
ZRASHHH....
Saat ini aku sedang berada di dapur dan mencuci piring-piring kotor.
Setelah kepergian Sergio, Orga, dan Reina. Kami berdua tidak ada yang memulai percakapan. Aku tak tahu kenapa hari ini Fahrez terlihat emosi.
Dia juga masih tidak beranjak dari kursi meja makan. Dia hanya menutup matanya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Napasnya normal, tidak ada tanda-tanda masalah lain.
Apa dia tidur?
Itu bisa jadi. Kebiasaan Fahrez adalah, dia bisa tidur dimanapun, kapanpun, dan saat apapun.
Aku mematikan keran air dan mulai melepas apron hitamku. Aku membuka ikatan rambut dan berjalan ke arah meja makan.
Aku menatap Fahrez. Dia tidak bergerak, berarti dia tidur.
Aku duduk di hadapan Fahrez, kemudian aku menopang daguku dengan tangan kanan. Menatapnya, dan sepertinya berhasil.
"Berhenti menatapku seperti itu. Kau hampir saja membuatku salah paham."
Fahrez membuka kedua matanya. Dia menatapku tajam dan ada sedikit kemarahan di mata abu gelapnya itu.
"Fahrez, ada apa denganmu hari ini?"
Aku bertanya padanya. Rasaku hari ini dia sedikit aneh dengan penolakan pada penguatan tubuh Sergio yang akan di lakukan lusa.
Biasanya dia akan setuju saja, tapi sekarang dia menolak.
Dia melihat ke arah lain, menghindari tatapanku.
"Aku ingin tahu, apa yang kalian bicarakan di kamar Sergio."
Aku terdiam. Kurasa dia memang harus tahu. Dia juga salah satu penjaga, jadi seharusnya kuberitahu saja dia.
Tapi tidak.
"Tidak ada pembicaraan khusus. Ankaa cuman memintaku untuk memperkuat tubuh Sergio dikarenak elemen es murni, Cosytus bisa saja membekukan dirinya. Hanya itu."
Fahrez menatapku. Matanya menyipit, terlihat mencurigai diriku.
"Rakka, aku tahu kau berbohong."
"Untuk apa aku berbohong padamu?"
"Rakka. Jangan main-main denganku. Kita sudah hidup selama ribuan tahun. Aku tahu seperti apa dirimu, penuh akal dan tipu muslihat."
Aku tersenyum miring mendengarnya. "Kau mengingatkan diriku yang dulu, Zoe Hartez. Tapi Fahrez, sekarang aku adalah Rakka. Seorang penyihir biasa yang tidak memiliki tipu muslihat."
Fahrez mendengus kesal. "Kata-katamu barusan sudah termasuk tipu muslihat."
Aku masih mempertahankan senyum miringku. "Aku tak tahu kenapa hari ini kamu terlihat aneh. Kamu bahkan membahas masa lalu yang seharusnya tidak kita bahas" aku menatap serius Fahrez. "Berhenti bertingkah seperti anak kecil Fahrez. Tugas kita adalah melindungi Sergio dari berbagai hal yang membahayakannya."
"Melindungi?" Fahrez tertawa mendengarnya. "Kau tidak sadar betapa berbahanya menggunakan cara kedua? Aku memang tidak merasakannya, tapi aku tahu waktu itu kau memakai cara kedua. Dan kau tahu apa yang terjadi padamu waktu itu?"
"Rakka, aku tidak ingin membahasnya."
"Kenapa? Apa kau takut membangkitkan kenangan lama?"
Aku menarik napas dalam. "Leviathan Alluvka, aku rasa perkataanmu barusan sudah terlewat batas."
"Kau mulai memanggil nama lamaku." dia terkekeh pelan, "Apa kau mulai sadar apa yang sudah kau perbuat."
Aku berdiri. "Aku rasa saat ini kau perlu menenangkan pikiranmu yang sedang panas itu."
