
"Gryphon!"
KAAKK....!
Hembusan angin yang lembut dan suara pekikan khas burung membuat aku terpana.
Ya terpana.
Dengan hewan yang memiliki kepala burung rajawali, tubuh singa, dan sayap lebar dan terlihat sangat besar dengan bulu bewarna coklat kemerahan.
Gryphon, itu sebutannya di duniaku.
"Apa dia dulu sebesar ini?" Ucap Fahrez di sebelah kiriku.
"Kurasa....dia tidak sebesar ini?" jawab Rakka dengan ragu di sebelah kananku.
"Daripada kalian memikirkan hal yang tidak berguna, sepertinya kau harus lari, Rakka" ucap Orga sambil menatap Gryphon yang saat ini sedang ma....rah?
"Eh? Tu-tunggu, Grey! AHHH....AKU MINTA MAAF!!"
Dan terlihatlah aksi kejar-kejaran antara tuan dan peliharaan. Entah kenapa aku tidak merasa kasihan sama sekali.
Malah aku senang?
Uhhh.... Sergio, kau memang aneh.
Gryphon masih mengejar Rakka seperti ada dendam kesumat pada tuannya. Mereka berlari-- ralat, Gryphon dengan sayapnya mengejar Rakka yang saat ini berlari dengan panik.
"GREY! AYOLAH SUDAHI KEJAR-KEJARAN INI!"
Sepertinya Rakka mencoba untuk bernegoisasi pada peliharaannya yang saat ini sedang marah besar.
Dan...
KAAAKKKAAKKK....!
Apa itu artinya ya atau tidak?
Tapi menurutku Gryphon menjawab 'tidak'. Karena saat ini Gryphon masih mengejar Rakka dengan ganas.
"Hahahaha.... Rasakan itu!"
Aku mendengar Fahrez tertawa, dan Orga juga terkekeh kecil.
"SERGIO BANTU AKU!"
"Aku? Bukankanya dia hewan peliharaanmu?"
"Yahh...memang Gryphon itu adalah milik Rakka," ucap Orga. "Tapi entah kenapa, sedari dulu Gryphon hanya menuruti perkataan Ilka."
Aku mengangguk paham.
"Tapi entah kenapa aku menikmati aksi kejar-kejaran ini. Apa kalian juga?"
Mereka berdua mengangguk, mengiyakan perkataanku. "Ya, aku cukup senang dengan Rakka yang di kejar-kejar seperti ini."
"Benar kata Orga, ini karma baginya."
"AKU MENDENGARNYA WAHAI KAWAN-KAWAN--HUWAA....GREY BERHENTI MEMATUK KEPALAKU!!"
"Sergio, tolong suruh Grey untuk berhenti. Jika terlalu lama bisa-bisa Rakka menjadi bodoh" ucap Fahrez.
Dan aku merasa yang paling bodoh adalah kau disini.
Aku menghela napas, jadi? Bagaimana caranya membuat Grey berhenti?
Hmm... Abracadabra? Burnheitstarderbundierheit?
Hmm....
"Grey, berhenti."
SYUHH....!
Ajaib. Hanya satu kata dia langsung berhenti. Kemudian Grey terbang menghampiriku, dan....
"Eh? H-hei berhenti! GREY BERHEN-"
BRAKK....
Aku terjatuh kebelakang dengan Grey yang mengelus kepalanya di tubuhku.
Tunggu? Sejak kapan Gryphon kupanggil Grey?
"Haahh....aku iri melihatnya."
Terdengar suara lelah dari Rakka yang saat ini sedang mengelap keringat yang terus berjatuhan.
Fahrez menyipitkan matanya, "Kalau kau iri, jadilah majikan yang baik bagi Grey."
Orga mengangguk membenarkan, "Benar sekali. Bahkan majikannya meninggalkan peliharaan nya di sini selama ra-"
"Ra?"
"Selama Rakka pergi ke Bumi!" ucap Orga cepat.
"Ohh begi- ahahahahah....! Grey itu geli!"
Aku tertawa karena Grey mengeluskan kepalanya ke leherku, dan leherku merupakan daerah sensitif. Jadi aku merasa geli.
Aku memeluknya, dan Grey menjadi tenang.
"Grey, aku pulang."
Kakkkakkk...!
Aku tersenyum kecil. "Kuanggap kau berkata 'Selamat datang kembali'."
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Hei Rakka, apa benar disini tempatnya?"
"Iya benar, kenapa?"
Aku menggaruk belakang kepalaku yang tak gatal. "Yahh... Bukankah disini sangatlah berdebu?"
Ya, saat ini kami berlima-- Grey ikut kesini, sedang berada di lab yang super duper menyeramkan.
Tempat yang sangat gelap dan dipenuhi oleh debu. Belum lagi sarang laba-laba yang membuat tempat ini semakin mencekam.
Dan di lab ini banyak benda-benda asing dan aneh yang membuatku mengernyitkan dahi.
"Tenang Sergio, kamu akan tahu nanti."
Aku memiringkan kepalaku ke kanan, tanda bingung.
Tak lama Rakka berucap seperti itu, ruangan yang awalnya kukira hanya ruangan kecil sekarang bertambah besar dengan sendirinya. Satu persatu lampu neon bewarna putih menyala di ruangan besar ini.
