The Another Soul

The Another Soul
Ch. 46 [Ikatan]



'Jadi karena Zoe sudah berhasil, mari kita lakukan sekarang.'


'Kenapa kau jadi bersemangat?'


'Apa dirimu tidak bersemangat, Leviathan?'


Leviathan menghela napas. 'Orga, kau kekanak-kanakan.'


'Aku tidak ingin mendengarnya darimu.'


Ilka yang melihat reaksi mereka hanya tertawa kecil. Berbeda dengan Zoe yang sedikit terkejut. Dia masihlah baru di dalam kelompok ini.


'Sudah, sudah, ayo kita lakukan.'


Mendengar ucapan Ilka, Leviathan dan Orga langsung menuruti ucapan Ilka. Mereka berdua menghampiri Ilka dan Zoe yang sedang duduk di kursi batu.


Saat ini mereka berempat berada di padang rumput yang luas. Sinar matahari pagi membuat rumput yang terkena embun menjadi berkilauan.


Suasananya sangat sesuai dengan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


'Sekarang, aku ingin mendengar langsung dari mulut kalian sendiri.'


Mereka Leviathan, Orga, Zoe saling pandang.


'Kau ingin bertanya apa?' ucap Orga.


'Apa kalian sudah yakin?'


Mendengar perkataan Ilka, mereka bertiga tertawa.


'Hahahaha....Ilka, aku rasa kamu sudah terlambat menanyakannya.'


'Benar yang di ucapkan Levi. Sudah terlambat anda menanyakannya' ucap Zoe.


'Oh? Hahaha...aku...aku hanya memastikan saja.'


Ilka tertawa canggung.


Di hadapan mereka terdapat dua mangkuk kecil bewarna hitam.


'Kalau begitu aku mulai duluan.'


Ilka menggigit ibu jarinya hingga berdarah. Dia langsung mengarahkannya ke arah mangkuk kecil yang berada di hadapannya. Seketika mangkuk kecil yang berisi air itu berubah menjadi merah.


Setelah dirasa cukup Ilka menarik tangannya.


'Selanjutnya kalian.'


Mereka bertiga saling melihat. Menunggu seseorang yang akan mengajukan diri.


Setelah beberapa menit akhirnya Orga memutuskan untuk memulai.


'Kalian terlalu banyak berpikir.'


Zoe tersenyum kecut.


'Cepat lakukan saja. Jangan banyak bicara.'


Orga melirik tajam Leviathan.


Orga mengikuti apa yang di lakukan Ilka sebelumnya. Dia menggigit ibu jarinya, seketika mata Orga berubah menjadi merah menyala.


Tess...


Orga hanya memberikan setetes saja. Dia menarik tangannya kembali.


'Sudah, selanjutnya Zoe.'


'Hei seharusnya aku!'


Orga menatap malas Leviathan. 'Tak bisakan kamu membiarkan yang muda dulu?'


'Hei!'


Ilka tertawa melihatnya. Zoe seketika menjadi gugup. Ilka yang menyadarinya menepuk pelan pucuk kepala Zoe.


'Kalau kau tidak ingin melakukannya tak apa.'


Zoe menatap mata Ilka lama. Kemudian dia mengalihkannya.


'Ilka, aku akan melakukannya. Lagipula tidak ada yang bisa kulakukan lagi.'


Ilka tersenyum sedih.


Berbeda dengan cara Ilka dan Orga, Zoe lebih memilih mengiris jari telunjuknya menggunakan pisau lipat yang selalu dia bawa.


Zoe mengarahkan jari telunjuknya ke arah mangkuk kecil itu, anehnya darah Zoe terlihat cahaya hijau yang redup.


Dengan cepat Ilka menghisap jari telunjuknya. Dia tidak terlalu biasa mengiris jarinya sendiri.


'Hmm...aku yang mengakhirinya yah.'


'Cepat lakukan bocah.'


'Aku bukan bocah!'