Aku berbalik pergi, meninggalkannya di ruang makan. Dia hanya menatapku meninggalkan ruang makan.
Aku sampai di dalam kamarku, setelah aku menutup pintunya aku langsung barjalan menuju kasur. Aku merebahkan diriku di atas kasur empuk.
Aku menghela napas berat. Apa yang di katakan Fahrez membuatku teringat kenangan lama.
Aku pernah melakukan penguatan tubuh secara instan. Dan itu adalah cara kedua, cara tercepat dan paling menyakitkan dari yang pertama.
Lagi, aku menghela napas. Kali ini terasa menyakitkan, karena kenangan lama itu membuatku sedikit takut.
Takut kalau saja Sergio sama sepertiku.
Efek samping cara kedua penguatan tubuh ini sangatlah besar. Ada berbagai macam efek samping, tergantung dari orang yang melakukan penguatan.
Aku menutup mataku mengingat apa saja efek samping yang ku terima.
||°°°°°°°||
"Zoe, kau yakin?"
"Ilka, kenapa kamu sangat tidak yakin padaku."
"Bukannya tidak yakin, tapi aku hanya takut."
Zoe memandangi wajah Ilka yang mengekspresikan bahwa dia memang takut. Zoe memegang tangan besar Ilka.
"Yakin padaku, yah" dia tersenyum lebar, berusaha meyakinkan Ilka.
Ilka menghela nalas panjang. "Aku takut begini karena umurmu masih 14 tahun. Kamu terlalu muda untuk melakukan penguatan tubuh, belum lagi kamu memilih cara kedua."
"Tapi Levi bisa. Kenapa aku tidak bisa melakukan seperti Levi?"
Ilka menghela napas. "Levi, dia berbeda. Tubuhnya dapat menahannya karena dia memilih cara pertama. Lagipula setiap dia merasakan sakit dia hampir saja berubah menjadi iblis."
Zoe kecil terdiam. "Tapi aku manusia, bukan iblis."
Ilka terdiam mendengar kata-kata polos dari Zoe. "Kau memang manusia Zoe. Aku hanya takut tidak akan sesuai dengan apa yang kuharapkan. Zoe, aku tanya sekali lagi. Apa kamu yakin? Tidak ingin berubah pikiran?"
Lagi, Zoe tersenyum mendengar ucapan Ilka. "Ilka, kamu tenang saja. Semua pasti akan sesuai harapanmu."
Ilka terdiam. "Seharusnya aku tidak memilihmu."
Senyuman menghilang dari wajah Zoe. Ilka yang melihatnya menjadi panik.
"Bu-bukan maksudku begitu! Maksudku-"
"Ilka, aku mengerti. Aku hanya manusia biasa, tidak seperti Levi dan Orga. Mereka adalah Vampire dan Demi-human, tapi aku harap kamu tidak menyesali keputusanmu."
Ilka merasa menyesal. "Zoe, maafkan aku, maaf."
Zoe tersenyum tipis. "Ayo kita lakukan sekarang. Lebih cepat lebih baik bukan."
Zoe berjalan duluan. Saat ini mereka berada di laboratorium milik Ilka. Dan dihadapan mereka terdapat tabung besar kosong.
"Sudah siap?"
Zoe mengangguk. Dia berdiri di dalam tabung kosong itu. Ilka kamudian menyuntikkan cairan bewarna biru terang pada tubuh Zoe. Seketika Zoe merasa pusing, dia tidak dapat berdiri lagi. Ilka menahan tubuh Zoe.
"Merasa pusing? Tahan, cairan itu berguna untuk melindungi jantung dan organ penting lainnya."
Zoe ingin mengangguk tapi tak bisa. Dia merasa tubuhnya menjadi lumpuh. Ilka dengan lembut menyenderkan tubuh Zoe ke tabung, kemudian Ilka mundur dan mulai menaikan kaca tabung yang sebelumnya terbuka.
