
SRIINGG....
"Sergio bangun, sudah pagi."
Huhh...
Rasanya aku masih mengantuk. Tapi sinar matahari ini cukup menganggu. Ngomong-ngomong siapa yang berbicara tadi?
Aku merasa ada menepuk pelan bahuku. Aku membuka mataku, yang pertama kali kulihat adalah rambut panjang yang menutupi penglihatanku. Setelah itu aku beralih ke wajah seseorang yang kukenal.
"Ohh... Rakka, ada apa?"
Aku bertanya dengan nada setengah mengantuk. Mataku saja hampir terpejam lagi.
"Sergio, ini sudah pagi. Bangun, atau kamu telat sarapan."
"Hmm..."
Aku berbalik memunggungi Rakka. Kemudian aku menutupi kepalaku dengan selimut, menghalau cahaya matahari yang masuk.
"Sergio..."
"Lima menit lagi."
"....."
Apa Rakka sudah pergi? Tidak ada jawaban darinya.
Ketika aku ingin tertidur kembali, aku mendengar Rakka berbicara, bukan lebih tepatnya dia...
"Water magic [Water ball]"
"EH?!"
Aku langsung bangun, aku melihat ke arah Rakka. Tapi sepertinya aku terlambat menghindar, bola air itu mengenai wajahku. Membuat baju dan kasurku basah.
Aku terbatuk-batuk, karena sebagian air masuk melalui hidungku. Astaga, bagaimana bisa Rakka menggunakan sihir padaku.
"Cepat mandi, setelah itu turun dan sarapan, oke. Aku pergi dulu."
Aku tak menjawabnya. Rakka pergi meninggalkanku dengan keadaan seperti ini. Aku menghela napas.
"Astaga, ini pertama kalinya aku dibangunkan dengan sihir."
Entah kenapa aku merasa senang. Ada apa dengan diriku? Apa aku mulai terpengaruh dengan dunia Egolas.
"Ya sudahlah."
Aku bangun dan berdiri. Berjalan ke arah jendela, dan melihat matahari yang bersinar terang.
Pagi ini adalah pagi pertamaku di dunia Egolas, tapi biasanya aku bangun dari jam 5 pagi dan bersekolah jam 9 pagi. Sekarang, di dunia ini apa yang harus kulakukan?
Ini baru terpikirkan olehku sekarang.
Jam berapa sekarang?
Aku melirik ke sekeliling kamar. Eh? Berarti tadi malam aku di bawa ke kamar ini.
Aku merasa asing dengan kamar ini.
Kamarnya lumayan besar, kamar ini juga memiliki balkon. Dan isinya adalah kasur ukuran king size, meja belajar, lemari pakaian, dan rak buku.
"Berarti aku berada di rumah Fahrez sekarang, tadi kata Rakka turun ke bawah. Berarti kamarku berada di lantai dua."
Aku menatap kebawah, benar perkataanku. Dibawah hanya ada rerumputan hijau, sepertinya enak kalau aku tiduran di atas rumput itu.
"Aku mandi saja dulu."
||°°°°°°°||
"Dimana Sergio?" Tanya Fahrez.
"Sedang mandi, mungkin" jawab Rakka.
"Kau yakin ingin dia masuk disitu?"
"Tentu saja, apa ada yang salah?"
"Tidak, hanya saja di sekolah itu banyak para Ium. Tentu saja kau tahu maksudku."
Fahrez menatap Rakka. Rakka yang sedang menyiapkan piring untuk Sergio, menghentikan pekerjaannya.
"Ium? Pelayan para Dewa itu? Apa yang harus ku takutkan."
"Bukan Ium-nya, tapi tuan para Ium. Apa kau tidak berpikir, kalau Sergio bertemu dengan Dewa atau Dewi lain. Untung saja kemaren kita hanya bertemu dengan Dewa Agni, dia adalah Dewa netral. Tidak memihak siapapun."
"Fahrez, ada satu orang yang ku percayai di sana. Kamu tenang saja" Rakka kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
"Dan ini kekhawatiran keduaku. Bukankah Sergio tidak memiliki sihir?"
"Apanya yang aku tidak memiliki sihir?"
""Ehh?""
Rakka dan Fahrez terkejut. Masalahnya Sergio muncul begitu saja, tanpa disadari oleh mereka berdua sekalipun.
"Ohh, roti bakar."
Sergio langsung mencomot roti bakar itu, dia duduk di kursi dan menatap Fahrez dan Rakka bergantian.
"Jadi, ada apa membahasku? Sedari tadi aku mendengarnya?"
Sergio mengambil segelas susu yang tersedia. Dia menikmati sarapan yang dibuat oleh Rakka.
"Eh? Kau mendengarnya?" Tanya Fahrez.
"Tentu saja, Rakka, kenapa kamu tidak duduk. Jangan berdiri saja."
"Huh? Oh, ya."
Rakka mengikuti ucapan Sergio. Dia duduk di sebelah Sergio.
"Termasuk sekolah itu?"
Sergio mengangguk. "Aku akan sekolah juga? Yah tak apa sih, usiaku juga masih bisa masuk sekolah di sini bukan?"
"Kau benar, tapi ada yang harus kau ketahui terlebih dahulu" ucap Fahrez.
"Dan apa itu?"
Fahrez melirik Rakka. Sergio juga melihat ke arah Rakka. Sergio mengambil kembali roti bakar yang ada di atas meja, memakannya dengan lahap.
