
"Perjanjian darah?"
Rakka mengangguk pelan. "Ini berhubungan dengan apa yang kau rasakan kemarin."
Aku mengingat kembali rasa sakit yang kurasakan hari itu. "Jadi, apa itu perjanjian darah? Apa kalian akan saling meminum darah satu sama lain?"
Mereka bertiga terkejut.
"Bagaimana kau tahu?" Tanya Orga.
Sudah kuduga.
Aku mengambil segelas susu sebelum berbicara pada mereka. "Ilka, dia memperlihatkan ingatannya padaku" setelah mengatakannya aku meminum susu hangat itu.
Mereka bertiga saling pandang satu sama lain. Fahrez kemudian menatapku.
"Selain itu? Apa yang diperlihatkan oleh Ilka?"
Aku meletakkan gelas di atas meja, kemudian memasang wajah pose sedang berpikir.
"Hmm...Fahrez memiliki seorang adik, dan Orga memiliki seorang kekasih."
Fahrez dan Orga saling melirik.
"Dia benar" ucap Fahrez.
"Itu berarti, kau sudah mengetahui semuanya?"
Aku memiringkan kepalaku, "Mengetahui apa?"
Orga menggelengkan kepalanya cepat, "tidak, tak perlu kau pikirkan."
Aku mengangguk.
Rakka menatapku serius. "Sergio, apa kau baik-baik saja?"
Aku menghela napasku. "Jika kau bertanya apa aku baik-baik saja, jawabannya adalah, aku tidak terlalu baik. Untuk saat ini."
Ya, tidak terlalu baik.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Tanya Fahrez dengan wajah bodohnya.
Aku melirik Fahrez, "Entahlah. Aku hanya merasa seperti itu."
'Aku merasa ingin membunuh mereka.'
Kalimat itu lagi. Semenjak dia mengatakan hal itu, pikiranku selalu dipenuhi oleh kata-kata sialan itu.
"Sergio, apa kau baik-baik saja?"
Rakka menyentuh bahuku, sepertinya dia khawatir padaku. Aku menghela napas panjang, kemudian menatap Rakka dengan sebuah senyuman kecil.
"Rakka, aku baik-baik saja."
Rakka menatapku balik, mata kuning keemasannya memang menatapku khawatir, tapi aku rasa di dalam mata kuning keemasan itu terdapat sebuah kesedihan.
Bagaimana aku bisa tahu?
Entah, tapi aku merasakannya. Ya, aku merasakannya. Merasakan kesedihan tidak hanya pada Rakka, tapi Fahrez dan Orga juga.
Entah ini karena perjanjian darah itu, entahlah.
'Aku merasa ingin membunuh mereka.'
"Diam!"
Fahrez, Orga, dan Rakka terkejut mendengarku berteriak dengan suara membentak.
"Sergio, ada apa?" Tanya Orga.
Oke baiklah, aku membuat mereka khawatir saat ini. Tapi suara itu masih saja terngiang-ngiang seperti kaset rusak.
Tanpa sadar setetes air mata jatuh. Aku menangis, ya aku menangis saat ini.
"Sergio ada apa? Apa kami punya salah lagi padamu? Maafkan aku kalau aku ada salah Sergio!"
Tidak, ini bukan salahmu Fahrez. Aku mendengar Fahrez berucap panik. Mungkin jika keadaannya tidak seperti ini aku pasti sudah tertawa sekarang.
'Aku merasa ingin membunuh mereka.'
"Diam, diam, diam!"
Aku semakin mengetatkan cengkramanku pada kedua telinga. Aku berusaha menutup jalurnya, tapi percuma. Kalimat-kalimat sialan itu terus saja terulang-ulang.
Cukup, hentikan, aku tak ingin mendengarnya lagi.
Karena, sekarang aku merasa harus melakukan apa yang kudengar saat ini.
Ini sungguh sangat menyiksa, sungguh.
Samar-samar aku mendengar suara derit kursi kayu dengan lantai keramik. Tiba-tiba saja ada yang memelukku dari samping. Dia mengelus kepalaku dengan lembut, dia juga mengelus bahuku dengan lembut. Untuk sesaat aku merasa tenang. Sampai sebuah suara menginterupsi diriku.
"Sergio, kau tidak sendirian di dunia ini", Ini suara Rakka. "Jadi, aku harap kamu mau berbagi rasa sakit, senang, sedih, dan lainnya."
Aku menangis. Oh ayolah Sergio, saat ini kau terlihat seperti anak kecil yang cengeng.
Tapi biarlah, untuk sesaat biarlah aku menangis, melepas semua beban berat di kedua pundakku.
"Sergio, ketika kita bertemu kau sudah kuanggap sebagai keluarga," Aku mendongak dan menatap wajah Rakka yang tersenyum. Dia seperti mengingat masa lalu, terlihat dari caranya dia tersenyum.
"Kau salah Rakka," ini suara Fahrez. "Sejah awal Sergio adalah keluarga kita."
"Hmm...Sejak awal. Ya, sejak awal" Rakka mengangguk setuju pada Fahrez.
"Akupun begitu, Sergio" aku melihat Orga berjalan kearahku. Dia berhenti di sebelah Rakka, dan tanpa terduga dia--Orga berlutut dengan kaki kanannya, tangan kirinya mengepal di dadanya.
"Wahai tuanku, Tuan Sergio Vandelhein. Saya merasa tidak pantas mengatakan ini, tapi mohon maafkan saya yang meninggalkan anda ketika seharusnya saya berada di Bumi."
"Eh?"
Dan tiba-tiba saja Rakka juga menjauh. Aku berharap Rakka tidak akan melakukan hal yang sama seperti Orga, tapi sepertinya aku salah.
