The Another Soul

The Another Soul
Ch 41 [Penyembuhan]



"Membakarnya."


"Eh? Apa kau ingin membunuh mereka!"


"Eh?" Ankaa yang mendengarnya menjadi bingung, tapi kemudian dia tertawa. "Hahahaha....aku tidak mungkin membunuh penjagamu, Sergio."


"Jadi?"


"Maksudku membakarnya adalah membakar es Cocytus yang ada di tangan dan kaki mereka. Kalau dibiarkan lebih lama tubuh mereka akan membeku kemudian mati."


Aku menatap Fahrez dan Orga.


"Apa yang di katakan Ankaa memang benar. Bahkan saat ini aku merasakan dingin di lutut kanan ku" ucap Orga.


"Aku juga merasakannya" Sergio menatap Fahrez. "Saat ini rasanya sudah mencapai leherku. Dan ini dingin."


"Lihat. Aku akan menyembuhkan mereka dulu, baru kau."


"Oke, aku mengerti. Lakukan secepatnya Ankaa. Aku tak ingin mereka mati dengan cepat."


"Jangan memerintahku!"


Aku mengangkat bahuku ke atas, tidak peduli dengan protes Ankaa.


"Baiklah, kalian kesini."


Fahrez dan Orga maju ke hadapan Ankaa.


Ankaa menutup matanya, tongkat yang berada di tangan kanannya ia hentakkan ke lantai. Di bawah kaki Fahrez dan Orga muncul lambang burung Phoenix dan seketika muncullah kobaran api.


Aku, Rakka, dan Reina terkejut.


"Hei!"


"Tenang saja Sergio. Api ini tidak panas."


"Eh? Kalian tidak apa-apa di sana?" Tanya Rakka.


Aku terkejut ketika mendengar suara yang sangat tenang di balik kobaran api. Suara itu milik Orga.


"Rakka, kau terlalu meremehkan kami. Kau tentunya tidak lupa dengan ras kami bukan?"


"Oh iya, aku lupa" Rakka menepuk keningnya.


Sergio menatap Rakka, meminta penjelasan darinya.


"Kau tidak tahu ras Orga bukan?"


Aku menggelengkan kepalaku. Yang ku tahu Fahrez adalah Demi-human. Setengah iblis dan setengah manusia.


"Kupikir Orga sama seperti kita."


Aku merujuk pada Rakka dan Reina. Reina yang mendengarnya tertawa. Aku mengangkat alisku, menatapnya heran.


"Maaf tuan. Tapi saya juga bukan manusia."


"Eh? Kau bukan manusia? Jadi kau ras apa?"


Aku bertanya karena penasaran.


"Anda benar-benar ingin tahu?"


"Sangat, sangat, ingin."


"Baiklah."


Tiba-tiba saja rambut Reina yang sebelumnya bewarna ungu berubah menjadi merah. Di mulutnya muncul dua taring yang terlihat tajam.


"Ini wujud asliku."


Aku terdiam. Jujur saja aku terkejut dengan perubahan Reina.


"Kau vampire?"


Reina kembali ke penampilan sebelumnya. Aku menjadi lebih tenang melihatnya.


"Ya. Aku dan tuan Orga adalah ras Vampire."


"Kalian meminum darah?"


Reina tertawa mendengarnya. "Hahaha....itu sudah pasti tuan. Tapi di sini ada tempat khusus bagi ras kami kalau ingin meminum darah. Dan setiap bulan jumlah kantung darah yang diberikan juga di batasi."


"Bahkan ada sistem seperti itu?"


Aku kagum dengan pemikiran orang itu. Aku membayangkan bahwa Vampire harus minum dari manusia. Aku menyentuh leherku. Oke perasaan waspada ini terlalu berlebihan. Tak mungkin mereka berdua akan menghisap darahku.


"Tenang saja tuan. Kami tidak akan meminum darah langsung dari manusia. Itu terlarang di benua ini."


"Entah kenapa aku merasa tenang mendengarnya."


Reina tertawa lagi. Aku tak pernah melihat Reina tertawa sebanyak ini. Dan juga wajahnya cukup manis kalau tertawa.


"Hmm...apa ini? Kalian tertawa tanpa diriku."


Aku mengalihkan perhatianku. Aku menatap Fahrez dan Orga yang berada di hadapanku. Mereka terlihat baik-baik saja, mungkin.


"KYAAA...ORGA PAKAI PAKAIANMU SEKARANG JUGA!"


