
"EXCALIBUR...!!"
SRINGG....
Sergio membeku. Berdiri diam di posisinya seperti orang bodoh. Entah karena terkejut atau kagum dengan partikel-partikel cahaya kuning keemasan yang entah kenapa terasa...
Familiar.
"Bodoh! MENGHINDAR SERGIO!!"
Sergio tersentak. Ia kembali ke kenyataan karena suara teriakan yang menjadi satu-satunya seseorang yang Sergio kenali.
'Sial!'
Terlambat.
Arthur menurunkan kedua lengannya. Menyabetkan secara vertikal. Sebuah sabetan panjang mengarah pada Sergio yang baru saja tersadar akan kebodohannya sendiri.
Sergio ingin menghindar, tapi serangan Arthur terlalu cepat dan tentu saja kuat. Bahkan dengan melihat saja Sergio tahu betapa kuatnya serangan yang diberikan Arthur.
"Belt-!"
Sergio membelalakkan kedua bola matanya.
'Aku. Tidak bisa bergerak!'
Sergio tidak bisa bergerak. Bahkan menggerakkan ujung jarinya pun tak bisa. Tubuhnya membeku dengan alasan yang tidak ia ketahui.
Serangan Arthur semakin mendekat kearahnya. Netra biru terang itu menatap partikel-partikel cahaya kuning keemasan yang semakin mendekati dirinya.
Bagaikan slow motion, tepat sedetik kemudian serangan Arthur mengarah tepat keatas kepalanya. Serangan Arthur menghilan- tidak bukan.
Sebuah kristal berada tepat di hadapan Sergio. Lebih tepatnya, serangan Arthur mengkristal di udara. Kristal itu bewarna putih dengan kilauan indahnya yang diterpa cahaya matahari menghasilkan biasan warna pelangi.
Sergio masih terdiam. Berusaha mencerna kejadian yang membuatnya hampir kehilangan nyawa kali ini.
"Cukup sampai di sini."
Reyya terlihat menuruni anak tangga. Wajahnya terlihat dingin dan serius. Netra coklat madu itu menatap tajam Arthur yang berdiri dengan tenang.
"Kau melewati batasmu, tuan muda."
Arthur menunduk sedikit, "Maaf ma'am. Saya terlalu bersemangat."
"Jangan meminta maaf padaku" Reyya menoleh ke arah Sergio yang masih diam membeku-- karena sebenarnya Sergio masihlah belum bisa bergerak. "Sergio, apa kau baik-baik saja?"
'Keadaaku sangatlah tidak baik-baik saja.'
Itulah yang ingin di katakan oleh Sergio. Tapi karena tak bisa berbicara, dirinya hanya menjawab di dalam pikirannya.
Belum selesai masalah dirinya yang tidak bisa bergerak. Tiba-tiba saja pedang yang berada di genggaman Sergio bersinar redup.
Untuk sesaat Sergio merasa bingung. Sedetik kemudian Sergio merasakan rasa sakit yang sangat hebat yang berasal dari telapak tangannya.
Sergio ingin berteriak kesakitan. Rasanya sangatlah sakit. Terasa seperti ribuan jarum menusuk-menusuk telapak tangannya. Bahkan rasa sakit itu semakin menjalar naik mendekati siku.
Tubuh Sergio bergetar. Nafasnya tak beraturan, penglihatan Sergio terasa buram karena rasa sakit, kemudian Sergio berkeringat dingin.
Dan sialnya, tubuh Sergio masihlah belum bisa bergerak.
Keganjalan yang di perlihatkan oleh Sergio membuat Reyya berlari ke arah Sergio untuk melihat keadaan-nya.
'Kaeiru!'
Sergio tak sanggup lagi. Rasa sakitnya hampir membuat Sergio hilang kesadaran. Ia ingin Kaeiru membantu dirinya.
'Kaeiru! Ankaa! Siapapun, tolong aku!'
Sergio berteriak di dalam pikirannya. Mencari siapapun yang bisa membantunya meringankan rasa sakit yang mengerikan ini.
Rasa sakitnya hampir sama ketika ia memperkuat tubuhnya di hari itu. Rasa sakit yang sangat mengerikan, yang bahkan membuat Sergio lebih memilih mati daripada merasakan sakit yang mengerikan.
Arthur yang memperhatikan raut wajah kesakitan Sergio hanya memalingkan wajahnya kearah lain.
Perasaan bersalah? Bisa jadi.
Dan ketika Arthur memalingkan wajahnya. Ia melihat seseorang yang mengintip dari pintu masuk. Seorang gadis berambut abu-abu pendek yang berhasil membuat Arthur membolakan kedua matanya.
