The Another Soul

The Another Soul
Ch. 68 [Permintaan II]



"Aku hanya memintamu untuk menemaniku hari ini."


"Tidak! Aku harus sekolah!"


"Kau kan bisa membolos."


"Heh. Aku baru masuk satu hari, setelah itu aku membolos?"


"Bukankah hal itu merupakan suatu hal yang biasa di kalangan anak muda?"


"Maaf nona. Tapi saya lebih memilih pergi ke sekolah daripada menemanimu seharian penuh."


Perdebatan panas terjadi di meja makan.


Sergio yang kekeh tak ingin menemani Dewi Nyra. Dan Dewi Nyra yang memaksa Sergio untuk menemani dirinya selama jam sekolah.


Sebenarnya Sergio benar. Ia tak ingin jam sekolahnya terganggu.


Tapi Dewi Nyra tidak menerima penolakan dari mulut Sergio.


Benar-benar ciri khas dari seorang Dewi.


Orga, Fahrez, dan Rakka hanya memakan sarapan mereka dengan tenang (Lebih tepatnya mencoba untuk tenang.)


Bayangkan saja. Aura membunuh terus menguar dari seorang Lafi Rior. Ium Dewi Nyra.


Dan tentu saja Sergio tidak menyadarinya. Kejadian ini sama persis seperti kejadian di restoran. Dimana Sergio pertama kali bertemu dengan Dewa Agni.


Yang dimana Natili menguarkan aura pembunuh yang besar hanya karena mengata-ngatai Dewa Agni.


Tapi anehnya Sergio terlihat tidak peduli. Entah dia merasakan nafsu membunuh itu atau tidak.


Tapi yang pasti. Sergio suka sekali mencari musuh baru.


"Kalau begitu aku akan menyamar menjadi murid di sekolahmu!"


"Serah kau saja!"


Dan perdebatan ini pun berakhir dalam sekejap.


Benar-benar bocah.


Fahrez mengambil potongan besar pancake yang dilumuri dengan madu. Ia memakannya dalam sekali suapan. Kemudian ia menguyahny dengan khidmat. Terlibat tidak peduli dengan aura penuh ketegangan yang ada di meja makan.


"Makanan manis~ manis~ aku suka sekali pancake~"


Fahrez bahkan membuat lagu dadakan tentang pancake buatan Rakka. Terlihat seperti anak kecil memang, tapi terlihat sedikit mencairkan suasana.


.


.


.


.


"Pagi Argen."


"Pag- UWAA....! Ada apa dengan wajahmu?!" kaget Argen.


Sergio yang baru saja tiba di sekolah setelah perdebatan panjang telah mendapatkan lima cap jari pada pipi sebelah kanan.


Sergio mengelusnya pelan. Masih sedikit nyeri.


Ia tidak mengetahui bahwa kekuatan Dewi Alam memang tidak bisa di remehkan.


Ya. Yang menampar Sergio adalah Dewi Nyra yang kesal karena semua argumen-nya di tentang oleh Sergio.


"Ada nyamuk di wajahku" jawab Sergio ngasal.


"Itu tidak mungkin! Pasti kau di tampar wanita kan?"


'Benar sekali.'


Sergio melirik Argen dengan tajam, "Apa kau bisa membaca pikiranku?"


Argen tertawa mendengar ucapan polos dari Sergio. "Ternyata benar seorang wanita. Apa yang sudah kau perbuat, huh? Berselingkuh?"


"Apa aku sebejat itu?!"


Argen mengangkat kedua bahunya, "Siapa tahu saja, kan? Diluar terlihat kalem, tapi di dalam playboy kelas kakap."


BUKK...


"Sakit!"


Sergio mendengus. Ia baru saja memberikan sebuah tinjuan ke arah perut Argen. Tentu saja hanya tinjuan main-main.


Tapi tetap saja terasa sakit.


"H-hari kedua. K-kau sudah memukul orang ugh..."


"Kau yang memulai duluan."


"Lihat Atra. Kedua lelaki yang membahas suatu hal aneh."


Mereka berdua langsung menoleh ke asal suara-- di belakang Sergio yang masih berdiri di dekat meja.


Deiva dengan aura suramnya serta mata kuning emasnya menatap Sergio dengan tajam.


Atra di belakangnya tersenyum kecil melihat reaksi sahabat dekatnya ini.


"Pagi Sergio" sapa Atra ramah.


"Pagi" balasnya.


"Hanya Atra yang kau sapa?" ucap Deiva ketus.


Sergio menatap datar Deiva, kemudian "Memangnya kamu menyapaku terlebih dahulu?"


Baiklah Sergio. Sepertinya kau meminta perdebatan panjang part 2. Benar-benar suka sekali mencari musuh.


"Hei Dei. Bagaimana dengan tugas yamg diberikan oleh sir?"


Deiva melirik Argen "Tentu saja-"


"Dia belum mengerjakannya. Aku yakin itu" potong Atra.


"Atra!" protes Deiva.


Argen tersenyum mengejek pada Deiva, "Hukuman apalagi yang akan kau dapatkan kali ini? Aku penasaran."


"Mungkin hanya disuruh duduk seharian di sebelah sir."


Deiva memutar bola mata, jengah dengan sindiran-sindiran teman sepermeja-an ini. "Dia terlalu bernafsu."


Atra dan Argen memandang Deiva seperti 'Kau bercanda!' seperti itulah yang terlihat pada kedua mata mereka.


Sedangkan Sergio yang berada di tengah-tengah mereka hanya bisa mengerutkan dahi disini.


Siapa yang sedari tadi dibahas oleh ketiga teman barunya ini?


"Deiva! Calon suamimu telah datang!" ucap salah satu siswi yang ada di kelas ini.