Ya. Pakaian mereka terbakar. Sekarang tubuh telanjang mereka berdua terekspos begitu saja. Belum lagi Reina disini satu-satunya wanita.


"Hohoho....sudah lama aku tak melihatmu malu-malu begini."


Orga malah menggoda Reina. Saat ini Reina menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Terlihat wajahnya memerah padam.


Aku melempar bantal sofa ke arah Orga dan Fahrez. Mereka berdua menangkapnya.


"Tutupi saja bagian bawah kalian. Aku kasihan pada Reina."


"Sergio, aku masih ingin menggoda Reinaku yang manis ini."


"Orga! Aku akan membakarmu jika kau terus disini!"


Bukannya takut, Orga malah tersenyum senang. "Jika kau ingin membakarku akan kutunggu, my sweet."


"ORGA!"


"Oke, oke, aku pergi."


Orga sudah menyerah. Dia tidak ingin Reina menjadi marah karena dia tidak menuruti ucapannya.


Orga pergi ke kamar. Sepertinya kamar Fahrez. Kemudian aku menatap Fahrez yang sibuk menggerakkan tangan kanannya.


"Ada apa?"


Fahrez menoleh padaku. "Oh...entah kenapa aku merasa tangan kananku semakin kuat."


"Tentu saja semakin kuat. Apiku itu menyembuhkan dan menguatkan. Tanganmu sekarang dua kali lipat lebih kuat dari yang sebelumnya."


Ankaa duduk di salah satu sofa. "Selanjutnya kau, dan kau" tunjuk Ankaa pada Rakka.


"Aku?"


Rakka menunjuk dirinya sendiri.


"Iya kau. Gunakan sihir teleportasi pada kita. Kita akan ke kamar Sergio."


"Untuk apa?"


"Bisa jangan banyak bertanya. Lakukan saja apa yang kuperintahkan."


"Baiklah [Teleport]!"


||°°°°°°°°||


BRUKK...


"Aww...bisakah kau menteleportasi dengan sofanya juga."


Aku melayangkan protes pada Rakka. Saat ini kakiku masihlah membeku, jadi aku masih belum bisa bergerak dengan leluasa.


"Maaf, sini kubantu."


Rakka membantuku berdiri. Dia menaruhku di kasur yang sudah sangat dingin.


Aku memperhatikan kamarku. Sebenarnya apa yang telah kulakukan?


Tidak bukan. Lebih tepatnya, apa yang dilakukan Kaeiru?


"Dia selalu saja membuat masalah."


Aku mendengar Ankaa sedang menggerutu.


"Apanya?"


Ankaa menatapku. Dia terlihat kaget. "Tidak, bukan apa-apa. Sekarang aku akan melelehkan es di kakimu juga disini."


Aku mengangguk setuju.


Tak lama kemudian kobaran api merah membakar kamarku. Es di kamarku mecair dan menjadi air. Tapi air itu berubah menjadi uap seketika.


Bukankah itu berarti api Ankaa sangat panas.


Tapi kenapa aku tidak merasa panas sedikitpun?


"Kau pasti bingung bukan?"


"Ya. Bisa kau jelaskan."


Rakka mulai menjelaskan padaku. "Api Phoenix. Api ini adalah api terpanas urutan kedua. Ada yang bilang api ini mengikuti keinginan penggunanya. Jika penggunanya hanya ingin membakar rumput tapi tidak ingin membakar bunga yang tumbuh indah, itu bisa dilakukan. Tapi pengendaliannya sangatlah rumit. Hanya orang-orang yang telah berlatih selama bertahun-tahun baru bisa mengendalikannya."


Aku mengangguk mengerti. Jadi jika Ankaa mau, dia bisa saja membakar diriku sekarang. Benar-benar kekuatan yang mengerikan.


"Tapi kenapa tadi Ankaa membakar semua pakaian Orga dan Fahrez?"


Rakka mengerutkan keningnya. "Aku juga baru menyadarinya."


"Itu karena aku hanyalah klon."


Aku menatap Ankaa. Sepertinya sudah selsai. Aku memperhatikan kamarku, dan aku tidak melihat satupun es. Rasanya kamarku menjadi sedikit lembab.


"Aku mengerti" Rakka mengangguk mengerti.


"Apa? Apa yang kamu mengerti?"