Arthur ingin berteriak memanggil gadis itu. Tapi gadis itu pergi begitu saja.
Kemudian Arthur kembali tersadar.
'Baguslah jika kau selamat' ucapnya dalam hati.
"Sergio?!"
Reyya menepuk bahu Sergio pelan. Tapi Sergio tidak mendengarkan. Ia sibuk menahan rasa sakit yang sudah mencapai kedua bahunya. Kali ini rasa sakitnya lebih mengerikan lagi. Sergio tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak tahu kenapa tubuhnya tak mau bergerak. Ia tidak tahu!
Di tengah kepanikan Sergio. Ada seseorang yang memperhatikan. Dengan netra hitam yang tidak berkedip menatap Sergio yang menahan rasa sakit.
"Anak bodoh" gumamnya.
Orang itu mengangkat tangan kanannya. Kemudian orang itu menjentikkan jarinya.
Dalam sekejap, waktu berhenti.
Orang itu berjalan dengan santainya memasuki pintu masuk. Tidak ada suara apapun dan tidak ada pergerakan.
Kecuali-
"Senang melihat anda, tuan Ellion."
Orang itu-- Ellion berhenti. Ia melirik kearah seorang gadis pendek yang berlutut kearahnya. Dengan pandangan menunduk, Ellion tidak bisa melihat wajah gadis itu.
"Kau...?"
Gadis itu berdiri. Kemudian gadis itu mengangkat pandangannya. Netra hijau zamrud menjadi satu hal yang diperhartikan oleh Ellion.
"Mohon maaf karena saya belum mengenalkan diri. Perkenalkan-- saya Gemini. 12 rasi bintang Zodiak."
Ellion menyipitkan matanya, "Kau berpihak pada siapa?"
"Untuk menjawab pertanyaan anda. Saya saat ini masihlah belum berpihak pada siapapun."
Ellion mendengus, "Heh. Seperti Libra, kah?"
Gemini terdiam. Ia merasa tak perlu menjawab sindiran halus yang diberikan oleh Ellion.
Ellion kembali berjalan menghampiri panggung yang saat ini sangatlah sunyi...
"Ugh.."
Atau tidak sunyi sama sekali.
Satu orang yang bisa bergerak hanyalah Sergio. Masih berdiri dalam diam dengan kedua mata yang tertutup. Keringat berukuran sebiji jagung mengalir begitu saja dari sisi pelipis kanan. Bibir Sergio terlihat pucat, dan tubuh Sergio bergetar.
Pemandangan itu tak lepas dari penglihatan Ellion "Bocah nakal. Apa kau tak tahu akan sebuah batas, huh."
Tentu saja Sergio tak menjawab. Bahkan, mungkin saja Sergio tak menyadari bahwa waktu sudah berhenti dan ada dua orang yang memperhatikan dirinya.
Rasa sakit sudah menguasai pikirannya. Apalagi yang bisa Sergio pikirkan selain rasa sakit?
"Pedang itu terlalu rakus."
Ellion melirik Gemini yang berdiri di sampingnya. "Efek yang akan diterima tuan Sergio sangatlah besar. Jika terus-terusan menggunakan pedang ini. Tuan Sergio bisa-"
"Mati? Begitukah menurutmu?"
Gemini mengangguk.
Ellion terkekeh kecil, "Dia tidak bisa mati."
"Tentu saja bis-"
"Tidak" potong Ellion tajam. "Dia tidak akan bisa mati Gemini" tegas Ellion.
"Kenapa anda terus menyangkalnya?"
"Tapi-"
"Hei" Ellion menatap Gemini tajam. "Kupikir kau itu pendiam. Tapi kau sama saja seperti Capricorn yang terlalu banyak bicara."
Gemini terdiam. Baiklah, ia memilih diam kali ini. Ia tidak ingin membuat marah seorang Black Archangel atau Ksatria dari surga ketiga marah.
Bahkan Zeus-- sang Dewa tertinggi tak ingin mencari masalah dengan Malaikat paling berbahaya yang terkenal.
"Hei Gemini, maukah kau bercerita sedikit."
"Tentang apa?"
Ellion melirik Arthur yang terlihat memalingkan pandangannya ke arah lain. "Tentang dia. Kau pasti mengenalnya bukan?"
Gemini melirik Arthur "Ahh... Dia. Anda ingin mengetahui tentang apa?"
Ellion menyentuh bahu kiri Sergio. Secara perlahan Ellion menggunakan jari telunjuknya yang bersinar dengan warna putih redup menyusuri bahu kiri Sergio dari atas hingga ujung jari Sergio.
