
Cklek
"Aku pulang."
Tak ada yang membalas.
"Kupikir dia masih ada disini. Sudahlah."
Aku berjalan ke arah kasur, kemudian melemparkan diriku. Hari ini cukup melelahkan.
Mari kuperkenalkan diriku sekali lagi.
Namaku Sergio Vandelhein. Berambut hitam, mata hitam dengan kantung mata seperti panda. Dan juga penampilan yang sangat take menarik sekali.
Aku tak memiliki orang tua. Satu-satunya anggota keluargaku adalah kakek ku yang sudah tiada dua tahun yang lalu.
Aku tinggal di rumah kecil sederhana. Rumah ini milik kakek ku. Dan sekarang menjadi milikku.
Aku tak tahu kisah orang tuaku. Setiap kali aku bertanya, kakek hanya tersenyum dan menjawab.
"Kamu akan tahu."
Hanya itu.
Aku tak bisa memaksa. Pada akhirnya pertanyaan dimana orang tuaku tak pernah terjawab.
Aku menghela nafas lelah.
"Mira. Seandainya kamu ada disini."
Aku menatap ke atas meja dekat jendela.
Eh?
Aku baru saja menyadarinya.
"Dimana fotoku?"
Aku berjalan kearah meja. Aku membungkuk, melihat apakah bingkai foto itu terjatuh. Tapi aku tak menemukannya.
Aku melihat jendela terbuka, kemudian aku melihat ke bawah jendela. Kupikir aku akan menemukan bingkai foto di rerumputan, tapi aku tak menemukannya.
Satu-satunya dipikiranku adalah...
"Fahrez."
Seakan menjawab panggilanku. Dia muncul begitu saja di dalam kamarku.
"Oh, kamu sudah pulang."
Ucapnya dengan enteng.
Aku mulai kesal dengannya.
"Fahrez, dimana foto di atas meja ini?"
Dia menatapku. Kemudian dia memasukkan tangannya ke dalam jaket, setelah itu terlihat bingkai foto.
"Maksudmu ini?" ucapnya sambil menunjukkannya padaku.
"Ya. Kenapa kau membawanya?"
Fahrez menatap bingkai foto itu. Kemudian dia memainkan bingkai foto itu. Dengan lemparan kecil.
"Aku hanya ingin melihat sosokmu sewaktu kecil. Ternyata kamu tak ada perubahan."
Aku tak suka melihatnya memainkan bingkai foto itu.
"Aku tak peduli omonganmu. Tapi, bisa kau kembalikan bingkai foto itu sekarang? Jujur saja, aku merasa marah melihatmu memainkannya."
Dia berhenti memainkan bingkai foto itu. Dia menatapku kali ini.
"Oh, kamu marah denganku."
"Ya. Aku marah. Sekarang kembalikan."
Aku menjulurkan tanganku. Meminta kembali barangku.
Fahrez tersenyum miring. "Bagaimana jika kulakukan ini."
Fahrez memegang bingkai foto itu hanya dengan jari telunjuk dan jempolnya. Seakan-akan dia jijik denga bingkai foto itu.
Aku tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
"Jangan main-main denganku."
Aku marah.
Fahrez menaikkan sebelah alisnya. "Kamu marah hanya karena ini? Cukup mengejutkan."
"Fahrez. Kembalikan."
Aku masih menjulurkan tanganku. Berusaha meminta baik-baik.
Dia mengedikkan bahunya. "Oke, aku tak ingin mencari masalah. Tapi sebelumnya aku ingin mengetes mu."
Aku mengerutkan dahiku. Bingung.
Sebelum aku menjawab perkataannya. Fahrez menjatuhkan bingkai foto itu ke lantai. Aku berusaha menggapai bingkai foto itu, tapi sudah terlambat.
Bingkai foto itu sudah sampai ke lantai. Kaca foto yang sebelumnya sudah retak menjadi pecah. Bingkai fotonya pun hancur. Berserakan di lantai.
Aku tahu bingkai foto hanyalah benda kecil yang tak ada artinya.
Tapi bagiku. Bingkai foto itu banyak artinya bagiku. Sangat berarti.
Tiba-tiba saja aku merasa tanganku gatal. Seperti ada sengatan listrik kecil di tanganku. Karena aku tak tahan, aku menghentakkan tanganku ke lantai.
Yang terjadi berikutnya, lantai rumahku hancur.
"........"
Aku terdiam.
Plok....plok....plokk..
Suara tepuk tangan mengisi kesunyian.
"Suatu kemajuan. Aku merasa senang melihatnya."
Aku menatap Fahrez tajam. Tanda aku masih marah padanya.
Fahrez hanya tersenyum melihatku.
"Sergio. Aku akan menjelaskan apa yang yang terjadi padamu."
Aku masih menatapnya tajam.
Aku masih diam. Rasanya aku seperti ingin mencekik lehernya sekarang juga. Atau enaknya aku mematahkan lehernya.
Hm? Kenapa pikiranku ada pikiran psikopat?
"Lakukan sekarang."
