
"Teman-teman, bisa kita rubah rencananya?"
"Tak bisa! Ini sudah valid!"
"Sergio, jika dia menerjangmu kau tinggal..."
"Hei! Jangan menakut-nakuti Sergio! Lihat wajah pucatnya itu!"
Wajah Sergio sekarang terlihat pucat. Kakinya juga bergetar karena takut dengan apa yang akan dia hadapi nantinya. Belum lagi ucapan mengerikan dari mulut Orga. Mendengarnya sudah membuat Sergio panas-dingin.
Pelayan iblis. Itulah yang dipikirkan oleh Sergio sekarang.
Setelah mereka masuk ke dalam, di mana sebelumnya mereka berusaha membuka pintu. Mereka beremp- ralat, maksudnya mereka bertiga-- Rakka, Orga, dan Fahrez sedang berdiskusi dengan senyuman yang masih terpatri di wajah mereka masing-masing.
Sergio hanya terdiam saja semenjak mereka berdiskusi. Sesekali dia mendengar apa yang di rencanakan oleh ketiga pelayan dan penjaganya ini.
Sergio masih heran. Memangnya ada pelayan yang menyuruh tuannya mengorbankan diri?
Ohh... Pastinya ada. Dan sekarang tepat berada di hadapannya-- ketiga pelayan laknatnya.
Dan saatnya telah tiba. Sergio jadi mengetahui arti dari kata rumah asli yang diucapkan oleh Fahrez sebelumnya.
Setelah masuk melewati pintu rahasia itu. Yang pertama kali Sergio lihat adalah hamparan luas bunga berbagai macam warna. Belum lagi bunga-bunga itu bercahaya walau redup. Tapi melihat betapa banyaknya bunga yang ada di sana, mampu menerangi ruangan gelap yang luas itu.
Untuk sesaat Sergio termenung melihat pemandangan indah yang ada.
"Terpukau?"
Sergio menoleh. Dan dia melohat Rakka yang tersenyum kecil dengan pandangan lurus ke arah hamparan bunga.
"Umm...ya, sangat terpukau."
Rakka terkekeh kecil mendengarnya. "Kau tahu. Taman bunga yang ada di hadapanmu sekarang di buat oleh Ilka."
"Ehh... Dia yang buat?"
Rakka mengangguk. "Ilka yang buat. Dan dia juga yang menanam bunganya. Awalnya hanya ada lima bunga saja, tapi sepertinya bunganya ini cepaat berkembang. Dan lihat, bungannya menjadi sebanyak ini."
Sergio menatap kagum bunga-bunga yang bercahaya redup itu.
"Hoii... Kalian berdua, kita akan menghadapi masalah besar yang akan terjadi."
Suara Orga membuat Sergio mengalihkan perhatiannya dari bunga yang menurutnya unik.
Terlihat Orga dan Fahrez berada di depan pintu besar dengan ukiran kuno yang tidak diketahui oleh Sergio.
Rakka dan Sergio menghampiri mereka berdua, kemudian terjadi keheningan sementara.
"Uhh.... Kapan kita masuk?" Tanya Sergio dengan polosnya.
Fahrez yang mendengarnya menaikkan alis kirinya, menatap aneh Sergio. "Kami menunggumu bodoh."
"Hah?!"
"Tunggu, bukankah harusnya Rakka yang masuk karena dia adalah tuan-nya?"
Sergio mengangguk-angguk dengan semangat. Menyetujui ucapan Orga yang seakan-akan membelanya.
"Jika Rakka yang masuk. Yang ada dia di telan bulat-bulat oleh peliharaan manisnya."
Seketika Sergio menjadi takut. Peliharaan macam apa yang bisa menelan bulat-bulat seorang manusia yang memiliki sihir yang sangat hebat?
Sergio tidak bisa berpikir jernih lagi. Menurutnya hal ini sangatlah aneh.
"Baiklah, aku yang masuk pertama. Kau Sergio..."
Sergio menatap serius Rakka, yang saat ini juga menatapnya serius.
"...Bertahanlah. Saran dariku, jangan takut ketika melihatnya, oke?"
"O-oke."
Rakka tersenyum kecil mendengarnya, "Tenang saja. Peliharaan yang akan kau temui tidak seberbahaya seperti yang kau pikirkan."
Semoga saja seperti itu, batin Sergio.
Rakka menaruh tangannya di pintu gerbang. Sergio menunggu dengan takut-takut. Takut jika langsung dibuka mereka semua akan diterkam kemudian di makan hidup-hidup.
Imajinasi liar dari Sergio memang menyeramkan.
Perlahan Rakka membuka pintu gerbang yang sangat besar itu dengan mudahnya. Padahal menurut Sergio pintu itu sangatlah berat.
Sedikit demi sedikit Sergio dapat melihat hamparan luas rumput hijau, dan Sergio sedikit mencium wangi petrichor dari sela-sela pintu.
Untuk sesaat Sergio terpana. Dia terdiam dengan mata yang menatap hamparan luas rumput hijau itu seakan-akan mengingat sesuatu.