"Saya, sebagai penjaga anda juga merasa tidak pantas mengatakan hal ini, tapi maafkan saya yang telah membuat anda terluka dan membebani diri anda, Tuan."
Oke, sekarang aku berkeringat dingin. Aku merasa de javu. Oh iya, ini seperti dua hari yang lalu. Tapi saat itu aku tak merasa seperti ini. Saat ini aku panas-dingin, entahlah.
"Berhenti bertingkah seperti ini. Ada apa dengan kalian?"
Iya, ada apa dengan kalian. Biasanya kalian selalu berbicara dengan santainya padaku, bahkan ada seseorang yang sempat membangunkanku menggunakan sihir air.
Oh, apa aku merasa dendam?
Aku mendengar suara decitan kursi, kali ini aku menatap Fahrez yang sedang tersenyum lebar.
"Oh... Sergio, ini hanyalah penghormatan para penjaga pada Tuannya," dia berjalan kearahku, kemudian dia berlutut di sebelah Rakka.
Dengan senyuman lebar di wajahnya itu, Fahrez menunduk seakan dia--Fahrez memberikan penghormatan terdalam. "Tuanku, Kami adalah penjagamu. Nyawa kami berada di tangan anda, kami akan hidup selama anda tetap hidup, kami akan mengorbankan nyawa kami pada anda, melindungi anda hingga akhir hayat kami. Ini Sumpah kami."
"Ini sumpah kami pada anda."
"Ini sumpah kami pada anda, tuan Sergio."
Aku terdiam. Aku menatap satu-persatu wajah mereka, tapi tidak ada satupun yang mengangkat wajahnya seakan-akan takut pada diriku.
Hei, aku ini hanya manusia biasa, bukan Dewa atau lainnya!
Tapi, ketika aku mendengar ucapan Fahrez, bulu kudukku berdiri. Ya, aku merinding hanya dengan mendengarnya. Aku mendengar nada keseriusan dari Fahrez, walau senyuman lebar masih terpatri di wajahnya itu.
Aku tersenyum. Suara itu tidak terdengar lagi, suara yang memintaku untuk membunuh mereka bertiga.
Aku berdiri dari posisi dudukku, aku menghampiri mereka bertiga. Kemudian...
TAK...TAK...TAKK
"Aww....!"
"Ouch!"
"Aduh!"
Aku tersenyum puas melihatnya. Baiklah, sepertinya aku memiliki sisi psikopat. Baiklah lupakan pemikiran anehku.
Yang pertama kali protes adalah Fahrez, pastinya.
"Hei! Aku sedang serius!"
Aku tersenyum mengejek padanya. "Hah? Serius? Apa senyuman lebar di wajahmu itu kau anggap serius, HAH?"
Dengan mantap Fahrez menjawab. "YA! Ketika aku tersenyum lebar berarti aku serius! Astaga, kau jahat sekali pada diriku ini."
Aku menatal Fahrez yang masih bersungut-sungut ria. Kali ini aku menatap Orga dan Rakka. Mereka berdua hanya sedikit mengeluh dan sesekali mengelus kepala yang kupukul menggunakan sendok makan.
Iya sendok makan. Lebih tepatnya kugetok kepala mereka. Masing-masing satu getokan.
Aku tertawa puas di dalam hati. Biarlah aku menjadi jahat untuk sesaat.
"Uhh....kenapa kau melakukan hal ini?" Tanya Orga sambil mengelus dahinya yang memerah.
Aku menatap Orga. "Aku kesal dengan apa yang kalian lakukan". Aku kembali duduk di kursi, sedangkan mereka bertiga masih berlutut.
"Bukankah kalian berkata bahwa aku adalah keluarga bagi kalian, bukan?"
Mereka bertiga mengangguk setuju.
"Kalau begitu berhenti bertingkah seperti tadi. Jujur saja aku merasa ngeri dengan diriku sendiri."
Aku memasang ekspresi ngeri. Ya memang aku merasa ngeri dengan diriku sendiri. Demi apa sampai aku mendapatkan penghormatan seperti tadi.
"Tapi, kami memang penjaga dan pelayan bagimu" ucap Rakka dengan santainya.
Aku menatap tajam Rakka. Dan tiba-tiba saja Rakka menunduk.
"Apa perlu aku mengulanginya? Bukankah kalian menganggap aku keluarga kalian. Ohh...apa sebenarnya bukan? Aku kan hanya reinkarnasi Ilka. Ilka lah keluarga kalian yang sebenarnya. Aku benar bukan?"
Mereka bertiga menatapku dengan tatapan horror.
Aku tersenyum miring melihatnya. Melihat senyumanku mereka bertiga langsung berdiri.
"Baiklah, baiklah, maafkan kami" ucap Rakka dengan nada menyesal.
Aku menaikkan alis kananku, "untuk apa kamu minta maaf?"
"Ayolah Sergio, jangan membuatku semakin merasa bersalah."
Aku tersenyum sedikit mendengarnya. Orang ini tidak suka merasa bersalah pada seseorang, padahal bagiku ini hanyalah masalah kecil.
Aku mengangguk sekali, "Hmm...permintaan maaf diterima."
Rakka menatapku dengan senang. Entahlah, tapi yang kulihat di matanya seperti itu.
"Baiklah, kapan kita akan melakukan hal itu?"
Aku langsung bertanya intinya saja.
"Kita akan melakukannya di rumah Rakka," jawab Orga sambil menatapku.
"Ohh....Sergio, kamu harus melihat rumahnya seperti apa" ucap Fahrez dengan semangat.
Aku menatap Rakka, meminta penjelasan.
Rakka yang melihat tatapanku hanya tersenyum kecil sebelum menjawab. "Nanti kujelaskan."
Aku mengangkat kedua bahuku, "Oke, tidak masalah."