Leviathan memprotes Orga. Sambil menggerutu Leviathan mengepalkan tangan kanannya. Kemudian dia mengarahkan tangan kanan-nya di atas mangkuk.


Beberapa detik kemudian keluar darah merah kehitaman. Setelah dirasa cukup Leviathan menarik tangannya sendiri, kemudian dia menjilati darah yang tersisa di tangan kanannya.


'Jadi disini aku akan menegaskan sesuatu.'


Ilka terdengar serius. Mereka bertiga berdiri tegak mendengar nada serius dari ucapannya.


'Ketika kalian meminum darahku, tidak ada kata mundur. Kalian adalah milikku. Hidup dan mati kalian berada di tanganku. Sekarang adalah saat yang tepat untuk mundur.'


'Uhh...sudah beberapa kali kami mendengarnya. Tak bisakah di percepat? Aku ingin menemui kekasihku.'


Ilka yang mendengarnya menjadi terkejut. 'Kau memiliki kekasih!'


Orga mengerutkan keningnya, heran. 'Kenapa? Apa menjadi masalah?'


'Ti-tidak. Tak kusangka orang sepertimu ternyata memiliki seorang kekasih.'


'Aku merasa tersinggung mendengarnya.'


'Ayo kita lakukan secepatnya, aku juga ingin menemui adikku.'


Kali ini Ilka tidak merasa terkejut. 'Levi, aku rasa hampir setiap hari kau menemui adikmu.'


Leviathan mengangkat bahunya ke atas. 'Aku kan seorang kakak.'


Ilka menghela napasnya. Mereka berdua terlihat tidak serius sama sekali. Ini membuat Ilka menjadi berpikir lagi.


Tiba-tiba saja Zoe mengambil mangkuk yang berada di hadapan Ilka.


'Ka-karena tidak ada yang memulainya duluan. Biar aku yang memulainya, boleh bukan?'


'Boleh juga kamu manusia' ucap Orga.


Zoe tersenyum kecil sebagai tanggapan.


Ilka tersenyum. Dia juga mengambil mangkuk yang berada di hadapan mereka bertiga.


'Kalau begitu akan kita mulai dari Zoe.'


Zoe mengangguk. Dia hanya perlu meminumnya sedikit karena darah ini akan dibagikan pada Leviathan dan Orga.


Zoe terkejut. Dia berpikir apa rasa darah memang semanis ini.


Setelah meminumnya seteguk dia langsung menyerahkan mangkuk kecil itu pada Orga.


'Aku selanjutnya? Baiklah.'


Orga menerimanya. Dia langsung meminumnya, Orga terlihat terkejut matanya melebar tak percaya. Belum lagi mata merahnya bersinar terang.


Setelah meminumnya dia tersenyum miring.


'Rasanya aku ingin meminumya langsung dari orangnya.'


'Orga, hentikan pikiran burukmu itu.'


Ilka merasa dirinya terancam melihat senyuman Orga.


'Selanjutnya aku!'


'Hei!'


Leviathan merebut mangkuk kecil itu dari tangan Orga. Tanpa berkata apapun dia langsung menegak habis darah itu.


'Oh, jadi ini rasa darahmu.'


Ilka tidak berkomentar apapun. Dia cukup senang melihat tiga pemuda yang mampu meminum darahnya tanpa masalah.


Ilka mengambil mangkuk kecil yang berada di hadapannya.


'Kalau begitu, kita adalah keluarga sekarang.'


Ilka langsung meminum darah yang ada berada di dalam mangkuk. Seketika di dalam pikirannya muncul ingatan yang pastinya bukan miliknya.


Setelah selesai meminumnya, dia menutup matanya sejenak. Sebetulnya dia merasakan rasa sakit yang luar biasa, tapi dia berusaha menahannya.


Setelah rasa sakitnya berkurang, Ilka membuka matanya.


Dia tersenyum.


'Levi, Zoe, dan Orga. Mulai sekarang kita adalah keluarga. Jadi jangan pernah melupakan keluargamu, oke.'


