?


Hmm.... Aku hanya bisa menggunakan katana saja sepertinya, tapi menurutku menggunakan pedang Katana tidak akan terlalu bisa mengatasi serangan-serangan unik dari pedang anggar nanti


Lagipula, ini pertarungan pertamaku.


WHAT THE-- AKU BARU MENYADARINYA!


Ahh... Ayolah. Aku ini masihlah manusia biasa yang sebelumnya hanya bisa menonton pertarungan seperti ini melalui film atau anime.


Pada akhirnya aku mengacak-ngacak rambutku, tiba-tiba aku merasa kesal dan frustasi.


"Ck... Apa yang kau pikirkan manusia?"


Aku menatap kesal Galeon. "Pak Guru Galeon yang manis dan menyebalkan..."


"Hei!"


Aku tak menggubris protesannya dan melanjutkan, "Apa kau tak melihat muridmu ini sedang merasa frustasi karena sekarang ini adalah pertarungan pertama muridmu ini. Tak bisakah kau membantu ku? G.U.R.U." Ucapku dengan nada penuh penekanan di kalimat 'Guru'.


"Hahh... Kalau begitu aku akan bertanya. Apa kelebihanmu dalam pertarungan?"


"Kelebihan dalam.... Pertarungan?"


Galeon mengangguk, "Ya, kelebihanmu. Cobalah berpikir sejenak."


Akupun mengikuti ucapan Galeon. Kelebihanku dalam pertarungan.


Setelah memikirkan baik-baik, aku mengingat latihanku bersama Orga.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


BUAKHH... BUKK.. BRUKK..


"Lemah, apa segini saja batas tubuhmu, Sergio?"


"Uhuukk... Uhukk... Ugh!"


Terlihat Orga yang berdiri di hadapan Sergio yang saat ini sedang jatuh berlutut sambil menyentuh bagian dada yang terasa nyeri.


"Ck... Ilka tidak mungkin selemah dirimu."


"Uhuk... Ma-maaf saja y-yah. Aku bu-bukanlah Ilka ya-yang kau hormati i-itu" ucap Sergio dengan terbata-bata.


Orga menutup matanya sejenak. Berusaha membuat dirinya tenang di dalam latihan khusus untuk tuan-nya yang baru. Sergio Vandelhein.


"Berdiri" perintah Orga.


Sergio berusaha untuk berdiri, walau terlihat sulit. Tapi Orga tidak memperdulikannya.


Saat ini Orga sedang dalam mode serius.


Tak memperdulikan Sergio yang saat ini kelelahan, Orga melesat ke arah Sergio dengan kuku-kuku jari yang memanjang.


Orga serius.


Dan Sergio tahu itu.


Seketika Rasa takut merasuki perasaan Sergio. Dia merasa takut, bahkan kakinya gemetaran dengan apa yang di hadapinya saat ini.


'Tak mungkin, perasaan ini....'


SRETTT...


Deg....Degg.... Degg...


Suara jantung yang berdetak keras menjadi pengisi keheningan di ruang latihan itu.


Orga menatap tajam wajah Sergio yang terlihat pucat. Bagaimana tidak pucat, Tangan Orga yang memiliki kuku-kuku tajam saat ini berada di beberapa centimeter pada bola mata hitam Sergio yang membelalak terkejut.


Bahkan ada sedikit goresan di pelipis kanan Sergio.


"Lihat, jika aku tak menahan seranganku. Kau akan mati." Ujar Orga dengan nada pelan dan penuh dengan rasa amarah yang tak diketahui asalnya.


Orga menarik tangannya, dan seketika pula tubuh Sergio ambruk begitu saja.


Orga menatap tajam tubuh Sergio yang terlihat bergetar, "Bagaimana rasanya hampir melihat kematian?"


Sergio mengusap wajahnya dengan gusar. "Orga, apa.... Apa perasaan ini memang wajar?"


Orga menaikkan alis kanan-nya, heran dengan jawaban Sergio. "Apa?"


Sergio tersenyum miring. "Aku merasa.... Bersemangat..."


Orga seketika membeku.


".... Dan ketakutan" lanjut Sergio sambil menatap wajah Orga yang menatapnya dengan raut wajah kebingungan.