Wajah Deiva langsung memerah begitu saja. Terlihat seperti marah dan malu.


Sergio mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk kelas.


Tap... Tap...


Sergio merasakan sebuah aura yang tidak dapat dijabarkan oleh dirinya. Terlihat agung, dan.... Bercahaya. Tapi ada sedikit aura yang membuat siapapun nyaman.


Pria itu memiliki rambut panjang sebatas bahu dan dibiarkan tergerai begitu saja. Warna rambutnya yang bewarna hijau gelap terlihat serasi dengan mata kuning emasnya. Belum lagi kulit putih pucat dan rahang tegasnya memberikan kesan tersendiri.


Sergio kemudian melirik Deiva yang dimana wajahnya masihlah memerah.


'Hmm.... Mereka cocok' pikir Sergio.


KYAAAA...~


Suara pekikan para siswi memenuhi kelas. Sedikit membuat Sergio terkejut dengan apa yang terjadi sekarang.


Dengan perlahan pria itu berjalan ke arah Deiva. Tatapan nya tidak pernah lepas dari Deiva yang hanya diam membelakangi pria yang hanya Sergio saja yang tidak kenal.


Atra menyingkir dari jalan pria itu. Ia tersenyum ketika pria itu menatap punggung Atra lembut.


"Salam, nona Deiva Rekka Fafri yang terhormat. Saya, Veus Raque Bratna memberi salam kepada anda."


Pria itu membungkuk ala bangsawan. Terlihat tulus dengan sebuah senyuman yang masih terpatri di wajahnya.


Menurut Sergio Pria itu-- Veus, sedikit mirip dengan penjaganya-- Rakka.


Sama-sama ramah, tapi keramahan itu ada sesuatu di baliknya.


Sergio menyadari hal itu.


Sergio melirik Deiva yang masih terdiam membelakangi Veus.


Sekarang, apa hubungannya dengan calon suami yang tadi diberitahu oleh salah satu siswi di kelas ini?


"Tuan Veus yang terhormat" ucap Deiva yang masih membelakanginya.


"Ya" responnya.


Deiva melirik tajam Veus, "Sudah kukatakan berapa kali."


"Hm?"


"JANGAN MEMBERI HORMAT TERUS MENERUS KETIKA KITA BERTEMU TUNANGAN SIALAN!!!"


Sergio, Argen, Atra serta beberapa siswa-siswi yang berada di kelas itu langsung menutup kedua telinga mereka.


Suara teriakan dari Deiva sangatlah nyaring. Bahkan menggema di kelas yang besar ini.


Veus? Dia masihlah menatap Deiva dengan lembut walau dari wajahnya dia terlihat shock.


Dan tunggu dulu? Kata Deiva Veus adalah tunangannya Deiva?


"HEH?! Kau memiliki tunangan!" kaget Sergio.


Argen tertawa keras mendengar nada kekagetan dari Sergio. "Ahaha... Kau pun sampai terkejut seperti itu."


"Maaf nona, aku-"


"Panggil namaku. Jangan nona, nona, dan nona! Itu menyebalkan Veus!" kesal Deiva.


"Ta-tapi-"


"Masa bodoh dengan keluarga. Kau calon suamiku."


""KYAAA....~""


"Diam!" teriak Deiva kesal ketika mendengar para gadis-gadis kembali berteriak.


Sungguh, suara itu sangatlah menyebalkan dan mengganggu bagi Deiva.


"Ba-baiklah non-"


Lirikan tajam didapatkan oleh Veus. Seketika Veus kicep dan mengubah panggilannya "Deiva."


Deiva mengangguk-angguk senang. Ia senang ketika pria yang memiliki title sebagai tunangan nya itu memanggil namanya dengan malu-malu.


Umm... Entah kenapa mereka berdua seperti memiliki kepribadian yang terbalik?


"U-um Sir, sepertinya anda melupakan saya disini."


Veus tersentak "Astaga!" ia langsung berdiri dan berjalan kembali ke arah podium. Beberapa siswa dan siswi pun baru menyadari bahwa ada satu orang yang berdiri di podium dengan memakai seragam akademi mereka.


Mata hitam Sergio menyipit. Terlihat mengenali gadis yang sekarang berada di podium berdiri dengan tenang, tapi di matanya terlihat gugup.


"Maaf, maaf, aku terbawa suasana" ucap Veus.


Gadis itu tersenyum maklum, "Tak apa" ujarnya lembut.


"Jadi semuanya. Saya mewakili sir Galeon akan memperkenalkan siswi baru di akademi ini."


Sergio memijit pangkal hidungnya. Terlihat ia sedikit pusing dengan gadis yang ada di podium itu.


"Eh Sergio. Bukankah dia..." ucap Atra sedikit mengingat-ingat siapa gadis yang ada di podium itu.


"Bukankah dia Yarn?" ucap Deiva.


"Ahhh... Iya! Yarn! Gadis yang mengaku bermain game pou waktu itu kan, Sergio" ucap Argen.


Sergio menghela nafas berat. Dirinya sungguh tidak menduga hal ini. Sungguh tidak menduganya kawan-kawan.


"Silahkan perkenalkan dirimu" ucap Veus.


Gadis itu-- Yarn maju selangkah. Rambut hitam gelapnya ia ikat ponytail, dan juga bola matanya juga bewarna hitam. Terlihat berbeda dengan penampilannya yang asli.


"Perkenalkan, namaku Yarn Rior. Salam kenal semuanya."


Sergio membelalakkan kedua matanya.


Seorang Dewi menyamar dengan menggunakan nama keluarga kedua iumnya.


Benar-benar


Nekat!


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°||



288 kata