\=\=\=\=\=\=\=
"Hei, sepertinya ada yang jatuh!"
"Levi, jangan bercanda di saat seperti ini."
"Aku tak bercanda! Aku melihat ada yang jatuh dari langit! Ayo kita datangi, Orga!"
Dengan seenak jidat Leviathan menarik tangan Orga. Mereka meninggalkan dua orang yang saat ini saling menatap kemudian tertawa kecil.
"Apa benar umur mereka sudah ratusan tahun?"
"Ohh... Ayolah Zoe. Umur tidak bisa menutupi tingkah laku."
Zoe terkekeh kecil, "Apa kau juga seperti mereka, Ilka?"
Ilka menaikkan alis kirinya. "Kau serius menanyakan hal itu?"
Dengan wajah polos, Zoe menjawab. "Ya, aku serius. Kau tahu, aku masihlah baru di dalam kelompok ini. Jadi yahh..." Zoe mengangkat bahunya keatas. "....Aku ingin mengenal kalian lebih dalam, tentunya jika kau ataupun mereka mau menjawab rasa penasaranku" tegas Zoe di akhir.
Ilka tersenyum lembut, "Kamu, aku, dan mereka berdua adalah keluarga. Jangan sungkan seperti itu Zoe..." Ilka menepuk pelan kepala Zoe, kemudian mengelusnya. "...Bagiku kau adalah seorang adik dan seorang teman, paham?"
Zoe tersenyum lembut kali ini. "Uhm, terima kasih telah membawaku ke dalam kelompok ini."
"Keluarga Zoe, keluarga."
"Hei kalian! Sepertinya kau akan terkejut melihatnya. Cepat kemari!"
"Ada apa, Levi?"
Leviathan yang sedang memijit pangkal hidungnya menatap Ilka dengan tatapan lelah.
"Aku tak ingin mengurusnya," Leviathan mengangkat tangannya keatas seperti menyerah. "Ini bukan keahlianku, kuharap kau mengerti."
Alis Ilka mengerut, tanda ia bingung. Hal apa yang bisa membuat Leviathan seperti ini?
Ilka menoleh ke arah Orga yang sedang berlutut dan terlihat dia seperti sedang mengobati sesuatu?
Ilka berjalan menghampiri, dan seketika Ilka terdiam.
"Zoe, sepertinya kau memiliki teman baru."
Zoe memiringkan kepalanya, tanda ia bingung dengan perkataan dari Ilka. Zoe menghampiri Ilka, dan dia terkejut dengan apa yang di lihatnya sekarang.
"E-eh? I-ini.... Apa ini sungguhan!"
Ilka tertawa kecil, "Tentu saja ini sungguhan." Ilka ikut berlutut di sebelah Orga, kemudian Ilka mengelus bulu-bulu yang kasar itu. Nafasnya terlihat kemah, dan sesekaki ada suara pekikan pelan khas burung dari hewan yang berada di hadapan Ilka dan Orga itu.
"Zoe, kuharap kau dapat memeliharanya?"
Zoe berkeringat dingin. "Se-serius?" gagapnya.
PAKK....
"Yo junior, beruntung sekali dirimu mendapatkan 'peliharaan' manis ini."
Zoe meringis sakit di karenakan pukulan di belakang kepalanya. Dia mengusap kepalanya dengan pelan, sambil menggerutu di dalam hati.
"Ta-tapi kan Ilka, hewan ini adalah...."
Ilka tersenyum, "Ya, hewan yang hampir punah dan langka yaitu..."
\=\=\=\=\=\=
"Gryphon!"
KAAKKK....!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author Note!
Yosh! Disini Author mau curhat nih. The Another Soul atau kita singkat aja 'TAS' Ini up nya hanya bisa sebulan sekali atau beberapa kali, oke. Jadi bagi pembaca setia 'TAS' Mohon bersabar, Author juga sibuk dengan dunia nyata yang menyebalkan ini hiks**.
Belum lagi handphone author yang tiba-tiba saja menghapus lagu, anime, dan foto-foto author dengan seenak jidat membuat author badmood untuk beberapa hari.
Jadi bagi pembaca setia 'TAS' Terima kasih sudah membaca novel ini dari awal sampai chapter ini***!
*Jujur saja Author saat ini butuh imajinasi tapi tak bisa 😢 walau sudah menonton anime mencari ilham tetap sulit, mungkin author kena writer-block? *iyakah penyebutannya seperti itu*?
Dan untuk yang menanyakan adakah pict tentang tokoh-tokoh saya, jawabannya....
Ada
Banyak sudah
TAPI KEHAPUS SEMUA WOI!!
*Tahan emosi, fyuhh...
*Ya fotonya kehapus semua. Padahal foto-foto itu sudah disiapkan buat chapter 51 nanti. *jadi makin badmood kan*!
Oke! Sudah cukup curhatan hati dari author tak jelas ini.
Terima kasih sudah membaca author note yang tak berfaedah!
Sampai jumpa di author note selanjutnya!
Bye-bye!
Salam manis
Raiyu