"Kenapa? Kenapa melihatku?"
"Karena kau yang lebih tahu dan mengerti disini" ucap Fahrez sambil menunjuk Rakka.
"Fahrez benar, selama ini hanya kamu yang memberikan penjelasan mendetail. Jadi, jelaskan sejelas-jelasnya, paham."
"Aku paham, tapi aku juga memiliki pertanyaan lain padamu, Sergio."
"Apa lagi itu? Kalian seperti merahasiakan sesuatu dariku."
Sebenarnya apa yang dikatakan Sergio benar adanya. Rakka dan Fahrez saling lirik, Rakka pura-pura batuk.
"Jadi, yang pertama. Kita akan membahas sekolah terlebih dahulu" ucap Rakka.
"Oke."
"Hmm.... Sihir?"
"Benar. Sekolah sihir, di setiap kerajaan setidaknya ada satu sekolah, dan kebetulan kerajaan Akai memiliki sekolah terbaik di antara kerajaan lain."
"Kerajaan? Ada berapa kerajaan sebenarnya."
"Untuk pertanyaanmu, Di benua Fina, ada tiga kerajaan."
"Benua?"
"Ya, benua. Di dunia Egolas ada empat benua yang dipisahkan oleh laut. Yang pertama, benua yang kita tempati ini adalah benua Fina, memiliki 3 kerajaan. Yaitu Akai, Bilkaros, dan Hanniya...."
"....Yang kedua, benua terdekat adalah benua Tervi, hanya memiliki satu kerajaan, walaupun hanya memiliki satu kerajaan, tapi wilayah benua Tervi sangatlah besar. Nama kerajaannya adalah Icarus..."
"...Yang ketiga, benua Wanyin, memiliki empat kerajaan. Yaitu Raiyin, Tanyin, Vuiyin, dan Haiyin. Kerajaan terbesar mereka adalah Vuiyin..."
"...Dan yang terakhir adalah benua Virda, memiliki lima kerajaan. Serna, Poluris, Quava, Tyron, dan Falix. Setiap wilayah memiliki penghasilan sendiri-sendiri, dan kerajaan terbesar mereka adalah Poluris. Jadi, apa kamu sudah paham?"
"Tunggu, tunggu, tunggu dulu! Tadi kau bilang Tyron?" ucap Fahrez.
Rakka menatap Fahrez. "Ya, ada apa?"
"Bukankah nama itu nama dari guru Sergio!"
"Eh? Guruku? Guru yang mana?"
"Yang mana lagi kalau bukan Jevan Tyron!"
"Jevan? Bukankah nama belakangnya..."
Sergio tidak melanjutkan kata-katanya. Dia terlihat sedang berpikir.
'Waktu itu dia yang menangkapku. Tyron? Bukankah nama belakangnya Chrollo?'
"Ohh.... Begitu ternyata."
Sergio mengangguk paham.
"Apa yang 'begitu ternyata'?"
"Dia menyamar ketika di dunia manusia. Sebelumnya nama Jevan adalah Jevan Chrollo, itulah sebabnya aku bingung kenapa namanya berubah. Jadi, Tyron ini sebenarnya adalah nama keluarga, juga nama sebuah kerajaan? Apa benar begitu?"
Sergio menatap Rakka. Rakka menatap serius Sergio.
"Sergio, jika apa yang dikatakan Fahrez benar. Maka Jevan Tyron, dan orang yang telah membawamu ke kutub Utara. Mereka sekarang berada di sini. Di dunia Egolas."
"Eh?"
"Bukankah itu gawat!"
"Bukan hanya itu saja. Tapi aku pernah mendengar kabar burung tentang keluarga Tyron."
"Apa itu?" Tanya Sergio.
"Keluarga Tyron, keluarga vampire yang telah ada berabad-abad lalu. Keluarga ini hanya memiliki dua keturunan. Keturunan pertama adalah seorang laki-laki, dan yang kedua adalah seorang perempuan. Dan dari yang kudengar, putra sulungnya terusir dari keluarga Tyron karena telah berbuat masalah. "
"Bukankah itu berarti?" ucap Fahrez.
"Jevan adalah anak yang terusir itu?" lanjut Sergio.
Rakka mengangguk. "Bisa jadi. Kabar burung ini sudah ada dari puluhan tahun juga. Aku tak tau apa anak yang dimaksud ini adalah Jevan atau bukan, tapi yang pasti kita harus mulai berhati-hati."
"Kenapa?"
"Karena yang di incar keluarga Tyron adalah dirimu" ucap Rakka.
"Aku? T-tapi apa masalah apa yang telah kubuat dengan keluarganya?"
"Tidak ada. Tapi keluarga Tyron haus akan kekuatan. Kau ingat apa yang ku katakan ketika kita berada di bumi."
'Musuhmu adalah kekuatanmu sendiri.'
"Ya, aku ingat. Jadi ini semua hanya karena kekuatan ini? Hanya karena satu kekuatan ini saja?"
Sergio bertanya dengan nada tak percaya.
Dia memegang kepalanya. Meremas pelan rambutnya. Setelah itu Sergio menghela napas kasar.
"Aku masih penasaran. Siapa sebenarnya Ilka."
"...."
"...."
Fahrez dan Rakka tidak menjawab.
"Dan, siapa sebenarnya kalian bertiga ini."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°||