Mereka bertiga tersenyum.


'Tentu saja aku tak akan melupakannya.'


'Sudah pasti kita tidak akan melupakannya.'


'Ilka kamu tenang saja. Aku pasti akan mengingatnya.'


Mendengar ucapan mereka bertiga membuat Ilka tersenyum senang.


'Pastikan kalian mengingatnya selalu.'


|°°°°°°°|


"Sergio bangun, ini sudah pagi loh!"


Aku membuka mataku perlahan.


"Bagus. Bukankah hari ini kau akan melakukannya?"


Aku masih mengumpulkan kesadaranku. Sebenarnya aku masih mengantuk, tapi aku tak ingin kejadian Rakka yang membangunkanku menggunakan sihir terjadi lagi.


Aku bangun sambil mengusap mata kiriku. Kemudian aku menguap lebar. Serius, aku masih merasa mengantuk.


Ketika aku ingin tidur kembali, dia menarik tanganku.


"Hei! Jangan tidur lagi! Astaga, apa yang di katakan Rakka memang benar. Kamu itu paling susah bangun di pagi hari."


"Fahrez, aku ingin tidur."


"Hei! Tidak biasanya kau seperti ini. Bukankah biasanya kau bangun jam lima pagi?"


Aku terdiam. Apa yang di katakan Fahrez memang benar. Biasanya aku memang selalu bangun jam lima pagi, tapi semenjak aku tinggal di sini aku selalu telat bangun.


"Baiklah, tunggu di ruang makan lima menit lagi."


Fahrez melepas tanganku. "Kau harus cepat. Ada yang ingin kita ceritakan juga padamu."


Aku mengangguk.


Fahrez kemudian pergi dari kamarku. Aku masih duduk di atas kasur. Aku mengusap wajahku kemudian menghela napas panjang.


"Apa yang tadi itu mimpi?"


Aku berjalan ke arah kamar mandi dan mulai membasuk wajahku. Aku tak perlu mandi karena aku harus cepat.


Setelah aku mengeringkan wajahku menggunakan handuk, aku langsung keluar dari kamar.


Terdengar suara canda tawa di ruang makan.


Sedikit heran mendengarnya karena kemarin mereka sempat bersitegang satu sama lain.


"Oh Sergio, akhirnya kau bangun."


Aku sampai di ruang makan. Yang menyapaku barusan adalah Orga. Setelah Orga berkata seperti itu mereka semua melihatku.


Aku langsung duduk di kursi meja makan. Di sebelahku ada Rakka yang memandangku.


"Sudah nyenyak tidur? Tak kusangka kau akan tidur selama dua hari."


Aku mengerutkan keningku. "Du-dua hari?!"


Serempak mereka bertiga mengangguk bersamaan.


"Ya. Dua hari. Aku tak menyangka dampaknya akan sebesar ini."


Fahrez berucap dengan santainya. Aku terdiam mendengarnya, berusaha mengingat apa yang terjadi.


"Kau langsung pingsan setelah mengucapkan hal itu."


Rakka sepertinya tahu dengan apa yang kupikirkan sekarang.


Tapi aku merasa ada yang aneh.


"Karena Sergio sudah bangun, ayo kita beri dia makan sampai puas!"


Orga mengucapkannya dengan semangat. Aku tersenyum kecil melihatnya. Tiba-tiba aku mengingat ada yang kurang.


"Orga, dimana Reina?"


Orga yang sedang memakan roti langsung menjawab. "Dwia...glup...dia kusuruh untuk menggantikanku di kantor."


Aku mengangguk mengerti.


"Kau tidak ingin makan?" Tanya Rakka.


"Tentu saja ingin, tapi aku ingin mendengar apa yang ingin di ceritakan oleh kalian."


Mereka bertiga saling menatap satu sama lain, seperti meminta atau menunggu seseorang yang akan bercerita duluan.


"Begini, Sergio, kami akan menjelaskan tentang perjanjian darah."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=