Rakka menatapku. "Ankaa hanyalah klon. Itu berarti kekuatannya tidaklah besar. Aku rasa kenapa pakaian Orga dan Fahrez terbakar itu semua karena Ankaa saat itu tidak terlalu bisa mengendalikan kekuatannya. Jadi dia sengaja membakar pakaian mereka, hanya sebagai peralihan."


"Benar sekali. Karena hanya membakar es yang ada di kaki dan tangan mereka, aku menjadi sulit mengendalikan api Phoenix. Berbeda dengan sekarang. Aku membakar kamarmu, ruang lingkup yang luas menjadi mudah untuk mengendalikannya."


"Ohh....aku tak mengerti, tapi yasudahlah. Terima kasih."


Ankaa menatapku kesal. "Aku merasa sangat kesal mendengarnya. Sekarang aku akan memberitahukan sesuatu padamu."


Ankaa menunjuk diriku.


"Apa?"


"Tapi sebelum itu, dia harus keluar dari kamar ini."


"Eh? Kenapa aku tidak boleh mendengarnya?"


"Kau akan kupanggil nanti. Sekarang aku hanya ingin berbicara dengan Sergio."


Rakka menatapku, aku hanya mengangguk. Meyakinkan dirinya untuk mengikuti ucapan Ankaa.


"Baiklah. Panggil aku jika sudah selesai."


Rakka beranjak pergi. Setelah Rakka menutup pintu, Ankaa merapalkan sebuah mantera. Tulisan kuno muncul di seluruh kamar.


"Oke sekarang sudah. Jadi aku akan menyampaikan pesan Kaeiru padamu."


"Dia? Kenapa dia tidak mengatakan langsung padaku?"


"Itu karena dia lelah. Katanya 'membawa dia kemari benar-benar melelahkan, aku ingin tidur. Jadi sampaikan pesanku padanya. Jangan sampai mati, aku menitipkan kekuatanku padanya' itulah yang dikatakannya."


"Kekuatanku....padanya...?"


Aku menjadi bingung mendengarnya.


Ankaa mengangguk. "Ya, sekarang kau bisa menggunakan sihir. Tapi sangat terbatas. Bukti elemen es murni Cosytus ini adalah elemenmu, sementara."


"Hanya sementara? Sampai kapan itu?"


"Aku juga tidak mengetahuinya. Dan juga kata Kaeiru dia akan tertidur selama dua bulan."


"Lama sekali."


Apa dampak dia membawaku sebesar ini. Aku merasakan suatu hal yang aneh disini.


"Ahh...satu lagi" Ankaa menatapku serius. "Jangan beritahu siapapun tentang dirinya, bahkan pada ketiga penjagamu itu."


"Kenapa?"


Ankaa menghela napas. "Sergio, ingat apa yang kukatakan padamu sebelumnya?"


'Jangan percaya pada ketiga penjagamu.'


"Yaa...mungkin?"


Aku menjawab ragu.


Ankaa mendengus kesal. "Sudahlah, pergi dan panggil dia kesini."


"Eh? Aku sudah bisa bergerak."


Aku merasakan kakiku sudah bisa di gerakkan. Aku mencoba berdiri, dan aku bisa.


"Kau meremehkan apiku. Sekarang pergi dan panggil dia."


Aku mengangguk. Aku berjalan cepat, memanggil Rakka yang sepertinya masih berada di depan pintu.


Aku membuka pintu kamar, dan aku melihat bukan hanya ada Rakka. Tapi juga Fahrez, Orga, dan Reina.


"Apa yang kalian lakukan disini?"


Aku bertanya pada mereka bertiga. Selain Rakka tentunya.


"Mengkhawatirkanmu" jawaban singkat dari Orga.


"Menemani Rakka yang sendirian."


"Baiklah, baiklah, Rakka kau di panggil."


Rakka mengangguk. Rasaku dia menjadi pendiam setelah keluar dari kamarku. Rakka masuk ke dalam kamar, kemudian menutup pintu.


Aku menatap mereka bertiga. "Ayo pergi. Aku rasa tadi aku melihat makanan di atas meja."


"Apa yang dipikiranmu itu hanyalah makanan?"


Aku memandang Orga. "Ya, ayo kita makan sebelum aku memakanmu."


"Wow...nafsu makan yang besar."


Aku melenggang pergi. Meninggalkan mereka bertiga, tapi pada akhirnya mereka mengikutiku di belakang.


Sebenarnya aku penasaran dengan apa yang diberitahukan oleh Ankaa pada Rakka. Tapi sudahlah, lagi pula aku memiliki rahasia yang harus kujaga.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°°||