Perlahan tabung kosong itu terisi air bewarna hijau terang. Zoe mengambang di dalam tabung itu, anehnya dia tidak merasa sesak ketika berada di dalam. Dia bisa bernafas, walau ada gelembung-gelembung air ketika dia bernafas.
"Tahan rasa sakit itu! Semangat!"
Zoe menunggu. Satu menit, dua menit, sepuluh menit dia tidak merasakan sakit. Zoe menjadi bingung.
Dia menatap ke arah Ilka yang menatapnya khawatir. Dia ingin bertanya, tapi sebelum dia bertanya. Dia merasakan sebuah rasa sakit.
Dia merasa tubuhnya terbakar, belum lagi napasnya terasa sesak, suara retakan tulang terdengar beberapa kali. Zoe ingin meronta, tapi tubuhnya tidak bisa di gerakkan. Zoe berusaha menahan rasa sakitnya, tapi rasa sakit yang dia rasakan sekarang rasanya seperti dibakar, disayat, dan dipukul.
Sebuah kombinasi yang mengerikan.
Entah beberapa jam telah berlalu, tapi rasa sakitnya tidak berkurang sedikitpun. Ilka masih setia berada di luar tabung Zoe. Dia menatap khawatir pada Zoe yang terus berteriak tanpa suara, yang ada hanyalah gelembung-gelembung air yang sangat banyak.
Ilka menjadi panik ketika dia melihat Zoe akan kehilangan kesadaran di saat seperti ini.
Ilka mendekat, dia menggedor tabung besar itu. "Zoe! Zoe! Bangun! Jangan pingsan! ZOE!"
Tidak ada jawaban. Ilka mendecih kesal. Salah satu syarat utama untuk berhasil dengan cara kedua adalah, tidak boleh kehilangan kesadaran, atau lebih tepatnya, pingsan.
Ilka tidak bisa menghentikan di tengah jalan. Dia hanya bisa berdoa agar Zoe biasa bertahan setelah ini.
||°°°°°°°||
'Zoe! Zoe! Buka matamu! ZOE! ZOE HARTEZ!'
"Uhukk....Uhukk...!!"
"Syukurlah!"
Zoe masih terbatuk-batuk untuk beberapa saat. Dia merasa ada seseorang yang menepuk punggungnya dengan lembut. Dia merasa sangatlah lemah saat ini.
"Bocah, aku tak menyangka kamu sehebat ini."
Zoe melirik ke arah kanan. Dia melihat seorang anak-anak seumurannya yang memiliki rambut coklat muda pendek, kulit pucat, dan mata abu-abu tua.
Sebenarnya walaupun terlihat seumuran, tapi Zoe yakin umurnya lebih tua dari yang terlihat.
Zoe mencoba mengumpulkan tenaganya terlebih dahulu. Dia masih merasa tidak bertenaga, tapi dia tetap memaksakan diri untuk bertanya.
"A-apa ak-aku berh-berhasil?"
Ilka terdiam. Dia meremat pelan bahu Zoe.
"Kamu berhasil, tapi ada harga yang sangat mahal."
Zoe menatap ke belakang Ilka. Dia melihat seorang pria tinggi dengan berbagai macam tato di tubuhnya. Belum lagi rambut hijau yang sangat berantakan. Mata merahnya menatap malas ke arah Zoe.
Zoe memasang ekspresi bertanya. Dia menatap Ilka, meminta penjelasan pada dirinya.
Ilka hanya diam saja. Dia hanya menatap wajah Zoe sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ilka, katakan padanya. Jangan menjadi lelaki pengecut."
"Orga, diam."
Orga hanya menggeleng pela mendengar ucapan dingin Ilka.
"Zoe, karena dirimu sempat pingsan, jadi kau menerima efek samping yang sangat fatal."
Zoe menatap Ilka yang sedang memberikannya penjelasan. Pikiran buruk mulai menghiasi pikirannya.
"Zoe."
Dia berkeringat dingin ketika melihat wajah serius Ilka.
"Kamu tidak bisa bereinkarnasi."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°°°°||