Fahrez. Masih mengangkat tangannya, kemudian dia menunjuk bingkai foto itu.
Kali ini dia membuatku sangat marah.
Fahrez malah membakar foto itu. Aku tak tahu bagaimana bisa dia mendapatkan api.
Tapi yang paling penting sekarang.
Aku marah.
"Levi... Aku tak tahu kau serendah ini."
Fahrez atau Levi. Aku tak tahu. Tiba-tiba saja aku ingin menyebutkan nama Levi.
Sedangkan dia. Hanya tersenyum miring.
Aku benci senyumannya.
Aku ingin menghilangkan senyuman itu. Segera. Sangat ingin.
Dan sekali lagi aku merasakan sesuatu di dalam tubuhku.
Aku merasa seperti ada kekuatan besar di dalam diriku. Aku ingin mengeluarkannya, tapi aku sadar kekuatan ini berbahaya. Tapi aku tak peduli.
Aku mengeluarkannya. Dan yang terjadi adalah sebuah cambuk panjang muncul, tidak bukan. Lebih tepatnya menggumpal di sekitar tanganku kemudian berubah menjadi sebuah cambuk hitam keunguan dengan aura mengerikan.
Fahrez terkejut melihatku. Dia bersiap ingin pergi.
"Tak akan kubiarkan!"
Aku menhentakkan tangan kiriku yang bebas. Yang terjadi selanjutnya Fahrez diam di hadapanku.
Aku tak begitu tahu apa yang terjadi, tapi kali ini sepertinya dia terkekang oleh sesuatu.
Fahrez mulai berkeringat dingin. Wajahnya yang sudah pucat semakin terlihat pucat.
"Oke, Oke! Aku minta maaf! Bisakah kamu melepasku sekarang. Ini mulai menakutkan."
"Huh...? Melepasmu setelah apa yang terjadi? Sadari tempatmu sampah."
Aku berjalan perlahan ke arah Fahrez. Dia semakin berkeringat dingin.
"Hmmm.... Sepertinya ada kejadian menarik disini."
Aku mengalihkan perhatianku pada seseorang yang sedang duduk di jendela. Aku tak menyadarinya sama sekali.
"RAKKA! Syukurlah kau datang kesini. Tolong aku! Dia menjadi tak terkendali!"
Fahrez meminta tolong pada seseorang yang baru saja tiba itu. Siapa namanya?
"Rakka? Apa maumu?"
Aku berkata dingin padanya.
Dia, Rakka tersenyum kecil.
"Aku hanya ingin melihatmu. Sepertinya cara yang kuberitahu pada si ***** itu berguna."
Aku menatap Fahrez dan Rakka bergantian.
"Jadi kalian yang merencanakan-nya?"
Rakka melompat dari jendela. "Ya. Lebih tepatnya aku yang merencanakan semuai ini. Dan si ***** itu hanya mengikuti perintahku."
"Oh... Begitu."
Aku kembali menghentakkan tangan kiriku. Rakka diam di tempatnya. Sama seperti Fahrez yang terkekang. Sekarang aku merasa ingin membunuh mereka berdua.
Perasaan ini tak wajar.
"Sergio." panggil Fahrez, aku menatapnya. "Kamu mengeluarkan dua kekuatan sekaligus ini sebenarnya berbahaya."
"Apa maksudmu?"
Fahrez menatapku dalam. "Sebentar lagi kamu akan merasakannya."
Aku kembali menghentakkan tanganku. Tapi kali ini yang muncul adalah hempasan udara.
Fahrez dan Rakka terhempas kearah dinding. Mereka tak bisa bergerak karena sepertinya mereka masih terkekang oleh sesuatu yang tak kuketahui.
"Uhukk... Uhukkk... Sekarang jadi tiga" ucap Rakka sambil terbatuk.
Aku tak mengerti apa yang diucapkannya. Tapi yang pasti aku ingin membunuh mereka.
Perasaan apa ini. Aku merasa diriku ingin membunuh lebih banyak orang.
"Akh...!"
Aku memuntahkan segumpal darah.
Selanjutnya aku terbatuk keras dengan darah yang keluar. Aku terduduk dilantai dengan tanganku yang menutup mulutku.
Apa yang terjadi?
"Sudah kuduga hal ini akan terjadi."
Aku tak tahu siapa yang berbicara. Tapi yang pasti mereka sudah berada di samping kiri kanan ku.
"Apa yang akan kita lakukan?"
"Sudah pasti membuatnya tertidur."
Aku masih terbatuk di bawah. Tapi aku mengetahui mereka saling tatap.
"Tahan tubuhnya."
Aku merasa ada tangan seseorang yang mengunci pergerakanku. Aku kembali merasakan apa yang terjadi pagi ini.
"Sudah."
"Baiklah. Selamat malam, Tuanku."
Aku merasa ada benda tajam yang masuk di leherku. Suntikkan kah?
Setelah itu aku merasa mengantuk. Aku ingin tidur.
Tak butuh waktu lama, aku sudah memasuki alam mimpi.
||°°°°°°||