Aku berputar melihat sekelilingku, sedikit terpana dan juga sedikit merasa aneh.
Entahlah, aku merasa seperti pernah mendatangi tempat ini.
Apa karena aku reinkarnasi Ilka?
Tidak, kurasa bukan itu.
Tapi apa?
Aku tersentak kaget ketika Orga menyentuh bahu kananku.
Apa aku melamun?
"Tidak. Tidak ada."
"Kau terlihat serius sekali. Apa mungkin kau takut?"
Aku menoleh kearah Orga. "Apa rasa sakitnya sangat mengerikan?"
"Hmm.... Kalau untuk seukuran manusia biasa sepertimu pasti.... Sangat, sangat, sangatlah menyakitkan" ucap Orga dengan nada serius.
Aku menelan ludahku sendiri. "Apa aku harus berubah menjadi monster dulu baru bisa tidak merasakan rasa sakit yang kamu bilang tadi?"
Orga terdiam mendengarnya. "Apa kau menganggap kita seperti monster?"
Kali ini aku yang terdiam. "Bagiku.... Yang saat ini hanyalah manusia biasa. 'Ya' aku menganggap kau dan mereka-- Rakka dan Fahrez, adalah monster."
Orga terdiam mendengar perkataanku. Dia melihatku, seperti mencari kebenaran dari ucapanku. Namun, tiba-tiba saja Orga tertawa kecil.
"Fuhh....Hahahahaha..... Sergio, sepertinya kau masihlah belum percaya pada kami."
Seketika aku menjadi gugup mendengarnya.
Orga berhenti tertawa, tatapannya melembut ketika menatapku. "Kau memang tidak salah mengatakan kami adalah monster, tapi perlu kamu ketahui..." Orga berjalan mendekatiku, kemudian berbisik di telinga kananku. "Monster sesungguhnya adalah...."
Aku meneguk ludahku sekali lagi ketika mendengar ucapan Orga.
"Ilka, dan selanjutnya adalah dirimu sebagai monster. Sergio Vandelhein," Ucap Orga dengan nada serius.
Orga kemudian berjalan mundur, dan menatapku dengan senyuman kecil.
"Kuharap kau tidak merasa terganggu ketika mendengarnya."
Aku mengepalkan kedua tanganku, memantapkan hatiku yang sempat merasa takut hanya karena mendengar kata 'monster' dari Orga.
"Orga" panggilku.
"Hmm....? Ada apa?"
"Terima kasih."
Orga menaikkan alisnya, tanda ia bingung. "Terima kasih untuk apa?"
Aku menatap mata merahnya dengan serius. "Terima kasih telah mengatakannya padaku. Bahwa aku adalah monster selanjutnya, terima kasih."
Kali ini mata merahnya menunjukkan kebingungan. "Kau serius mengatakan hal itu? Bukankah harusnya kamu marah?"
Aku tersenyum, "Untuk apa marah? Kau mengakui bahwa kamu dan mereka berdua-- Rakka dan Fahrez, adalah monster. Itu berarti aku tidak tertinggal. Aku sama seperti kalian, aku adalah 'Monster' yang masih butuh latihan dan pelajaran."
Orga yang mendengar ucapanku tersenyum miring. "Hooohh.... Kau manusia yang menarik."
"Terima kasih pujian-nya."
"Hoiii... Kalian berdua, cepat kesini! Kita akan memulainya!"
Kita berdua menoleh ke asal seuara, dimana Fahrez sedang duduk bersila dan Rakka yang berdiri di sampingnya.
Terlihat tabung kaca besar yang berada di tengah-tengahnya, dan ada ukiran rune bewarna merah, hijau, dan biru yang membentuk lingkaran dengan tabung kaca menjadi pusatnya.
Aku menghela napas sesaat.
Ini saatnya.
Untuk sesaat aku merasa gugup, tapi aku mengingat percakapanku dengan Orga sebelumnya.
"Monster sesungguhnya adalah...."
...Ilka, dan selanjutnya dirimu sebagai monster. Sergio Vandelhein."
Aku tersenyum lebar. Ya, aku adalah monster. Monster yang belum lahir.
Dan monster ini menunggu untuk di lahirkan ke dunia ini, saat ini juga.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°°||
Author Note:
HUWAAA MAKASIH SEMUANYA ATAS 500 VOTENYA!
Seneng banget pas ngeliat like atau votenya dah nyampe 500. *Menangis bahagia sayaa
Yoshhh... Karena Author nganggur jadi author up nih...
Ada yang kangen?
Sepertinya tak ada T__T
Oh iya, chapter selnlanjutnya mungkin adalah arc terakhir dari 'arc: Pengenalan'
dan kita lanjut kembali dengan Arc akademi.
Selanjutnya akan bertemakan sekolah dan akademi akademi gitu.
Kayak assasination classroom, maou gakuin futegakishou, clasroom of the elite, dan lain-lain.
Intinya tentang sekolah.
Abis chapter 51 baru ada ilustrasi tokoh.
Terimakasih yang sudah membaca The Another Soul sampai sini. Author sangat menghargainya.
Oke segitu aja Author Note kali ini.
Bye-bye
Salam manis
Raiyu