"Dia Ium Dewi Theia bukan?"
Gemini mengangguk, "Ya tuan. Tuan Arthur menjadi Ium Dewi Theia semenjak ia berumur 7 tahun."
"Bagaimana nasib ibunya?"
Gemini terdiam.
Ellion kembali mengulangi hal yang sama ke arah bahu kanan Sergio. Ellion tersenyum kecil "Dewi yang sangat rakus."
"Saya tidak menyangkal hal itu"ucap Gemini tajam.
"Tapi aku kagum dengan anak itu."
Gemini menemukan suatu hal yang menarik kali ini.
"Anak itu. Walaupun ia tahu takdir apa yang akan ia terima selanjutnya. Ia tetap tertawa dan terlihat menerimanya dengan lapang dada."
"Begitukah menurut anda?"
Ellion menangguk. Matanya masihlah fokus kearah Sergio yang terlihat kembali bernafas dengan normal, walau peluh masihlah membajiri tubuhnya.
"Apa anda tidak mengetahui seberapa tertekannya perasaan tuan Arthur? Apa anda tidak tahu. Bahwasannya tuan Arthur saat ini tak ingin melukai tuan Sergio. Apa anda tahu bahwa tuan Arthur itu-"
"Sedang mengorbankan dirinya. Aku tahu Gemini. Aku sangatlah tahu."
Ellion menangkap tubuh Sergio yang lunglai ke depan. Sekarang tubuh Sergio bisa bergerak. Entah apa yang di lakukan Ellion, tapi apapun itu. Ellion sangatlah mengerti akan rasa sakit Sergio.
Sergio terlihat mengambil nafas dengan rakus. Seakan-akan oksigen akan habis dalam satu hari.
KLONTANG...
Pedang itu jatuh. Sergio melepaskan genggaman-nya. Tubuh Sergio secara perlahan berhenti bergetar.
Dengan perlahan Ellion membaringkan tubuh Sergio di atas panggung dingin itu. Ia menyingkirkan rambut yang menghalangi mata Sergio.
Tingkah penuh kelembutan itu tak lepas dari pandangan Gemini. Walaupun Ellion mendapatkan gelar yang menyeramkan pun. Ellion masihlah memiliki sisi baik darinya.
Tentu saja. Ellion adalah Malaikat.
Ellion mengambil pedang Sergio dan meletakkannya di samping Sergio.
"Lain kali jangan berlebihan. Kau terlalu banyak menggunakan kekuatan pedang ini di saat kau masihlah belum menguasainya" ceramah Ellion.
"Jangan meminta bantuan terus menerus kepada-nya. Itu merepotkan bagi-nya."
"Dan juga.." Ellion melirik ke arah Arthur. "Bantu dia sebisamu. Dia cocok untuk menjadi sahabat untukmu."
Ellion berdiri dari duduknya. Ia membersihkan pakaiannya dari debu saat dirinya duduk di lantai tadi. Tubuh tegap itu berjalan menjauhi Sergio.
"Siapa kau?"
Ellion berhenti. Ia mendengar suara bisikan halus dan serak. Tentu saja Ellion menyadari siapa yang bertanya.
Ellion hanya tersenyum tipis. Kemudian kembali berjalan dengan diikuti oleh Gemini di belakangnya.
Ellion mengangkat tangan kirinya. Kemudian...
"Hanya seorang Ayah yang ingin menyapa anaknya" gumam Ellion.
CTIK...
ZING...
Waktu kembali seperti semula.
Seketika seisi podium menjadi ribut hanya karena merasa bingung dengan keadaan Sergio saat ini.
Bahkan Reyya yang berdiri di posisi terdekat Sergio pun juga ikut bingung.
Pada pagi hari itu. Duel antara Sergio dan Arthur menjadi trending di akademi Aiamari selama satu bulan.
Selamat Sergio.
Kau menjadi terkenal :v
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author Note:
NAH TUH, UDAH TERUNGKAP KAN BAPAKNYA SERGIO SIAPA!
Wkwkwkwk, masih misterius ya?
Maaf ya membuat pembaca sekalian bingung 🙏
Oh ya, Rai cuman mau bilang. Coba baca Di bagian Ellion datang sambil mendengarkan musik Mighty Heart backsound nya Boku no Hero Academia yang movie keduanya.
Entah kenapa terasa cocok.
Rai cuman memberikan saran ya
Oke, segini dulu. Rai mau nonton Eight-Six dulu ya :v
Adios!
Salam manis
Raiyu
1. 509 kata