Kemudian Orga menghela nafas lega.


Orga pun ikut duduk di hadapan Sergio, "Kenapa tadi kau tak menghindar?"


Sergio memiringkan kepalanya, dan dia terlihat mengingat kejadian sebelumnya.


"Aku.... Aku memikirkan perasaan aneh itu. Ini pertama kalinya aku merasakan hal itu" ucap Sergio dengan senyuman.


Orga menghela nafas, "Dasar manusia aneh."


Sergio tertawa geli, "Terima kasih atas pujian-nya."


Orga menatapa jengkel Sergio, "Aku tak memujimu sialan."


Tapi Sergio masih tertawa geli.


Dan kemudian suara tawa itu berhenti dan digantikan dengan wajah horror Sergio.


"Kau ingin melanjutkannya! Hell no!"


Orga cemberut, "Cihh... Tak seru."


Siku-siku imajiner muncul di kepala Sergio. Apa tadi katanya? Tak seru?


Setelah memukul, membanting, dan menendang tubuh Sergio dia bilang tak seru?


'Mati sana dan pergilah ke neraka!' umpat Sergio dalam hati.


"Kau tahu Sergio."


"Aku tak tahu."


Orga pun memasang wajah jengkel, "dengar dulu bisa tidak?"


"Ya, ya, ya, cepatlah bicara."


Orga mendengus kesal sebelum melanjutkan. "Aku mengetahui kelebihanmu dalam pertarungan."


"Hmm?"


"Kau... Kenapa kau tidak pernah menutup matamu ketika serangan datang? Dan juga, kenapa kau tak membalas seranganku?"


"Hmmm... Apa aku tadi seperti itu?"


Orga mengangguk-angguk.


"Untuk bagian aku membuka mataku. Aku rasa itu penting. Karena kalau aku menutup mataku dalam pertarungan, walau sedetik saja. Itu bisa menetukan kekalahanku dalam sekejap."


Orga mengangguk-angguk mengerti.


"Dan untuk aku yang tidak membalas seranganmu. Aku mencoba untuk memperhatikan gerak-gerik yang kau perlihatkan, dan hasilnya. Aku bisa mengetahui pergerakan apa yang akan kau lakukan selanjutnya."


Orga terkejut, "Kau tahu gerakan yang akan kulakukan selanjutnya?"


"Yahh.... Tidak semuanya, tapi hanya sekitar 7-10 persentase aku bisa mengetahui hal itu."


"Sedikit sekali" cibir Orga.


Sergio terkekeh, "Masalahnya. Kau memiliki kekuatan seperti monster di mata manusia biasa ini."


Orga terdiam.


"Jadi itulah penjelasanku. Jadi, bisakah kita pulang? Aku sangatlah lapar."


Orga mendelik tajam pada Sergio, "Kau masih memiliki 1 jam latihan bersamaku sebelum pulang."


"HAH?!"


"Jadi, mari kita lanjutkan latihan kita kembali. Tuanku."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Hooii... Sergio..."


Aku tersentak kaget. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, dan kemudian aku melihat sepasang mata merah yang menatapku khawatir.


"Kau baik-baik saja?"


Aku tersenyum kecil pada Atra. "Ya, aku baik-baik saja. Hanya sedikit melamun tadi."


Atra mengangguk-angguk mengerti. "Jadi apa yang akan kau gunakan?"


Aku melirik Galeon yang berdiri tidak jauh dariku.


"Pak Galeon, aku ingin bertanya."


"Hmm... Apa?"


"Aku ingin mencoba semua senjata, dan Atra juga ikut membantu Deiva."


""HAAHH...?!""


Galeon terlihat berpikir sejenak. Sebelum akhirnya menjawab. "Baiklah, boleh saja."


""HEEH...?!"


Aku tersenyum kecil, "Terima kasih."


"Hei, hei, apa ini tak terlalu berlebihan untuk murid baru!" ucap Deiva.


"Para gadis-gadis. Kusarankan kau jangan meremehkan murid baru ini."


Mereka berdua memasang raut wajah bingung.


Galeon tersenyum miring, "Murid baru ini sudah pernah berlatih bersama monster."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°||